
Seminggu sudah Aruna dan Saman menikah. Bagaimanapun Aruna berusaha menerima Saman sebagai suaminya, tetap saja tidak bisa. Sebenci apapun hatinya pada Aan, di sudut sana Aan masih berkuasa. Sebesar apapun luka yang Aan gores, tetap saja rasa cinta yang terlanjur tumbuh itu tidak hilang. Tapi memaafkan Aan sungguh tidak bisa.
Suminten sedih melihat keadaan Aruna, walau dia berusaha tersenyum, tetap saja rona kesedihan terpancar di wajah Aruna. Suminten menatap sayu wajah Aruna. "Aruna ... kamu masih tidak bisa melupakan nak Aan?"
Aruna menghela napasnya, mengumpulkan tenaganya untuk menjawab pertanyaan umaknya. "Entahlah mak ... semakin Aruna berusaha melupakan kak Aan, Aruna semakin sakit, tapi malah lebih sakit jika masih bersama, kejadian waktu itu tidak bisa Aruna lupa mak, hati Aruna sesak menyadari Aan masih sangat mencintai Maya dan berusaha membangunkan Maya pada diri orang lain," ringisnya.
"Nak Saman?"
"Bagaimana Aruna bisa menolak orang yang dua kali mengorbankan dirinya untuk Aruna?" Mata Aruna berkaca-kaca, ketidak berdayaannya mencintai Saman, tapi juga tidak berani menolak karena merasa hutang nyawa pada laki-laki itu.
"Umak kira kamu akan belajar menerimanya setelah menikah, seperti umak dulu, umak terpojok hingga harus menikah dengan abahmu, tapi seiring berjalannya waktu, abahmu mengisi hati umak."
"Aruna juga berharap begitu, semoga dengan berjalannya waktu, Aruna bisa menerima Saman. Saman baik sayang sama Aruna, sayang sama anak-anak, Aruna tidak tidak tahu kenapa Aruna tidak bisa mencintai Saman. Aruna menerima Saman menjadi suami Aruna, hanya demi anak-anak yang perlu sosok ayah. Pengorbanan Saman juga terlalu besar. Dia sosok yang tepat untuk anak-anak, Aruna sama sekali tidak berani menolak dia mak, bagaimana perasaan umak jika ada orang yang mengorbankan dirinya demi kita?"
"Umak mengerti Aruna ... tapi kebahagiaan kamu juga penting."
"Kebahagiaan Aruna hanya anak-anak Aruna mak, biarlah orang-orang mengatakan Aruna wanita murahan dan lainnya. Aruna sadar aib Aruna, berkali-kali menikah, andai bisa memilih, Aruna juga pengen menikah satu kali saja selama hidup ini."
Suminten terbayang segala rintangan hidup putrinya, dari kehidupan saat di desa, hingga kini. Suminten tidak bisa berkata-kata lagi, dia menarik Aruna ke dalam pelukannya.
"Aruna akan berusaha jadi istri yang baik mak ...."
Suminten hanya mengusap lembut punggung putrinya.
**********
Perkumpulan orang yang berprofesi sebagai dukun itu kian merosot, sebagian takut melawan putri ular dan memilih menta'ati putri ular itu kembali. Sebagiannya lagi putus asa. Karena satu tahun lebih usaha mereka sia-sia. Tiga diantara mereka mendekam di jeruji besi karena di tuntut Jojo melakukan pembunuhan berencana terhadap cucunya.
Kini hanya tinggal tiga orang yang bertahan. Darnawan, Sokta dan Mujab.
"Sial! Gara- gara laki-laki itu kita gagal!"
"Anggota kita juga tinggal kita bertiga."
"Tidak masalah … pembagian kita akan semakin besar, karena bagi tiga saja."
"Setuju!"
"Malam ini kita semedi bersama menculik tiga anak kembar itu."
"Setuju!"
