
Melihat Elna dan Manda pergi, Sibki duduk di sofa sambil meremas rambutnya menahan kekecewaannya.
"Assalamu alaikum," seru Aan.
"Wa alaikum salam," jawab semua orang
"Papaaa," teriak sikembar bersamaan. Mereka berlari menghambur menuju Aan. Aan langsung jongkok membuka kedua tangannya menyambut anak-anak yang berlari ke arahnya.
"Papa?" Lirih Elna dan Manda.
"Maafkan aku, dia papanya si kembar, perkenalkan, aku Aruna adik Sibki," Aruna mengulurkan tangan menyalami Manda dan Elna.
Manda dan Elna masih heran.
"Maafkan aku, aku cuma mengerjai kakakku, ayo kenalkan aku adik iparmu nanti," seru Aruna.
Manda menunduk, merasa sedikit malu karena kejadian barusan, "aku juga minta maaf, senang berkenalan dengan anda," seru Manda menyambut uluran tangan Aruna.
Aruna juga berkenalan dengan Elna, namun Aruna merasa risih karena Elna kedapatan beberapa kali melirik ke arah Aan.
"Padahal aku tinggal di majelis sebelumnya, sayang kita tidak pernah bertemu," seru Aruna.
"Ayo nak Manda nak Elna kemari kita mengobrol lagi," seru Mastia.
"Kak Sibki, ini baru awal, kami akan menyicil perlahan semua kejahilan kaka," seru Aruna.
"Usahaku hampir sia-sia karena sandiwara kamu," ringis Sibki.
"Aku baru ingat papa si kembar ini tuan Andika Tama Shiddiq donator tetap perkumpulan kami," seru Elna.
"Iya, benar sekali," jawab Sibki.
"Wah aku tidak menyangka bisa bertemu dengan orang yang selama ini membiayai proses hijrah kami," seru Manda.
"Tapiii, bukannya kemaren pak Aan duda?" Tanya Elna.
"Iya, kemaren aku duda, tapi baru beberapa hari ini aku menikah lagi dengan perempuan yang sangat aku cinta," Aan duduk di samping Aruna, lalu melingkarkan tangannya di bahu Aruna.
"Ya Allah beberapa hari, sudah beberapa bulan whoyy!!!" bentak Sibki.
"Oh ya? kenapa aku merasa baru terus ya," goda Aan.
"Kak Sibki, sembunyikan wujud bertandukmu, aku takut Manda akan benar-benar mundur," goda Aruna.
"Aku benar-benar lupa kalau lama menikah," lirih Aan meng eratkan gandengannya.
"Kakak …," ringis Aruna sambil menurunkan tangan Aan yg melingkar di pundaknya.
"Kakaaa," seru Rayyan memanggil Aan.
"Astaghfirullah, aku lupa," lirih Aruna.
"Lain kali panggil zeyenk(sayang) biar si kembar juga nurut," seru Sibki.
"Manda punya permintaan untuk pernikahan nanti?" Tanya Jojo.
"Saya ikut keluarga besar kalian saja, lagian di rumah hanya ada ibu dan kakak saya, kalau bapak juga ngikut juga katanya," jawab Manda.
"Baiklah, kita akan minta pendapat sama ustadz Ali nanti kapan hari baiknya dilaksanakan pernikahan kalian," seru Mastia.
"Lebih cepat lebih bagus," seru Aan sambil menyandarkan kepala di bahu Aruna.
"Dasar tidak tahu malu," dengus Sibki.
"Kamu belum tahu gimana rasanya punya istri, kalau kamu bisa jauh-jauh sama istri kamu nanti waw kamu hebat," goda Aan.
"Papa ih," Aruna bangkit dari posisi duduknya dan duduk ditempat yang lain.
"Papa?" Ejek Sibki.
"Kalau kaka ponakan mu itu niru opa Sibki," seru Aruna.
Perundingan selesai Sibki segera mengantar Elna dan Manda pulang kerumah mereka masing-masing. Rumah Elna lebih dekat kini di mobil hanya ada Sibki dan Manda.
"Bagaimana kalau kita menengok bapak kamu?" Tanya Sibki.
"Berdua?"
"Tidak, setelah sampai rumah, kamu ajak kakak dan ibu kamu, keluarga kamu juga berhak tau rencana pernikahan kita,"
Manda mengangguk. Setelah sampai rumah Manda, Manda langsung turun dari mobil Sibki, " kak aku tanya kaka sama ibu dulu," lirih Manda.
Sibki mengangguk.
Tidak berapa lama Manda berjalan bersama ibu dan kaka lelakinya.
"Masya Allah, Sofyan?" Sibki kaget mengetahui siapa kaka Manda.
"Sibki? Jadi … jadi kamu calon suami adikku?"
"Kalian saling kenal?" Tanya Tiar ibu Manda.
"Selama saya kabur, saya tinggal di majelis ustazd Ali, Sibki salah satu teman saya selama ini," lirih Sofyan.
"Masya Allah, kita semua sekongkol membohongi bapak," seru Tiar.
"Aku kabur karena aku tidak mau mendalami ilmu …, yah kamu faham lah Sibki," seru Sofyan.
