Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 139 Extra Part Sibki Bawel


Manda teringat kenangannya dengan Elna dulu.


Flash Back …


"Kak El, kenapa kakak sangat semangat kalau mau ketempat ustadzah?" tanya Manda.


"Aku pengen punya suami orang kaya Manda, di sana ada em …." goda Elna.


"Kenapa jika dia kaya? Bukannya--"


"Anak kecil diam!" Elna langsung memotong kata-kata Manda. "Bapak sama ibu aku pengen banget aku nikah sama orang kaya, kami lelah hidup miskin."


"Aku juga miskin, lihat kerjaan bapak aku cuma seorang dukun remahan."


"Makanya manfaatkan kecantikan kamu untuk mencari pria kaya."


"Ogah! Aku cari pria yang penyayang dan penuh tanggung jawab dan juga agamanya yang baik, aku perlu imam yang baik agamanya secara aku masih pemula," jawab Manda.


"Heleh … jika kamu nikah sama laki-laki miskin, terus punya anak, kamu akan sadar uang dan harta penting!" ejek Elna.


"Iya memang penting, tapi kita bisa usaha sama-sama, tidak harus sukses duluan," bela Manda.


Elna terus melakukan aktivitasnya.


"Kenapa kakak setiap kali ke majelis selalu mengoles itu di alis kakak? Aku anak seorang dukun, ku harap itu bukan pemikat, jika itu iya, hentikan kak, itu syirik kak …."


"Ini vitamin penumbuh alis, su udzon banget kamu ih."


"Bukan sangka buruk, aku hanya gak mau kakak pembina aku yang sholehah ini terjun ke dalam dunia mistis, gak baik kak, aku aja sama ibu sembunyi-sembunyi meninggalkan dunia itu, masa kakak yang di beri kesempatan hidup Normal malah ke dunia itu."


"Manda bawel!!!" Rengek Elna.


"Untuk mengingatkan agar teman selamat itu perlu bawel tingkat extra kaka …."


"Iya, terserah dirimu Manda ... the quen of bawel," ejek Elna.


"Kak, bagaimana kalau orang yang kakak incar tidak merespon kakak?"


"Aku akan ambil lewat jalan pintas! Sudah ya bye aku sudah terlambat ketempat ustadzah, sampai ketemu nanti di mesjid."


"Orang incaran kakak selain kaya ganteng nggak?"


"Ganteng, awas kalau kamu curi start! Aku santet kamu! Kalau perlu aku akan jadi malakal maut untuk mencabut nyawamu," ancam Elna, sambil tertawa terbahak-bahak.


"Huhuuuu atuttt," ejek Manda.


Elna meninggalkan Manda dan langsung pergi menuju rumah Nurul.


Flash back off.


Perlahan pintu kamar mandi terbuka, terlihat sosok Elna keluar diantara pintu.


"Sudah selesai?" tanya Nurul.


"Sudah ustadzah."


Nurul membantu Elna berjalan menuju ranjang Rumah Sakit tersebut.


Elna melihat air mata membasahi pipi Manda. "Ya ampun Manda, kamu sayang banget ya sama kakak? Sampai nangis segitunya kamu, aku pasti sembuh Manda," ucap Elna.


"Iya, luka di luar pasti akan sembuh, tapi bagaimana kalau luka hati? Luka batin?" ucap Manda.


"Aku mau ketempat bapak sekarang, ada yang mau bareng?" Sofyan menyela.


"Kak kita ketempat bapak ya? Di sini ada ustadzah dan juga ustadz yang menemani kak Elna," ucap Manda.


"Tentu boleh, pak ustadz semuanya kami pamit ya," seru Sibki.


Mereka bertiga keluar dari ruangan Elna.


"Kak, bagaimana kalau kita jemput umak, pasti umak pengen pulang," usul Aruna.


"Kalau umak kita jemput, ibunya Manda bakal sendirian di sana," ucap Aan.


"Kita tawari dulu apa beliau mau pulang."


"Istriku pintar." Aan mengusap pucuk kepala istrinya.


"Pak ustadz, kak Nurul, Elna … apakah kalian keberatan jika kami pamit?" tanya Aruna.


"Tidak sama sekali, terima kasih sudah menjengukku," ucap Elna lirih.


Aan dan Aruna pergi meninggalkan ruangan Elna, mereka segera menuju majelis untuk menjemput Suminten.


***


Di rumah kontrakan Sibki.


"Assalamu alaikum," salam Aan dan Aruna.


"Wa alaikum salam, eh kamu?" Suminten langsung memeluk Aruna.


"Kita mau jemput umak," ucap Aruna


"Sekarang?" tanya Tiar.


"Ibu mau pulang?" tanya Aruna.


"Kalau ibu mau pulang kami antar dulu sebelum kami pulang," tawar Aruna.