***
Keadaan rumah Aruna sepi karena Suminten dan Wahyu sedang di kebun. Sedang Aruna larut dalam lamunannya, memikirkan kehidupan dan hatinya yang sangat berlawanan. Sedang si kembar asyik bermain di ruang tengah. Seseorang datang dari pintu belakang. Si kembar cekikikan tertawa karena ulah orang itu.
Orang itu menutup dirinya dengan si kembar dengan selimut. Dia membaca mantra.
……………………………………………………………………..
"Selamat siang putri ular …" sapa orang itu.
Putri ular sangat terkejut dengan kedatangan orang itu yang memeluk ketiga anak Aruna.
"Apa maumu?" Tanya putri ular.
"Aku ingin perlindunganmu dari kejaran dukun-dukun gila itu," ucapnya.
"Kalau aku tidak mau?" tanya putri ular.
"Dukun gila itu akan menyakiti mereka." Orang itu melirik kedekapannya di mana ketiga anak Aruna terlelap dalam pelukannya.
"Aku bisa melindungi sendiri anak-anak ini tanpa harus melindungi kamu! Kamu sudah menusuk Aan dan memfitnah dia selingkuh! Kamu juga dalang perpisahan Aruna dan Aan, owh … seingatku kamu juga bekerja sama dengan mereka, para dukun gila yang memburu anak itu," seru putri ular.
"Iya … aku bekerja sama dengan mereka, namun aku putuskan kesepakatan dengan mereka, karena mereka ingin membunuh anak-anak manis ini," jawab orang itu.
"Kamu datang ketempat yang salah! Karena di sini aku yang akan membunuhmu!" Putri ular mendekat ingin mencekik orang itu dengan ekornya.
"Kenapa berhenti putri? Lanjutkan." orang itu menantang.
"Kamu? Sudah …" putri ular mencium aroma tubuh Aruna pada tubuh orang itu.
Orang itu menaik-turunkan kedua alisnya juga mengukir senyuman lebar di wajahnya.
"Sial!" Gerutu putri ular.
"Baiklah … aku akan melindungi kamu dan anak-anak itu dari para dukun gila itu, tapi hanya sampai anak-anak itu berumur 18 tahun."
"Itu sudah lebih dari cukup putri, delapan belas tahun bukan waktu yang sedikit dukun-dukun gila itu awam masih hidup dalam waktu selama itu," seru orang itu.
"Terserah! Tapi ingat satu hal!
Bayi titipanku itu bisa berguna bagi orang banyak namun juga bisa menjadi musibah, tergantung orang yang merawatnya dan yang mendapatkannya. Aku sudah menitipkan di keluarga yang tepat. Tapi kamu malah menghancurkan keluarga yang penuh cinta itu.
Bayi titipan ku akan menjadi manusia normal seperti hal nya kebanyakan orang, karena dia memang manusia tapi dia tersesat di sini hingga punya kelebihan."
"Apa yang akan membuat anak ini normal seperti kebanyakan orang?"
"Pertama … jika sesuatu sesuatu yang hilang kembali pada tempatnya. Kedua … jika rahasia besar yang tersembunyi terungkap. Ketiga … ketika yang tidak bersalah bebas. Jika hal itu dilakukan oleh seseorang, maka anak itu, dia bebas dari kelebihannya dan orang-orang seperti dukun gila itu tidak akan memburunya lagi, satu hal ... jika anak itu terbebas sebelum 18 tahun, maka aku akan membunuhmu, aku menahan tidak menyentuhmu karena satu hal 'baumu,' jika anak itu bebas maka bau yang melekat padamu kini hilang dan aku ...." Putri ular tersenyum. "Akan ku pastikan kamu mati di tanganku!"
"Putri … apa kelebihan anak titipanmu?"
"Rahasia … ingin tahu? Tanyakan pada dukun-dukun gila rekanmu itu yang masih berusaha memburu anak ini."
Orang itu termenung.
