Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 113


Aan terkejut melihat pesawat yang membawanya sudah berada di udara.


"Ponselnya Pak," ucap pramugari.


Aan mematikan ponselnya.


"Terima kasih kerja samanya," ucap pramugari.


"Bisakah kembali?" pinta Aan.


Pramugari menggeleng,


"Astaghfirullah … apa yang aku lakukan," ringis Aan. Aan pasrah mengikuti penerbangan yang sudah terlanjur dia naiki.


Setelah pesawat mendarat, Aan memesan kembali tiket penerbangan untuk kembali. Perasaannya campur aduk, bahagia namun juga takut melihat kemarahan semua orang. Karena rencana indah semua orang kacau gara-gara sifat cengengnya.


Aan mendarat jam tiga dini hari, dia langsung pulang ke rumah, rumah tempat tinggal dia dan Aruna dulu, yang ada dekat majelis.


Aan menelpon sekretarisnya.


"Apa Pak?"


"Besok pagi kamu siapkan berkas pernikahanku, semua surat-suratnya sudah aku sediakan," perintah Aan.


"Baik Pak,"


Aan mematikan sambungan teleponnya. Dia memandangi foto resepsinya dengan Aruna yang masih terpajang di dinding rumahnya.


"Terima kasih ya Rabb, akhirnya engkau kembalikan separu hatiku yang pernah pergi," gumam Aan.


***


***


***


Suasana pagi yang dingin membuat emosi semua orang mereda. Aruna tengah menyapu teras rumah kontrakan Sibki.


"Assalamu'alaikum, Aruna," sapa umi Fatma.


"Wa alaikum salam, umi …." Aruna langsung salim pada umi Fatma.


"Aruna, boleh bawa sikembar ke rumah? Kalian kan hari ini kembali ke rumah sana," pinta umi Fatma.


"Ya boleh umi, tapi tiga lho punya aku, gimana umi jaganya? Di rumah umi juga sudah ada satu buntutnya ustadz Ali," ucap Aruna.


Umi Fatma tersenyum dan menggeleng.


"Ya sudah umak saja sama ibu yang menemani si kembar, sekalian umak mau melepas rindu sama umi Fatma dan ustadzah Nurul," ucap Suminten.


Aruna tersenyum melepas kepergian ketiga anaknya bersama umi Fatma, umak dan juga ibunya.


Aruna melanjutkan kembali tugas menyapunya.


"Ekkk hemmm!" Dehaman seseorang, terlihat sosok yang tidak asing berdiri bersandar di tiang teras rumah itu.


"Kenapa kembali? Ingin melihat kehancuranku?" tanya Aruna ketus.


Sosok itu tidak menjawab, hanya tersenyum sambil memandangi Aruna.


"Senyum-senyum lagi! Sudah aku kirim pesan bukan sebelumnya? Kenapa kak Aan tidak memutuskan sebelum acara?" bentak Aruna.


Dengan kemarahan yang menyelimuti dirinya, Aruna berjalan mendekati Aan. "Dasar!" Aruna mengayunkan gagang sapunya.


Plakkkk!!!


Bugggh!!!


Gagang sapu Aruna mendarat sangat keras tepat di tiang rumah itu, hingga patah.


"Astaghfirullah … Kenapa bayangan Aan sangat nyata," ringis Aruna. Saat menyadari kalau yang dia lihat Aan hanya halusinasinya saja.


"Salah apa tiang teras itu sama kamu hingga gagang sapu aja patah," sela Sibki.


Aruna tersenyum, menyembunyikan kebodohan yang dia lakukan barusan. "Kakak mau kemana?" Aruna berusaha mengalihkan perhatian Sibki.


"Aku mau beri perhitungan dengan Aan, ini aku mau ke kantor dia," jawab Sibki.


"Ikhlaskan saja kak," pinta Aruna.


"Iya ikhlas, tapi setelah ini mendarat di wajahnya," Sibki mengepalkan tangannya.


