Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 54 Sekelumit Tentang Majelis Mahabbah.


Orang yang baru tahu tentang majelis taklim 'Mahabbah' pasti heran. Kenapa majelis ini tidak memungut biaya dalam memberi pelayanan ruqyah.


Padahal tidak sedikit orang yang datang meminta tolong. Karena memang itu tujuan dua orang pendiri majelis ini semata hanya ingin membantu dan menolong. karena di daerah ini sangat kental hal-hal mistis.


Kyai Amrun dan saudaranya sangat sedih melihat kehidupan sebagian besar warga yang suka ke dukun untuk mengobati gangguan jin. karena sebagian besar warga sangat minim pengetahuan dengan agama. Bahkan beberapa lainnya suka ke dukun untuk membuat usaha orang lain mati, atau juga meminta penglaris, enteng jodoh dan banyak hal.


Kyai berharap, membuka pengajian ini untuk membuka kesadaran mereka yang sedikit sedikit langsung main santet, yang gemar pelet dan lainnya agar sadar dan taubat, bahwa perbuatan mereka itu jahat. Dan menolong warga lain yang jadi korban Santet. Namun tidak bisa juga 100 % berharap kesembuhan dari Ruqyah. Karena sang pencipta lah yang menentukan.


Namun setidaknya sudah melakukan ikhtiar untuk menyembuhkan diri dengan cara Qur'ani.


Kiyai berharap warga bisa memperdalam pengetahuan dan wawasan Agamanya, hingga mengerti dengan perlindungan diri dari hal hal gaib yang jahat dan juga bisa memulai pengobatan dan pencegahan dari diri sendiri, yang mana resep itu sudah ada dalam Al-Qur,'an. Kalau memang tidak mampu lagi, maka kiyai menawarkan ruqyah, namun gratis.


Kehadiran majelis di sambut hangat masyarakat. Mereka rutin datang ke pengajian, dari waktu kiyai Amrun ada, hingga sekarang yang di sambung oleh ustadz Ali, karena kiyai Amrun sudah wafat dan beberapa pemuda di sana juga belajar ilmu Ruqyah, dengan syarat untuk menolong, bukan sebagai mata pencaharian.


Seperti majelis ini yang memberi contoh langsung, menolong tanpa pamrih. Silahkan mencari uang, tapi dari sektor yang lain, bukan dari menjual Ayat-Ayat Al-qur'an. Karena kita yang harusnya menghidupkan agama, bukan agama yang menghidupi kita, pesan Kyai Amrun.


Tidak mudah mempertahankan majelis ini, namun berkat kegigihan semua orang dan keridhaan dari sang pencipta. Majelis Mahabbah bisa bertahan hingga sekarang.


Kenapa pendiri majelis membuat usaha untuk majelis?


Karena banyak pengeluaran, dari pajak,bayar tagihan listrik, pemeliharaan dan lainnya. Juga untuk menyambung hidup pengurus majelis, agar punya usaha dan penghasilan sendiri. Jika tidak memiliki pemasukan, tentu akan bergantung pada para donator, untuk kelangsungan majelis juga kelangsungan hidup si pengelola majelis. Jika donator tidak ada tentu akan terpaksa menarik biaya dari yang datang.


Pendiri majelis ini tidak menginginkan hal itu. Mereka hanya ingin membantu sesama. Yang mana sekarang kedua tokoh besar itu sudah berada di tempat peristirahatan yang panjang. Majelis bisa terus maju dan terus membantu tanpa mengharap penuh uluran tangan para Donator. Memang sekarang banyak Donator. Namun usaha majelis tetap berjalan dan sebagai tonggak utama menyandang kebutuhan majelis juga untuk kemajuan majelis ini di masa Depan.


perkebunan milik majelis Mahabbah di kelola oleh beberapa masyarakat sekitar. Ustadz Ali lah sekarang yang menangani semua itu. Dari Kyai Amrun hidup, beliau mengagumi sosok Ali. Hingga di akhir Hayat beliau, beliau meminta Ali untuk menikahi Anaknya Nurul.


Kiyai Amrun yakin, Ali imam yang terbaik saat ini yang beliau lihat tepat buat Nurul. Karena yang menjadi suami Nurul yang melanjutkan perjuangan beliau menjaga putri semata wayangnya itu. Namun Ali ragu Nurul mau menikah dengannya, hingga dia meminta syarat, jika Nurul menolak, maka dia tidak akan menerima Amanah sang kiyai. Dengan senang hati kiyai setuju dengan syarat Ali.


Karena bagaimana pun Nurul berhak menentukan siapa yang ingin dia nikahi dan bagi Ali, Nurul terlalu sempurna untuk menjadi istrinya. Sehingga bermimpi memper istri Nurul pun dia tidak berani.


'Inilah sekelumit tentang majelis Mahabbah.'