
Suminten dan Wahyu terus berkendara.
Mereka pun tidak tahu di mana mereka berada sekarang ini. Selama perjalanan saat lapar mereka singgah makan di warung kecil, sambil istirahat di pinggir sungai, mandi dan mencuci, lalu istirahat lagi seharian sambil menunggu cucian kering, jika bertemu sungai.
Dengan begini mereka kurang mengingat Aruna anak semata wayang mereka.
"Abah ... sepertiya kita harus segera cari kerja bah ..." lirih Suminten, melihat uang mereka kini tinggal sedikit.
"Iya umak ... abah juga memikirkan hal yang sama," jawab Wahyu.
Suminten sudah selesai memasukan pakaian dalam kreseknya, lalu menggantungnya di kaitan depan motor mereka.
"Sudah selesai mak?" Tanya Wahyu.
"Sudah abah ..." jawab Suminten.
Mereka melanjutkan perjalanan mereka, kemana hati mereka menuntun.
"Waduh ... hujannya mendadak ini lebat pula teriak," Wahyu.
"Kita gimana bah ... gimana mau berhenti ini sawangan ... mana ada tempat berteduh," seru Suminten. Mereka berhenti di tepi jalan untuk memakai jas hujan.
"Kita pelan pelan aja ya mak ..." teriak Wahyu.
"Terserah abah saja ..." jawab suminten.
Wahyu kembali menjalankan motornya perlahan.
Dari arah belakang.
"Waduh ... hujannya sangat lebat ini ..." gerutu Andika yang melajukan mobilnya perlahan,
Andika meraih ponselnya dan tidak melihat jalanan.
"Bruggggggghhhhh ..."
Andika menabrak sesuatu di depan nya.
"Abah ..." teriak Suminten.
sedang Wahyu memegangi kaki nya.
"Umak ngga kenapa napa?" lirih wahyu.
"Umak nggak kenapa napa ... tapi abah ..." ringis Suminten melihat darah di kaki suami nya.
"Maaf pak maaf bu ... saya benar-benar tidak melihat," ringis Andika yang segera menghampiri orang yang ditabrak nya.
"Kita ke rumah sakit ya pak ..." lirih Andika.
"Tapi motor kami ... gimana?" Tanya Suminten.
"Sebentar ... saya telpon anak buah saya ..." seru Andika.
Andika kemobil dan menelpon orang untuk menolong nya.
"Bapa ibu ayo ke mobil saya sambil menunggu orang yang nanti akan bawakan motor bapa ibu," ucap Andika.
"Tapi kami basah tuan," jawab Wahyu.
Andika dan Suminten membantu Wahyu berdiri dan berjalan menuju mobil Andika.
"Bapak di depan sama saya, ibu ngga apa kan di belakang sendiri?" Tanya Andika.
"Iya ngga apa apa tuan," jawab Suminten.
Mereka semua sudah di dalam mobil menunggu orang yang Andika panggil.
Hujan mulai teduh.
"Teitttt titiittttt,"
Ternyata orang yang di panggil Andika datang..Andika meminta salah satu orang suruhan nya membawa motor itu ke rumah nya dan dia kembali ke mobil untuk membawa orang yang dia tabrak ke rumah sakit.
"Motor bapa ibu di antar orang ke rumah saya, jadi bapa ibu ke rumah sakit dulu sama saya, baru kerumah saya," terang Andika.
Suminten dan Wahyu hanya mengangguk.
Andika melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat. Sesampai rumah sakit, Wahyu di obati pihak rumah sakit. Hasil pemeriksaan kaki Wahyu sedikit retak, pihak rumah sakit meminta Wahyu menggunakan tongkat untuk sementara waktu.
"Sepertinya bapak tidak bisa mengendarai motor secepatnya, jadi lebih baik bapak tinggal di rumah saya sampai bapak baikan," seru Andika.
"Saya Andika pak ... bu ..." Andika memperkenalkan diri nya.
Wahyu dan Suminten juga memperkenalkan diri mereka. Selesai pengobatan mereka menuju mobil Andika, Wahyu duduk di kursi roda, didorong oleh Andika.
"Bapak ibu dari mana mau kemana tadi nya?" Tanya Andika. Sambil membantu Wahyu masuk mobil.
"Kami tidak punya tujuan," jawab Suminten, Suminten pun masuk ke mobil.
Andika mulai melajukan mobilnya meninggalkan area rumah sakit menuju rumahnya.
"Kenapa bapak dan ibu tidak punya tujuan?" Tanya andika sambil fokos menyetir.
"Ceritanya panjang tuan, sehingga kami tidak sanggup lagi tinggal di desa kami," lirih Wahyu.
"Di mana desa kalian?" Tanya Andika.
"Desa kami Sebuku Naju, di kaki gunung Naju terang Wahyu.
"Waduh ... saya tidak tau pak ... sepertinya itu sangat jauh," lirih Andika.
"Iya sangat jauh, kami saja sudah 1 minggu berkendara hingga sampai sini, walau banyak istirahat," jawab Suminten.
"Tetap jauh itu bu ... kalian di desa kerja apa?" Tanya Andika.
"Kami berkebun tuan," jawab Wahyu.
"Rumah saya itu kosong pak ... kalau bapak ibu ngga keberatan, bapa ibu yang jaga rumah saya, kalo bapak ngurusin kebun bunga saya sekitaran rumah, tenang ... bakal saya gajih," seru Andika.
"Tuan serius ...?" Lirih Wahyu
Andika mengangguk.
Wahyu dan Suminten bersedia bekerja di rumah Andika.