
Hari resepsi pernikahan semakin dekat.
Alis, Baban dan Mariana sangat kagum dengan sosok Aan. Aan sangat menghormati mereka walau mereka dari Desa.
Aan memberi sesuatu buat Alis dan kedua orangtuanya, membuat Alis hampir pingsan, saat melihat isi hadiah itu, dia mendapat baju dari Aan. Kedua orang tua Alis juga sangat bahagia mendapat baju yang sangai indah dari Aan.
***
Menjadi kenyamanan Aruna berbaring di atas dada suaminya. Detak jantung Aan yang terdengar juga terasa, seakan itu nyanyian pengantar tidur buat Aruna.
"Kak ... aku sangat sangat sangat bahagia mendapat suami sepertimu. Aku rela menderita berkali-kali lipat dari sebelumnya, jika ku tahu, aku mendapat cinta dari seseorang yang sangat baik sepertimu," lirih Aruna.
Aan merubah posisinya perlahan. Kini Aan yang berada di atas tubuh Aruna.
"Kakak mau apa?" Rengek Aruna, dia sangat kesal, karena posisi nyamannya sekarang berubah.
"Cuma mau yang satu macam itu ... kau menggodaku dengan semua pujianmu, jadi ... Jadi kamu harus tanggung jawab," lirih Aan mendalami maksudnya.
(cukup faham kan...? 😅😅😅😊)
******
Semua persiapan sudah 100 % selesai. Danu dan kedua orang tuanya juga sudah datang ke kota itu untuk melihat langsung acara Resepsi pernikahan Aruna. Aan sengaja membayar mahal salah satu acara infotaiment untuk menyiarkan pernikahan mereka di televisi secara live. Walau hanya satu jam.
Aan ingin membersihkan nama Mertuanya yang tercemar oleh tuduhan warga desa. Dengan menyiarkan acara pernikahannya, secara live, Aan berharap Warga desa menonton, hingga tahu, kalau Aruna hanyalah korban.
Aan hanya mengundang semua Rekan Bisnis nya, Jiran majelis juga semua anggota majelis dan keluarganya. Semua anggota sudah hadir di hotel tempat Acara akan berlangsung. Tamu Undangan juga mulai ber angsur memenuhi ruangan tempat Acara berlangsung. Hamparan pelaminan seolah tersenyum menyambut mata yang memandang.
Kini Aan dan Aruna berjalan bergandengan menyusuri karpet putih yang membentang sampai pelaminan. Diikuti oleh Wahyu dan Suminten, juga Pak Jojo dan Mastia. Kini mereka akan segera menempati tempat Duduk masing-masing di pelaminan.
Semua mata yang hadir fokus memandang iringan pengantin dan keluarganya. Alunan nyanyian band memanjakan telinga yang ada di tempat acara tersebut. Nurul bersama Ali juga umi Fatma melambai pada Aruna yang lewat di depan mereka, Aruna berhenti sejenak untuk memeluk Nurul dan Umi Fatma. Lalu melanjutkan langkahnya menuju pelaminan.
Saat Acara mulai berlangsung, para kru televisi memulai acara siaran langsung mereka.
Di desa Sebuku Najo.
Warga desa Sebuku Najo, dari tadi pagi sudah siap di depan televisi untuk melihat acara pernikahan Aruna yang sedang berlangsung di kota, mereka antusias menanti tayangan acara live tersebut, saat mendapat kabar dari Danu kalau pernikahan Aruna disiarkan di televisi.
Warga berkumpul di warung desa. Saat mata Camera menyorot pelaminan, mereka kagum dengan apa yang mereka lihat. Mereka semua menikmati acara live pernikahan Aruna dan Aan.
Warga desa sangat heboh saat melihat, Danu, Jago, Nima, Mariana, Baban Alis tersorot mata Camera. Saat mata camera menangkap sosok Kades Tejo, seketika tawa Warga menggemuruh. Mereka heboh sendiri melihat kades mereka masuk tv.
Kembali pada tempat Resepsi.
Para undangan antre untuk bersalaman dan memberi ucapan selamat kepada kedua mempelai, kepelaminanan. Kini giliran Saman mengucapkan selamat kepada pengantin.
"Terima kasih sudah hadir Saman," seru Aan
"Aku tidak akan melewatkan Resepsi pernikahan pasangan yang luar biasa ini," lirih Saman.
