Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 142 Extra Part Akad Nikah Sibki dan Manda


Acara akad nikah Sibki dan Manda yang dilangsungkan di rumah Jojo secara sederhana berjalan lancar. Jam menunjukan jam lima sore. Tenda sudah sepi, semua anggota keluarga juga sudah mengganti pakaian mereka dengan seragam kerajaan. Para wanitanya mengenakan seragam yang paling indah dan nyaman, daster emak-emak. Sedang para pria sudah santai dengan baju kaos dan celana santai.


Mereka semua berkumpul diruang tengah rumah Jojo. Hanya Deli, Dena dan Rayyan yang tertidur di kamar mereka yang ada di rumah Jojo ditemani tiga pengasuh mereka.


"Bagaimana nasib Elna?" tanya Sibki.


"Mengingat keadaan dia, aku berharap kalian semua memaafkan dia, setiap orang yang terobsesi pasti akan melakukan segala cara, aku memaafkan dia komohon maafkan dia juga," ucap Manda.


"Waw, istriku …" ucap Sibki lembut.


"Yang dia cintai kak Sibki, kenapa dia mau memelet suamiku juga?" Aruna bingung.


"Peng-alihan," ucap Aan dan Manda bersamaan.


"Kalau menurutku bukan peng-alihan, tapi rencana cadangan," seru Sibki.


"Kenapa banyak orang yang menghalalkan cara untuk memiliki suami yang mapan? Bahkan di luar sana banyak perceraian terjadi karena …." Aruna tidak sanggup melanjutkan kata-katanya, teringat kejadian paling pedih dalam hidupnya, saat bercerai dengan Aan.


"Kamu beruntung, karena aku tidak akan tergoda oleh wanita manapun, perjuanganku mendapatkan kamu sangat payah, terus perpisahan kita, membuatku semakin takut dan waspada," ucap Aan.


"Kalau sudah tiada baru terasa …." Jojo bersenandung.


"Bapakkk!" seru Aruna dan Sibki bersamaan. Jojo tertawa sendiri.


"Tapi, bapak benar lho, sejak terpisah membuatku semakin cinta dan sayang pada adikmu itu, Sibki," seru Aan.


"Pernikahan Sibki barusan mengingatkan umak kembali dengan pernikahan Aruna dulu," seru Suminten.


"Iya kamu benar, apalagi saat bapak Manda berteriak tidak sah! Ohh aku teringat saat kamu berteriak 'tidak sah' saat Sibki selesai mengucap akad," seru Mastia.


"Itu titik terberat dalam hidupku namun juga titik terindah di hari yang sama, titik terberat, aku harus menjadi saksi nikah wanita yang aku cinta," Aan melirik Aruna. "Titik terindahnya saat yang sama aku menikahi dia." Aan tersenyum teringat kenangan terindahnya.


"Kamu pasti bingung." Sibki menatap Manda yang nampak keheranan.


"Aku dan Aruna mengetahui kalau kami kakak adik tepat pas hari pernikahan kami," terang Sibki.


"Apa?" Manda kaget.


"Hei sudah jangan bahas masa lalu," ucap Aruna.


"Iya, jangan ceritakan sekarang, nanti saja pas malam dikamar kalian," goda Aan.


"Sekarang juga bisa," seru Sibki.


"Nanti malam saja, biar waktunya panjang, kamu pasti penasaran bukan bagaimana perjuangan kami dalam tenda di atas batu yang keras," goda Aan.


"Kenangan terindah ya An," seru Jojo.


Aan tersenyum sendiri.


"Sudah Ashar kak Manda?" Tanya Aruna.


"Sudah," Manda tersenyum.


"Sebaiknya kaka istirahat, malam ini kak Manda dan kak Sibki harus fit, karena malam ini resepsi kalian," seru Aruna.


"Iya jangan buang tenaga dulu ya," goda Aan sambil mengedipkan matanya. Aan berpidah posisi duduk, tepat di samping Aruna.


"Brukkk!" Aan menjatuhkan dirinya di sisi Aruna.


"Pengantin busuk tidak tahu malu!!!" Sungut Sibki.


"Mending, dari pada pengantin baru tidak kunjung-kunjung bisa ***-*** 21," Aan mengalungkan lengannya di bahu Aruna.


"Kak, kalo stres dimohon sendiri aja, jangan ngajak-ngajak!" Aruna melepaskan tangan Aan yang melingkar di bahunya dan bangkit dari posisinya, dia pergi dari sana.


"Hem, sepertinya dia ngidam," seru Aan.


"Mimpi!" teriak Aruna, terus berjalan menjauh meninggalkan Aan.


"Kalian luar biasa, walau lama menikah aku merasa kalian masih pengantin baru, lihat anak saja sudah tiga dan sudah pada besar," ucap Manda.


"Kami punya rahasia, mau tau?" Goda Aan.


