
Manda kaget mengetahui dirinya pingsan selama tiga hari.
"Bagaimana perasaan kamu sekarang?" Tanya Sofyan.
"Lebih baik, tapi kenapa ya kepalaku sangat sakit, sebelumnya aku tidak pernah mengalami seperti ini," Manda sambil berpikir.
"Mungkin kamu stres, antara mau menikah denganku atau tidak," Sibki menyela.
"Sebelum semua di mulai, apa kamu yakin ingin mengisi lembaran kehidupan didepan bersama Sibki?" Tanya Sofyan.
Manda mengangguk.
"Kalau kamu yakin, kamu tidak perlu stres berpikir, jalani saja," lirih Tiar.
"Aku bukan membela Sibki Manda … tapi Sibki memang laki-laki yang baik, jauh lebih baik daripada Ifin yang selalu mengejar kamu," lirih Sofyan.
"Ifin? Rasanya aku tidak asing dengan nama itu," lirih Sibki.
"Laki-laki yang pagi itu … em, di seberang mesjid," lirih Manda.
"Oh … aku ingat," ucap Sibki.
"Maafkan aku karena membuat kak Sibki repot, aku bukan mengusir kakak, tapi kakak boleh pulang, aku sudah lebih baik," lirih Manda.
"Bukannya aku tidak mau berpisah dengan mu, walaupun pada dasarnya iya, tapi … aku pulang setelah magrib ya, tanggung," lirih Sibki.
"Nah sudah masuk waktu, ayo kita Sholat," seru Sofyan.
Sibki dan Sofyan segera menuju mushalla rumah sakit, sedang Tiar sholat sendirian di ruangan Manda.
Setelah selesai sholat magrib Sibki undur diri pamit pada semua orang.
*****
Tiga hari kemudian.
Kondisi Manda memang sangat baik, dalam pemeriksaan dan segala tes yang Manda jalani juga menyatakan Manda sehat. Manda diperbolehkan pulang oleh dokter. Kini Manda berada di rumahnya.
****
Di tempat lain.
"Assalamu alaikum kak Sibki,"
"Wa alaikum salam, Elna?" Sibki terkejut bertemu Elna di rumah makan.
"Kaka sama siapa?"
"Aku sendirian, kamu?"
"Aku sama teman-teman, tapi sayang kami kurang satu, Manda," lirih Elna.
"Maafin Manda ya, Manda sakit El," lirih Sibki.
"Sakit? Sakit apa?" Elna panik.
"Sudah pulang kok dari rumah sakit, ini aku mau kerumah dia,"
"Aku kira dia di pingit karena akan menikah, maafin aku kak, aku tidak tahu sama sekali kalau Manda sakit."
"Aku juga baru tahu, karena Sofyan panik dan baru tiga hari yang lalu aku menjenguk dia, padahal Manda tidak sadarkan diri tiga hari sebelum nya."
"Boleh aku ikut? Aku rindu sama Manda," lirih Elna.
"Teman-teman kamu?"
"Mereka pasti maklum, aku pamitan dulu sama mereka kak, assalamu alaikum,"
"Wa alaikum salam," jawab Sibki.
Elna segera berjalan ke arah teman-temannya, tidak lama dia berjalan kembali ke arah Sibki.
"Aku sudah izin sama mereka semua menjenguk Manda kak," seru Elna.
"Oke, kita berangkat setelah pesananku selesai," ucap Sibki.
Tidak lama pesanan Sibki datang, setelah membayar semuanya Sibki dan Elna segera ke mobil dan menuju rumah Manda. Elna dan Sibki saling diam, Elna dudk di kursi bagian belakang sendiri. Sedang Sibki fokos menyetir. Beberapa waktu menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah Manda. Elna dan Sibki sama-sama turun dari Mobil.
"Siapa kamu?" Sapa Sibki pada seorang laki-laki yang mematung memandangi rumah Manda.
Laki-laki iti menoleh pada Sibki,
"Ifin?" Lirih Sibki.
Namun laki-laki itu segera kabur dari situ.
"Fin, tunggu!!!" teriak Sibki.
Namun Ifin tetap berlari meninggalkan area rumah Manda.
Dari dalam rumah ...
Mendengar suara dari arah luar, Sofyan segera berjalan menuju kearah pintu.
"Sibki? Apa kamu yang berteriak tadi?" Tanya Sofyan.
"Assalamu alaikum," sapa Sibki dan Elna.
"Wa alaikum salam," jawab Sofyan.
"Tadi ada seorang laki-laki yang memandangi rumah kakak," lirih Elna.
"Iya, aku tadi manggil Ifin, tapi dia kabur," lirih Sibki.
