
Aan dan Laily masuk kedalam gudang itu, supaya pembicaraan mereka tidak terganggu orang yang lalu lalang di luar sana.
"Apa kamu punya saudara?" Tanya Aan.
"Tidak tuan," jawab Laily.
"Kamu kenal dengan Maya?"
"Maya?"
Aan mengambil dompetnya lalu mencari foto Maya.
"Ada apa tuan?" Tanya Laily.
"Lihat ... wanita ini sangat mirip denganmu," seru Aan.
Wanita itu melihat pesan yang masuk pada ponselnya.
"Owh ... itu ... ini bukan wajah asliku, nanti aku akan buka wajah asliku,"
"Apa maksud kamu?"
"Berapa bulan yang lalu ya? Aku lupa aku menajalani operasi plastik agar mendapat wajah ini," seru wanita itu.
Aan mundur karena Laily mulai melepas kancing bajunya satu per satu hingga semua terlepas, Laily melempar baju atasannya.
"Apa yang kamu lakukan!" Bentak Aan.
"Melakukan tugasku," jawab Laily.
Laily meng acak-acak rambutnya membuat Aan semakin heran. Aan segera berlari ke arah pintu gudang, namun pintu itu tertahan dari luar. Laily mendekap Aan erat dari belakang.
"Ternyata wajahmu saja yang mirip Maya, tapi sifatmu tidak!!!" Bentak Aan.
Laily mengoles sesuatu ke hidung Aan sehingga Aan kehilangan keseimbangan. Laily mengetok pintu gudang tiga kali, orang di luar yang menahan pintu sedari tadi segera pergi. Laily melepas pakaian Aan dan pakaiannya hingga dia dan Aan polos tanpa sehelai benang, dia segera menarik tubuh Aan agar menidihi dirinya. Dengan susah payah karena Aan tidak sepenuhnya pingsan, hanya saja dia tidak bertenaga melawan Laily.
Akhirnya posisi sempurna, Aan berada di atas tubuh Laily, belum lagi mereka sama-sama seperti bayi.
***
Dari kejauhan Aruna berlari di kejar oleh Ali, Ilyas, Saman dan Sibki. Di belakang mereka Suminten dan wahyu juga ikut mengejar.
Dengan perasaan hancur Aruna membuka pintu gudang itu.
"Akkkkkkk ...!!!" Teriak Aruna ketika matanya melihat pemandangan yang ada dalan gudang itu. Laily segera medorong Aan dan meraih pakaiannya menutupi inti dirinya dan juga menutupi punya Aan dengan baju Aan yang didekatnya. Sedang Aan mencoba mengumpulkan tenaganya.
"Astaghfirullah ..." seru Ali, Ilyas, Saman, Sibki, Wahyu dan Suminten melihat keadaan yang sangat memilukan itu. Mereka membuang wajah.
"Maya ...???" lirih Ali, Saman dan Sibki.
Aruna berbalik menghadap ke arah Ali.
"Mam ... Ma ... ya?" lirih Aruna. Air matanya semakin mengalir deras.
Suminten langsung memeluk Aruna.
"Maafkan umak ... seharusnya dari awal umak beritahu kamu kalau Laily sangat mirip dengan Maya," ringis Suminten.
"Mak ..." ringis Aruna.
"Kamu tega Aan menyakiti adikku," seru Sibki.
Sibki berjalan ke arah Aan dan langsung mendaratkan tinjunya pada rahang Aan.
Aan masih lemah. Hanya menahan baju kemejanya yang menutup senjatanya.
"Dasar!!! Berapa ronde hingga kamu kehilangan tenaga!!!" Bentak Sibki.
"Adik?" lirih Saman.
"Nanti aku jelaskan, Aruna umak ... mari kita pergi, ini keterlaluan," lirih Sibki.
Aruna terus menangis, hatinya sangat hancur melihat pemandangan barusan. "Umak..." lirih Aruna lemah dia kehilangan kesadarannya karena tidak sanggup menahan rasa sakit yang terlalu pada batinnya.
Ali masih bingung melihat semua ini.
"Kamu jangan pergi, jelaskan pada kami semua," seru Ali tanpa memandang ke arah Aan dan wanita itu.
Mereka semua langsung membawa Aruna ke rumah Sibki yang tidak jauh dari rumah Aan, sedang suminten dan Wahyu langsung membawa si kembar di bantu oleh Mastia. Acara terus berlangsung lancar, tanpa diketahui oleh para undangan kejadian memilukan barusan. Ali dan para pengikutnya terus membantu acara itu sampai selesai.
Aan mulai stabil. Dia segera memakai pakaiannya dan keluar dari gudang menuju rumahnya. Sesampai rumah keadaan sudah sepi, hanya ada Ali, Fatma, Nurul dan juga Wahyu.
Di salah satu sofa Laily duduk, dia terus menangis.
"Ini dia ..." seru Ali.
"Hei wanita sialan!!!" Aan ingin mendekati Laily namun di tahan Ali.
"Jelaskan ..." lirih Ali.
"Aku di jebak!!!" seru Aan.
"Di jebak?" Wahyu menyela.
"Apa karena dia mirip Maya sehingga kamu tega menyakiti Aruna?" Tanya Fatma.
