
Darnawan dan beberapa rekannya yang sama-sama mendekan di balik jeruji besi, berkumpul setelah selesai pertemuan sore. Mereka semua berkumpul dipinggiran lapangan yang biasa para napi pakai untuk olah raga atau apel dan lainnya.
"Ada apa Darna?" Tanya salah satu temannya.
"Manda, Manda jadi korban guna-guna yang hanya bisa di patahkan dengan tebusan,"
"Astaghfirullah, kasian Manda," lirih yang lain.
"Apakah kalian tahu dimana paranormal yang memiliki ilmu sehebat itu?" Tanya Darnawan.
"Aku tidak tahu Darna, setahuku paranormal yang sehebat itu sudah banyak yang meninggal, sedang penerus mereka tidak ada, kamu tahu sendirikan, kalau sampai pada tingkat itu tidak mudah," jawab teman lainnya.
"Manda …," ringis Darnawan.
"Kami akan mencari tahu lewat rekanan yang masih aktif di dunia mistis, kamu semangat Darna, ustadz Ali juga pasti optimis membantu Manda." ucap yang lain.
"Kamu benar, semua orang sedang berusaha keras menmbantu Manda," ucap Darnawan.
"Kita bantu do'a dari sini," seru yang lain.
"Maafkan aku, gara-gara aku kita semua mendekam di sini,"
"Petaka yang terjadi pada kita membawa hikmah, jangan menyalahkan diri sendiri, aku justru berterimakasih, berkat kejadian ini, anak dan istriku kembali padaku, walau aku berada di balik teralis besi ini."
"Aku juga, istriku juga kembali, selama ini dia pergi karena tidak suka aku bergelut dengan mahkluk goib,"
"Kita akan berusaha menemukan dukun hebat itu, kamu semangat Darna,"
"Terimakasih," lirih Darnawan.
Mereka semua terus berbincang mencari tahu dimana dukun hebat itu ada.
***
Waktu terus berjalan, sebulan sudah di lalui, keadaan Manda semakin memprihatinkan. Seharusnya Sebulan awal menikah menjadi momen hangat menjadi pengantin baru, namun tidak bagi Sibki dan Manda.
***
Ditempat Ali.
"Ada apa An?" Tanya Ali.
"Aku butuh Bodyguard tapi penampilan mereka kalem tapi beladiri mereka lumayan,"
"Buat apa?"
"Jaga-jaga ustadz,"
"Jaga-jaga apa?"
"Aku merasa firasat buruk dengan kedatangan Elna teman Manda itu, mulai besok dia akan bekerja di kantorku, aku tidak enak menolak ustadz, walaupun nantinya dia bekerja di lantai yang berbeda entah kenapa hatiku merasakan hal aneh, aku merasa dia em ... "genit" ," lirih Aan.
"Aku salut denganmu An, perpisahan kemaren sangat mendidikmu,"
"Ada ustadz? Dua atau tiga orang lah, bekerja mulai besok, gajih biar mereka yang isi,"
"Insya Allah ada, dari majelis ustadz Hasan, dua apa tiga?"
"Bagaimana kalau dua dulu, kalau masih kurang aku minta tambah,"
"Oke, aku akan telepon ustadz Hasan."
***
Di rumah Sibki.
"Bagaimana ini, keadaan Manda semakin memburuk," ringis Aruna.
"Emak akan menetap disini untuk membantumu," ucap Suminten.
"Bagaimana baiknya saja mak, pikiranku kusut melihat Manda semakin memburuk, aku tidak bisa berpikir lagi mak," ringis Sibki.
"Aku semakin tidak sanggup melihat keadaan Manda, dia lupa kita semua, hanya kak Sibki yang dia ingat," ringis Aruna.
"Assalamu alaikum," seru Aan.
"Wa alaikum salam," jawab Semuanya.
"Berita baik dan berita buruk," seru Aan.
"Apa? Katakan keduanya," pinta Sibki.
"Berita baiknya kalau dukun yang mengirim guna-guna pada Manda diketahui tempat tinggalnya, kabar buruknya, kami tidak tahu dimana letak desa itu, tadi ustadz Hasan berbicara dengan ustadz Ali di telepon," ucap Aan.
"Apa nama desa itu," ucap Aruna, Sibki dan Suminten bersamaan.
"Desa Pangkeh," jawab Aan.
"Desa itu tidak jauh dari desa Sebuku Naju," jawab Aruna.
"Kabar buruknya ralat!!! Sekarang ini kabar baik, ayo kita siap-siap kedesa itu," seru Aan.
"Kak Sibki tidak boleh pergi, Manda akan mengamuk kalau kak Sibki tidak ada, sedang perjalanan menuju desa Sebuku Naju saja tidak sebentar," lirih Aruna.
"Ajak abah dan bapak nak Aan, abah sama bapak, pak Jojo sangat tahu dimana desa itu," seru Suminten.
"Baik mak, kalau begitu si kembar bagaimana? Disana tidak ada yang mengawasi,"
"Aku antar kamu sekalian ajak bapak sama abah untuk kedesa itu," seru Aan.