Aan tersenyum dan memeluk Saman.
"Selamat Aan, kau sangat beruntung mendapatkan istri seperti Aruna, aku hanya mengenalnya sedikit, tapi aku yakin, dia wanita yang special." seru Saman.
"Terima kasih Saman." Aan menepuk bahu Saman.
Saman langsung turun setelah bersalaman dan berpelukan dengan Aan. Dia tidak mampu lagi menahan kesedihan dalam hatinya.
Acara pernikahan terus berlangsung. Setelah Acara potong kue, kini sampai pada Acara lempar bucket bunga pengantin. Semua laki-laki jomblo dan perempuan jomblo ikut bersiap merebut bunga pengantin yang akan di lempar. Karena Mitosnya enteng jodoh apabila mendapat bunga pengantin tersebut, mereka sangat antusias untuk berebut.
Pembawa acara mulai memberi aba -aba untuk melempar bunga. Hitungan ketiga, Aruna dan Aan di minta melempar bucket bunga tersebut.
"Tiga!" Seru pembawa acara. Aan dan Aruna langsung melempar bunga mereka.
Alis sangat semangat merebut bunga itu.
"Akk!!!" Teriak Alis, dia kegirangan mendapatkan bunga pengantin sahabatnya. Namun, Alis tersandung, hingga ia jatuh kepelukan seseorang.
Alis baru menyadari kalau dia jatuh kedalam pelukan Danu. Danu terkesima dengan kecantikan Alis yang selama ini tidak pernah dia perhatikan.
"Huuwwwww!!!" Seru gemuruh para undangan yang ada heboh sendiri melihat Alis di tolong Danu.
Danu segera membantu Alis berdiri tegak, lalu ia melepaskan pelukannya. Danu dan Alis sama-sama memegang dada mereka, masing-masing. Karena jantung mereka seakan demo.
"Akkkhhh hem! Sepertinya kita akan mengadakan pernikahan seperti ini di desa kita pak Baban," seru Jago, menggoda Danu.
"Emang Anak Pak Jago mau sama Anak saya?" Seru Baban.
"Danu?" Goda Jago.
"Apaan sih Pak ... tapi, kalau Alis nya mau kenapa tidak," lirih Danu malu-malu.
"Alis? Bagaimana? Mau? Emmm ... mau kan cing? Eh kucingnya nggak ada, terus nanya sama siapa dong?" Baban menggoda Alis.
Alis menunduk malu.
Baban dan Jago berpelukan, mereka faham dengan jawaban Danu dan Alis.
***********
Dua bulan setelah pernikahan Aruna, Alis dan Danu juga akan melaksanakan upacara pernikahan mereka di desa sebuku Najo. Aruna terus merayu Aan dengan bermacam cara, agar bisa berhadir, di upacara pernikahan sababatnya itu. Namun Aan sangat sibuk dengan pekerjaannya, dia tidak bisa pergi jauh, namun, dia juga tidak mau Aruna pergi meninggalkannya.
Akhirnya, hanya Suminten dan Wahyu yang datang ke desa untuk menghadiri pernikahan Alis dan Danu. Kehadiran Suminten dan Wahyu di sambut hangat Warga desa. Mereka semua meminta maaf pada Suminten dan Wahyu atas perbuatan mereka pada Aruna dulu.
Suminten dan Wahyu menginap lumayan lama di desa, hingga pesta pernikahan Alis dan Danu selesai nanti.
Sebenarnya Alis sedih, karena sahabatnya tidak bisa datang. Namun, mendengar cerita Suminten, kalau akhir-akhir ini Aruna sakit. Atas sebab itu pula, Aan tidak mengizinkan Aruna melakukan perjalanan jauh. Alis memaklumi keadaan Aruna. Karena jarak dari kota kedesanya lumayan jauh.
Kedatangan Suminten dan Wahyu, itu sangat membuat Alis sekeluarga bahagia. Pesta upacara pernikahan Alis dan Danu berjalan lancar.
Aan mengirimkan banyak Hadiah buat Alis dan Danu. Hadiah yang paling di sukai Alis, adalah foto resepsi pernikahan Aruna dan Aan yang berukuran besar, di mana dia keluarganya, Danu juga serta keluarganya berfoto bersama dengan Keluarga Aruna. Ini momen yang paling indah bagi Alis. Hadiah yang paling disukai Danu adalah lingerie biru yang begitu seksi menurut Danu.