"Semua sudah beres?"


"Iya sudah kak, semuanya sudah siap. Tinggal nunggu kita berangkat aja," jawab Aruna.


"Kakak pergi, assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikum salam kak."


***


Aruna merasa bosan seorang diri di rumah, karena anak-anak, ibu, juga umaknya di rumah Nurul. Aruna menyeret kakinya berjalan ke arah sungai yang berada di belakang majelis.


"Aruna … halah, sungai lagi," gerutunya sendiri, dia memaki dirinya yang berjalan tanpa kesadaran, hingga sampai di sungai.


Aruna melotot memandang ke arah sungai, melihat sosok yang sama dengan sosok yang dia lihat di teras rumah sebelumnya.


"Ya Allah … kenapa bayangan Aan selalu datang, kasihani aku," ringis Aruna.


"Kenapa kamu di sana, ingat ini?" Orang itu menepuk batu yang dia duduki.


"Kamu nyata?" Aruna memastikan kalau itu bukanlah halusinasinya lagi.


"Menurutmu?"


"Kamu hantu!" bentak Aruna.


"Ada hantu seganteng diriku?"


Aruna berjalan menuju orang yang berdiri di aliran sungai itu dengan penuh kemarahan.


"Tidak bisakah aku hidup tenang tanpa bayangan kamu?!" teriak Aruna.


Sosok itu tersenyum.


"Apa yang lucu kak Aan? Aku tersiksa!" teriak Aruna.


Aruna menatap tajam ke orang itu. "Owh … yang ini nyata," gumam Aruna.


"Pergi dari hadapanku!" teriak Aruna, dengan semangat dia mendorong, yang dia lihat Aan.


Byurrr!


Aruna sendri tersungkur ke aliran sungai karena Aan yang dia lihat hanyalah bayangannya.


"Aaakkk!" Teriak Aruna, Aruna menumpahkan kekesalannya sambil memukul air sungai dengan tangannya.


"Ya Allah … kenapa bayangan Aan sangat nyata … aku bisa gila ini," ringis Aruna.


"Sudah kuduga kamu ke sini, aku yakin kamu merindukanku dan merindukan tempat bersejarah ini, apa kamu ingin mendirikan tenda lagi di sini, dan mengulangi perjuangan di atas batu yang keras itu?" tanya-nya sambil mengedipkan mata.


"Hiks, hiks, hiks, satu lagi muncul," ringis Aruna.


"Pagi-pagi kamu sudah dalam air sungai saja, ayo naik," pinta Aan.


"Hei … naik!" Pinta Aan.


Aruna menatap tajam ke arahnya.


"Okey, aku yang salah, aku datang kembali untuk minta maaf," ucap Aan.


"Maafmu tidak akan cukup mengobati rasa sakitku," jawab Aruna.


"Apa yang bisa mengobati rasa sakitmu? Ayo lakukan … tumpahkan semua kemarahanmu padaku."


"Menghajarmu!" Teriak Aruna.


"Kamu tidak akan bisa menghajarku jika di sana, ayo naik, pukul aku sepuas hatimu, tapi setelah itu kamu harus bertanggung jawab, satu pukulan satu ciuman khusus buatku."


Aruna melirik ke arah tongkat kayu, dia mengambil tongkat itu dan berjalan dengan semangat ke arah Aan.


"Waw … kamu sangat bernafsu padaku rupanya," seru Aan.


"Jangan banyak bicara! Diam kau! Aku ingin menghajarmu!" Bentak Aruna. Aruna berjalan dengan penuh kemarahan menuju Aan.


"Kamu tidak akan bisa menyakitiku, karena aku yakin kamu sangat mencintaiku, aku yang kena pukul, tapi kamu yang merasakan sakit," goda Aan


"Diiiaaammm!" Teriak Aruna sambil mengayunkan sekuat tenaganya tongkat kayu yang dia pegang ke arah Aan.