"Kami kecewa kak," lirih Nurul.
"Ini tidak seperti perkiraan kalian!" Aan membela diri.
"Apa yang kami lihat langsung dengan mata kepala kami masih kurang?" seru Wahyu.
"Abah ..." lirih Aan
"Cukup nak Aan ... kami sudah melihat bagaimana selama ini kamu memandangi wanita itu, kami berharap kamu memecatnya, ternyata ... kamu ..."
"Astaghfirullah... selama ini kamu sengaja membiarkan orang yang mirip Maya bekerja di sini? Aan ... kamu tidak membayangkan bagaimana perasaan mertua kamu dan istri kamu? Ya Allah Aan ..." ringis Fatma.
"Kenapa tidak ada yang percaya padaku ..." ringis Aan.
"Bagaimana kami bisa percaya padamu, apa yang yang kami lihat langsung tadi? dengan apa agar kami harus percaya? Kamu tahu bagaimana Aruna berlari dari atas sampai ke belakang sana? Wajahnya menggambarkan kehancurannya. Cukup Aan!!! jangan sakiti adikku lagi," bentak Sibki.
"Nasib saya bagaimana?" lirih Laily.
"Kamu boleh pulang ke rumah kamu, jika terjadi sesuatu padamu, kabari kami," lirih Ali.
Semua orang membubarkan diri dengan perasaan hancur. Sedang Aan merenung sendiri di rumahnya. Pikiran dan hatinya kacau. Kebahagiaan besar yang baru dia rasa kini malah ber akhir begitu saja.
***
Di rumah Sibki.
"Aruna ... kamu di sini saja," lirih Sibki.
"Jika kalian tidak keberatan ... bagaimana kalau ke rumah ibu? Wahyu dan Sumi juga ada pekerjaan di sana," lirih Mastia.
"Kami tidak tahu ..." lirih Suminten sambil membelai Aruna yang mematung.
"Sumi ... Wahyu ... bisa kita bicara di luar?" Tanya Jojo.
Mereka semua berjalan keluar mengikuti Jojo. Di dalam hanya ada Sibki dan Saman.
Di luar ...
"Permisi tuan ... nyonya ... saya membawa perlengkapan si kembar." seru Salsa.
"Silahkan masuk bi," jawab Suminten lemas.
Salsa tersenyum dan berlalu segera masuk ke dalam rumah.
***
Di rumah Aan.
Aan tengah membaca pesan yang masuk ke dalam ponselnya, nafasnya sesak membaca semua laporan yang dia terima.
"Jumia!!! Asna!!!" Teriak Aan.
"Iya tuan ..." jawab mereka bersamaan.
"Mana Salsa?"
"Dia mengantarkan perlengkapan si kembar kerumah Sibki katanya," jawab Asna.
"Arunaku dalam bahaya ..." lirih Aan. Aan berlari menuju rumah Sibki.
***
Di rumah Sibki.
"Permisi nyonya ... ini perlengkapan si kembar ..." seru Salsa.
Aruna mematung tidak merespon siapapun.
"Taruh saja bi ..." seru Sibki.
"Iya tuan," jawab Salsa. Dia melirik Sibki dan Temannya yang melamun tidak jauh dari Aruna. Merasa cukup aman dia mengelurakan pisau dari tas perlengkapan bayi itu.
Salsa langsung melayangkan ayunan pisaunya ke arah Aruna, "Crakkk ...."
"Egghhhh" Saman menahan suaranya.
Matanya dan mata Aruna bertatapan sebelum Saman ambruk kehadapannya.
"Hei ... Apa yang kamu lakukan!!!" Teriak Sibki.
Sibki langsung menangkap Salsa, sedang Saman terjatuh ketubuh Aruna. Aruna menatap tajam Saman yang tidak sadarkan diri jatuh kepadanya, karena melindungi dia dari pisau.
Mendengar teriakan Sibki semua orang berlari ke dalam rumah. Mereka terkejut melihat pisau menancap di punggung Saman.
"Amankan wanita ini!!! dia ingin membunuh Aruna," teriak Sibki.
Salsa segera mereka ikat, Jojo dan wahyu segera membopong Saman menuju mobil untuk di bawa ke rumah sakit.
"Abah ... jangan biarkan Sasa dekat dengan Aruna dia berbahaya," seru Aan.
"Terlambat, Saman jadi korbannya karena melindungi Aruna," jawab Jojo. Jojo dan Wahyu meninggalkan Aan, mereka langsung melajukan mobil menuju rumah sakit membawa Saman.
Aan berlari ke dalam rumah Sibki untuk melihat keadan Aruna.
"Apa hubungan Aruna sama Gurdi?" tanya Aan.
"Gurdi kaka Victor suami pertama Aruna, kaka ipar Aruna yang mati di bunuh istrinya," jawab Suminten dingin.
"Wanita itu istri Gurdi," seru Aan. Aan memberikan laporan penyelidikannya.
"Wanita siluman ..." seru Salsa. Salsa tertawa terbahak-bahak karena misinya gagal membunuh Aruna.
***
Bersambung ...
***
Sabar dulu ya readers... ini masih awal cerita.
Author gak bisa langsung loncat ke depan, nanti sulit menjabarkannya.
Maaf ya kalau masih boring.
😘😘😘