
Aan sudah berada di rumah Wahyu, di rumah itu hanya ada dia dan Saman.
***
"Aan ... malam-malam begini kamu menyerangku? Aan … Aan …." Saman menggelengkan kepalanya.
Aan mengeratkan giginya, menahan kemarahannya pada Saman. "Jangan basa-basi! Aku sudah tau semuanya!" teriaknya.
****
Keadaan di luar rumah.
Beberapa pegawai juragan Jojo, yang bertugas untuk jaga malam heran, saat mendengar teriakan yang berulang kali terdengar dari rumah Wahyu. Mereka berdiri di pinggir jalan tepat di depan rumah itu.
****
Keadaan di dalam rumah Wahyu.
"Kenapa kamu tega membacokku? Apa salahku?!" teriak Aan lagi.
"Owh … kamu sudah ingat? Hem … pasti ustadz itu ya?" Saman tersenyum. Dia bangkit dan berjalan ke arah lemari yang ada di dekatnya.
"Kenapa kamu melakukan semua ini padaku!" Aan berjalan mendekati Saman.
Saman tertawa, dia meraih sesuatu dari dalam lemari dan menelannya, tidak memerdulilan Aan yang terus menatapnya. Mata Aan melirik kearah nakas yang ada di dekat Saman. Terlihat sebilah belati ada di sana, Aan menatap tajam ke arah belati yang ada dekat Saman, perhatian Aan pada belati itu buyar, saat melihat Saman menelan sesuatu. "Apa itu?"
"Ini? Ini hanya penghilang rasa sakit," jawab Saman. Saman bisa melihat kalau Aan sesekali melirik kearah belati yang ada di sampingnya.
Saman tersenyum. "Itu belati yang ku pakai untuk menusuk perutmu, tapi sayang kamu tidak mati, padahal tugasku akan sangat mudah jika kamu mati." Saman terus tersenyum.
Aan semakin mengeratkan gigi-giginya menahan kemarahannya yang kian memuncak.
Melihat Aan menahan kemarahannya, Saman semakin tersenyum, dia terus berusaha menyulut kemarahan Aan. "Membuat Aruna mau menikah denganku, sangat mudah, aku hanya memainkan emosinya, aku relakan diriku jadi tameng pelindungnya, dia merasa bersalah dan merasa hutang nyawa, akhirnya … dia mau menikah denganku." Saman menyeringai dengan bangga.
"Kamu tidak menjawab pertanyaanku! Kenapa kamu ingin membunuhku dan menghancurkan rumah tanggaku?" teriak Aan.
"Satu hal, aku sangat mencintai Aruna, Aku saangaat mencintai dia, sejak lama. Karena kamu tidak mati … aku pakai cara lain," jawab Saman begitu entengnya.
"Kenapa kamu tega merubah wajah adik perempuanmu menjadi Maya?!"
"Karena hanya Maya yang akan menarik perhatianmu, aku masih ingat, kalau di rumah lama kamu, masih ada foto-foto Maya yang terpajang di sana, tidak kamu lepas atau kamu simpan di gudang. Ini kesempatanku."
"Sejak kapan kamu merencanakan semua ini?"
"Em … sejak aku menerima undangan pernikahan kamu dengan Aruna, aku sudah merencanakan semua ini jauh-jauh hari. Aku tidak bisa melepaskan Aruna. Ngomong-ngomong Maya terbitan dokter bedah bagaimana?" Saman menyeringai.
"Kamu gila Saman! Aku menganggapmu sahabatku ini balasan kamu! Kamu menghancurkan rumah tanggaku dan mengambil istriku!"
"Ngomong-ngomong … Aruna herrggghhht." Saman memasang wajah menggambarkan kenikmatannya. "Sangat mudah aku memintanya melayaniku, cukup perlihatkan bekas luka karena melindunginya, maka dia luluh." Saman menggoda Aan.
"Berani-berani nya kamu menyentuh Arunaku!"
Bughhh!
Tinjuan Aan mendarat tepat di rahang Saman.
"Dia istriku … kami menikah … wajar kami melakukan hal itu," wajah Saman menggoda Aan.
Aan semakin tersulut emosi.
