Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 38* Hampir Saja


****


Salha melihat dari kejauhan Aruna masuk ke mobil Aan, hatinya sangat geram.


"Salha ... ada apa?" Tanya Fatma, pertanyaan Fatma membuyarkan lamunan Salha.


"Enggak ummi ..." jawab Salha,


Salha kembali menyapu pekarangan rumah Nurul.


****


Aruna dan Aan sama sama diam. Karena bingung apa yang harus di bicarakan.


"Apa kamu bersedia cerita tentang giok mu? Dan kenapa Ali memberi mu itu?" Tanya Aan.


"Oh ... ini ...?" Jawab Aruna memperlihatkan giok nya.


Aan mengangguk.


"Aku ... aku diguna-guna oleh seseorang, guna-gunanya sangat merugikanku, dua kali menikah ... dua kali juga suamiku mati karena guna-guna yang tertanam di dalam diriku," jawab Aruna


Aan berusaha tenang, saat mengetahui Aruna janda.


"Dulu ... aku terlambat membawa almarhumah istriku ke ustadz Ali, apa kamu juga terlambat hingga kamu harus memakai giok itu?" Tanya Aan berusaha santai.


"Tidak ... Ustadz Ali memintaku memakai giok ini, agar jin yang masih tinggal di tubuhku tidak bisa menguasai diriku, bukan terlambat, hanya saja ... kata ustadz Ali harus suamiku yang membantuku mengeluarkan guna-guna ini," lirih Aruna.


Aan tertawa mendengar penjelasan Aruna.


"Kenapa kak Aan tertawa?"


"Oh ... kenapa kamu tidak menikah saja? Kamu cantik ... pasti banyak laki-laki yang ingin menikah denganmu," kata Aan sambil tertawa.


"Dua orang yang menikahi ku mati....! Apa ada orang yang mau mati hanya untuk menolong ku," gerutu Aruna.


"Emm ... maaf ... aku ..."


"Sudalah kak Aan ... jangan bahas itu," pinta Aruna. memotong kata kata Aan.


"Oke ..." jawab Aan, dia fokos mengemudi.


Mereka sampai tujuan, yaitu pasar tradisional modern. Aan dan Aruna segera menarik troli belanja masing masing. Mereka asyik berbelanja kebutuhan masing masing.


"Sudah selesai?" Tanya Aan


"Sudah," jawab Aruna tersenyum.


"Tapi mampir bentar yah di rumah aku. Aku mau berikan barang belanjaan ini buat pembantuku di sana, sekalian mau ngasih gajih mereka," seru Aan.


"Rumah?" Lirih Aruna


"Iya ... rumah aku dan istri ku dulu, tapi saat dia meninggal aku lebih memilih tinggal di kontrakan dekat majelis ustadz Ali, ga apa-apa kan?" Tanya Aan.


Aruna mengangguk dan tersenyum.


"Barang belanjaan kamu letakan di kursi belakang, belanjaan aku di bagasi biar ngga ketukar," seru Aan.


Mereka menyusun barang belanjaan mereka di mobil. Setelah semua selesai, Aan melajukan mobilnya menuju rumahnya yang di jaga Wahyu dan Suminten. Mereka kini sampai di rumah Aan, Aruna memandangi rumah Aan.


"Ah ... biasa aja," jawab Aan sambil memutar Arah mobil nya.


Setelah selesai Aan turun dari mobil, sedang Aruna hanya diam di dalam mobil. Namun Aruna merasakan sesuatu di hatinya.


Ternyata Suminten sedang di taman menemani Wahyu.


"Hei pak Wahyu ... bu Sumi ... bagaimana kabarnya?" Tanya Aan


"Baik tuan ... tumben Tuan kemari ... dan sepertinya ada wanita dalam Mobil," seru Suminten


"Aakh ....cuma teman ... dia orang kepercayaan ustadzah tempat saya ngaji," jawab Aan.


Kemudian Aan memberikan barang belanjaan dan juga menyerahkan dua buah Amplop gajih Suminten dan Wahyu.


"Nggak diajak masuk tuan teman nya," goda Wahyu.


"Ahhh enggak ... kita sudah di tungguin ustadzah, jadi langsung saja ya," ucap Aan pamit ke Suminten dan Wahyu.


Aruna turun dari mobil berusah untuk melihat pembantu Aan, karena hatinya merasakan sesuatu dari arah itu. Namun dia tidak dapat melihat wajah pembantu Aan. Aruna kembali masuk mobil.


Sedang Aan berpamitan dengan pembantunya dan segera menuju mobilnya.


Suminten berusaha melihat sosok dalam mobil, saat jendela mobil itu masih terbuka, namun posisi wajah wanita itu menghadap ke Aan, sehingga hanya kerudungnya saja yang terlihat.


"Kenapa ya bah ... umak ngerasa kalau yang sama tuan itu Aruna," ringis Suminten.


"Iya ... abah juga merasa begitu, ternyata dia pakai kerudung, jelas bukan Aruna," lirih Wahyu.


"Mungkin ini karena kerinduan kita pada Aruna ya bah ..." lirih Suminten.


Mobil yang di kendarai Aan menghilang di pandangan mereka.


"Kenapa wajah kamu kelihatan sedih Aruna?" Tanya Aan


"Oh ... Aruna rindu abah sama umak di desa,


entah ... bagaimana keadaan mereka sekarang," lirih Aruna.


"Kenapa ngga pulang?" Tanya Aan


"Ngga sedikit uang yang saya keluarkan untuk transportasi kak?" jawab Aruna.


"Coba kamu bilang sama ustadz Ali kalau kamu memang mau pulang, pasti semuanya bantu kamu," kata Aan.


"Aku tau, tapi aku niat nya pulang kampung sama suami aku, aku mau membuktikan ke warga desa, bahwa aku tidak yang seperti mereka tuduhkan," jawab Aruna.


"Kalau begitu menikah saja denganku," seru Aan


Aruna diam dan menatap tajam pada Aan


"Bercandaku ngga lucu ya?" Tanya Aan, menutupi kegugupannya, karena keceplosan jujur.


"Jangan pernah jadikan ibadah itu candaan kak ... nikah itu kan juga salah satu ibadah," lirih Aruna.


"Maaf ..." lirih Aan. Aan memilih fokos menyetir tanpa bicara lagi.


"Aruna ... andai kamu tahu ... itu bukan candaan, aku benar-benar ingin menikah denganmu, aku cinta sama kamu Aruna ..." lirih hati Aan.