
Aruna dan Aan keluar bersama dari tenda yang menjadi saksi bisu perjuangan mereka.
Aruna tidak bisa menyembunyikan mimik bahagia dari wajah nya, begitu juga Aan. Sangat Sulit bagi kedua nya untuk berhenti tersenyum.
Mereka menjadi tenang, saat melihat kearah Ustadz Ali, hanya ustadz saja berdiri sendirian di sana.
Aan dan Aruna berjalan mendekat pada Ustadz Ali.
"Hei ... apa terlalu sulit Aan ...??? Lama sekali kalian baru keluar," seru Ali.
Aan menggaruk garuk kepala nya.
"Mana mahkluk itu ...?" Tanya Ali.
Aan memberikan botol kecil yang mengurung makhluk yang keluar dari kewanitaan Aruna.
"Bagus ...! Kamu sudah bebas Aruna, tidak ada lagi laki laki yang akan mati karena menyentuh mu. Yang ada mungkin laki-laki akan mati karena jauh dari kamu," seru Ali melirik Aan.
"Ya ampun ... seperti nya aku harus melakukan Ruqyah lagi pada kalian berdua!!!" Seru Ali.
"Kenapa pak Ustadz ...????" Tanya Aan dan Aruna bersamaan.
"Oh ... tidak jadi ...!!! aku kira kalian kehilangan suara kalian," seru Ali.
Aan memeluk Ali.
"Makasih pak Ustadz ... aku telah jahat pada ustdaz, tapi ... ustadz sangat banyak menolong saya," lirih Aan yang masih memeluk Ali.
"Hei ...lepas!!! Apa kau sudah cuci tangan??? Kalian kan baru ...??? Oh tidak ...! aku terpaksa harus ikut mandi juga .. !" Canda Ali.
"Ustadz ..." lirih Aan.
"Iya bercanda ... ayoo cepat sana mandi!! Bentar lagi magrib!!" Seru Ali.
Aan dan Aruna pasrah di bercanda'i Ali.
"Pulang ke rumah siapa ...? rumah mu ...? apa rumah ku ...?" Tanya Aan menatap Aruna.
"Apa kakak keberatan kalo kita pulang ke rumah masing masing dulu ...?" Lirih Aruna.
Aan menahan nafas nya mendengar pertanyaan Aruna. Keinginan mengulangi lagi sebelum mandi gagal.
"Bagaimana kalau di rumah ku ...? yah ... siapa tahu saja kita bisa lomba buat anak," seru Ali
"Tidak!!!" Jawab Aan dan Aruna bersamaan.
Ali tidak bisa lagi menahan tawanya, rasa puas dia meledeki pengantin baru ini.
"Ayo cepat ... rumah siapa aja terserah ... yang penting pulang!!" Seru Ali.
Mereka bertiga berjalan ber iringan meninggalkan Sungai dan pulang ke rumah masing masing.
***
"Assalamu alaikum," lirih Aruna ketika sampai rumah nya.
"Wa alaikum salam ... Aruna ... Nak Aan ...?" Tanya Suminten.
"Dia pulang kerumahnya mak," jawab Aruna.
Betapa bahagianya Suminten melihat Aruna pulang kerumah dan baik baik saja.
"Ibu ...?" lirih Aruna melihat Mastia dalam rumah kontrakan mereka.
"Iya ... ibu nungguin kamu ... ibu cemas waktu air sungai menggemuruh tadi, maka nya ibu nggak bisa pulang ke kontrakan Sibki." kata Mastia.
"Danu sekeluarga di mana?" Tanya Aruna.
"Kita dempet dempetan di kontrakan nya Sibki," Jawab Mastia.
"Ya sudah ... ibu kembali ke kontrakan nya Sibki," seru Mastia memeluk Aruna .
"Sayang ... mau makan?" Tanya Suminten.
"Aruna mau mandi dulu mak ...," jawab Aruna malu malu.
