Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 137 Extra Part Sibki Uji Coba


Setelah sampai rumah, Suminten dan Tiar langsung ke dapur melanjutkan aktivitas memasak mereka. Sedang Manda di kamar membereskan kamar dan mengganti sprai juga membersihkan semuanya.


"Masukan dalam kantong plastik saja, nanti di laundry," ucap Sibki.


Manda tidak berani memandang Sibki, dia fokus memasang sprai baru.


"Bisa aku mendengar ulang ucapan kamu saat di jalan tadi?" Goda Sibki.


"Maaf, tidak ada siaran ulang," ucap Manda.


"Bismillah," ucap Sibki lirih, sambil memeluk Manda dari belakang, menciumi Manda dari samping.


"Manda … Sibki … sarapan sudah siap nak, ayo sarapan ...." teriak Suminten dari luar.


"Sabar … waktu belum kasih restu buat kakak," Manda menepuk halus bahu Sibki.


Sibki menyentuh bekas tepukan tangan Manda pada bahunya.


"Hanya begini? Tapi sangat indah, ya rabb," ringis Sibki. Sibki segera menyusul yang lainnya ke dapur.


"Waduh ceria sekali wajahmu Sibki," goda Suminten.


"Apalagi mak, melihat Manda sehat kembali, semua bebanku lepas," ungkap Sibki.


"Ayo sarapan, aku sedang mengejar mangsaku ini," sela Sofyan.


"Anu?" tanya Sibki.


"Jangan banyak tanya, ayo makan!" seru Sofyan.


Mereka semua sarapan pagi bersama dengan menu yang sederhana. Setelah Sarapan Sofyan langsung pergi setelah berpamitan pada semua orang.


Sofyan mengambil habis semua tabungannya demi mendapat info akurat tentang yang berbuat jahat pada Manda. Setelah antre lama di bank akhirnya Sofyan bisa menarik seluruh tabungannya. Selesai menarik uang di bank, Sofyan segera menuju tempat yang telah di janjikan mata-mata sewaannya.


Kini dia sampai di sebuah restoran cepat saji, Sofyan langsung menuju nomer meja yang tertulis pada pesan yang dikirim orang itu.


"Mencariku?" Ucap orang itu.


"Marhan?" Sofyan memastikan.


Orang itu mengangguk.


"Selamat pagi," ucap Sofyan sambil duduk di kursi yang berseberangan dengan Marhan.


"Pagi,"


"Info kamu akurat?" tanya Sofyan.


"Sangat!!! Garansi satu bulan, jika aku keliru dan uang kembali."


"Kamu sangat meyakinkan, aku sudah tidak sabar ingin tahu siapa yang setega ini kepada adikku, aku mencurigai seseorang, tapi aku sulit mengintainya, sebab itu aku minta bantuanmu."


"Kamu datangi orang yang tepat, tidak sulit bagiku melacak orang kamu cari."


"Sudah ketemu?"


"Kalau aku tidak membawa info akurat untuk apa aku memanggilmu untuk bertemu?"


"Baik, kita mulai bisnis kita," seru Sofyan.


"Ini kita sambil sarapan, aku sengaja pesan dua porsi, Marhan menodorkan piring yang berisi menu sarapan di restoran itu.


"Kamu bawa mahar?"


"Pasti," jawab Sofyan.


"Aku menyelidiki setiap orang yang datang ke rumah dukun itu, bukan aku, anak buahku tepatnya, dan ini foto tersangkamu, hanya dia yang tidak datang lagi, namun saat aku selidiki dia dengan dukun itu komunikasi via telepon." Marhan menyodorkan amplop pada Sofyan.


"Punyamu?" Tanya Marhan.


Sofyan menyodorkan kantong plastik hitam yang berisi uang tunai. "Mau dihitung dulu?" tanya Sofyan.


"Tidak perlu, aku percaya padamu."


Sofyan mulai membuka amplop yang diberikan Marhan padanya. Mata Sofyan melotot melihat siapa yang ada dalam foto tersebut.


"Kamu yakin dia?" Sofyan sangat tidak percaya.


"Sangat yakin," jawab Marhan.