"Aku memberi penghalang bagi pandangan gaib semua orang yang ingin berbuat jahat pada kalian, tapi ingat cuma delapan belas tahun!"
Putri ular meniup ke arah orang itu.
*****
"Anak-anak!!" Aruna heran melihat anak-anaknya di balik selimut. Aruna segera membuka selimut itu,
"Whaaa!" seru si kembar bersamaan.
Aruna tertawa melihat tingkah laku anak-anaknya.
"Assalamu alaikum,"
"Wa alaikum salam …." jawab Aruna. Aruna tersenyum melihat suaminya Saman yang datang.
"Ayo … salim sapa babah dulu," seru Aruna. Babah panggilan ayah anak-anak Aruna pada Saman.
"Kamu selalu cantik," Saman membelai wajah Aruna.
Aruna hanya tersenyum.
***
Malam harinya tiga dukun itu berkumpul, mereka ingin menjalankan misi mereka. Ketiganya duduk saling berhadapan sambil komat-kamit membaca mantra.
"Sial!" Upat salah satu dukun itu.
"Kita terlambat! Pengkhianat itu sudah bekerja sama dengan putri ular!"
"Kita terpaksa harus menunggu tujuh belas tahun lagi."
"17 tahun!? Akhh aku mundur!"
"Aku juga!"
Kini hanya tinggal satu orang dukun yang gila mengejar anak titipan putri ular tersebut. Semua rekan-rekan yang dulu banyak mundur perlahan, ada yang mati dan ada juga yang di tangkap polisi.
Kelebihan anak titipan putri ular tersebut.
- Apa yang dia katakan dari hati atau karena kesal terwujud. Mau itu kata-kata manis ataupun kata-kata pahit.
Hal ini sangat di inginkan oleh para dukun/paranormal untuk kesuksesan karir mereka dalam dunia mistis.
***
Usaha Aan.
Aan tidak tinggal diam di fitnah oleh mantan pengasuhnya. Dia tidak bisa membela diri hanya dengan kata-kata. Tidak bisa membalas semua tuduhan dengan kata-kata tetapi dengan fakta-fakta. Sejak Aruna pergi dia kesana-kemari mencari bukti kalau dia di jebak. Tidak terasa satu tahun berlalu, hatinya sangat merindukan ketiga buah hatinya. Apalagi Aruna.
Hari ini Aan mengunjungi Rumah Sakit yang melakukan operasi plastik pada pengasuhnya yang bernama Laily tersebut. Tidak mudah perjuangannya mendapatkan bukti untuk membela harga dirinya nanti. Namun membayangkan mendapat kepercayaan dari semua orang, semua ini sepadan. Kini dia tengah berada di kantor penyelia jasa pengasuh yang mana pengasuhnya dulu biro jasa ini yang menyediakan.
Aan mempunyai dua bukti, dari Rumah Sakit dan dari kantor biro jasa tempat dia mengambil pengasuh dulu. Di tambah lagi bukti laporan palsu kehamilan yang Laily bawa waktu dulu. Merasa bukti ini cukup untuk membela dirinya, Aan memberanikan diri datang ke rumah Jojo mencari Aruna dan anak-anaknya. Dia memasuki area perumahan Jojo. Aan tersenyum melihat tiga anak kecil bermain di teras rumah itu.
"Assalamu alaikum," sapa Aan.
"Wa---" Aruna tidak bisa meneruskan kata-katanya, saat melihat laki-laki yang ada di depan matanya, Aruna masih mematung melihat sosok yang berdiri tepat di depan matanya.
"Wa alaikum salam," jawab Saman. Dia berdiri tepat di belakang Aruna.
"Saman kamu ke--" ucapan Sibki terhenti, ketika melihat Aan di depan matanya.
"Aan? Mau apa kamu?" Ucap Sibki dingin.
"Aku ingin membuktikan kalau aku tidak bersalah," terang Aan.
"Bersalah atau pun tidak--"
"Ayo An … tunjukan buktimu, kamu berhak membela diri," Saman memotong kata-kata Sibki.