Plakkkk!!!


"Aduh!" Ringis Aan memegangi bahunya yang kena ayunan tongkat dari Aruna.


"Astaghfirullah … ini nyata?" Aruna menganga dan refleks melepaskan tongkat yang dia pegang.


"Kamu jahat sekali, setelah pesawat yang kutumpangi mendarat, aku terbang lagi kesini, mengebut dari bandara kemari, tapi ini sambutanmu," Aan meringis.


"Maaf … aku kira kamu halusinasiku," ringis Aruna.


"Apa kubilang kamu merindukanku, lihat, aku kena yang pukul tapi kamu yang kesakitan," goda Aan.


"Maaf .…" ringis Aruna, wajah Aruna cemas menyadari dia memukul Aan dengan sangat keras.


"Kamu pasti sangat merindukanku bukan," goda Aan.


Aruna memandangi Aan yang terus mengusap bahu yang kena pukulannya.


"Aku juga minta maaf, aku kira ustadz Hasan yang akan jadi suamimu, aku sakit, jadi aku pergi, saat aku membaca pesanmu, aku sudah di pesawat," ringis Aan.


"Ini dia si biang kerok tadi malam, kamu menghancurkan kerja keras kami," bentak Sibki yang tiba-tiba datang bersama ustadz Ali.


"Kakak jangan!" Teriak Aruna.


"BOUGGHHH!" Satu tinjuan tenaga penuh, mendarat di wajah Aan.


"Astaghfirullah, kakak adik demennya main kekerasan," ringis Aan memegang rahangnya yang kena pukulan Sibki.


"Maafkan kak Sibki," ringis Aruna memegang wajah Aan yang kena pukulan Sibki.


Aan tersenyum merasakan sentuhan tangan Aruna diwajahnya.


"Stop!" Ali menarik krah baju Aan, hingga Aan menjauh dari hadapan Aruna.


"Terima kasih sambutannya, tadi aku di sambut adikmu dengan ayunan tongkat itu, sekarang kamu menyambutku dengan bogem mentah mu, ustadz … ustadz gak ikut menyambutku?" tanya Aan.


"Kenapa kamu basah Aruna?" tanya Sibki.


"Aku tercebur ke sungai," ringis Aruna.


"Astaga? Apa kamu merindukan--" Ali, Aan dan Sibki saling pandang karena mereka mengucapkan kata yang sama.


Aruna mundur perlahan sebelum tiga orang itu menyadarinya.


"Aruna apa kamu--" Pertanyaan Aan terhenti karena Aruna sudah lari dari hadapan mereka.


"Kemana kamu!" Teriak Aan.


"Aku mau pulang ganti baju, dingin!" Jawab Aruna sambil berlari meninggalkan mereka semua.


"Sini aku peluk biar gak dingin," teriak Aan.


Tangan ustadz Ali mencengkram bahu kanan Aan, sedang Sibki mencengkram bahu kiri Aan.


"Jangan macam-macam! Kamu belum sah!" bentak Ali.


"Bisa kita sah kan sekarang?" Aan tersenyum kecut.


Ali dan Sibki saling pandang.


"Ayo ustadz permudah saja, dia pasti merindukan aktivitas kami di batu itu." Aan menyeringai.


"Kalau kamu tadi malam tidak pergi … tadi malam kamu sudah bisa," Ali menggebuk halus punggung Aan.


Mereka bertiga tertawa kecil dan berjalan meninggalkan sungai menuju rumah Nurul.


***


Bersambung ...


***


Maaf lama ya readeers🙏🙏🙏🙏


Tadi nya Author mau up banyak, tapi demi kalian semua Author up 1 dulu, Author orangnya gak kuat di rayu, lihat komen kalian wah... semagat Author membara, tapi karena kesibukan Author gak bisa banyak up, 1 dulu ya sobat.


See you again🙃🙃🙃🙃🙃