"Hei, ini kan baju yang biasa di pakai orang orang kota," lirih Danu mengedipkan mata nakalnya pada Alis.
"Cepat sembunyikan! Aku tidak ingin orang lain melihat itu," pinta Alis.
"Tapi janji kau akan memakainya untukku," lirih Danu.
"Okey, tapi cepat sembunyikan," bisik Alis.
Danu langsung menyembunyikan baju itu, karena ada yang mendekat ke arah mereka yang sedang bongkar-bongkar hadiah pemberian Aan dan Aruna.
***
Kini tiga bulan sudah Aruna menjalani kehidupannya sebagai seorang istri.
Aan dan Aruna baru selesai sholat subuh berjamaah. Aan memandangi wajah Aruna yang terlihat lebih pucat dari biasanya.
"Hei, kamu sakit sayang? wajah kamu lebih pucat dari biasanya," Aan membelai wajah Aruna.
"Enggak ... mungkin aku masuk angin aja karena kurang tidur, entar jam 11 siang aku qadha tidurnya," lirih Aruna
"Di qadha ... em!" seru Aan mencubit gemas hidung istrinya.
"Maaf ya, gara-gara kamu melayani aku, kamu kurang tidur," lirih Aan
Aruna tersenyum, merinding rasanya jika mengingat bagaimana melewati malam bersama suaminya.
"Aku kedapur ya kak," lirih Aruna
"Iya ... jangan capek-capek, aku nggak suka kamu capek," lirih Aan.
Aruna langsung pergi ke dapur. Di dapur Aruna bersama dua pembantu yang bekerja di rumahnya, kedua pembantu itu tengah menyajikan sarapan untuk mereka pagi ini.
Suminten dan Wahyu masih belum keluar dari kamar. Karena mereka kelelahan baru pulang dari desa Sebuku Naju, sehabis menghadiri pernikahan Danu dan Alis. Mereka menginap di sana lumayan lama.
Aan berjalan santai menuruni tangga, dia ingin melihat istrinya yang tercinta itu, yang tengah menyiapkan sarapan buat semuanya.
Di ruangan dapur, Aruna membawa piring kosong, untuk di tata di meja makan. Namun kepalanya tiba-tiba terasa sangat pusing, penglihatannya buram, telinganya rasa menginging. Seketika Aruna kehilangan kesadarannya.
Prankkk!!!
Piring yang di bawa Aruna terlepas, pecahan piring itu berserakan di lantai. Pembantu yang berjalan di belakang Aruna dengan sigap menangkap dan menahan tubuhnya.
"Tuan!!!" Teriak pembantu panik melihat Aruna pingsan.
Aan lemas mendengar bunyi piring pecah, dia teringat Almarhumah Maya.
"Ya Allah ... jangan kau ambil lagi istri hamba," pekik Aan. Aan segera berlari kedapur.
Betapa Syoknya Aan melihat Aruna pingsan.
Ia teringat lagi Maya yang pingsan saat terkena Santet. Aan langsung meraih ponselnya, menelepon Ustadz Ali.
"Ustadz ... tolongin Aruna ...." pinta Aan, suaranya bergetar karena sangat ketakutan melihat Aruna pingsan. Dia takut Aruna akan senasib dengan Maya.
Ali di seberang telepon sana, langsung menuju rumah Aan. Tadinya dia dan Nurul, mau berangkat ke Rumah sakit untuk memeriksa kandungan Nurul. Ali segera melajukan mobilnya menuju rumah Aan.
Sesampai di rumah Aan, Ali langsung masuk kedalam rumah, untuk melihat keadaan Aruna.
"Gimana ustadz ...." ringis Aan, Aan sangat tertekan melihat Aruna pingsan.
Ali menggeleng.
Aan Syok melihat Ali menggelengkan kepala. Dia mengira Ali tidak mampu menolong Aruna, sama seperti Saat Ali mengatakan tidak mampu menolong Maya.
Rasa ketakutan Aan yang begitu besar, membuat dirinya hilang kesadaran.
Brukkk!
Aan terkapar di lantai rumahnya.
"Ya Allah ... kenapa pingsan Aan ...." gerutu Ali Ali sungguh kebingungan melihat Aan juga pingsan.