"Kita akan lebih luar biasa dari mereka," Sibki menggoda Manda.


"Pepet bang …." seru Aan.


"Sudah, mendingan kita istirahat, malam ini tenaga kita di perlukan lagi." Suminten menyudahi gelud antara Sibki dan Aan.


Mereka mengambil posisi yang nyaman merehatkan tubuh mereka yang letih karena syukuran barusan.


"Sabar ya kakak ipar, kalau eksekusi sekarang takutnya nanti malam kakak ipar tidak kuat berdiri," Aan menggoda Sibki yang sudah berbaring di lantai sendirian.


"Kaka ipar? Mual aku An dengarnya," gerutu Sibki.


"Maaf makkk," ucap Aan dan Sibki bersamaan.


"Gitu dong, yang kompak!!!" Seru Suminten.


"Kompak? Uwekkkk!" Aan dan Sibki meng expresikan muntah bersamaan.


"Kalian memang sehati," seru Suminten.


"Jangan bicara lagi, tolong!!!" Pinta Mastia.


Aan dan Sibki memejamkan mata, sama-sama diam, takut keceplosan bicara kompak lagi.


Suasana hening, karena semua orang bersantai.


***


Ali dan Nurul mampir di Rumah Sakit menjenguk Elna, namun hanya Ali dan Nurul yang masuk, sedang anak Ali bersama Fatma menunggu diluar area rumah sakit.


"Assalamu alaikum El," seru Nurul dan Ali.


"Wa alaikum salam, ustadz, ustadzah …." Elna tersenyum.


"Kami hanya membawakanmu sesuatu," Nurul memberikan kantong yang berisi makanan dan buah-buahan.


"Ustadzah, gak perlu repot, aku jadi gak enak."


"Gak repot, tapi kami cuma sebentar, di luar umi sama anakku nunggu," ucap Nurul.


"Kalian dari mana? Kalian sangat rapi, ustadzah juga lebih cantik dari biasanya," puji Elna


Nurul dan Ali saling pandang.


"Kami dari acara akad nikah Manda dan Sibki," ucap Ali.


"Mereka menikah?" Elna mematung.


"Mereka sudah lama menikah, tapi kemaren hanya siri, sekarang mereka menikah resmi, ikhlaskan Manda dan Sibki, Sibki bukan jodoh kamu El," ucap Ali lirih.


"Apa maksud ustadz?" tanya Elna.


"Kami semua sudah tau El." Ali tersenyum.


"Manda dan semuanya?" Elna masih tidak percaya.


"Aan dan yang lain sudah menebus kirimanmu, kenapa kamu tega El?" ucap Nurul.


"Aku sangat mengagumi Sibki, dia lucu dan baik hati."


"Tapi kenapa kamu juga menyasar Aan?" Tanya Ali.


"Kalian juga tahu?" Wajah Elna menahan malu karena perbuatan jahatnya terbongkar.


"Aku tahu sejak lama, aku pura-pura tidak tahu berharap kamu berhenti dan taubat karena usahamu selalu gagal, taubat lah El, semua orang sudah memaafkan kamu," ucap Ali.


Elna menangis. "Kenapa kalian tetap baik? Padahal kalian tahu kalau aku jahat!"


"Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan untuk taubat dan memperbaiki diri," ucap Ali.


"Elna, berhentilah dari semua kesyirikan, kembali dan taubat sayang, kami siap menerima kamu, kami keluarga kamu," pinta Nurul.


Elna terus menangis, dia mengangguk pelan. "Jika ustadzah bertemu mereka semua, sampaikan permohonan maaf saya," ringis Elna.


"Insya Allah." Nurul membelai kepala Elna.


"Kami pulang dulu ya El, insya Allah kakimu akan sembuh, penyakit kulitmu juga akan sembuh, karena ini hanya tanda kalau kamu pelakunya, jika kamu meminta maaf semua ini akan hilang," seru Ali.


"Terima kasih ustadzah,"


"Sama-sama, setelah ini sama-sama kita mulai dari awal ya." Nurul tersenyum.


"Insya Allah ustadzah," ringis Elna.


"Assalamu alaikum," salam Nurul dan Ali.


"Wa alaikum salam," jawab Elna.


Ali dan Nurul pergi dari kamar Elna untuk melanjutkan perjalanan pulang mereka. Karena malam ini mereka akan berhadir lagi di resepsi pernikahan Sibki dan Manda.


Tidak lama setelah kepergian Ali dan Nurul, seketika kaki kiri Elna tidak sakit lagi, penyakit kulit yang mirip cecar tapi lebih parah itu juga menghilang seketika. Air mata Elna tumpah menyesali semua perbuatannya.


"Ya Allah, ampuni aku," ringis Elna. Dia sedih mengingat kejahatannya, namun juga bahagia karena sakit di kaki kirinya dan penyakit kulitnya sembuh seketika.