"Owh, Ifin? Nanti aku samperi dia, ayo masuk," ajak Sofyan.
Mereka semua masuk kedalam rumah.
"Masya Allah, kak Elna? Kak Sibki?"
"Maaf Manda aku nebeng di mobil calon suami kamu, aku kaget dengar kamu sakit pas tadi kami tidak sengaja ketemu di restoran."
"Gak apa-apa kak El,"
"Kamu jahat, kenapa sakit tidak kasih kabar,"
"Maaf kak Elna, kak Sofyan gak bakal ngurusin ponsel aku, itu masih di charge," lirih Manda.
"Bu ini aku beli makanan buat kita semua makan siang," Sibki memberikan bungkusan makanan pada Tiar.
"Walah … kamu ini repot-repot aja, ibu bisa masak kok," seru Tiar.
"Sesekali bu," lirih Sibki.
"Bagaimana keadaan kamu Manda?" Tanya Sibki.
"Alhamdulillah, aku mulai baik kak," jawab Manda.
"Jadi … bagaimana pernikahan kalian?" Tanya Elna.
"Akan di atur ulang El, tanggal yang kami tetapkan kemaren kami batalkan," jawab Sibki.
"Jaga kesehatan kamu Manda, jangan sakit lagi, entar undangan yang kalian cetak jamuran lagi kelamaan di simpan," seru Elna.
"Insya Allah kak, kami serahkan semua urusan itu sama kak Sibki, kami siap kapan saja," jawab Manda.
"Sibki, kamu suka Manda yang kemaren di rumah sakit itu, apa Manda yang sekarang?" Tanya Sofyan.
"Aku suka Manda yang pertama kali ku lihat," jawab Sibki sambil mengalihkan pandangannya.
"Tuh Manda jangan genit-genit kayak kemaren, Sibki tidak suka," ejek Sofyan.
"Sudah ngobrolnya, ayo kita makan siang dulu," seru Tiar.
Mereka mengambil tempat masing-masing menghadapi piring makanan mereka. Setelah do'a di pimpin oleh Sofyan, mereka mulai fokus dengan makanan mereka masing-masing.
***
Dua minggu berlalu.
Kedua belah pihak keluarga setuju mengadakan akad nikah terlebih dahulu, seminggu lagi akad nikah akan di laksanakan.
"Manda!!!" Teriak Tiar. Namun tidak ada juga jawab Manda yang masih di dalam kamar mandi.
"Manda …." lirih Tiar halus.
Manda membuka pintu kamar mandi perlahan.
"Bu, bisakah pernikahanku di batalkan?" Lirih Manda.
"Kek--kenapa?" Tiar kaget.
"Aku …, aku," air mata Manda menetes. Dia langsung berjalan cepat kearah kamarnya dan langsung mengunci pintu kamarnya.
"Manda!!! Ada apa?" Tiar mengetuk kamar Manda.
"Bu, aku mohon batalkan pernikahan aku dan Sibki, aku tidak akan pernah bisa menjalankan tugasku sebagai seorang istri," jawab Manda dari dalam kamarnya.
"Manda, ada apa? Jangan buat ibu takut," lirih Tiar.
Manda membuka pintu kamarnya sedikit. "Bu, tolong pinta kak Sofyan mendatangi Sibki untuk membatalkan pernikahan ini, aku mohon," lirih Manda halus, dia kembali menutup pintu kamarnya.
"Kamu telepon saja kakak mu, dia sedang di majelis ustadz Ali," teriak Tiar.
Manda segera mengambil ponselnya dan menelpon kakaknya. Panggilan terhubung.
"Assalamu alaikum Manda,"
"Wa alaikum salam kak,"
"Ada apa?"
"Kak Sofyan masih di majelis?"
"Iya masih, ada apa?"
"Disana ada kak Sibki?"
"Ada, kamu rindu dia?"
"Bukan,
Kak, tolong sampaikan pada Sibki, aku membatalkan pernikahan, aku tidak bisa menikah kak, assalamu alaikum," Manda langsung mematikan sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban salam dari Sofyan.
Manda menangis menyadari keadaannya seperti ini. "Aku banyak dosa ya Rabb, tapi … apakah tidak ada cobaan lain selain ini, ini berat, maafkan aku … aku mengeluh atas ujianmu pada diriku," ringis Manda.
***
Di majelis ustadz Ali.
"Wa alaikum salam," lirih Sofyan lemah.
"Ada apa Sof?" Tanya Sibki.
"Manda,"
"Manda kenapa? Apa sakit lagi?" Sibki panik.
"Bukan, dia sehat namun otaknya sakit, dia memintaku untuk menyampaikan kalau dia membatalkan pernikahan kalian,"
"Apa?" Sibki sungguh terkejut.