
Karena semua setuju lanjut, okelah lanjut dikit. Author siap di bully😆😆😆😆😆
Baru beberapa hari nekan tombol End eh on going lagi, dasar Author tidak berpendirian,
Mohon maaf ya ... yang komen di bab penguman tidak semua komen ter akhir Author balas komen kalian, minta pengertiaanya ya🙏🙏🙏🙏🙏
Cuss lanjut.
****
Sofyan kasihan dengan Manda yang selalu memikirkan Elna, demi ketenangan Manda, dia kembali memakai jasa mata-mata yang dia sewa dulu untuk mencari informasi siapa pelaku yang mencelakakan Manda dulu. Namun kali ini Sibki yang membayar. Akhirnya Sofyan mendapatkan info di mana Elna berada sekarang.
***
Elna.
Setelah pergi dari rumahnya, Elna tinggal di sudut wilayah lain, bekerja sebagai buruh cuci piring disebuah warung makan. Kehamilan Elna masuk bulan keenam. Dia tidak bisa lagi luwes bekerja, karena perutnya yang kini sudah besar juga cepat capek.
"Wanita hamil seperti kamu harusnya di rumah, bukan banting tulang," tegur Janah sang pemilik warung makan.
"Kalau saya diam, mau makan apa?" Jawab Elna sambil tersenyum.
"Suami kamu?" Tanya Janah.
"Dia tidak tahu saya hamil, saya pergi dari rumah," jawab Elna.
"Kamu jahat! Tega memisahkan anak dengan ayahnya."
"Bukan begitu bu, kami dijodohkan, tidak rasa cinta antara kami, dengan perginya saya dikehidupan suami saya, saya harap dia bisa meneruskan hidupnya dengan pilihannya," kilah Elna.
"Itu hanya perasaan kamu Elna, aku yakin semua orang pasti mencari kamu," ucap Janah.
Elna tersenyum, dia terus melanjutkan pekerjaannya
***
Di luar ruang cuci Sofyan sedang berbicara dengan pelayang dan meminta izin untuk masuk kedalam agar bisa menemui Elna.
***
"Dengan jalan apapun kamu menikah, harusnya kalian bicarakan baik-baik," ucap Janah.
"Saya yakin, dengan kepergian saya, saya tidak akan jadi beban bagi siapapun," ucap Elna.
"Itu salah!!! Kami semua tersiksa!" Sofyan menyela pembicaraan Elna dan pemilik rumah makan itu.
"Kak Sofyan?" Elna kaget.
"Pulang sayang, semua orang gelisah karena kehilangan kamu ...." Sofyan membantu Elna bersandiwara.
"Apa aku bilang Elna, itu hanya perasaan kamu, lihat suami kamu datang menjemput kamu."
"Pulang El," pinta Sofyan halus.
"Elna, pulang bersama suami kamu sekarang," ucap Janah.
Elna tidak berani menolak ajakan Sofyan dihadapan Janah.
"Baik kak, tapi kita harus ke kontrakan dulu untuk mengambil baju-bajuku," ucap Elna.
"Bu, terima kasih sudah menampung istri saya selama ini," ucap Sofyan.
"Elna wanita yang baik, dia rajin dan cekatan, aku senang kenal dengannya, jaga dia baik-baik,"
"Iya bu," jawab Soyan.
Elna dan Sofyan pergi meninggalkan rumah makan itu.
Semua rekan kerja Elna melepas kepergian Elna.
***
Di kontrakan Elna.
"Kenapa kak Sofyan kemari? Aku sudah tenang dengan kehidupan baruku, aku pergi karena aku tidak pantas mendapat kasih sayang kalian semua, aku jahat," Elna mengusap air matanya yang terus mengalir teringat perbuatan jahatnya pada semua orang.
"Aku juga jahat, tapi kita semua di beri Allah waktu untuk merubah diri untuk menjadi lebih baik."
"Tapi aku keterlaluan, andai kalian terlambat, maka Manda akan mati," ringis Elna.
"Kami sudah memaafkan kamu, Elna pulanglah, kamu tidak pantas mendapat hukuman ini, Manda selalu memikirkan kamu, Elna, pulang … demi Manda. Untuk melindungimu, aku akan memberikan namaku untuk anakmu," ucap Sofyan lembut.
"Apa?" Elna terkejut.
"Aku akan menikahi kamu, tapi pernikahan ini hanya di atas kertas hanya status, bukan sungguhan, bukan ikatan yang sesungguhnya, karena kau hamil, kau tidak boleh menikah dengan laki-laki lain, selain ayah anak dari anakmu, walaupun ayah dari anakmu yang meniahi kamu, kalian juga tidak boleh melakukan ibadah yang satu itu. Pernikahan kita tidak di benarkan. Tapi, kita lakukan itu, hanya untuk menyelamatkan kehormatan kamu dan anak kamu yang tidak bersalah, selama menikah aku janji aku tidak akan menyentuh kamu, karena pernikahan ini hanya sah di atas kertas, bukan di mata hukum agama," ucap Sofyan.