"Aku membayar kamu mahal untuk fakta bukan gosip!" Sofyan menahan kemarahannya.


"Selidi saja kalau tidak percaya, sejak kamu meminta jasaku, aku menyelidiki setiap orang, ini mata pencaharianku, info palsu atau kebohongan hanya membunuh mata pencaharianku."


"Selamat makan, aku pergi lebih dulu.


***


Di belahan lain.


Suasana rumah Elna mendadak di kelelingi banyak orang. Elna di bopong beberapa orang dan di rebahkan mereka di tandu, tandu itu pun masuk dalam mobil ambulan, Elna terluka karena mengalami penyiksaan dari kedua orang tuanya. Sedang kedua orang tua Elna di giring ke mobil polisi. Beberapa polisi lain membawa kantong plastik yang mereka ambil sebagai barang bukti.


Di sudut kerumunan ...


"Gila ya! Anak sendiri disiksa," seru tetangga yang menonton kejadian itu.


"Iya, dari sore kemaren Elna teriak-teriak, aku kira apa, pagi hari aku intip ternyata dia di pukuli ibu dan bapaknya."


"Kasian sekali, harusnya kedua orang tua tempat yang ternyaman bagi anak-anak dalam setiap hal."


"Aku juga tidak percaya dengan yang aku intip, sangat terpaksa aku melapor pada polisi, kasian Elna."


"Terima kasih sudah melaporkan kejadian ini pada kami," seru seorang petugas kepolisian yang mendekat pada mereka.


"Sama-sama pak, beri hukuman setimpal pak, anak gadis kok disiksa."


Petugas kepolisian tersenyum, lalu undur diri.


Mobil ambulan yang membawa Elna langsung pergi meninggalkan area tersebut, begitu juga mobil polisi yang membawa kedua orang tua Elna juga meninggalkan area tersebut.


Beberapa tetangga yang sangat dekat dengan keluarga Elna membantu mengunci jendela dan memastikan keadaan rumah tersebut aman jika ditinggalkan. Suara ponsel Elna menarik langkah mereka memasuki sebuah kamar, ternyata itu kamar Elna.


"Kamu yang ambil dan angkat teleponnya, kalau bisa nanti antarkan ponsel nya ke Elna, pasti penting," seru tetangga yang lain.


Salah satu dari lima orang itu mengambil ponsel dan mengangkat panggilan telepon.


"Halo …."


"Elna kamu di mana? Kamu tidak serius kerja?"


"Maaf ini tetangga Elna, Elna di bawa ke Rumah Sakit, dia di siksa orang tuanya, apa itu KDRT ya?"


"Oh, maaf bu, tapi terima kasih infonya, bisa kami tahu ke Rumah Sakit mana mereka membawa Elna?"


"Wah, kami tidak tanya bu, tadi petugas polisi juga sudah amankan tersangkanya."


"Oh baik bu, terima kasih infonya nanti kami akan cari info lebih lanjut lagi, selamat pagi bu."


"Iya, pagi juga."


Panggilan telepon ber akhir.


Para tetangga Elna langsung keluar dari rumah itu dan mengunci rumah tersebut.


"Kamu aja ya pegang kunci sama ponsel Elna, nanti kalau dia sehat dia pasti akan mencar salah satu dari kita.


Selesai berunding, para tetangga pulang kerumah mereka masing-masing.


***


Di kantor Aan.


Aruna berjalan santai menyusuri lorong kantor itu. Seorang perempuan berlari mengejar Aruna.


"Assalamu'alaikum bu,"


"Wa alaikum salam, ada apa?" tanya Arua lembut.


"Pegawai baru yang dari keluarga bapak masuk Rumah Sakit, mengalami KDRT katanya,"


"Pegawai baru keluarga suami saya? Tidak salah? Suami saya tidak memperkenalkan siapa keuarga dia jika di kantor," ucap Aruna.


"Astaghfirullah, karena itu ibu menerima dia? Aku kira menerima dia karena dia layak, kedepannya jika ada yang mengaku keluarga Bapak jangan langsung main terima, tanya Bapak dulu," tegur Aruna lembut.


"Terima kasih infonya, saya akan lapor sama suami saya, assalamu'alaikum," Aruna meninggalkan pegawai perempuan itu.