Sibki tersenyum, "Ayo kita tengok bapak kalian, oh ya, kami dan Manda sudah sepakat tentang rencana pernikahan, tapi kapan harinya kami tanya Ustadz Ali dulu," seru Sibki.
"Aturlah menurut kalian baik," seru Tiar.
"Kaka percaya dengan orang ini Manda, selamat kamu menemukan jodoh yang insya Allah baik," seru Sofyan.
Mereka segera masuk mobil, Sofyan duduk di samping Sibki, sedang Manda dan Tiar duduk di bagian belakang. Sebelum kerumah tahanan Sibki mampir membeli beberapa makanan untuk calon mertuanya nanti.
***
Kini mereka sampai di rumah tahanan dimana Darnawan ditahan.
"Assalamu alaikum pak," seru mereka semua.
"Ibu? Manda, Sofyan?" Darnawan terkejut melihat anak dan istri serta calon menantunya datang.
"Oh Sibki, maaf aku lupa menyapa kamu,'" seru Darnawan.
Mereka semua salim pada Darnawan, Darnawan terharu melihat merek semua mencium punggung telapak tangannya.
"Terima kasih Sibki, selama ini anak laki-lakiku ini sangat membenciku," lirih Darnawan sambil menepuk punggung Sofyan.
"Aku tidak membenci bapak, aku benci perbuatan bapak," lirih Sofyan.
"Untung saja anakku tidak ada saat penyerangan itu, kalau ada malunya aku, perbuatan jahatku disaksikan oleh anakku," lirih Darnawan.
"Lupakan pak, lihat hikmah atas kejadian ini? Kalau malam itu bapak tidak melakukan tidak kejahatan entah apakah aku akan bertemu berlian bapak yang sangat beharga ini," Sibki melirik Manda.
"Maafkan kami pak, selama ini kami hijrah sembunyi-sembunyi, karena saat kami ikut ilmu bapak, hati kami rasa resah, saat kami ikut pengajian yah, sembunyi-sembunyi dari bapak kami merasakan sesuatu," lirih Tiar.
"Aku bangga dengan kalian semua," seru Darnawan.
Mereka semua langsung duduk di kursi yang tersedia.
"Oh ya Sibki, aku juga terlibat dalam perampokan rumah adikmu pagi itu, aku bekerja sama dengan Saman dan pembantu kalian, tapi pas rencana berjalan dengan baik, Saman mengkhianati kami, dia bersepakat dengan putri ular(pada bab dukun gila,) dan dukun lainnya, Saman memanfaatkan keadaan, karena tujuan utamanya adikmu saat dia jadi pahlawan bagi kalian dia mengkhianati kami semua," lirih Darnawan.
"Itu sudah berlalu pak, kami juga bodoh adikku menikah dengan Saman, tapi Saman sudah meninggal, mobil yang dia bawa ketiban pohon yang tumbang, dia mati seketika menurut kabar," lirih Sibki.
"Apakah kalian semua sudah tahu tentang Deli?" Tanya Darnawan.
"Kami tahu, tapi Deli lahir dari rahim Aruna, maka dia anak Aruna dab Aan, apa ada bukti nyata yang akurat kalau Deli bukan anak mereka?" Tanya Sibki.
Darnawan menggeleng.
"Lupakan itu pak, kami bahagia bersama Deli dan lainnya, Deli manusia biasa, dia anak Aan dan Aruna karena dia lahir dari rahim Aruna."
"Aku bahagia, tapi sedih juga malu. Aku bahagia bisa diberi kesempatan kedua untuk memperbaiki, aku bahagia karena anak gadisku menikah dengan laki-laki seperti kamu, buka laki-laki seperti Ipin anak dukun rekan lamaku, tapi aku malu, karena perbuatanku," ringis Darnawan.
"Sudahlah pak, kita mulai dari awal," seru Tiar.
Tiar, Manda dan Sofyan memeluk Darnawan.
"Pak kemaren Ifin mengganggu saya, tapi untung ada kak Sibki, dia langsung melepaskan saya saat kak Sibki bilang kalau aku calon istrinya," lirih Manda.
"Kamu hati-hati Manda, bapak takut, sekarang bapak tidak punya apa-apa untuk melindungi kamu," lirih Darnawan.
"Ada Allah tempat sebaik-baik meminta perlindungan," ucap Sibki dan Manda bersamaan.
Mereka semua saling pandang.
"Subhanallah," lirih Darnawan
"Bapak?" Seru Manda, Sofyan dan Tiar.
"Memang kalian saja yang bisa? Bapak juga ada ustadz yang mengajar di dalam sana, belum lagi ustadz yang di utus ustadz Ali untuk membimbing kami semua, dari mengaji dan banyak hal yang lainnya," seru Darnawan.
"Kita bicara terus, ini kami bawa makanan buat bapak dan ini semoga cukup untuk teman-teman bapak di dalam," Sibki menyodorkan kantong plastik yang dia tenteng.
*******
Bersambung …
*******
Berproses ya readers, Author kan IRT jadi Author harus bagi waktu antara tugas rumah tangga dan menulis.
Semangat semua💃💃💃💃