
Sepanjang acara resepsi berlangsung Aan selalu berusaha curi-curi pandang pada Aruna, sedang yang Aan perhatikan sama sekali tidak perduli dengan kehadirannya.
"Ini hari yang paling indah Ya Allah, aku sangat bahagia bisa menggendong putra-putriku yang kini bukan bayi lagi," ucap hati Aan. Kini dia tengah mengendong Deli, sesekali dia menciumi Deli membuat Deli tertawa karena ulah Aan.
****
Linda pergi kesana-kemari mencari Saman, namun dia tidak menemukan Saman. Usaha terakhirnya adalah rumah Aruna. Namun karena sudah Malam Linda segera ke hotel untuk istrirahat. Tenaganya terkuras habis, kesana kemari mencari Saman namun tidak ketemu.
Keesokan harinya Linda langsung pergi ke rumah Aruna.
"Assalamu alaikum," salam Linda.
"Wa'alaikum salam," jawab Aruna, Aruna tersenyum, dia masih ingat di mana dia bertemu wanita yang ada di hadapannya.
"Mana Saman?" tanya Linda.
"Sa--Saman?" Aruna bingung.
"Kamu tidak bisa mengenaliku? Oh maaf, ini wajah baruku setelah pengobatan dan operasi plastik kemaren. Aku Linda adik Saman, adik suamimu yang sangat jahat itu," ucap Linda.
"Masya Allah Linda?" Aruna tidak percaya.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi, setelah menghadiri pernikahan kamu dengan Aan aku di sekap Saman, pas aku sadar … wajahku hancur, untung ada Aan yang menolongku," terang Linda.
"Tapi aku sudah tahu apa yang aku lakukan padamu dan pada Aan, aku sudah minta maaf pada Aan, aku juga minta maaf padamu, semua yang aku lakukan bukan dariku, aku dibawah kendali," ringis Linda.
Aruna langsung memeluk Linda, "Aku sangat bahagia kamu bisa cantik lagi, hatiku hancur saat melihat kamu tidak berdaya di Rumah Sakit waktu itu," ucap Aruna.
"Mana Saman! Aku ingin memberi perhitungan dengan dia!" Teriak Linda.
"Linda … Saman sudah tiada, maafkan dia, Linda." Aruna bingung menjelaskan dari mana. Aruna menatap sayu kearah Linda. "Malam saat kamu di Rumah Sakit hampir tengah malam petugas kelpolisian datang kemari menyampaikan kematian Saman. Dia mati tertimpa pohon Linda, Linda … aku masih istri Saman, aku mohon … tolong maafkan Saman," ringis Aruna.
"Maafkan aku juga kak," ringis Linda.
Linda dan Aruna berpelukan.
"Di mana kubur kakakku?" tanya Linda.
Aruna memberitahu Linda di mana tempat per istirahatan Saman.
"Walaupun cara kakakku salah untuk hidup bersamamu, aku yakin selama hidup bersamamu kakakku sangat bahagia, terima kasih karena memberi kebahagiaan di akhir hayat kakakku," ringis Linda.
"Aku yang minta maaf, karena selama menjadi istrinya aku belum bisa benar-benar berbakti padanya,"
"Aku pergi kak Aruna, terima kasih." Linda mengulangi pelukan mereka.
***
Setelah dari rumah Aruna, Linda berniat langsung ke kantor Aan. Dia meraih ponselnya dan menelpon Aan.
"Assalamu'alaikum," salam Aan.
"Wa'alaikum salam kak Aan."
"Ada apa Linda? Bukankah kamu hari ini kembali ke luar negri untuk mempersiapkan pernikahanmu?"
"Aku ingin bertemu kak Aan, tolong ini penting." Linda memohon.
"Baiklah, di mana kamu ingin bertemu?" tanya Aan.
"Tadinya aku ingin ke kantor kak Aan, bagaimana kalau kita ketemu di pemakaman umum," Linda menyebutkan tempat di mana Saman di makamkan.
"Kamu mau apa mengajakku bertemu di kuburan?"
"Kalau kak Aan tidak datang kakak akan menyesal! Aku pastikan itu," seru Linda.
"Masya Allah Linda … Baiklah, aku akan datang sekarang," ucap Aan.
"Baik, sampai ketemu di sana, Assalamu alaikum."
"Wa alaikum salam," jawab Aan.
Linda segera meminta sopir mengantarnya ke pemakaman, sedang Aan di ikuti tiga Bodyguard langsung menuju pemakaman yang di maksud Linda.
""""""""""""""""""""
Akhirnya Aan dan Linda bertemu di depan pintu masuk Makam.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam,"
"Gak usah nanya, ayo masuk kesana," ajak Linda.