Sesampai di ruangan Aan Aruna mengambil ponselnya. Dia ragu-ragu menelpon Aan atau tidak.


"Ah telepon saja, semoga kak Aan sudah bangun," ucap Aruna. Aruna langsung menelpon Aan.


"Assalamu'alaikum sayangku," goda Aan.


"Waalaikumsalam, kakak sudah bangun?"


"Sudah dong, sudah sarapan, tadi juga main sama anak-anak sebentar."


"Oh, aku kira kakak masih tepar di kasur."


"Aku ini laki-laki kuat, makan kamu sekarang juga aku masih sanggup, kenapa mau lagi?" Goda Aan.


"Nakal! Kakak ... kakak ingat Elna sahabat Manda? dia di Rumah Sakit, katanya mengalami kekerasan gitu, aku tidak tahu Rumah Sakit mana."


"Baiklah aku akan cari tahu."


"Kak, sebelum menengok Elna cari pagar diri dulu ya datangi ustadz Ali, pas pertama kali dia masuk kerja, dia makai minyak pelet, pagi-pagi dia kekeh masuk keruangan kakak, pasti kakak sasaran dia."


"Owh, jadi itu yang di maksud dukun di desa pengkeh kemaren, kata dukun itu ada yang mengincarku, tapi sudah di buang. Hem ... ada ya perempuan seperti itu, ngeri aku."


"Kakak hati-hati, aku gak mau lagi pisah sama kakak."


"Iya sayang pasti, kakak juga enggak mau pisah sama kamu. Jadi kamu menelpon cuma karena Elna? kakak sedih, kakak kira kamu mau minta jatah lagi, kan pahalaku lebih besar jika kamu yang minta duluan."


"Kak ... ini masih seger lho udaranya, refresh dikit kenapa sih otaknya mesum melulu ...,"


"Ya sudah, kakak akan cari info tentang Elna, bukan aku, orang suruhanku tepatnya, aku sekarang mau menerkam istriku saja."


"Assalamu'alaikum," Aruna langsung memutuskan panggilan teleponnya tanpa menunggu jawaban salam Aan.


Tidak lama ponsel Aruna berbunyi, pesan masuk dari Aan.


"Wa alaikum salam,"


Aruna menyimpan ponselnya kembali, Dia terus tersenyum membayangkan kegilaannya dengan Aan.


***


Di rumah Jojo.


Setelah berbicara di telepon dengan Aruna Aan segera bersiap.


"Bu, Pak, aku pamit dulu, Elna mengalami musibah, ini aku mau cari tahu di mana Elna," ucap Aan


"Astaghfirullah, dia sahabat Manda, cepatlah nak Aan kabari mereka," pinta Suminten.


"Telepon dulu Sibki, kalau nak Aan tidak terlalu penting tidak perlu ke majelis," seru Jojo.


"Iya juga ya Pak, kalau begitu aku kirim pesan saja pada Sibki, kan aku bisa langsung ke kantor, kasian Aruna di sana." Aan langsung mengirim pesan pada Sibki.


Sibki, ingat Elna sahabat Manda? Dia jadi korban kekerasan, aku belum tahu info lanjut nya, ini aku masih menunggu kabar dimana Elna di rawat.


Setelah mengirim pesan pada Sibki Aan pamit pada Jojo dan Mastia pergi ke kantornya.


***


Di rumah Sibki.


Sibki dan Manda melanjutkan membersihkan kamar mereka. Sibki mematung membaca pesan yang masuk pada ponselnya.


"Innalillah …," gerutu Sibki.


"Ada apa kak?" Tanya Manda,


"Elna, dia di Rumah Sakit, ini pesan Aan." Sibki memberikan ponselnya pada Manda.


"Astaghfirullah, kak kabari ustadz Ali, kak Manda sangat dekat dengan ustadzah," pinta Manda.


"Kita tunggu kabar selanjutnya dari Aan, dia masih mencari informasi di mana Elna di rawat."


Ponsel Sibki kembali berbunyi, Sibki langsung membaca pesan yang masuk.