Lama membujuk Elna, akhirnya Elna bersedia ikut kembali ke majelis Mahabbah.
Sekembalinya Elna ke majelis membuat semua orang tenang. Apalagi Manda, dia sangat bahagia bisa bertemu Elna kembali. Sedang Sofyan menepati janjinya, dia menikahi Elna di KUA hanya di saksikan oleh Ali dan Nurul juga Manda dan Sibki. Tiar sangat tidak setuju putranya menikahi perempuan yang jahat pada Manda. Namun dia tidak berani protes karena Darnawan mendukung langkah Sofyan.
Darnawan merasakan betapa indahnya kesempatan kedua, dia tidak masalah Sofyan memberikan Elna kesempatan untuk kehidupan yang lebih baik.
Elna dan Sofyan menjalani kehidupan rumah tangga mereka di kontrakan milik Sibki dekat dengan majelis. Dengan batasan dan perjanjian yang sudah mereka sepakati.
***
"Kak jika aku sudah melahirkan, bolehkan kita kembali seperti dulu, maksud aku bukan suami istri lagi," ucap Elna.
"Kita lihat nanti," jawab Sofyan santai.
"Kakak berhak menikahi wanita pilihan kakak, yang kakak cinta,"
"Aku menikahi kamu karena cinta, cintaku pada adikku, Manda." Sofyan tersenyum
Elna terdiam.
***
Kehidupan mereka berjalan seperti biasanya, Elna menjalankan tugas sebagai seorang istri, tapi sebatas membantu kebutuhan luaran Sofyan, seperti menyediakan makan dan keperluan Sofyan. Namun mereka berdua menjalani semua ini dengan tenang.
Kebahagiaan Elna semakin memuncak, karena Manda sama sekali tidak membenci dirinya. Sesekali Manda datang ke rumah tinggalnya.
Tidak terasa, akhirnya Elna melahirkan. Seorang bayi perempuan lahir dari rahim Elna. Sofyan memberi nama anak Elna, Shafina Sarie. Elna terharu melihat Sofyan meng adzani anaknya.
"Terima kasih atas kehormatan yang kakak beri pada kami, setelah aku baikan, bolehkan aku pergi dari kehidupan kakak? Sudah sangat besar pertolongan kakak buat kami, lagian pernikahan ini juga hanya demi nama, bukan ikatan."
Sofyan diam tidak bisa menjawab pertanyaan Elna. Dia tidak berhak menahan Elna dalam ikatan ini, karena dia juga sama sekali tidak bisa menganggap Elna istrinya.
"Kita bicarakan nanti," jawab Sofyan.
"Hubungan kita tidak bisa lanjut kak, antara kita tidak ada ikatan apa-apa selain ikatan pernikahan di atas kertas untuk menyelamatkan aku dan putriku, tolong kak, jangan memaksakan diri, nikahilah wanita yang benar-benar kaka inginkan."
Nurul, Aruna dan Manda bergantian menggendong bayi Elna. Senyuman menghiasi wajah semua orang.
"Setelah Elna selesai masa nifas, kalian bisa menikah ulang. Tapi, cukup secara agama saja, untuk men sah kan ikatan pernikahan yang sesungguhnya, karena pernikahan kalian sebelumnya, hanya--" Ali sengaja menghentikan ucapannya.
"Tidak Sah! Kami tahu itu, sebab itu juga selama ini, kami membatasi diri kami, walau kami tinggal satu atap," sahut Sofyan.
"Setelah kalian menikah ulang, baru kamu bisa menunaikan hajat kamu sebagai suami. Sofyan," goda Ali.
Sofyan dan Elna saling pandang.
"Ingat Elna, nama anakmu binti Sofyan, hanya pada kertas saja untuk nama dia di masyarakat dan di sekolahnya kelak. Namun aaat dia dewasa dan menikah nanti, namanya secara agama adalah binti ibunya," seru Ali.
"Iya, saya mengerti pak ustadz," jawab Elna.
Suasana jadi canggung, karena pembahasan barusan.
"Ustadz, ini baru lahiran lho, kasian Sofyan di iming-imingi itu, secara Sofyan dari awal menikah tidak bisa menyentuh istrinya," Aan memecah kecanggungan dengan menggoda Sofyan.
"Memang masa nifas berapa lama?" Tanya Sibki.
"Masa nifas 40 hari. Tapi untuk hal itu ... tergantung cara lahirnya, kalau ceasar sepertiku ya enggak bisa setelah 40 hari, langsung bertani," ujar Aruna.
