
Aan meraih map yang berisikan data-data wanita itu. Mata Aan membulat melihat wanita yang bernama Laily Hasmia tersebut. Bagaikan pinang di belah dua dengan Almarhumah Maya. Aan masih tegang melihat Maya seolah hidup kembali.
"Astaghfirullah ... bagaimana perkiraan umak sama abah, mereka berdua tahu rupa Maya," Aan menelungkupkan wajahnya ke meja kerjanya. Bingung bagaimana berbicara dengan kedua mertuanya tentang Laily yang sangat mirip dengan Maya. "Pasti mereka menduga aku sengaja mempekerjakan wanita yang mirip Maya ini," Aan meremas rambutnya.
"Sepertinya aku harus pulang dulu aku takut umak sama abah berpikir yang tidak-tidak. Aan segera pergi dari kantornya dan melaju cepat pulang kerumah.
***
"Assalamu alaikum," seru Aan dia berjalan santai masuk kedalam rumah.
"Wa alaikum salam," jawab seseorang.
"Deghhh deggh degg," jantung Aan melambat melihat senyuman seorang wanita yang sedang menggendong bayi. Dia teringat saat Maya menyambutnya dengan senyuman manis setiap pulang bekerja. Darahnya berdesir, Maya seakan kembali lagi kedalam hidupnya.
Suminten yang melihat hal itu dari arah dapur merasa sesak.
"Kaka sudah pulang ..." sapa Aruna yang baru menuruni tangga.
"Aaa ... ah iya aku pulang sebentar," jawab Aan.
Aruna salim pada suaminya.
"Umak sama abah mana?" Tanya Aan.
"Ada di kamar, beberapa hari ini umak betah mengurung diri di kamar, abah juga, kalo pulang dari kebun kaka abah langsung tenggelam dalam kamar," jawab Aruna.
"Kenapa cari umak? Umak sudah tua wajar jadi kaum rebahan," jawab Suminten yang datang dari arah dapur.
"Umak ..." seru Aruna manja sambil memeluk Suminten.
"Aruna ... walaupun kamu punya tiga pengasuh jangan jauh-jauh dari anak-anak, jangan sampai anakmu mencintai pengasuh melebihi dirimu," seru Suminten menatap tajam ke arah Aan.
"Umak bicara apa sih ... umak tuh yang sering-sering menemani Dena, Deli sama Rayan, aku tiap waktu kasih mereka ASI langsung bergantian," seru Aruna memeluk Suminten gemas.
"Umak ... Aan mau bicara," lirih Aan.
"Tentang itu? Tidak perlu, umak serahkan semua pada nak Aan, terserah nak Aan, permisi umak mau kekamar dulu," Suminten berjalan menuju kamarnya. Tatapan Suminten begitu tajam pada Aan dan Laily.
"Hem ..." lirih Aruna sambil berjalan ke arah Aan dan menggelayut di badan suaminya.
"Beberapa hari ini umak aneh ..." rengek Aruna.
"Aruna ..." lirih Aan.
"Heem..."
"Kamu tahukan Kaka sangat mencintai kamu," lirih Aan.
Aruna menegakkan bandannya lalu menghadap Aan dia mengalungkan tangannya ke bahu Aan.
"Em ..." Aruna mengangguk berulang kali.
"Apapun ... kaka selalu mencintai Aruna," lirih Aan.
"Tumben ..." Aruna menyeringai.
"Tumben apa?"
"Ada masalah ya ...?"
"Nggak ada masalah ... sudah Kaka kembali ke kantor lagi," seru Aan.
"Ya elah ... sebentar banget pulangnya ..." rengek Aruna.
"Fahami saja Aruna ... nak Aan pulang pasti hanya untuk memandang dan melihat sesuatu," jawab Wahyu berlalu begitu saja. Dia langsung masuk ke kamarnya.
"Wa alaikum salam abah ..." seru Aruna. Namun Wahyu sama sekali tidak menghiraukannya, dia juga tidak keluar lagi dari kamarnya.
"Hem ... penyakit kaka nular ke abah ..." rengek Aruna.
"Ya sudah ... kaka permisi, jaga kesehatan jangan capek-capek," seru Aan.
"Iya kaka juga ..." seru Aruna.
"Assalamu alaikum mama ..." lirih Aan.
"Wa alaikum salam papa ..." Aruna tersenyum menerima kecupan halus dari suaminya yang mendarat di alisnya. Aan langsung pergi kembali lagi ke kantornya.
"Nah ... giliran siapa ini yang mimi langsung Asi dari mama ..." seru Aruna mendekati ketiga bayinya.
"Sekarang giliran Rayan bu," jawab Laily.
"Owh ... sini Rayan nya," seru Aruna.
Laily memberikan Rayan ke gendongan Aruna.
*****
Suminten dan Wahyu lebih memilih diam tentang Laily yang sangat mirip Maya.
"Umak harap Aan sendiri yang bercerita kalau Laily mirip Maya," lirih Suminten.
"Abah juga berharap begitu,"
"Apa tujuan Aan mempekerjakan wanita yang mirip Maya di rumah ini," air mata Suminten menetes.
"Itu juga yang abah pikirkan,"
"Tidak mungkin kita meminta Aan memecat Laily hanya karena dia mirip Maya,"
"Umak benar ... harusnya nak Aan sendiri yang inisiatif, apakah dia tidak memikirkan perasaan kita dan perasaan Aruna? Benar Mata sudah Mati, tapi yang didepan mata kita?"
