Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 106 Membebaskan Dia yang Tidak Bersalah


Di rumah dukun Bahra.


"Saman … Saman! Kamu egois. Sekarang rasakan akibatnya karena tidak mendengarkan perkataanku, aku tidak bisa melindungi kamu Saman, sekarang Linda sudah bebas dan guna-guna itu sedang kembali padamu Saman!" gerutu Bahra.


****


Di rumah Sibki.


"Kak ponsel kakak bunyi," ucap Aruna.


"Iya," Sibki langsung keluar mengambil ponselnya dan langsung mengangkat panggilannya.


"Assalamu'alaikum Sibki."


"Wa alaikum Salam, ada apa ustadz?"


"Kami menemukan Linda adik Saman, keadaannya sangat memprihatinkan, segera kamu ke Rumah Sakit Harapan Afiyat," pinta Ali.


"Kami akan segera kesana ustadz," jawab Sibki.


"Ada apa kak?" tanya Aruna.


"Linda adik Saman di Rumah Sakit, ayo kita temui dia," ajak Sibki.


"Anak-anak bagaimana?"


"Anak-anak biar sama ibu, di sini ada pembantu yang bantu ibu, kalian berangkat saja, bagaimanapun Linda adik iparmu Aruna." ucap Mastia.


"Baik bu."


Aruna dan Sibki langsung berangkat ke Rumah Sakit Harapan Afiyat.


Sesampai di sana ustadz Ali, Ilyas dan Safta sudah di sana.


"Bagaimana keadaan Linda ustadz?" tanya Aruna.


"Memprihatinkan, sepertinya wajahnya infeksi karena tidak di obati dan tidak mendapat perawatan dengan benar," terang Ali.


"Astaghfirullah," ucap Aruna dan Sibki, bersamaan.


"Boleh saya ke dalam menemani dia?" tanya Aruna.


"Silakan," jawab Ali.


Aruna segera masuk kedalam ruang perawatan Linda. Dia duduk di kursi dekat ranjang Linda sambil membelai tangan Linda.


Di luar ….


"Assalamu'alaikum ustadz," salam seseorang.


"Wa'alaikum salam," jawab semua orang.


Aan?


Sibki?


Ucap keduanya bersamaan.


"Aan, sepertinya kamu harus lihat dulu data wanita yang akan kamu tolong," Ali memberikan lembaran kertas pada Aan.


"Dia, Linda?" Mata Aan melotot.


Ali mengangguk.


"Kalau kamu tidak bisa tidak mengapa, tapi yang jelas di sini Linda korban, selama ini dia dibawah pengaruh gaib Saman. Saman bekerja sama dengan … kamu tahulah …." ucap Ali.


Aan hanya membisu, karena semua penderitaan yang dia rasa, semua ini karena ulah Saman.


"Aan, aku mewakili semua keluargaku, maafkan kami karena tidak percaya padamu dulu," ucap Sibki.


"Aruna? Saman?"


"Aruna pasrah dengan statusnya dan Saman, dia tidak punya alasan yang benar untuk meminta talaq pada Saman," terang Sibki.


"Aruna benar, Saman tidak ada salah padanya, yang salah hanya cara Saman menikahinya, Saman berbuat jahat padamu Aan, tapi dia tidak jahat pada Aruna dan anak-anak." Ucap Ali.


"Saman beruntung," ucap Aan lirih.


"Maafkan kami Aan, sebagai keluarga kami tidak percaya dan tidak mendukungmu, malah kami meninggalkan kamu." Raut penyesalan begitu jelas terlihat dari wajah Sibki.


"Aku mulai bisa menerima semuanya Sibki, aku akan belajar merelakan Aruna buat Saman," Ucap Aan.


"Aku juga minta maaf, karena aku juga tidak bisa membela kamu dengan fakta yang aku lihat," sela Ali.


"Bolehkan aku melihat keadaan Linda? Untuk operasi linda aku pikir-pikir dulu," ucap Aan.


Sibki, Safta, Ali dan Ilyas saling pandang, mengingat di dalam sana juga ada Aruna.


"Silakan," ucap Sibki.


Aan melempar senyuman pada mereka dan melangkahkan kakinya menuju ruangan di mana Linda di rawat.


Kini Aan sudah menghilang di balik pintu.


"Ustadz, saya mau bicara penting!" sela Sibki.


"Katakan ada apa?"


"Sore ini dua kali gelang kaki terlepas dari kaki Deli, Deli tidak pernah pakai gelang pak ustadz, tiba-tiba gelang kaki itu terlepas dan hilang sekejap mata."


"Itu hal baik, karena dua hal sudah terungkap. Rahasia besar yang terungkap dan membebaskan dia yang tidak bersalah," jawab Ali.


"Tapi ustadz …."


"Aku tahu, dan kamu saat ini tidak mengerti, nanti saja aku jelaskan," ucap Ali.


Di dalam ruangan tempat Linda dirawat.


Aan perlahan berjalan menuju ranjang tempat Linda terbaring. Hati Aan berdesir melihat sosok wanita berkerudung yang duduk membelakanginya. Terdengar isak tangis wanita itu sambil memegang tangan Linda.


"Assalamu'alaikum," sapa Aan.


"Wa'alaikum salam," jawab wanita itu sambil menghapus air matanya.


"Aruna?"


"Kak Aan?"


