
Aan mengantar Aruna sampai halaman rumah Nurul. Ali tersenyum melihat Aan dan Aruna bersama, Ali yakin kalau Aruna lah wanita yang membuat Aan jatuh cinta. Namun senyuman Ali berubah melihat reaksi wajah Salha yang datang dengan wajah mayun.
"Assalamu alaikum, ustadz, Salha ... maaf terlambat karena aku enggak nemu angkot," lirih Aruna.
"Bilang aja ngelayur kemana-mana," sunggut Salha.
"Maaf Salha ... Aruna memang benar ... setelah aku pulang dari sini Aruna masih berdiri di tepi jalan karena ngga ada angkot, dan tadi aku juga kepasar karena memang saya ada keperluan, yah aku ajak aja berangkat bareng," kata Aan.
Aan berjalan menuju mobil dan membuka bagasinya. Lalu mengeluarkan kantong kantong belanjaannya.
"Ini... ini yang aku beli ... ini yang Aruna beli (Aan menunjuk kantong kantong yang Aruna tenteng ). Apakah sedikit? Belanjaan kami banyak!!! Bagaimana kami bisa sebentar? Terimakasih atas hinaanmu Salha!!!" Gerutu Aan.
Aan pergi tanpa pamit dan salam.
"Wa alaikum salam," seru Aruna
Aan berbalik kembali dan mengucapkan salam, Aruna dan Ali menjawab Salam Aan sambil menahan tawa. Tidak pernah Aruna melihat wajah Aan semuram dan sekesal itu.
Sedang Salha diam, dia tidak tahu harus berkata apa, terlebih dia sangat takut kalau-kalau ustadz Ali menceramahi nya.
"Aruna ... bawa masuk semua belanjaan, aku sedang ada urusan di kantor, jadi maaf aku tidak bisa bantu, aku permisi," ucap Ali.
Aruna masuk ke dalam membawa semua belanjaan nya.
"Assalamu alaikum umi ... kak Nurul." lirih Aruna.
"Wa alaikum salam," jawab Fatma dan Nurul.
"Maaf aku terlambat, habisnya ga ada angkot, ini juga nebeng sama kak Aan," seru Aruna.
Fatma dan Nurul tersenyum.
"Aruna ... Andika itu duda lho ..." lirih Nurul.
"Iya tau kak ... dia juga cerita tentang istrinya," jawab Aruna.
"Kamu janda ... Aan duda ... hemm ..." lirih Nurul.
"Iìiiih ... kak Nurul apa an sih ... kak Aan itu berhak mendapat wanita yang lebih baik, bukan wanita aneh seperti aku ini," gerutu Aruna.
"Kamu baik kok ..." seru Nurul.
Wajah Fatma langsung berubah sedih, teringat Akan Maya. Keponakan yang sudah dia anggap anak nya sendiri.
"Maaf umi ... " lirih Aruna merasa bersalah membangkitkan kenangan tentang Maya.
"Ngga apa-apa Aruna ... umi saja yang cengeng," jawab Fatma berusaha tersenyum.
"Istri Andika itu sepupunya Nurul, namanya Maya. Dia besar bersama Nurul di sini juga, Maya itu sahabatan sama Salha, sewaktu mereka SMA," terang Fatma.
"Oh ... pantesan ka Aan akrab banget sama Salha, ternyata kenal lama toh ..." jawab Aruna.
Mereka bertiga memilah milih sayuran, yang mana akan di masak dan yang mana akan di simpan, sambil mengobrol santai.
"Suami pertama kamu siapa namanya Aruna?" Tanya Nurul
"Namanya Victor, dia orang kota yang bekerja perbaikan dan pemeliharaan jembatan di desa kami, yang kedua namanya Bandi, dia orang kepercayaan umak sama abah, sebenarnya aku sudah nolak ... tapi umak sama abah bersikeras meminta, yah dia senasib sama Victor mati di malam pertama kami," jawab Aruna.
"Semoga kali ini yang menjadi suamimu benar benar membuat mu bahagia Aruna," lirih Fatma.
"Aruna ngga berharap umi, pengalaman sebelumnya membuat Aruna takut dan jera membina hubungan lagi," jawab Aruna.
Aruna memasak, sedang Nurul dan Fatma pergi dari dapur. Namun aneh nya Salha sejak kejadian tadi tidak kelihatan batang hidung nya. Entah kemana wanita satu ini.
Mungkin salah satu kelebihan Ali, bisa membaca kekesalan, kemarahan dan kedengkian seseorang, Ali bersembunyi di balik taman yang dekat dengan rumah bedag yang di tinggali Aruna. Dia yakin kalau akan ada yang bertidak buruk pada Aruna.
Benar saja dugaannya, Salha wanita yang picik dan hatinya penuh dengan kotoran kedengkian dan lainnya. Terlihat berjalan mendekat ke arah rumah Aruna. Terlihat Salha mengendap endap mendekati rumah kediaman Aruna.
"Heem ... Salha...? Apa yang kamu inginkan hingga kamu kemari!" Lirih hati Ali.
Salha merogoh sesuatu dari kantong celananya. Dia melihat sekelilingnya. Lalu menaburkan yang dia rogoh tadinya di teras Aruna.
"Hehh ... kita lihat ... apa bisa kamu melawan ini," lirih hati Salha. Merasa aman, Salha segera kabur dari situ.
Ali mengintip semua dari kejauhan hanya menggeleng kepala. Segera Ali membersihkan semua yang di tabur Salha itu. Agar tidak berdampak buruk bagi Aruna yang tidak bersalah. Ali kemudian menyiram bekas taburan tadi dengan air yang dia bacakan do'a-do'a.
"Salha ... aku kira kamu akan berubah karena tinggal bersama orang orang yang super baik, ternyata kamu tidak berubah sedikit pun. Semoga Allah memberimu kesempatan untuk bertaubat Salha," lirih Ali.
Selesai pada rumah yang di tinggali Aruna, Ali kembali ke kantor majelisnya, karena banyak urusan yang harus dia selesaikan.
Selama bekerja Ali selalu teringat Salha, Maya, Aan dan Aruna. Entah kenapa Salha tidak bisa terima Aan mencintai wanita lain, kemarahan Salha seperti ini pernah dia lihat, ketika Aan melamar Maya dulu. Ali semakin curiga pada Salha atas kematian Maya yang tidak wajar.