
Dena sama sekali tidak perduli dengan rencana pernikahannya, yang telah di susun oleh Aan. Begitu juga Jaya calon suaminya, Dena dan Jaya sepakat hanya akan bertemu di meja akad. Mereka menyerahkan semua keputusan pada orang tua mereka.
***
Hampir magrib Deli dan Surya sampai lagi di desa Kayu Alam. Setelah turun dari mobil, Surya langsung pamit dan pulang ke rumahnya.
Langkah kaki Deli yang ingin memasuki rumah Pinah terhenti karena tarikan seseorang yang menyeretnya kesamping rumah Pinah.
"Kenapa kamu kembali?"
"Akhmad?" Deli kaget, dia langsung melepaskan cengkraman tangan Akhmad.
"Tugasku belum selesai," jawab Deli sinis.
"Lebih baik kamu pulang sekarang, karena juragan Alet dan anak buahnya sedang mencari kamu!" Akhmad berusaha menahan suaranya, agar tidak terlalu keras.
"Untuk apa mencariku?" Deli bingung.
"Anak juragan Alet, namanya Ario dia suka sama kamu, kamu tahu, di desa ini juragan Alet yang berkuasa, sebelum dia main hakim sendiri. Lebih baik kamu pulang sekarang," usul Akhmad.
"Aku tidak mau pulang! Aku ingin menunaikan janjiku."
"Dengan begini kamu tidak akan bisa menunaikan janji si ikatan darah! Sudah sana pulang, setelah pulang, kamu menikah di sana, lalu kembali kesini bersama suami kamu."
"Apa maksud kamu?"
Akhmad melihat-lihat keadaan, memastikan tidak ada orang lain yang menyaksikan atau menguping pembicaraan mereka. "Untuk melepas kutukan desa ini, 'si ikatan darah' harus melakukan hubungan badan, dengan orang yang mengikatnya di atas sampan." Akhmad merasa tidak nyaman mengungkapkan hal itu.
Deli terdiam. Dia teringat akan mimpinya, melihat sampan diatas batu.
"Aku pernah masuk hutan, untuk membuktikan cerita itu. Ternyata benar. Sampan itu masih ada di bawah air terjun, tapi sekarang air nya tidak ada lagi yang terjun," terang Akhmad.
"Dari mana kamu tahu hal itu?" Deli masih tidak bisa percaya dengan perkataan Akhmad.
"Dari cerita Pak Edo. Bapaknya Surya, dulu sebelum beliau meninggal, waktu itu, aku belum menetap di sini, hanya sesekali berkunjung, beliau juga sering cerita tentang 'ikatan darah.' Sebab itu aku tau," jawab Akhmad.
"Terima kasih infonya." Hanya kalimat itu yang bisa Deli ucapkan.
Akhmad memandangi wajah perempuan yang berdiri di depannya. "Pulang Lia, kasihan wanita baik dan cantik seperti kamu, malah akan jadi istri Ario, andai dirimu benar ikatan darah, pemburu alam itu malah semakin mudah mengambil alih gunung ini, cerita pak Edo, pasangan ikatan darah itu juga akan berkuasa di gunung ini, jika kekuasaan jatuh pada tangan yang salah, maka hanya kehancuran yang terjadi."
"Bolehkah aku rehat? Aku lelah," ucap Deli.
Akhmad tidak bisa menahan Deli, dia membiarkan Deli masuk kedalam rumah Pinah.
***
Sepanjang malam Deli terpikir dengan ucapan Akhmad.
Perkataan Akhmad sangat mengganggu pikirannya. Dia menggambar ulang apa yang dia lihat pada mimpinya dulu. Hasil gambarnya memang jelas. Tebing batu, sungai yang dangkal, juga sebuah sampan.
"Kenapa tidak bisa aku sendirian yang melepasnya, kenapa harus ada pasangan," ringis Deli.
Pikirannya tambah kacau jika harus memikirkan pasangan.
"Besok pagi aku harus telepon papa, semoga saja calon dari papa tidak keberatan turun tangan membantuku menyelesaikan semua ini, agar penderitaan ini segera ber akhir," ringis Deli.
***
Keesokan harinya, Deli, Surya dan Ayan memasuki hutan lagi. Namun pagi ini wajah Deli nampak murung.
"Kamu kenapa Lia?" Tanya Surya.
"Banyak hal yang aku pikirkan," ringis Deli.
"Apa diantaranya?" Tanya Ayan.
"Membebaskan kutukan desa kalian ternyata tidak semudah perkiraanku, aku harus punya suami terlebih dahulu," ringis Deli.
"Menikah saja dengan Surya," usul Ayan.
"Tidak mau! Enak saja, sama Ayan saja Lia," elak Surya.
"Dia cantik, kenapa kalian saling lempar?"
Suara ini mengejutan mereka bertiga, pandangan ketiganya pun ter arah pada sumber suara itu. Terlihat sosok Akhmad di sana.
"Kalau dia cantik mendingan kamu yang nikahin dia," ucap Ayan dan Surya bersamaan.
"Maaf, aku sudah punya calon dari orang tuaku," jawab Deli dan Akhmad juga kompak.
"Nanti aku telepon papaku." Deli memandangi Ayan dan Surya. "Bolehkah aku bertanya?"
