
Aruna panik karena salah seorang terus mendekat sambil mengacungkan belati yang dia pegang. Aruna berusaha merebut belati pria bertopeng itu, Aruna berusaha sekuat tenaganya merebut belati pria itu.
Mata Aruna melotot karena duel perebutan belati barusan. Dia berhasil merebut belati milik pria bertopeng itu.
"Aruna!" teriak Aan, dia sangat panik melihat Aruna mematung. Khayalan Aan Aruna tertusuk belati itu.
"Palsu?" Mata Aruna melotot, ternyata belati yang mereka acungkan palsu.
Laki-laki bertopeng itu tertawa mengakak, sedang yang menawan Aan langsung melepaskan Aan. Aruna merebut penutup wajah orang itu.
"Kak Sibki!" teriak Aruna.
Aan langsung menarik penutup wajah tiga orang di dekatnya. "Abah, Bapak, mang Tatang!" Aan juga merebut belati yang tadi di todongkan padanya. "Astaghfirullah, ini plastik!" Aan langsung membanting belati palsu itu.
"Kenapa Aan matamu jadi minus? Tidak bisa membedakan belati asli atau plastik?" Ejek Sibki.
"Kakak keterlaluan!"
Bougghhh!
Pukulan Aruna mendarat di bahu Sibki.
"Awhhh," ringis Sibki. "Tapi tenagamu masih lemas Aruna, pukulanmu tidak berasa," ejek Sibki.
"Kalian hampir saja membunuhku, kalau Aruna kenapa-napa aku tidak bisa memaafkan kelemahanku, karena tidak bisa melindungi dia," ringis Aan.
"Kenapa kalian setega ini, trauma lamaku saja belum hilang," ringis Aruna.
"Mama …." teriak Deli, Dena dan Rayyan berlari ke arah Aruna di ikuti Mastia dan Suminten.
"Sayang …." Aruna membuka kedua tangannya menyambut ketiga anak yang berlari menghambur padanya.
"Maafkan kami nak Aan, ketiga anakmu menangis seharian ini mencari mama mereka," ucap Suminten.
"Iya mak, aku yang harusnya minta maaf, karena membawa ibu mereka pergi," ucap Aan.
"Bagaimana kejuatan kami Aan?" sela Sibki.
"Kalian jahat ih ...." rengek Aruna.
Aan mendekat pada anak-anaknya. Lalu duduk leseh bargabung dengan Aruna dan ketiga anaknya.
"Ini papa juga sayang," ucap Aruna pada ketiga anaknya.
Aan memangku Rayyan, dia menciumi anak yang selama ini jauh darinya sedang Dena dan Deli duduk di pangkuan Aruna. Sesekali Aan membelai wajah mereka.
"Anak-anak kita?" Ringis Aan.
Aruna mengangguk. "Maafkan kebodohanku, karena kebodohanku kakak kehilangan momen melihat dan menyaksikan fase-fase pertumbuhan mereka."
"Sesttt, cukup." Aan membelai halus wajah Aruna.
"Ekkkhhem! Di sini ada anak-anak di bawah umur dan jomblo yang ber umur, harap di kondisikan kemesraannya," Sibki duduk diantara Aan dan Aruna.
"Apakah tidak ada tempat lain untuk menaruh bokong jelekmu itu!" ucap Aan ketus.
"Tidak ada yang lebih indah selain di sini," goda Sibki.
Setelah merasa cukup akrab akhirnya ketiga anak itu luwes bermain dengan Aan. Waktu sore menjadi semakin hangat karena kebersamaan keluarga besar mereka.
"Boleh aku bicara?" ucap Sibki memecah pembicaraan hangat semua orang.
"Apa? Mau usil lagi?" Gerutu Aan.
"Aku melakukan ini karena balas dendam pada kalian, tadi aku pulang mau bawa berita hangat, eeh … gendang telingaku hampir pecah karena teriakan dan tangisan anak-anak ini," ucap Sibki.
"Lalu apa beritamu," Jojo menyela.
"Aku sedang menjalani peroses ta'arufan dengan seseorang," ucap Sibki malu-malu.
"Yakin tu anak orang mau?" Tanya Aan.
"Awwhhh …." ringisan Aan terlepas begitu saja, karena cubitan Aruna lagi-lagi mendarat di kulitnya.
"Jangan buat kakakku patah semangat sebelum berjuang," tegur Aruna.
"Semoga berhasil Sibki, aku tidak sabar untuk menyicil hutangku padamu," sela Aan.
"Siapa dia kak?" tanya Aruna.
"Dia salah satu murid Nurul," ucap Sibki.
"Pernah dong ke mushalla," tanya Aruna.