"Wah Aan puasanya lama," seru Sibki.
"Iya, bertahun-tahun," ledek Aan.
"Kaka .…" rengek Aruna.
"Kalau normal?" Sibki masih penasaran.
"Tanpa jahitan, mungkin 40 hari kalau sudah bersih bisa, tapi kalau di jahit, empat bulan lah," jawab Aruna.
"Masya Allah lama, apa aku bisa?" Rengek Sibki.
"Belajar puasa dari sekarang," goda Aan.
Mereka yang berkunjung nampak bahagia, namun tidak Sofyan dan Elna, mereka masih memikirkan bagaimana nasib kedepan bagi mereka berdua.
***
Waktu terus berjalan, akhirnya Aruna dan Manda melahirkan. Hanya selisih beberapa hari. Aruna melahirkan bayi perempuan dan Manda melahirkan bayi laki-laki.
Keadaan yang heboh kembali diwarnai kesedihan karena Aan membawa keempat anaknya dan istrinya ke kota karena pekerjaan. Aruna jauh dari keluarganya karena ikut sang suami.
Suminten dan Wahyu menolak ikut dengan Aan dan Aruna, mereka lebih nyanam tinggal di desa Jojo.
Tangisan semua orang tidak bisa di tahan saat Aan membawa Aruna dan anak-anak juga pengasuh mereka.
Kepergian Aruna sangat terasa, karena rumah yang tadi heboh karena ulah Dena, Deni dan Rayyan mendadak sepi. Untung saja ada putra Sibki. Tangisan anak laki-laki Sibki dan Manda mewarnai rumah Jojo.
***
Kesedihan juga dirasa Elna dan Sofyan. Entah berapa kali Shafina dirawat di Rumah Sakit karena Anemia. Perasaan hancur pasti mendera orang tua, buah hati yang baru ber umur beberapa bulan mengalami Anemia.
Saran dokter Shafina melakukan Transfusi darah.
Kehancuran kembali Elna rasa, karena tidak ada yang cocok dengan golongan darah Shafina.
"Kak aku izin menemui Ifin, aku harap golongan darah dia dan Shafina cocok," pinta Elna.
"Kamu yakin? Kalau kamu melihat Ifin hanya membuat luka lama kamu terbuka kembali, biar aku saja," usul Sofyan.
"Tidak kak, biar aku saja, titip Shafina kak."
"Elna … biar aku saja yang menemui Ifin."
"Tidak kak, aku ingin menyelsaikan sesuatu juga."
"Elna …."
"Apa kak?" Elna berbalik.
"Tidak apa-apa aku hanya memanggil."
"Aku pergi, motor kaka aku bawa," pinta Elna.
Sofyan mengangguk.
"Elna, kamu baik dan cantik, tapi entah kenapa aku tidak bisa mencintai kamu," ringis Sofyan.
***
Tidak terduga Elna bertemu Ifin di Rumah Sakit. Istri Ifin tengah dirawat di Rumah Sakit yang sama.
"Kamu???" Wajah Ifin nampak sangat marah.
"Ifin ku mohon bantu aku, tolong aku," pinta Elna.
"Menikahi mu? Cuihh!!!" Ifin meludah ke samping. "Aku sudah menikah, sekarang istriku keguguran," ucap Ifin.
"Bukan! Tapi anakku, dia butuh darah, kami semua tidak sama dengan dia, aku yakin golongan darah kamu sama dengan golongan darah anakku," ringis Elna.
***
Berulang kali Elna memohon akhirnya Ifin mau mendonorkan darahnya buat bayi Elna. Saat mendengar kalau Sofyan menikahi Elna.
Baberapa hari di rawat, akhirnya Shafina sehat kembali.
***
Setelah dirinya dan bayinya sehat, Elna izin pamit pada semua orang. Sofyan tidak bisa menahan ke inginan Elna, bagaimanapun dia dan Elna tidak saling suka, selama berumah tangga mereka tidur ditempat yang terpisah.
Setelah semua surat cerai resmi keluar. Elna pergi meninggalkan mereka semua orang dengan bayinya.
****
Cerita Elna sampai sini aja ya …
**Kisah Elna ini, perlu di ingat mereka menikah bukan untuk selamanya, semata untuk melindungi Elna. Elna dan Sibki tahu kalau pernikahan mereka tidak sah, sebab itu mereka tinggal dalam batasan tertentu.
Mohon pengertian dan kebijakannya, ini fiksi bukan untuk di tiru. Saya malas debat di kolom komentar**
Rencananya Author mau buat cerita Elna di Karya yang lain tapi Genre romantis. Tapi sebatas rencana entah terwujud apa enggak
***
Bersambung dulu aja nanti lanjut njut.