Aan dan Aruna kembali ke kediaman Jojo, sedang Suminten menemani Sibki. Setelah sampai di rumah mereka, Aruna langsung mempersiapkan persiapan Aan dan juga abahnya, sedang Aan berbicara dengan Wahyu dan Jojo di perkebunan.
Selesai mempersiapkan keperluan Aan dan abahnya, Aruna langsung membawa yang dia siapkan kerumah Jojo.
"Assalamu alaikum," sapa Aruna.
"Mamaaaa," teriak ketiga anaknya berlari menghambur ke arah Aruna. Aruna membuka tangannya menyambut anak-anak yang berlari kearahnya. Mereka berperlukan.
"Mama jangan pergi lama," ringis Deli.
"Mama bukan pergi sayang, tapi onty Manda sakit, mama harus bantuin papa Sibki jagain onty, maafin mama sayang," Aruna menciumi anaknya bergantian.
"Bagaimana Manda Aruna?" tanya Mastia.
"Semakin buruk bu, ini kak Aan sedang bicara sama abah dan bapak untuk melepas kiriman halus itu dengan tebusan," ringis Aruna.
"Ya Allah, kasian sekali mantuku," ringis Mastia.
"Bu tolong siapkan keperluan bapak, bapak sama nak Aan dan pak wahyu mau pergi ke desa Pangkeh," seru Jojo yang baru datang bersama Wahyu dan Aan.
"Baik pak, semoga penderitaan Manda berakhir," lirih Mastia. Mastia segera pergi kekamar mempersiapkan persiapan Jojo.
Anak-anak melepaskan pelukan mereka pada Aruna dan berlari kearah Aan, Wahyu dan Jojo. Aan menggendong Dena, Wahyu memangku Deli dan Jojo menggendong Rayyan.
"Keperluan papa sama kakek sudah aku siapkan," Aruna memberikan 2 tas yang dia bawa
"Makasih Run," seru Wahyu.
"Keadaan Manda sangat memprihatinkan bah, apalagi kejiwaannya semakin parah, belum lagi penyakit kulitnya, hatiku sungguh sakit melihat keadaan Manda," ringis Aruna.
"Mohon do'anya, semoga kami bisa menemukan rumah dukun itu," seru Aan.
"Aamiiin, semoga jalan kaka dipermudah,"
"Aku bakal tiga hari tidak masuk kantor, itupun kalau usahan kami di desa Pangkeh nanti lancar, tolong gantikan papa sebentar di kantor," pinta Aan.
"Itu tidak mungkin pah, aku tidak mengerti,"
"Cukup duduk manis saja, kalau ada berkas yang harus di tanda tangani bawa pulang saja dulu, bilang kalau papa pergi ke luar kota, jangan cerita pada siapapun tentang misi kita, itu pesan ustad Ali."
"Insya Allah kak, baiklah aku akan ke kantor kaka besok,"
"Jika orang dari pesantren datang pinta mereka kembali lagi nanti, karena aku belum tugas, ustadz Ali berusaha mengabari ustadz Hasan, tapi sepertinya ustadz Hasan sibuk, makanya aku belum bisa memberitahu kapan mereka bekerja,"
"Iya kak, mereka pasti nanti akan mengerti."
"Baik aku akan persiapkan, secara di lantai tempatku bekerja hanya laki-laki semua, oh ya nanti dua orang pegawai kepercayaanku akan menemani kamu besok," Aan langsung menelepon seseorang.
"Ini pak semua sudah siap," Mastia memberikan tas yang berisi keperluan Jojo untuk perjalalan tiga hari kedepan.
Aan kembali lagi setelah menlpon seseorang, "ma, nanti di kantor ada Elna, sepertnya dia bekerja mulai besok," seru Aan.
"Elna teman Manda?" Tanya Mastia.
"Iya bu, beberapa minggu yang lalu dia datang meminta pekerjaan di kantorku," jawab Aan
"Sudahlah kak, aku bukan mengusir, tapi sebaiknya kalian berangkat, tapi sebelum berangkat mampir dulu ketempat ustadz Ali," seru Aruna.
"Baiklah kami berangkat," lirih Aan.
Aan salim pada Mastia, Aruna salim padanya,
"Hati-hati ya papa," lirih Aruna.
Aan tersenyum, kemudian menciumi ketiga anaknya bergantian.
"Bu, bapak pamit," seru jojo,
"Iya pak, hati-hati," ucap Mastia lirih.
"Abah juga hati-hati, ingat pamit dulu sama umak disana," pinta Aruna sambil salim pada Wahyu.
"Iya, abah pasti pamit sama umak,"
"Maaf bu kami lama," ucap salah satu pengasuh.
"Gak apa-apa," jawab Mastia.
"Sudah mandinya mbak?" Tanya Aruna.
"Eh ibu datang, sudah bu," jawab yang satunya.
Sikembar langsung digendong oleh pengasuh mereka masing-masing. Mereka langsung bermain kedalam rumah.
"Kami pamit," seru Aan.
Aruna dan Mastia mengangguk.
"Assalamu alaikum," seru Aan, Jojo dan Wahyu.
"Wa alaikum salam," jawab Aruna dan Mastia.
Perjalan mereka di mulai mencari dukun sakti demi membebaskan Manda.