
Selesai makan malam Aruna dan Sibki duduk santai di teras rumah Sibki mendengar nyanyian jangkrik dan suara suara binatang malam lain nya. Menikmati suasana malam di Desa Sibki.
"Kak Sibki ... boleh aku tanya sesuatu?" Lirih Aruna.
Sibki menoleh kearah Aruna, namun pandangan Aruna tetap lurus kedepan.
"Apa?" Tanya Sibki balik, sambil mengagumi kecantikan alami Aruna tanpa polesan itu. Sibki mulai terhipnotis dengan pesona Aruna. Karena siluman itu mulai bisa menguasai Aruna.
"Kak Sibki tau kan apa masalahku? Apa kak Sibki yakin, ingin menikah denganku?" Tanya Aruna.
"Aku sangat yakin ... dan aku sangat ... yakin! Aku akan membantumu melepas semua belenggu dalam dirimu," sahut Sibki mantap.
Aruna mengalihkan pandangannya dan memandang Sibki, mereka beradu pandang, saling tatap semakin dalam.
Tangan Sibki menyentuh pipi Aruna, dan membelai halus. Aruna langsung menepis dengan santai.
"Orang tua kak Sibki tidak menculikku, dia menyelamatkanku, yang menculikku seorang dukun, dan anehnya ada Salha di rumah dukun itu," lirih Aruna memecah kecanggungan karena kelakuan Sibki sebelumnya.
Aruna merasa darahnya mendesir, siluman penghuni tubuhnya mulai bereaksi menguasai emosinya, karena sentuhan ringan Sibki sebelumnya. Aruna mengeratkan gigi-giginya menahan keinginan siluman yang ada dalam dirinya.
Sibki merogoh sakunya dan mengambil ponselnya setelah mendengar pengakuan Aruna, segera dia menelpon Ali, menceritakan cerita Aruna. Sibki mengira Ali terkejut mendengar kabar ini. Tapi ternyata dia yang terkejut mendengar cerita Ali.
Sibki mematung setelah selesai bicara dengan Ali.
"Salha ... entah kenapa wanita itu dari awal kedatangannya di majelis penuh misteri, ternyata dia yang tega menyantet Maya sepupu Nurul," lirih Sibki.
Aruna sangat terkejut mendengar kata-kata Sibki.
"Astaghfirullahal A'zdiim.... tega sekali Salha," lirih Aruna.
"Yang lebih keterlaluan lagi ... dia tega mengguna-guna Nurul, padahal Nurul lah yang selama ini membantu dan melindunginya, entah apa tujuan Salha itu," lirih Sibki.
"Hei sudah lah ... urusan Salha dan semua orang di majelis termasuk Aan sudah selesai, Salha juga sudah minta maaf, atas perlakuannya pada Maya dan Nurul," seru Sibki
Aruna menghapus air matanya, ia merasa lega fitnah pada dirinya terbantahkan.
"Hei.... aku sudah bicara sama pak Wahyu tentang pernikahan kita tadi sore, aku sangat senang kedua orang tuamu menyerahkan keputusan di tanganmu," seru Sibki mengubah suasanan.
"Apa kabar nya abah aku?" Tanya Aruna.
"Sepertinya baik, dan kita secepat nya akan pulang ke majelis, tapi menunggu saudara dari bapakku dulu, bapak ingin mereka meyaksikan akad nikah kita, dan kita menyelesaikan semua persiapan di sini dulu," seru Sibki.
Aruna mengangguk.
"Aku permisi kak ... sepertinya kantuk sudah merasukiku," seru Aruna tersenyum, padahal dia takut tidak bisa menguasai dirinya, karena semakin lama semakin mendidih darahnya ulah siluman dalam dirinya itu.
Aruna berbalik ingin masuk kerumah, namun langkahnya terhenti, saat Sibki tiba-tiba menarik tangan nya.
"Awhw!!" ringis Aruna kesakitan.
karena Sibki menggenggam pergelangan tangannya yang terluka.