"Kita sudah tahu di mana Manda, ayo bersiap kita menengok Manda," seru Sibki. Sibki mengetik pesan mengabari ustadz Ali tentang keadaan Elna.


Manda tersenyum dan langsung berjalan kearah lemari untuk mengambil baju.


"Tunggu, apa kamu bisa?"


"Aku benar-benar sehat percaya dikit kenapa sih," rengek Manda.


"Aku takut kamu sakit lagi," ucap Sibki.


Manda berjalan ke arah Sibki sambil memeluk pakaian yang baru dia ambil. Lalu melemparnya ke kasur. Dia berdiri behadapan dengan Sibki. Manda langsung mendekati Sibki, tanpa aba-aba Manda menyerang bibir Sibki, dia melakukan lebih dulu.


Keduanya larut dalam aktivitas mereka, Manda menarik wajahnya dari kegiatan mereka. "Apa masih belum meyakinkanmu kalau aku sehat?" bisik Manda.


"Sekarang aku semakin tidak percaya kalau kamu sembuh, Mandaku itu malu-malu." Sibki melanjutkan kembali pangutan mereka, keadaan semakin serius dan semakin dalam.


Apa yang melekat pada Manda perlahan terlepas hingga dia polos. Dengan leluasa Sibki memandangi pemandangan indah itu dan kembali melakukan persilatan lidah mereka.


Sibki menghentikan aktivitasnya. "Boleh uji coba?" Tanya Sibki.


"Kakak curang," Manda protes, "aku polos, sedang kaka masih berpakaian sempurna."


"Penasaran dengan tubuh atletisku?" goda Sibki sambil melepas satu persatu kancing baju kokonya dan menarik Manda kembali kehadapannya, mengulangi kembali kejadian sebelumnya.


"Manda …." teriakan dari luar sontak membuat sepasang suami istri itu berhenti, Manda langsung berlari ke kamar mandi yang ada di kamarnya sedang Sibki mengancing bajunya kembali dan berusaha mengatur nafasnya.


Ceklek!


Pintu kamar terbuka.


"Manda mana?" tanya Tiar.


"Di kamar mandi bu, kami mau menengok Elna, Elna di Rumah Sakit," jawab Sibki.


"Apa yang terjadi sama Elna?" tanya Tiar.


"Kami belum tahu pasti, ini juga mau mencari tahu sekalian menengok Elna."


"Tolong telepon Sofyan, bilang ibu mau pulang, Manda sudah sembuh juga, ibu rindu rumah," ucap Tiar.


"Iya bu, nanti saya telepon Sofyan, kenapa pulang bu, kan seru di sini kita dempet-dempetan."


"Iya seru tapi ibu mau pulang pokoknya," seru Tiar.


"Iya bu," jawab Sibki tersenyum.


"Sudah selesai bersih-bersih?" tanya Tiar.


Sibki gugup menyadari baju yang di pakai Manda barusan teronggok tidak beraturan di lantai.


"Sedikit lagi," jawab Sibki gugup.


Tiar tersenyum dan kembali menutup pintu kamar Sibki. Sibki memungut baju Manda dan melempar ke keranjang baju kotor. Manda membuka sedikit pintu kamar mandi.


"Bagaimana, aman?" Bisik Manda.


"Aman, kamu mandi saja, kita uji cobanya nanti, kalau sekarang aku takut kamu nanti tidak bisa jalan, kata orang sakit bagi perempuan," goda Sibki sambil mengedipkan matanya.


Manda tersenyum dan masuk lagi kekamar mandi untuk mandi. "Sakit sedikit tidak mengapa, aku sudah mengalami yang lebih sakit." Manda mengeluarkan kepalanya diantara pintu.


"Nakal!" seru Sibki.


Manda masuk kembali ke kamar mandi. Sedang Sibki ganti baju lebih dulu dan langsung keluar kamar menunggu Manda. Setelah mereka berdua siap, mereka berdua pamit pada Suminten dan Tiar untuk pergi ke Rumah Sakit untuk menjeguk Elna.


Di perjalanan.


"Astaghfirullah, aku lupa menelpon kakakmu, tolong telepon dia," pinta Sibki.


Manda tersenyum dan meraih ponselnya untuk menelpon Sofyan.