Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 123. Extra Part Sibki ch 4


Mengetahui Manda sudah sadar dari Sibki yang mendatangi keruangannya, dokter yang menangani Manda segera memeriksa Manda. Dokter di buat tersenyum oleh prilalu Manda.


"Bagaimana keadaan adik saya dok?" Tanya Sofyan.


"Sejauh ini tidak ada masalah, kami juga bingung, kami tidak menemukan penyakit, namun aneh adik anda tidak sadar selama tiga hari dan sekarang sadar seperti orang yang bangun tidur,"


"Apa perlu pemeriksaan lanjutan dok?" Tanya Sofyan.


"Tidak salahnya kita lakukan pemeriksaan lagi, kalau begitu saya undur diri dulu, permisi," lirih dokter.


Dokter dan tim nya meninggalkan ruang perawatan Manda.


Sofyan dan ibunya saling pandang melihat Manda yang nampak aneh, sebelumnya Manda sosok yang pendiam, namun sekarang tidak henti-hentinya dia bersenandung sambil meliyuk-liyukkan tangannya ke udara.


"Assalamu alaikum," ucap Sibki.


"Wa alaikum salam," jawab Sofya dan Tiar.


"Maaf saya cuma beli bubur, karena kata dokter Manda sebaiknya makan bubur dulu, secara …,"


"Kami faham nak Sibki, ayo," seru Tiar.


"Yeay …," seru Manda melihat Sibki datang.


"Kamu jadi makan kan?" Tanya Sibki.


"Jadi dong, asal di suapi kakak," rengek Manda.


"Ya sudah sini ibu siapkan buburnya," seru Tiar.


Setelah bubur di siapkan oleh Tiar, Sibki menyuapi Manda.


"Kakak gugup ya," goda Manda.


Sibki hanya tersenyum.


"Kamu manja banget, sejak kapan makan minta di suapi?" Seru Sofyan.


"Sejak sekarang," jawab Manda dengan entengnya.


Semua orang pasrah mengikuti permintaan Manda. Dengan tangan yang gemetaran Sibki selalu menyuapi Manda makan dengan hati-hati.


Ponsel Sibki berdering. Sibki segera mengangkatnya.


"Assalamu alaikum,"


"Wa alaikum salam, kak bagaimana keadaan Manda?"


"Kata dokter pas aku keruangan beliau Manda akan diperiksa lagi, namun sejauh ini Manda baik-baik saja,"


"Oh syukurlah, aku sangat khawatir tadi, ya sudah titip salam buat semua orang disana," lirih Aruna.


"Iya nanti di sampaikan,"


"Assalamu alaikum kak Sibki,"


"Wa alaikum salam," jawab Sibki.


Sibki kembali menyuapi Manda, "maaf ya, tadi Aruna yang menelpon,"


Manda mengangguk sambil membuka mulutnya menerima suapan makanan dari sendok yang di pegang Sibki.


***


Di tempat lain.


Ponsel berdering,


"Halo mbah Keleng,"


"Mangsa mu sudah di akhir fase pertama, sekarang dia akan normal beberapa saat, namun akan kembali menderita beberapa waktu kemudian sebelum penderitaan puncaknya, cukup tahap dua? Atau tahap tiga? Apa kamu ingin sekalian dia mati?"


"Lihat kedepan mbah, bila dia tetap bertahan dengan calon suaminya Sibki itu, maka sampai end,"


"Okey, reseko tanggung sendiri,"


"Aku siap mbah,"


Panggilan telepon ber akhir.


*


*


*


****


Di rumah Aruna.


Aruna memandangi matahari yang mulai tergelincir di ufuk barat dari jendela kamarnya. Pikirannya melayang entah kemana.


Aan masuk kekamar mereka, namun Aruna tidak menyadari kedatangannya. Perlahan Aan masuk meletakan tas kerja juga jas yang dia pakai di meja kecil di dekatnya, kemudian berjalan mendekati Aruna.


Aan memeluk Aruna dari belakang, "mikirin apa sayang?" Tanya Aan sambil menennggelamkan wajahnya di lekuk leher Aruna.


Aruna menggeliat. "Kakak ...."


"Tolong diam saja, aku suka seperti ini,


Mikirin apa? Mikirin aku?" Tanya Aan lagi.


"Kaka selalu ada dalam otak dan hatiku, bagaimana aku bisa berhenti memikirkan kaka,"


"Bagus, itu satu, lalu apa lagi yang kamu pikirkan?"


"Banyak,"


"Apa?" Tanya Aan.


"Pernikahan kak Sibki di tunda, karena Manda sakit,"


"Bagaimana keadaan Manda?"


"Tadi aku telepon kaka, kata kaka Manda mulai membaik,"


"Syukurlah,


Lalu, apalagi?"


"Kak, Deli … kaka tahu kan kalau Deli …,"


"Deli lahir dari rahim kamu, lahir bersama buah cinta kita, dia anak kita titik!" Seru Aan.


"Aku juga merasakan begitu,"


"Jangan ungkit Deli, dia anak kita okey,"


Aruna mengangguk.


"Apalagi yang kamu pikirkan, kamu bilang banyak," Aan ber aktivitas disana.


"Lebih dari satu itu banyak kakak," ringis Aruna.


"Ayo … buat alasan agar aku semangat Mandi," seru Aan.


"Mandinya sepaket sama mandi …," goda Aan.


"Bau ah," rengek Aruna.


"Bau ini bikin kamu kangen bukan," goda Aan sambil menarik jendela dan menutup jendela kamar yang terbuka itu.


*


"Kenapa kamu selalu melihat jam? Ingin mengukur kekuatanku?" Tanya Aan yang terus melancarkan aksinya.