"Ayo duduk," ucap Saman. Aan, Sibki dan dia duduk di kursi yang ada di teras rumah Jojo. Saman memandangi Aruna yang masih mematung.
"Aruna …." panggil Saman.
Merasa namanya dipanggil, Aruna menoleh kearah suara itu datang.
"Duduk …." pinta Saman lembut.
Aruna mengambil kursi yang lain duduk agak jauh dari mereka bertiga. Sambil mengawasi Rayyan, Dena dan Deli yang masih asyik bermain. Melihat Aan hatinya senang dan bahagia, tapi lukanya juga kembali menganga.
"Aku tidak pernah tahu Laily .…" Aan mulai bicara.
"Aan … tolong intinya." Sibki menyela kata-kata Aan.
"Ini … wanita itu benar-benar ingin menjebakku, dia operasi plastik agar mirip Maya, Aan memberikan bukti dari Rumah Sakit.
Sibki dan Saman melihat bukti yang Aan berikan.
"Apa karena Laily mirip Maya sehingga kamu memilih dia jadi pengasuh? Kamu tahu umak abah sedih saat melihat salah satu pengasuh yang datang mirip Maya." ucap Sibki.
"Pengasuh! Aku tidak pernah memilih Laily menjadi pengasuhku, ada yang menukarnya, Laily bukan pilihanku, aku baru tahu pengasuh yang datang bukan yang aku pilih setelah mereka bekerja 10 hari." Aan menyodorkan bukti yang satunya lagi.
"Dalam gudang waktu itu … aku dibius, laporan kehamilan yang di bawa Laily hari itu palsu! Aku tidak pernah menyentuh Laily," bela Aan.
"Tapi membiarkan kenangan Maya memenuhi rumah itu, kamu sangat menyakiti Aruna," ucap Sibki.
"Aku--" Aan bingung harus berkata apa.
"Sudahlah Aan, aku faham kalau kamu hanya ingin Maya dan berusaha membuat Maya hidup lagi dalam sosok wanita lain," sela Sibki.
"Tidak sama sekali!" jawab Aan.
"Apa hanya ini Aan bukti pembelaan dirimu?" Saman meletakkan kembali berkas yang Aan berikan pada dia dan Sibki.
"Itu sudah cukup menjelaskan kalau aku di jebak," jawab Aan. Mata Aan memandangi Aruna yang masih membisu dan tidak perduli dengan kehadirannya.
Saman tersenyum melihat rekasi Aruna, dia merasa tenang, kekhawatirannya tidak terbukti. Sangat jelas terlihat kalau Aruna sangat membenci Aan. Saman mengalihkan pandangannya, dia menoleh kearah Sibki. "Sibki … kamu ingat berkas yang aku berikan delapan bulan lalu?"
"Aku sangat ingat, sebentar aku ambilkan." Sibki segera masuk ke dalam rumah.
Tidak lama Sibki keluar dan membawa beberapa map.
"Aan … kami juga melakukan hal yang sama untuk menyelamatkan rumah tanggamu dan Aruna, Aruna sangat mencintai kamu, agar tidak ada penyesalan di kemudian hari, kami juga berusaha membuktikan kalau kamu tidak bersalah, tetapi ... maaf ...." Sibki memberikan map yang dia pegang pada Aan.
Aan menerima map yang di sodorkan Sibki, dia membaca lembaran demi lembaran, wajahnya tegang membaca isi berkas yang Sibki berikan padanya.
*****
Bersambung ….
****
Hem… sudah Author duga dari awal kalau kalian tidak rela Aan dan Aruna tergugat kebahagiaan mereka Author masih ingat saat Author nulis bab Aruna dan Sibki akan menikah, tapi Akhirnya indahkan?.
Author tadinya ragu untuk teruskan cerita ini.
YA SUDAHLAH AUTHOR PASRAH 😭😭😭
Maaf karena membuat kalian kecewa.