"Iya bah ... sebenarnya umak merasa sesak dengan kehadiran Laily disini, entah kenapa perasaan umak mengatakan hal yang tidak baik,"
"Abah juga ..."
"Bagaimana perasaan Aruna ya bah ..." Suminten berulang kali menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan.
"Entah mak ... yang pasti abah tidak sanggup berada dekat-dekat cucu kita jika ada Laily,"
"Semoga mak ..."
****
Kini usia Dena, Deli dan Rayan sudah 21 hari. Aan mengadakan aqeqah sekalian acara pemberian nama pada anak kembarnya di rumahnya. Aan mengundang banyak kenalannya. Para tamu undangan mulai memenuhi tenda dan area rumah Aan. Semua pekerja sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Suminten dan Wahyu terus mengawasi Aan yang kedapatan curi-curi pandang ke arah Laily.
"Abah ..." ringis Suminten melihat Aan yang terus memperhatikan Laily.
"Tenang umak ... kita percayakan pada Aan," lirih Wahyu.
"Umak abah capek?" Tanya Aruna yang tiba-tiba mendekati kedua orang tuanya.
"Eh... enggak Run, umak sama abah kagum dengan acara ini, meriah ..." jawab Suminten.
"Iya mak ... Aruna saja banyak tidak kenal dengan tamu-tamu yang hadir,"
"Assalamu alaikum," sapa seseorang.
"Wa alaikum salam ..." jawab Aruna, Suminten dan Wahyu bersamaan.
"Kak Saman?" Seru Aruna.
"Owh ... masih kenal? Aku kira sudah lupa," seru Saman.
"Selamat Aruna ... kaget lho aku pas membaca undangan ada nama tiga bayi,"
"Iya ... kami juga sangat terkejut," seru Aruna.
"Sibki mana?" Tanya Saman.
"Owh ... kak Sibki pasti sama ustadz Ali," jawab Aruna.
"Kalau begitu aku cari Sibki dulu, permisi semua," Saman undur diri dari hadapan Wahyu, Suminten dan Aruna.
"Iya kak Saman, terimakasih sudah datang," kata Aruna.
"Nah ... itu Rayan sama ibu, Laily nya kok tidak kelihatan?" Aruna sambil memandangi setiap sudut mencari pengasuhnya.
"Aan juga tidak kelihatan," wajah Suminten panik.
"Kak Aan mah pasti menyambut tamu, aku permisi cari Laily dulu, kan tugas dia disamping Rayan walau Rayan sama siapa aja, rame gini bahaya bayi aku nggak ada yang mantau," seru Aruna.
Semua orang larut dalam acara aqiqahan anak kembar Aan dan Aruna. Sangat banyak tamu yang hadir. Sedang Aruna berjalan kesana kemari mencari Laily salah satu pengasuh bayinya.
Sepasang Mata yang terus mengawasi Aruna. Dia tersenyum melihat Aruna mencari-cari pengasuhnya. Dia meraih ponselnya dan mengirim pesan pada chat groupnya.
"Sekarang!!!"
***
Di salah satu sudut ...
Aan sedari tadi mengikuti Laily.
"Brukkk" Seseorang menabarak Aan.
"Maaf ..." seru orang itu. Namun tangannya mengambil dompet Aan. Sekejap mata dompet itu berpindah pada tangan yang lain.
Aan terus fokus mengikuti Laily. Dia sangat penasaran kenapa Laily sangat mirip dengan Maya.
"Maaf pak ... apakah itu dompet anda?" seru seseorang menepuk bahu Aan.
Aan menoleh ke arah yang orang itu tunjuk.
"Oh iya benar, terimakasih ..." seru Aan. Dia melanjutkan kembali mengikuti Laily.
Laily berada di belakang rumah Aan sambil menerima telepon.
"Tuan ..." Laily langsung memutuskan panggilan teleponnya.
Aan diam tidak menanggapi.
"Maaf tuan, di dalam berisik makanya saya keluar untuk menelpon, tapi Rayan sama neneknya kok," seru Laily.
"Boleh aku bertanya sesuatu?" Tanya Aan.
"Silahkan tuan,"
"Ikut saya ..." pinta Aan.
Aan dan Laily berjalan menuju gudang yang terletak di belakang rumah Aan, disaat yang sama Aruna berada di balkon kamarnya memantau dari atas. Senyumnya hilang melihat Aan dan pengasuhnya berjalan ke arah gudang.
"Kak Aan ..." lirih Aruna lemas air matanya langsung jatuh melihat pemandangan suami dan pengasuhnya masuk kedalam gudang. Aruna langsung berlari keluar dari kamar dan menuruni tangga. Semua orang heran melihat Aruna yang menangis dan terus berlari.
"Abi ..." bisik Nurul melihat Aruna yang berlalu begitu saja tanpa menyapa mereka.
"Sepertinya ada masalah, Ilyas, Saman, Sibki ikuti aku," seru Ali. Mereka semua berlari mengejar Aruna.
Beberapa orang saling tos tangan karena rencana mereka mulus.
"Bos apa hubungannya membuat rumah tangga mereka kacau?"
"Cinta mereka terlalu kuat, hingga menutupi pandangan ku mengenali yang mana bayi titipan yang di lempar Burhan ke sini,"
"Oh ..."
"Bukan cuma itu, jika mereka berpisah sangat mudah menyentuh target kita,"
"Okey bos kami faham,"
"Ayo semua bubar, biarkan air itu tumpah, kita sudah berhasil membuka kerannya,"
"Okey Bos ..."
Perlahan orang-orang itu menyebar kesegala arah membubarkan diri.