"Bukan, sebentar lagi jam kerja para pengasuh selesai, kalau kaka tidak finish sekarang, maka kaka harus berhenti sebelum di garis finish," rintih Aruna.


"Astaga, aku lupa, baiklah kita percepat, ubah posisi nyonya," seru Aan.


*


Baru saja sampai di garis finish suara ketukan pintu terdengar,


"Siapa?" Teriak Aruna.


"Kami bu,"


"Tunggu sebentar ya mbak, 15 menit lagi," teriak Aruna.


Suara dari arah luar langsung senyap.


"Apa ku bilang," seru Aruna sambil berlari ke kamar mandi.


********


Di rumah sakit.


"Manda, kaka izin pulang ya, sudah sore, nanti malam kaka akan kemari lagi," lirih Sibki.


"Jangan … aku masih kangen," rengek Manda.


"Manda, Sibki pasti lelah, izinkan dia pulang ya," pinta Tiar halus.


"Nggak boleh!" Ringis Manda.


"Ya sudah Sibki kamu mandi dan ganti baju sama baju aku aja, oh ya rehat disini," Sofyan menepuk karpet di sampingnya.


"Rebahan di sini juga boleh," lirih Manda menepuk tempat tidur tempatnya terbaring.


"Belum boleh Manda, belum sah!" Goda Sibki.


Manda menutup wajahnya dengan kedua belah telapak tangannya.


"Manda, jangan terlalu aktif sayang, ini sudah kali ketiga lho jarum infus kamu pindah," seru Tiar.


"Love you kak Sibki," seru Manda.


Mendengar kata itu jantung Sibki seakan meledak. Sibki hanya tersenyum dan langsung masuk kedalam kamar mandi.


"Dasar otak tercemar!!! Sejak kapan kamu genit sama cowok!" Bentak Sofyan.


"Sofyan sudah, dia lagi sakit, lagian Sibki jug calon suami dia," lirih Tiar.


Matahari semakin tenggelam. Sibki, Sofyan dan Tiar sudah segar karena sudah membersihkan diri. Kini mereka tengah mengaji bersama, Sibki dan Sofyan membaca Al-qur'an dari layar ponsel mereka, sedang Tiar membaca dari mushaf yang selalu dia bawa.


Mereka bertiga membaca ayat Al-qur'an yang sama bersamaan sambil menunggu waktu magrib yang akan tiba sebentar lagi.


"Aakkkkk … ibu … sakiiit," pekik Manda.


Mereka semua langsung menghampiri Manda.


"Ada apa Manda?" Sofyah panik.


"Kepalaku, sakittt!!" Ringis Manda.


"Banget?" Tanya Sofyan.


Manda mengangguk.


"Sofyan kamu panggil dokter, ibu tolong bantu Manda, saya akan baca surah Ar-ra'd(guruh) kata ustadz itu bagus di bacakan buat orang sakit yang kesakitan," Sibki segera mengambil mushaf al-qur'an milik Tiar dan langsung membacanya.


Manda terus mengerang kesakitan dan memegangi kepalanya, sampai jarum infus yang menancap di pergelangan tangannya terlepas lagi. Berangsung ayat yang di bacakan Sibki terus dia baca ringis kesakitan Manda mulai terdengar berkurang.


Dokter masuk kekamar Manda, Sibki segera kesisi lain dan terus membaca surah tersebut, sedang dokter memeriksa Manda.


Dokter bertanya pada Manda apa yang dia rasa, manda menjawab pertanyaan dokter.


"Kita akan lihat hasil tes besok, sekarang saya tidak bisa menyimpulkan apa-apaa," seru dokter.


"Iya dok, terima kasih," lirih Tiar.


Perawat memberi Manda suntikan. Manda mulai terlihat tenang.


"Bagaimana?" Tanya Sofyan.


"Sudah lebih baik kak," jawab Manda.


"Sepertinya sakit kepalamu tadi membawa suara normalmu kembali," lirih Sofyan.


Manda ingin tersenyum namun sakit kepalanya masih terasa.


"Sudah istirahat saja," seru Tiar.


Sibki selesai membaca ayat yang dia baca sebelumnya.


"Bagaimana keadaan kamu Manda?" Tanya Sibki.


"Kak Sibki? Kapan kaka datang? Yang kaka pakai itu baju kak Sofyan?" Wajah Manda keheranan.


"Rupanya kamu amnesia Manda, seharian ini Sibki disini, dia mau pulang kamu cegah, bukan cuma itu, kamu juga kelewat manja,masa makan minta suapi Sibki," ejek Sofyan.


"Apa? Jangan fitnah kaka," ringis Manda sesekali memegangi kepalanya.


"Fitnah? Ini buktinya," Sofyan memperlihatkan foto yang dia ambil saat Sibki menyuapi Manda makan.


"Ya Allah, kenapa aku?" Ringis Manda.


"Pura-pura," ejek Sofyan.


"Tunggu, kita di mana?" Manda baru mulai sadar.


"Ini rumah sakit, yang tadi dokter," jawan Sofyan.


"Aku tidak ingat apa-apa kak, hal terakhir aku ingat aku sakit kepala siang itu," ringis Manda.


"Iya kamu teriak manggil ibu, tapi pas ibu datang kamu sudah pingsan. Jadi kamu kami bawa ke puskesmas, tiga hari tidak sadar, yah kamu di rujuk kerumah sakit ini," terang Tiar.


"Apa? Pingsan tiga hari?" Manda semakin terkejut.


*****


Bersambung ...


****


Slow up ya, soalnya Author sibuk dengan persiapan lebaran. Bagi yang merayakan minal aidin wal fa idzin nya duluan dari Author.


Mohon maaf lahir batin 🙏🙏🙏