Ucap keduanya bersamaan. Mengingat siapa dirinya sekarang Aruna langsung bangkit dari duduknya, dia berpidah tempat, berdiri di sisi yang lain dari ranjang Linda.


"Silakan duduk kak Aan," ucap Aruna.


Aan langsung duduk di kursi bekas Aruna duduk.


"Kamu sudah lama di sini? Kursi ini panas."


Aruna membisu, dia hanya memandangi Linda.


"Maafkan kami .…" ucap Aruna.


"Kamu?"


"Kami baru tahu kalau kak Aan korban ... dan Saman dalang semua ini, dan aku? Aku malah …." Aruna menghapus air matanya.


"Aku memaafkan kalian, bagaimanapun kita semua korban," Aan selalu memandangi Aruna.


Aan meraih ponselnya dan mengirim pesan pada Ilyas.


"Urus semua pengobatan Linda." Aan.


"Tapi harus keluar negri untuk menjalankan operasi plastik ulang." Ilyas.


"Tidak masalah, aku akan ikut mendampingi," Aan.


***


"Bagaimana keadaan anak-anak?" Aan memberanikan diri bertanya.


"Alhamdulillah mereka sehat,"


"Aku permisi kak, terima kasih atas maaf dari kakak," Aruna langsung pergi dari ruangan itu.


"Sepertinya penyakitku berpindah padamu, wa alaikum salam," sela Aan.


Aruna menghentikan langkahnya. "Assalamu alaikum."


"Wa alaikum salam," jawab Aan.


***


Setelah berpamitan pada semua orang Aruna dan Sibki pun kembali. Sedang Aan dan para relawan segera mengurus pengobatan dan operasi bedah plastik ulang buat Laily.


Setelah semua beres keberangkatan pun segera di atur oleh tim medis. Aan berangkat bersama Safta menemani pengobatan Laily alias Linda. Aan semakin kasian pada Linda saat ustadz Ali menceritakan keadaan Linda yang melakukan semua keburukan ini di bawah kendali alam bawah sadarnya.


*****


Saman menyusuri jalan raya sejak sore tadi mencari adiknya Linda yang kabur dari tawanan dukun itu. Entah berapa lama dia menyusuri jalanan. Tiba-tiba pohon besar tumbah menimpa mobilnya yang melewati pohon itu. Keadaan di sana ramai melihat mobil yang tertimpa pohon besar. Semua warga terpaksa hanya menonton, tidak ada yang bisa meng evakuasi karena tidak mungkin memotong pohon tumbang itu dengan alat manual.


Jeritan pilu terdengar dari pengemudi mobil yang tertimpa pohon besar itu, warga tidak bisa apa-apa, batang pohon itu sangat besar, hanya bisa menahan rasa pilu saat mendengar jeritan orang yang kesakitan. Mereka semua menunggu petugas untuk memotong dan memindahkan pohon yang tumbang tersebut.


Cukup lama jeritan itu terdengar, namun semakin lama, jeritan itu hilang. Mereka semua pasrah, karen tidak bisa berbuat hal lebih untuk menolong pengendara yang tertimpa batang pohon tubang itu.


Petugas lama berjibaku memotong ranting-ranting dan batang pohon, berharap agar segera bisa secepatnya di pindahkan, karena jalanan mulai macet, juga ingin menyelamatkan pengemudi yang terjebak di bawah sana. Kerja keras yang lumayan lama akhirnya pohon bisa disingkirkan dari jalan raya. Petugas segera memeriksa keadaan mobil itu.


Tidak cukup kerja keras petugas memotong pohon, kini mereka harus memotong beberapa sisi mobil yang ringsek parah karena tertimpa pohon. Karena pengemudi itu terjepit, pengemudi itu dinyatakan mati ditempat karena keadaannya sungguh memilukan. Setelah selesai memotong beberapa sisi untuk mengangkat jenadzah itu, pihak kepolisian dan dinas terkait langsung memeriksa identitas jenadzah tersebut.


Jenadzah Saman langsung di evakuasi ke Rumah Sakit, sedang yang lain mencari keluarga jenadzah tersebut. Keadaan jalan kembali lancar karena pohon tumbang sudah di tarik dari tengah jalanan.


****


Tok tok tok tokkkk!


Suara ketukan pintu di rumah Suminten.


"Assalamu'alaikum,"


"Wa alaikum salam, pak polisi?" Suminten kaget malam-malam polisu datang ke rumahnya.


"Apa benar ini rumah saudara Saman?"


"Benar sekali, Saman menantu saya, tapi dia sekarang belum pulang," jawab suminten.


"Apa menantu saya buat masalah?" tanya Suminten.


"Tidak, menantu ibu tidak buat masalah, tapi dia dalam masalah, dia meninggal di tempat bu, mobil yang dia kendarai tertimpa pohon besar, jasadnya ada di Rumah Sakit Cahaya persada," ucap polisi.


Suminten mematung mendengar kabar duka Saman.


"Mau ikut kami?"


"Saya akan kesana bersama anak saya," ringis Suminten.


"Baiklan selamat malam, assalamu alaikum."


"Wa alaikum salam." Jawab Suminten. Dia segera memanggil Wahyu menceritakan kejadian barusan.


"Mari kita beritahu yang lain," ucap Wahyu. Wahyu dan Suminten segera berjalan menuju rumah Sibki.