Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 108. Senang


Urusan Aruna dan pemilik restoran Ananda selesai. Aruna segera meninggalkan restoran itu dengan perasaan bahagia. Dia berlari santai mengejar ke arah mobil Sibki yang tengah menunggu dia. Aan tersenyum kecil melihat tingkah Aruna yang mengira dia dan Ananda akan menikah.


"Lho Pak Aan sejak kedatangan Aruna tadi bawaannya senang banget, raut wajahnya juga sedari tadi terlihat bahagia, sebelumnya tidak seperti ini," ucap Nanda.


Aan berusaha menahan senyumannya, namun dia tidak bisa, senyuman itu terus terukir di wajahnya.


"Tuh kaan, tapi saya dengar dia sudah menikah," ucap Nanda


"Aku tahu," jawab Aan, tetap dengan senyuman yang sama.


"Sudah tentukan tempatnya mau di mana? Biar secepatnya saya kosongkan tempat yang miss mau, pada tanggal tersebut," sela Aan.


"Saya masih bingung, nanti saya diskusikan dulu sama calon suami saya, nanti secepatnya saya kabari pak Andika," jawab Nanda.


"Baiklah … kalau begitu aku pamit dulu, selamat siang miss Nanda."


Aan segera pergi dari restoran itu, namun jika teringat kembali kilas balik masa lalunya tentang restoran ini, Aan teringat kembali pula, akan titik menegangkan dalam hidupnya, yang mana Restoran Ananda salah satu restoran yang dia minta menyediakan makanan saat dia dan Aruna menikah.


"Aruna … kenapa kamu selalu membuatku tersenyum," gerutu Aan.


***


Mobil yang dikendarai Sibki melaju cepat membelah jalanan menuju arah pulang ke rumah mereka. Aruna sekilas melirik kearah Sibki yang fokus memandangi jalanan di depan sana. "Kak Sibki, Aan akan menikah."


"Oh ya? Kamuuu tahu dari mana?" Sibki menoleh sebentar kearah Aruna, kini pandangan matanya kembali fokus pada jalanan yang dilalui.


"Di dalam restoran tadi, ada kak Aan, dia sedang mengurus pernikahan," jawab Aruna.


"Bagaimana perasaan kamu?"


"Aku bahagia kak, akhirnya kak Aan bisa melanjutkan hidupnya." senyum Aruna menghiasi wajahnya.


***


Kehidupan yang sangat indah diwarnai canda tawa si kembar tiga membuat Aruna melupakan segala kepedihannya. Kini delapan bulan sudah dia menyandang status janda.


Hari ini semua orang sibuk berdandan karena akan menghadiri pesta pernikahan Nanda, pelanggan mereka. Kini mereka sampai di arena parkir tempat acara berlangsung. Si kembar sudah rapi, mereka duduk di singgasana mereka masing-masing, yaitu stoler mereka. Sibki mendorong stoler Rayyan, Mastia mendorong Stoler Dena, sedang Suminten mendorong Stoler Deli. Mereka berjalan bersama menuju tempat resepsi.


"Sini kak Sibki, Rayyan biar sama aku," pinta Aruna.


"Nggakkk sama aku saja." Sibki mempertahankan stoler Rayyan yang dia pegang.


"Nanti kakak nggak laku-laku lho bawa-bawa anak gini, sendiri aja gaka laku apalagi punya anak," ledek Aruna.


Sibki mengalah daripada Aruna mengejeknya terus. Kini mereka memasuki tempat acara berlangsung.


Mata Aruna terbelalak melihat mempelai pria-nya bukan Aan.


"Siapa kak suami miss Nanda?"


"Aku lupa namanya, tapi dia sama profesinya dengan Nanda," jawab Sibki.


Aruna melamun, karena dia salah perkiraan, dia tidak melihat apa yang didepannya.


Brukkk!


"Aduh!" Ringis seseorang.


Aruna baru sadar kalau stoler anaknya menabrak seseorang.


"Maaf …." ringis Aruna.


Orang yang terjatuh itu langsung bangun kembali, Aruna dan orang itu sama-sama membisu saat menyadari siapa yang bola mata mereka tangkap.


"Kak Aan?"


Sedang Aan merubah pandangannya, melihat siapa yang duduk santai di stoler itu. Seorang anak laki-laki tampan yang begitu mirip dengannya.


"Didd-dia … Rayyan?"


Aruna mengangguk.


Aan tersenyum namun air matanya tidak berhenti menetes. Bisa melihat anaknya yang selama ini dia rindukan.


"Astaghfirullah … mereka sudah besar," ringis Aan.


"Maafkan aku, gara-gara kebodohanku hak-mu terenggut," ucap Aruna lirih.


"Itu takdir kita, mau apa lagi, indahnya hanya meng ikhlaskan semua ini." Aan berjongkok mengajak Rayyan berbicara.


"Papa .…" ucap bibir mungil Rayyan.


Hati Aan bergetar mendengar kata 'papa' dari mulut anaknya.


"Aku tidak ingin merusak kebahagiaanmu, tapi Rayyan memanggil semua laki-laki papa," sela Aruna.


"Aruna … yuk kita--" Sibki terkejut, tidak bisa meneruskan kata-katanya , saat melihat Aan berada tepat di depan stoler Rayyan.


"Papa ...." Rayyan membuka tangannya pada Sibki.


