Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 53 Salha.


"Aaakkkkkk!" teriak Aruna.


Fatma dan Nurul segera menghampiri. "Ada apa Aruna ...?" Nurul sangat khawatir melihat keadaan Aruna.


"Awas kak Nurul! Umi! Itu banyak pecahan kaca!" seru Aruna, saat melihat Nurul dan Fatma akan menghampirinya.


"Biar saja ... nanti aku bersihkan, kamu kenapa, Aruna?" tanya Nurul.


"Ngga tau kak ... tiba-tiba tangan aku sakit, maaf kak, aku banyak memecahkan gelas," lirih Aruna.


"Jangan mikirin gelas, periksa tangan kamu dulu," jawab Fatma.


"Ada apa Aruna?" Nurul heran melihat Aruna yang nampak bingung.


"Ngga tau kak ... Aneh banget si ... tadi sakit banget! Sekarang ngga apa-apa ...." jawab Aruna, dia masih mengibas-ngibaskan tangannya, seakan tidak percaya dengan apa yang barusan dia rasakan.


"Aruna kenapa teriak?" tanya Salha.


"Ngga tau Salha ...." jawab Aruna. Aruna mengalihkan pandangannya kearah umi Fatma dan Nurul. "Oh ya kak Nurul, biar aku saja yang bersihkan pecahan gelas ini, beneran tangan aku ngga apa-apa sekarang." Aruna meyakinkan.


Nurul dan umi Fatma hanya bisa menyetujui permintaan Aruna. Aruna segera membersihkan pecahan kaca yang berserakan di lantai, sedang Salha melanjutkan tugas Aruna yang lain. Melihat keadaan dirasa aman, Fatma dan Nurul meninggalkan dapur.


"Fiuhhh ... senangnya hatiku, ternyata hadiah dari mba Qiweh luar biasa, nanti aku coba lagi ah ... seru!" gerutu hati Salha.


Setelah kejadian barusan, entah kenapa hati Nurul menjadi was-was. Nurul berencana menceritakan kejadian barusan kepada suaminya, 'Ali '. Dia pamit pada umi Fatma, untuk pergi ke kantor Ali yang tidak jauh dari mushalla. Sesampai di kantor kecil suaminya, Nurul tidak melihat sosok Ali.


"Assalamu alaikum ustadzah," sapa Ilyas


"Wa alaikum salam, ustadz Ali nya di mana Ilyas?" tanya Nurul.


"Oh ... ustadz Ali lagi ke kebun bunga, mungkin sedang mengurus pengiriman, banyak pesanan dari luar daerah ustdzah," sahut Ilyas.


"Assalamu alaikum," suara Ali yang baru datang, membuat hati Nurul lega.


"Wa alaikum salam," jawab Nurul dan Ilyas bersamaan.


"Wah ... tumben kesini, ada yang penting?" tanya Ali, dia segera menghampiri Nurul.


"A'a ... ada hal penting yang mau Nurul bicarakan," ungkap Nurul.


Ali mengangguk, melihat wajah Nurul yang memang serius, Ali meng isyarat kepada Ilyas, agar Ilyas keluar dari ruang kantornya. Ilyas faham, dia segera ia keluar dari kantor Ustadz Ali. Setelah Ilyas keluar, Nurul mulai bicara.


"A'a ... tadi ada hal aneh yang menimpa Aruna. Tiba-tiba dia berteriak kesakitan, gelas yang tersusun di nampan yang dia bawa pun terlepas. Namun tiba-tiba Aruna merasakan tangannya yang tadi sakit tidak terasa apa-apa lagi," terang Nurul.


"Hem ... A'a harap ini hanya rahasia kita saja, entah kenapa dari dulu, hingga sekarang A'a tidak suka sama Salha," ungkap Ali.


"Apa hubungannya hal ini sama Salha a'a?" Nurul memotong perkataan Ali.


"A'a belum selsai bicara sayang ...."


"Maaf A'a ...." jawab Nurul.


"A'a merasa Salha itu bukan orang baik, A'a harap mulai sekarang kamu jaga jarak, tapi jangan mencolok," usul Ali.


Nurul mengangguk, bagaimanapun dia juga merasa Salha itu penuh misteri.


"A'a jadi sangka buruk sama Salha, karena beberapa waktu lalu A'a melihat langsung, Salha melempar sesuatu untuk mencelakai Aruna, saat dia melihat Aruna dan Aan pulang bersama, setelah Salha pergi A'a segera membersihkan dan menetralkan yang di lempar Salha," terang Ali. Ali menarik napasnya dan melanjutkan lagi kata-katanya.


"A'a semakin curiga, jangan-jangan Salha yang mengguna-guna almarhumah Maya."


"Entah kenapa aku hatiku juga berkata itu," ucap Nurul.


"Semoga saja bukan sayang ... dan semoga sangka buruk kita di ampuni Allah," sahut Ali.


"Astaghfirullah ... kenapa Nurul berpikir sejauh ini ya ...." Nurul merasa sedih. "Ãmiin ... iya Aa semoga kita di ampuni, karena sangka buruk kita ini," ucap Nurul.


"Ãmiin ...." seru Ali.


Nurul tidak segera pulang, ia memilih membantu pekerjaan Ali, Ali keluar untuk memanggil Ilyas, karena sudah selesai pembicaraan dengan istrinya.


Tidak lama Ali dan Ilyas masuk bersamaan, mereka melanjutkan pekerjaan lain bersama-sama.