"Sepertinya tidak, karena saat ku simak dia bicara pada ustadz Ali kalau Nurul salah satu apa ya, aku lupa," jawab Sibki.
"Semoga berhasil kak." Aruna memberi semangat pada Sibki.
***
Dena, Deli dan Rayan sudah terlelap dalam tidur mereka. Aan dan Aruna sengaja menggelar kasur di bawah agar bisa tidur bersama anak-anak mereka.
"Kuharap hanya di sini mereka tidur bersama kita, aku tidak bisa kalau tiap malam begini," bisik Aan.
"Kamu sama anak sendiri gak mau ngalah," bisik Aruna.
"Hei, laki-laki itu mirip denganku, aku yakin kamu sering ciumin dia dan menghayal seolah menciumku," bisik Aan.
Aruna tersenyum, memang kebiasaannya menciumi Rayyan jika merindukan sosok Aan. Dengan begitu rindunya terobati.
"Hei …, apa itu benar?" Goda Aan.
Plakkk!
Pukulan mendarat di bahu Aan.
"Aduh … kenapa yang kamu pukul memarku." Aan membuka bajunya karena nyeri biru bekas pukulan tongkat Aruna pagi itu masih terasa sakit.
"Tongkat ajaib ku?" Ringis Aruna sambil membelai permukaan kulit Aan yang biru.
"Iya, apalagi? Lihat rahangku masih biru karena bogem mentah Sibki," rengek Aan.
"Awh kasian beb ku," Aruna membelai wajah Aan yang juga biru karena Sibki.
"Ganti rugi pukulan yang barusan," bisik Aan.
"Oh tidak lagi," rengek Aruna.
"Lagi … karena kamu memukulku, kamu harus terima pukulanku," bisik Aan.
"Ada mereka," Aruna meng-isyarat pada ketiga anak-anaknya.
"Bukan di sini," Aan menarik istrinya masuk ke kamar mandi.
********
Tiga hari tinggal bersama di villa itu akhirnya mereka kembali ke kediaman mereka, namun Aan lebih memilih tinggal di rumah Wahyu dan Suminten. Karena kasian pada mertuanya yang tidak mau berpisah dengan sikembar tiga.
"Hari ini aku ke kantor," ucap Aan.
"Iya, kakak sudah lama libur," ucap Aruna sambil membantu Aan memakai pakaiannya.
"Sudah, nanti baju kakak lecek lho,"
Aan memandangi wajah Aruna tanpa berkedip.
"Sudah ah, ayok kita sarapan," ucap Aruna.
Mereka berdua keluar dari kamar mereka menuju dapur.
"Akhirnya kalian keluar juga, ini si kembar gerecoki umak, umak tidak bisa siap-siap," ucap Suminten.
"Maaf ya mak, tadi mama nya bantuin papanya pakai baju dulu," sela Aan.
"Baguslah, jangan bisanya cuma melepas saja," goda Suminten.
"Umakkk ...." ringis Aruna.
"Mak, nanti aku mau cari pengasuh buat jaga anak-anak, tapi umak dan Aruna yang milih, nanti aku kirim cv mereka, aku gak mau umak capek karena anak-anak kami mak, dosa besar kami meminta umak jaga anak kami, harusnya umak menikmati masa tua bermain dengan anak kami bukan mengurus sepanjang waktu," ucap Aan.
"Tapi umak bahagia kok."
"Iya, tapi umak ngawasin dan bermain aja, biar yang urus nanti pengasuh saja," ucap Aan.
"Bukan abah mau maengganggu, tapi rumah ini kecil," ucap Wahyu.
"Aan akan kontrak rumah buat para pengasuh menginap, mereka menjaga anak-anak full siang, biar malam anak-anak sama kami," ucap Aan.
Semua sepakat, kalau si kembar akan di urus oleh pengasuh, Aan juga sudah menyediakan kontrakan buat empat pegawai barunya. Tiga pengasuh dan satu asisten rumah tangga untuk membantu Suminten di rumah.
Rumah tangga Aan dengan Aruna akhinya mendapatkan kembali roh kebahagiaan yang selama ini hilang. Kebahagiaan semakin komplit karena sikembar mulai sangat akrab dengan papa mereka bahkan mulai merengek jika ditinggal Aan walau hanya sebentar. Tidak ada lagi rintihan tangis karena tersiksa berpisah dengan orang yang special, yang ada hanya rintihan yang lainnya karena selalu bersama.