"kamu terluka? Maaf aku tidak tahu," lirih Sibki sambil membuka kain yang Aruna lilitkan dilukanya itu.
"Aku terluka saat membuka ikatanku di rumah dukun itu," jawab Aruna.
"Kalau ini tidak di obati dengan benar lukamu akan tambah parah, mari kedalam obati lukamu dengan benar," lirih Sibki menarik tangan Aruna, dia menggenggam pergelangan yang tidak terluka.
"Duduk di situ," perintah Sibki,
Aruna duduk di kursi tamu rumah Sibki, sedang Sibki membuka lemari, dan kembali membawa kotak perlengkapan p3k menuju Aruna.
Tanpa bicara Sibki langsung duduk di samping Aruna, dan mulai mengobati luka Aruna. Aruna menahan perih, berusaha dia tahan agar tidak mengeluarkan suara. Sibki tersenyum, dia sengaja fokos pada luka Aruna, agar dia tidak melihat wajah Aruna yang kesakitan.
"Hei ... ternyata kamu wanita kuat," seru Sibki yang sudah selesai mengobati luka Aruna, dan mulai membalut perban di luka itu.
"Kuat? Kuat apa?" Tanya Aruna.
"Aku saja terisak saat luka seperti ini kena obat, tapi kamu diam saja, luar biasa, kamu kuat!" Seru Sibki sambil menahan tawa.
"Luka yang besar dan lebih sakit dari ini saja aku berusaha tahan, masa aku kalah dengan luka kecil ini," jawab Aruna sebal dengan ledekkan Sibki.
Sibki selesai membalut perban di lengan Aruna.
"Terima kasih sudah mengizinkanku mengobati luka kecilmu, izinkan aku juga mengobati lukamu yang lain," lirih Sibki.
Tatapan Sibki begitu halus namun menusuk sampai ke hati. Aruna kalah melawan gejolak siluman yang sedari tadi bereaksi. Sibki juga terhipnotis dengan tatapan mata Aruna seakan itu magnet penarik dirinya, hingga dia semakin mendekatkan wajahnya.
Hingga tatap mata mereka sangat dekat, hembusan nafas keduanya terasa. Bibir Aruna dan bibir Sibki bertemu. Mereka berdua sama sama kehilangan akal sehat mereka. Dan memperdalam pertemuan bibir mereka. Bukan salah Aruna, siluman itu mengambil alih tubuh Aruna, karena gelang giok pembelenggu itu hilang satu. Sehingga siluman itu bisa mengambil Alih kesadaran Aruna sedikit, dan menghipnotis Sibki.
Jojo keluar dari kamar sangat terkejut melihat aktivitas Sibki dan Aruna.
"Akhhhh! Hem!!" Batuk palsu Jojo,
mengagetkan dua orang yang larut dalam pertemuan bibir mereka.
"Apa perlu kita percepat? Yah ... kali aja sudah pada tidak sabar," bentak Jojo marah melihat kejadian barusan.
Menyadari apa yang mereka perbuat barusan, Aruna dan Sibki sama sama mengucap istighfar, karena benar-benar di luar kendali mereka. Aruna langsung pergi ke kamarnya tanpa permisi. Setelah masuk kamar, segera Aruna tutup pintu, dan menyandarkan tubuhnya di pintu kamar.
Sungguh sesak perasaan Aruna penuh penyesalan karena kejadian barusan. Batinnya terus munajat meminta ampunan sang pencipta. Air matanya mengalir deras karena benar-benar sangat menyesal.
perlahan berjalan ke tempat tidur dan merebahkan dirinya.
Rasa bersalah dan penyesalan menyelimuti dirinya. Mulutnya terus berulang kali mengeluarkan kalimat:
"ASTAGHFIRULLAH HAL ÂDZIIM,ALL LADZI LAA ILAA HA ILLA HUWAL KHAIYYUL QAYYUUM, WA ATUUBU ILAIH"
Hingga dia larut dalam tidurnya.
Sedang Sibki masih di ruang tamu, mendapat semprotan marah dari bapaknya, dan ini teguran serta peringatan keras dari bapaknya.