"Boleh? Apa nggak ngerepotin?"


"Nggak sama sekali," jawab Aruna.


"Baiklah ibu mau beres-beres punya ibu," ucap Tiar semangat.


"Umak, boleh minta tolong? Tolong bereskan juga baju-baju Sibki dan Manda, biar kita semua pulang ke rumah bapak, biar kita fokus persiapan pernikahan Sibki dan Manda," ucap Aruna.


"Boleh banget! Pas tuh selesai mengantar Tiar pasti umak juga selesai bebenah baju-baju Sibki dan Manda." ucap Suminten.


"Baiklah, aku telepon Sibki dulu, biar Sibki kasih tahu Sofyan, kalau ibunya kita antar pulang," ucap Aan. Aan langsung menelpon Sibki.


"Assalamu alaikum, Aan?" salam sibki.


"Wa alaikum salam, kamu sudah di mana Sibki?"


"Ini aku di halaman rumah tahanan, ada apa?"


"Enggak ada apa-apa, oh ya ibu Manda kami antar pulang, beliau pengen pulang, kasih tau Sofyan ya?"


"Oh kalian yang bisa antar ibu pulang, iya nanti aku kasih tau Sofyan, kasian juga ibu pengen banget pulang, makasih ya An,"


"Kalian juga langsung saja pulang ke rumah bapak, keperluan kalian sedang di kemasi umak,"


"Oh, iya An, aku dan Manda akan langsung ke rumah bapak, kunci kontrakan taruh saja di tempat biasa, barang-barang Sofyan masih disana kan?"


"Iya, barang-barang Sofyan masih di rumah ini, itu saja ya, assalamu'alaikum."


"Wa alaikum salam." jawab Sibki.


Mereka menutup panggilan telepon.


"Ibu sudah selesai," ucap Tiar.


"Sudah pamitan sama umak?" Tanya Aruna.


"Iya, sudah," jawab Tiar.


"Nanti ibu kami jemput lagi, kami mempersiapkan resepi buat Manda dan kak Sibki, makanya kami bawa umak pulang," ucap Aruna.


"Waduh, bahagianya ibu bisa melihat anak ibu jadi pengantin nanti."


"Kami akan minta izin supaya Pak Darnawan bisa keluar nanti untuk berhadir sebentar di acara nanti," ucap Aan.


"Masya Allah, keluarga besar kalian sungguh luar biasa, ibu sangat bahagia anak ibu jadi anggota kalian, didik Manda ya agar dia juga baik hati seperti kalian semua."


"Manda memang anak baik, di didik apa lagi, terima kasih bu mau menerima kakak kami, secara gara-gara anak kami bapak berada di balik jeruji besi," ucap Aan.


"Sudah, kapan berangkat? Ibu sangat rindu istana butut ibu," ucap Tiar.


"Sekarang bu, tapi aku pamit dulu ya sama umak." Aruna berjalan menuju kamar Sibki.


"Mak, kami berangkat mengantar bu Tiar," ucap Aruna.


"Iya nak, hati-hati ya."


"Iya mak, assalamu alaikum,"


"Wa alaikum salam," jawab Suminten.


Aruna berjalan keluar. "Yuk kak, aku sudah pamitan sama umak," ajak Aruna.


Mereka bertiga meninggalkan rumah Sibki. Aan langsung melajukan mobil menuju desa tempat tinggal Tiar.


***


Di rumah tahanan.


"Ada apa tadi berulang kali menyebut namaku?" Tanya Sofyan.


"Oh, itu Aan mengantar ibu kamu pulang, sekarang kontrakanku menjadi kekuasaanmu, secara nanti hanya kamu di sana, terserah kamu mau ngiler di mana," jawab Sibki.


"Alhamdulillah kalau ibu bisa pulang, kasian ibu rindu banget sama rumah jelek kami," ucap Sofyan.


"Apa kita akan kembali ke sana kak? Secara baju-baju aku masih di sana," tanya Manda.


"Sepertinya barang-barang kita sudah di bereskan Aruna atau umak," jawab Sibki.


Mereka sampai di ruang khusus tempat kunjungan. Mereka langsung menuju tempat yang kosong dan langsung duduk.


Mata Sofyan melotot melihat siapa yang duduk seorang diri, dia berjalan ke arah orang itu dengan penuh kemarahan.


"Kemana saja kamu? Kenapa kamu menghilang tiba-tiba?" Sofyan mencengkram kerah baju orang itu.


"Maaf Sof, aku pindah ke desa lain, karena kami dapat lahan luas dari sana, aku berkebun di sana."


"Kak Sofyan, lepasin kak Ifin!" bentak Manda.


"Buggggh!" Tinjuan Sofyan mendarat di rahang Ifin.


"Sofyan hentikan!" pinta Sibki.