Aan mengikuti langkah Linda, sedang Linda berjalan sambil melihat rambu-rambu yang ada di pemakaman itu. Akhirnya dia menemukan makam Saman.
"Kakakku meninggal saat kamu membawaku keluar negri, aku tahu barusan dari Aruna," ucap Linda.
"Astaghfirullah hal Adziim, selama ini Saman?"
Linda mengangguk. "Aku juga baru tahu," lirihnya.
Aan mendekati makam Saman.
"Saman … kami semua sudah memaafkan kesalahan kamu, kami harap kamu juga memaafkan kami semua," ringis Aan.
Aan mulai membaca surah Al-qur'an buat Saman dan mendo'a kan Saman.
"Setelah dari sini aku langsung ke bandara kak Aan, terima kasih atas bantuan kakak selama ini," ucap Linda.
Setelah pergi dari makam Saman, Aan dan Linda berpisah, mereka menuju tujan mereka masing-masing. Linda ke bandara, sedang Aan langsung menuju kediaman ustadz Ali. Namun pagi begini ustadz Ali masih di kantornya, Aan mengemudikan mobilnya menuju majelis taklim Mahabbah. Sesampai di sana dia langsung berlari menuju kantor ustadz Ali.
"Assalamu'alaikum pak ustadz," salam Aan.
"Wa'alaikum salam, Aan? Tumben pagi kesini," sapa Ali.
Aan masuk kedalam ruangan dan langsung duduk tanpa menunggu komando ustadz Ali.
"Ustadz, kenapa ustadz tidak bilang kalau Saman meninggal dunia," protes Aan.
"Astaghfirullah … karena urusan Linda aku lupa Saman, maaf Aan," ucap Ali.
"Aku baru tahu hari ini, dari Linda," keluh Aan.
"Maaf Aan aku benar-benar lupa."
"Pantas saja di resepsi pemilik restoran yang bekerja sama denganku Saman tidak terlihat, hanya Aruna, Sibki dan orang tua mereka, juga si kembar." Aan tersenyum membayangkan kelucuan anak-anaknya.
Ali mengarahkan kemoceng ke wajah Aan.
"Astaghfirullah, itu kotor pak ustadz kenapa di sapu kewajah saya." Aan protes.
"Otakmu lebih kotor dari kemoceng ini," balas Ali.
"Astaghfirullah, ustadz … saya mikirin si kembar!" Aan membela diri.
"Owh, aku kira mikirin emaknya si kembar," jawab Ali.
"Ya Allah ya Rabb …." ringis Aan.
"Terus, mau apa kamu kemari?" tanya Ali.
"Mau protes sama pak ustadz lah, Aruna janda gak kasih tahu aku," rengek Aan.
Ali menggeleng mendengar pengakuan Aan.
"Maaf Aan, Aruna sudah terlanjur akan di lamar sahabatku, dia juga seorang duda, istrinya juga meninggal," ungkap Ali.
"Lahaula wala quwwata illa billah …." ringis Aan.
"Maaf Aan, kamu terlambat," ucap Ali, raut wajah Ali penuh penyesalan.
"Aku yakin Aruna menolak ustadz, aku yakin Aruna sangat mencintaiku," ringis Aan.
"Itu dugaan kamu, entah nanti kalau Aruna dan temanku bertemu, apalagi dia juga teman Nurul," terang Ali.
Wajah Aan yang tadi ceria, tiba-tiba muram, mengetahui Aruna akan menikah lagi dengan orang lain.
"Aku juga sudah bicarakan dengan Sibki, alhamdulillah Sibki siap membantu, karena kalau dilihat, Aruna tidak berminat lagi membina rumah tangga, walaupun denganmu, dia merasa tidak pantas buatmu karena pernah menyerahkan dirinya untuk laki-laki lain yang sudah menjadi suaminya," ungkap Ali.
"Astaghfirullah ustadz, dulu … aku tetap menikahi Aruna walau aku tahu dia janda dua kali dan mengalami hal tragis lainnya, aku tetap cinta dia, sekarang hanya Saman! Sedikitpun tidak mengurangi kehormatanku pada dia." Aan emosi.
"Itu bukan kata-kataku Aan, tapi kata-kata Aruna yang disampaikan Sibki, aku dan Sibki pernah meminta dia untuk kembali padamu sebelumnya, tapi kami mendapat jawaban itu, kalau dia merasa tidak pantas mendampingimu, sekarang aku melamarkan dia untuk sahabatku, aku yakin dia bisa menerima sahabatku, secara dia tidak bisa menolak karena aku atau karena Nurul yang meminta," terang Ali.
"Ya Allah …." ringis Aan.