***
Di rumah kontrakan Aan.
"Mau nginep di kamar Mushalla, sudah izin sama ustadz Ali," jawab Aslun.
"Di sini saja, kita kan nggak cuma pinya 1 kamar aja," lirih Aan.
"Tenang tuan ... entar pagi pagi saya balik masak buat tuan sama Aruna." jawab Aslun.
"Bukan gitu Aslun ...! Tapi model model nya saya ngusir kamu," seru Aan.
"Tuan ... saya nggak sanggup tidur di sini malam ini ... kasian tuan bujangan seperti saya ngenes!!! Serumah sama pengantin baru," lirih Aslun.
"Iya deh!!! Apa mau nya kamu saja!" Jawab Aan.
"Kamar udah rapi dan Wangi tuan ... saya permisi," lirih Aslun.
Aan pasrah ditinggal Asisten nya.
Saat Sholat magrib dan Isya, Aan bertemu Wahyu di mushala. Aan hanya salim pada mertua nya. Dia bingung harus apa.
Selsai Sholat Isya, Aan dan Ilyas membicarakan masalah upah pembongkaran tenda di pinggir sungai di taman. Wahyu mendekati Aan.
"Nak Aan sudah makan malam?" Tanya Wahyu.
"Belum bah ... entar Aan gampang beli," jawab Aan.
"Kalau nak Aan nggak keberatan ... makan malam seadanya sama sama di rumah abah ..." lirih Wahyu.
Tentu saja Aan tidak menolak.
Dia pamit undur diri pada Ilyas.
Kini Aan, Wahyu, Suminten, dan Aruna duduk di tikar mengahadapi makan malam mereka masing masing. Mereka makan malam bersama tanpa saling bicara.
Selesai makan, Aan dan wahyu duduk di ruang tengah kontrakan Wahyu, sedang Aruna dan Suminten membereskan bekas makan mereka.
Setelah selesai, Suminten dan Aruna bergabung bersama Aan dan Wahyu.
Suminten berjalan ke arah Aan.
"Nak Aan ... terimakasih banyak nak ... terimakasih ..." ringis Suminten
"Apa an sih mak ... harusnya Aan yang terimakasih sama Umak dan Abah," jawab Aan.
"Boleh umak peluk nak Aan ...???" Tanya Suminten
Aan langsung memeluk Suminten.
Suminten menangis di pelukan Aan.
"Nak Aan ... titip anak kami ..." lirih Suminten.
"Maaf mak ... Aan tidak bisa menerima Aruna ..." lirih Aan
Suminten dan Wahyu kaget, apalagi Aruna.
"Apa maksud nak Aan," lirih Wahyu lemas.
"Maaf ... saya tidak mau membawa Aruna, saya tidak bisa bah. Saya tidak bisa kalau hanya membawa Aruna, saya ingin kalian juga ikut bersama kami. Tolong ... Aan tidak punya orang tua, cuma kalian orang tua Aan, Apa kalian tidak mau menemani anak anak kalian ...?" Tanya Aan
"Aan mohon ... tinggallah bersama Aan dan Aruna, Aan sudah beli rumah dekat sini buat kita berempat," lirihnya
"Umak .. abah ... terima ..." lirih Aruna.
"Dengan Syarat ...!" lirih Wahyu.
"Apa bah ...?" Tanya Aan.
"Bawa anak abah malam ini kerumah mu," seru Wahyu
Wahyu akhirnya menyetujui, namun hanya janji sekedar janji dimalam ini, berharap nanti nya Aan lupa, karena mereka tidak enak tinggal bersama menantu nya.
Aan mengangguk. Suminten semakin erat memeluk menantu nya ini.
"Mak .... cukup ... entar lecet tubuh tuan Andika," seru Wahyu tertawa.
"Tuan ..." lirih Suminten mencubit pipi Aan.
Aruna tersenyum melihat abah dan umaknya begitu akrab dengan Aan dan begitu menyayangi Aan.