"Capek ya di sana?" tanya Sibki.


Rayyan mengangguk.


"Okey … sini gendong sama papa." Sibki langsung mengangkat Rayyan dari stoler.


"Yang duanya di mana?" tanya Aan.


"Rayyan mau gendong papa itu?" tanya Sibki.


Rayyan menatap kearah Aan.


"Aan .…"


Aan langsung mengendong Rayyan.


"Terima kasih … aku sangat merindukan ini," ringis Aan. "Maafkan aku, aku tidak menjenguk mereka bukan berarti aku tidak rindu, aku hanya menghindari fitnah."


"Ayo … temui lagi dua yang lain," sela Sibki.


Aan dan Sibki berjalan bersama, sedang Aruna mengikuti mereka dari belakang sambil mendorong stoler kosong punya Rayyan.


"Assalamu'alaikum," salam Aan.


"Wa'alaikum salam, nak Aan .…" jawab Suminten dan Mastia bersamaan.


"Sini Rayyan sama aku, silakan lepas rindu dengan Dena dan Deli," sela Sibki.


Suminten dan Mastia sama-sama memeluk Aan.


"Maafkan kami nak Aan …." ringis Suminten dan Mastia.


"Sama-sama umak … ibu …." balas Aan.


Suminten dan Mastia langsung menggedong Dena dan Deli.


"Bayi-bayiku sudah besar .…" ringis Aan.


"Ini papa sayang," bisik Suminten pada Deli yang ada di gendongannya.


Aan sangat bahagia bisa melihat ketiga anaknya hari ini. Aan melirik ke arah Aruna yang nampak ketakutan, saat Aan berbalik, ternyata ada tiga Bodyguardnya berada didekat Aruna.


"Jangan takut, mereka penjagaku," ucap Aan pada Aruna.


Aruna berusaha santai dengan keadaan ini. Walau perasaannya tidak karuan melihat laki-laki yang selalu dia cinta berada di dekatnya. Aruna sadar diri, siapalah dia. Kini dia tidak pantas lagi bersama Aan.


Sedang Aan terlihat asyik bercanda dengan Dena dan Deli yang digendong nenek-neneknya.


"Maafkan papa sayang … papa bukan papa yang baik," ucap Aan lirih, seraya mendaratkan kecupan halus pada pipi anak-anaknya.


"Untung ketemu kakak Aan di sini ada yang ingin aku bicarakan." Ucapan seorang gadis membuyarkan perhatian mereka yang sedari tadi memperhatikan Aan yang bercanda dengan anak-anaknya. Seorang wanita asing tiba-tiba menarik Aan ke arah pojokan. Namun tidak mudah Bodyguard Aan menahan langkahnya.


"Tenang, dia temanku," sela Aan.


Wanita itu melanjutkan keinginannya, menarik Aan ke pojokan. Dari kejauhan Aruna melihat Aan dan wanita itu bicara, di wajah keduanya terus terukir senyuman indah, tanda meraka bahagia. Wanita itu juga terlihat berulang kali memeluk Aan.


"Ternyata sakit Kak Aan saat melihatmu bahagia dengan orang lain," gerutu hati Aruna. Aruna segera mengalihkan pandangannya ke arah Lain.


***


Kejadian di pojok Sana. Aan tengah berbicara dengan Linda, karena hanya Aan yang mengetahui wajah baru Linda hasil operasi plastik.


"Ada apa Linda? Kenapa kamu sangat bahagia?" tanya Aan


"Kak Aan … terima kasih, berkat pertolongan kak Aan, aku lepas dari banyak hal, terima kasih," ringis Linda sambil memeluk Aan.


"Linda tolong lepas," pinta Aan lembut.


"Maaf kak Aan, aku sangat bahagia, kakak ingat dokter luar negri yang membedahku?"


Aan mengangguk.


"Kami akan menikah," seru Linda.


"Waw itu luar biasa, selamat!" ucap Aan.


"Terima kasih kak Aan," ucap Linda, sambil melompat kecil.


Linda memandang ke arah Aruna, Aruna terlihat asyik bersama anaknya.


"Apakah dia istri kak Aan? Eh maaf maksudku wanita yang direbut kak Saman dari sisi kak Aan?"


Aan mengangguk dan tersenyum.


"Aku akan bicara padanya kalau kak Aan di jebak kak Saman,"


"Semua sudah tahu Linda," ucap Aan.


"Tapi kenapa dia masih bertahan sama kak Saman? Bukankah kak Saman?"


"Mereka memaafkan kakak kamu, Linda."


"Tapi ini tidak adil bagi kak Aan," protes Linda.


"Adil menurut Allah, tidak adil menurut nafsu kita, mereka menikah bukan pacaran, tidak boleh memisah suami dan istrinya tanpa alasan yang darurat(udzur), Saman sangat mencintai dia," terang Aan.


"Aku akan bicara langsung dengan kak Saman! Kak Aan berhak bersama istri kakak, aku yakin kakak sangat mencintai dia," ringis Linda.


"Kadangkala cinta tidak harus memiliki Linda, jika Aruna bahagia bersama Saman, biarkan mereka bahagia," ucap Aan.


Linda terdiam, matanya terus memandang kearah Aruna. "Aku permisi kak Aan, aku mau cari Saman yang keterlaluan itu, aku adiknya saja dia tumbalkan." Linda pergi begitu saja meninggalkan Aan.