"silakan."
Ayan dan Surya kompak menjawab pertanyaan
"Kenapa di desa ini tidak ada anak gadis? Anak kecil yang laki-laki juga hanya sedikit," Tanya Deli.
"Semua anak gadis di ungsikan orang tua mereka keluar desa, karena mbah Gimah selalu minta tumbal untuk ke stabilan alam katanya, beberapa tahun terakhir tidak ada tumbal karena semua anak gadis tidak ada di desa ini, aku yakin itu hanya akal-akalan paranormal peliharaan Alet," jawab Surya.
Deli mengingat akan air terjun dan Sampan. "Air terjun yang aku gambar, di mana itu? Bisakah kita kesana?" Tanya Deli.
"Itu jauh di dalam hutan Lia, ku rasa aku takut kesana, kalau kita ketahuan ada di sana, akhh aku malas ber urusan dengan anak buah Alet," jawab Ayan.
"Lebih baik kamu telepon papa kamu sekarang, pinta papamu agar segera menikahkan kamu, baru kita berpikir untuk pergi ke air terjun itu," usul Surya.
"Enak sekali kamu memintaku menelpon, kamu kira di sini signal mudah, di sini GSM!!! Geser sedikit mati!" Deli meringis, mengingat sulitnya mendapat signal di desa ini.
"Aku akan kasih tau kamu di mana signal yang tidak GSM," seru Surya.
Surya mulai menceritakan di mana sinyal yang mudah. Mengingat tempat itu di luar desa. Mereka semua sepakat, untuk istirahat dulu sebelum keluar desa, mencari signal. Mereka ber empat keluar dari hutan itu dan langsung mengantar Deli menuju rumah Pinah.
"Ayan … Surya … tolongin emak … kata anak emak anak buah juragan Alet menculik Dewi cucu emak, mereka mau jadikan Dewi tumbal, tolong emak." tangis Pinah pecah di halaman rumahnya.
"Bukannya Dewi sudah tinggal di kota?" Surya sangat kaget perempuan impiannya malah akan jadi tumbal malam hari nanti.
"Mereka menemukan Dewi, kalau kutukan ini tidak ber akhir maka anak gadis desa ini satu per satu akan jadi tumbal," ringis Pinah.
"Dewi adalah gadis impianku, jika kamu tidak segera melakukan ritual pelepasan kutukan, maka malam ini dia jadi tumbal," ringis Surya.
"Nak Lia ikatan darah?" Pinah kaget.
"Jika nak Lia ikatan darah, tolong lepaskan kutukan desa ini, jangan biarkan cucu emak jadi tumbal ...." Pinah bersimpuh di kaki Deli.
"Mak, bukan aku enggak mau mak … tapi aku harus menikah dulu baru bisa melepaskan kutukan itu." Deli berusaha meminta Pinah untuk behenti bersimpuh di kakinya.
"Mak baru ingat, Ikatan darah, Sampan, air terjun, itu yang di ucapkan Adeeva malam itu." Pinah terbayang kejadian masa lalu.
Pandangan Pinah langsung tertuju pada Akhmad.
"Nak … Akhmad, kamu orang yang tepat buat pasangan Lia," ucap Pinah.
"Tidakkkk!" Jawab Akmad dan Deli bersamaan.
Belum hilang ketegangan mereka. Preman anak buah Alet membawa beberapa anak gadis dari desa itu yang selama ini di ungsikan orang tua mereka ke kota.
Tangisan para orang tua yang mengejar mobil yang mengangkut putri-putri mereka pecah.
Surya melihat ibunya ada di kerumunan warga itu. Dia langsung mengejar ibunya yang masih ada di kumpulan orang-orang yang berada di jalanan.
"Ada apa bu?" Tanya Surya.
"Adikmu Arni di tangkap orang suruhan Alet, malam ini akan diadakan pengorbanan masal," ringis Umia ibu Surya.
Air mata Surya mengalir menyadari adik dan juga wanita yang dia cinta terancam nyawa mereka. Dia berjalan cepat menuju Deli dan Akhmad.
"Deli, ku mohon … jika kamu tidak menikah sekarang dan tidak melakukan ritual pelepasan, maka akan banyak nyawa melayang," ringis Surya.
"Nak Lia, nak Akhmad, maukah kalian berkorban perasaan untuk kami semua?" Pinah memohon.
Deli dan Akhmad saling pandang. Kemudian mereka memandangi para orang tua yang menangis di jalanan.
"Kenapa mereka mudah menculik para gadis itu? Bukankah mereka di ungsikan? Terus di mana hukum di desa ini?" Tanya Deli.
"Mereka melakukan dengan jalan goib Adelia," ucap Surya lemah.
"Jika kutukan Adeeva patah, bagimana nasib juragan Alet dan sekutunya, bagaimana juga misteri kematian Adeeva terungkap?" Tanya Akhmad.
"Putri ular berjanji akan membuka tirai fitnah yang selama ini tersembunyi, namun dengan syarat jika kutukan itu sudah patah," ucap Surya.
****
Bersambung ...
***
Karena ada kendala lain, Author mohon maaf jika end dari cerita kali ini kurang memuaskan.