***
Hidup bersama di rumah yang disediakan Jojo untuk Aruna, Wahyu dan Suminten, Aan tetap bahagia dan sangat bahagia. Rumah yang tergolong sederhana tidak sesederhana dengan kebahagiaan yang mereka rasa. Rumah sederhana dengan tiga buah kamar tidur, satu ruang makan, satu ruang dapur dan satu ruang tamu tidak berpengaruh bagi Aan. Karena kebahagiaan yang ada dalam rumah ini melebihi segalanya.
Pagi hari.
Sibki merasa heran melihat Dena, Deli dan Rayyan bermain dengan tiga orang yang baru dia lihat asyik bermain di halan rumah Suminten. Sibki melangkah dengan cepat ke arah rumah Aruna. Ketiga orang yang menjaga Dena, Deli dan Rayyan tersenyum padanya, Sibki langsung masuk kedalam rumah mencari Suminten. Setelah sampai dapur Sibki lagi-lagi terkejut melihat Suminten dan orang yang baru dia lihat juga.
"Umak," sapa Sibki.
"Kamu, ada apa?" Sapa suminten tersenyum pada Sibki.
"Dia siapa?" Sibki meng isyarat pada wanita yang membantu Suminten. "Terus yang jaga sikembar juga siapa?"
"Dia pembantu untuk bantu-bantu di rumah ini, sedang di luar yang tiga orang itu pengasuh buat si kembar, nanti umak ajak mereka ke rumah kamu Sibki."
"Hem … sultan, enak gajih orang, mana sultannya mak?"
"Sultan?" Suminten keheranan.
"Aan!!!" ucap Sibki.
"Masih di kamar mereka," jawab Suminten.
"Kalau begitu aku pamit mak," ucap Sibki.
"Sibki … jangan ganggu mereka," pinta Suminten.
Sibki tidak menjawab, dia terus berjalan menuju kamar Aruna.
Di kamar Aan dan Aruna.
Aruna membantu Aan memakai setelan kerjanya. "Selesai," Aruna menepuk lembut bagian dada Aan.
"Kamu memang semakin profesional, bukan cuma hebat melepas semua yang aku pakai, tapi hebat juga memakaikan pakaianku kembali," goda Aan.
"Sudah sana jangan nakal, nanti baju kakak lecek lagi," ringis Aruna.
Aan mengangkat Aruna dan mendudukkan Aruna di meja kecil yang ada di kamar mereka. Agar fokos bermain di ceruk leher dan ditempat lainnya.
Brakkkk!
Suara pintu yang terbuka. Membuat kaget suami istri yang tengah bermesraan.
"Astaghfirullah, pantes gak keluar-keluar," Teriak Sibki.
Aruna ingin turun dari posisi duduknya namun di tahan Aan.
"Mau apa kamu membuka pintu istana kami?" Aan sangat kesal.
"Apa karena sulit untuk hal ini hingga kamu sewa orang jaga anak-anak?" tanya Sibki.
"Banyak kepentingan lainnya Sibki, ini hanya penunjang, kenapa tidak ketok pintu dulu? Mau privat?" Goda Aan.
"Kakak sudah," Aruna mendorong Aan yang tidak tahu malu malah semakin erat memeluk dirinya.
"Biarin, biar kakak kamu semakin semangat untuk nikah," ledek Aan.
Sibki masih bertahan diposisinya.
"Kakak …." rengek Aruna menahan Aan yang bermanja padanya.
"Kamu benar-benar ingin live streaming Sibki? Kalau iya masuklah jangan di sana, aku tanggung ini," goda Aan.
Sibki menantang dan melipat tangannya pada dadanya.
Aan mulai menciumi leher istrinya di depan Sibki.
Sibki tetap bertahan di posisinya, namun orang yang dia tantang menjawab tantangannya dengan aktivitas mesra mereka, membuat Sibki merinding sendiri,
"Gelo!!!(Gila!!!) Bentak Sibki. Dia langsung menutup pintu kamar dengan kasar.
Aan menegakkan wajahnya dan memandang Aruna. Pandangan mereka bertemu.
"Bhaahahahaaaa!!!" Aruna dan Aan sama-sama tertawa berhasil mengerjai Sibki yang selalu usil.
***
Sibki keluar dari rumah Suminten dan wahyu dengan perasaan kesal. Dan langsung pulang ke rumahnya.
"Kenapa?" Tanya Mastia melihat kekesalan di wajah Sibki.
"Itu mantu dan anak ibu gak tahu malu, bermesraan di depan mataku yang suci ini," gerutu Sibki.
"Yah bagus, kali aja kamu bisa melamar perempuan yang kamu ceritakan kemaren," ucap Mastia.
"Hayyyaaa ibu," ringis Sibki.
Mastia tersenyum melihat reaksi wajah Sibki.
***
Tamat
***
Di depan masih banyak ektra partnya, cusss njut lanjut ....