"Aruna luar biasa Aan … awh! Aku … aku tidak bisa libur untuk …." Saman terus berusaha memancing kemarahan Aan. "Pantas saja pagi itu kamu tidak keluar kamar dan itu pertama kali aku melihat Aruna tanpa hijab, hemm … aku semakin tergoda pagi itu, tapi sayang … saat itu dia hamil," ucap Saman
Darah Aan mendidih mendengar kata-kata Saman.
"Jangan sentuh Arunaku!"
Bughhh! Bughhhh!!!
Berulang kali Aan mendaratkan bogemannya di wajah Saman.
Saman pasrah Aan memukulinya. Dia malah semakin menyulut kemarahan Aan. Saman masih berusaha untuk berdiri tegap, beberapa kali oleng karena layangan kepalan tangan Aan yang mendarat telak di wajahnya. "Itu terlambat Aan … kami sering melakukannya." Saman meng olok-olok Aan dengan menggoyangkan pinggulnya, meng isyaratkan gerakan maju mundur cantik yang ia lakukan bersama istrinya.
"Kamu!" Aan semakin emosi
Saman melirik ke arah belati, Namun Aan segera merebut itu lebih dulu.
*****
Di luar disaat yang sama …
Setelah turun dari mobil yang di bawa Sibki, Aruna menggendong Deli, Suminten menggendong Dena dan wahyu menggendong Rayyan. Mereka berjalan santai baru pulang dari pasar malam membawa tiga anak kembar Aruna.
"Kenapa banyak warga di depan rumah kita?" tanya Suminten.
"Ayo kita cari tahu mak," usul Wahyu.
Mereka bertiga berlari menuju warga yang memandangi rumah mereka. Sibki dari kejauhan melihat hal itu juga ikut berlari menuju rumah yang ditinggali Aruna.
"Ada apa bapak-bapak?" tanya Wahyu.
Suminten, Wahyu dan Aruna segera berlari ke dalam rumah, melihat pintu yang terbuka lebar mereka semakin mempercepat langkah.
***
Saat yang sama.
Saman melirik ke arah belati, Namun Aan segera merebut itu lebih dulu. Saman tertawa karena Aan memegang belati itu.
"Kamu gila!" bentak Aan.
"Memang! Aku tergila-gila pada Aruna … dan sekarang kamu masuk perangkapku, ini membuat Aruna menjadi milikku selamanya."
Saman memegang tangan Aan yang memegang belati tersebut dan menghujamkan belati yang Aan pegang ke perutnya. Aan melotot melihat perbuatan Saman yang mengarahkan sendiri belati itu ke perutnya.
"Kak Saman!" Aruna berteriak begitu histeris, melihat mantan suaminya menusuk suaminya saat ini.
Aan semakin tegang melihat Aruna, Suminten, Wahyu dan beberapa warga lain tepat di depan pintu.
Wahyu dan Sumiten sangat kaget melihat Aan membacok Saman. Warga lainnya yang masih di luar ikut berlari ke dalam rumah karena mendengar teriakan Aruna. Melihat Saman terkapar di lantai, dengan pisau yang masih menancap diperutnya. Tangan dan baju Aan terlihat merah, karena noda darah. Beberapa warga langsung menangkap Aan dan sisanya meng evakuasi Saman.
Aruna memberikan Deli kepada Sibki yang baru datang, dia langsung mengejar Saman. Aan melihat Aruna yang mengejar Saman tanpa menoleh padanya sangat hancur. Aruna langsung masuk mobil yang membawa Saman yang tengah terluka. Mata Aan terus menatap nanar mobil yang membawa Saman dan Aruna yang terus melaju meninggalkan tempat itu.
"Ada apa mak?" tanya Sibki.
"Aan menusuk Saman," ucap Suminten, lirih.
"Astaghfirullah .…" Sibki menghembuskan kasar napasnya, mengetahui kejadian barusan. Sibki langsung menelepon, untuk mengabari ustadz Ali tentang Aan yang menusuk Saman.
"Salah apa Saman hingga di bacok Aan?" tanya Ali.
"Aan baru tahu kalau Aruna dan Saman sudah menikah," jawab Sibki.
"Apa? Aruna menikah dengan Saman? Sejak kapan?" Ali balik bertanya.
"Baru pak ustadz … belum satu bulan," jawab Sibki.
"Aku akan ke kantor polisi menemani Aan, ini pasti rahasia besar yang berkaitan dengan kehancuran rumah tangganya dengan Aruna. Kamu Sibki, jaga anak-anak Aruna, banyak orang yang menginginkan mereka."
"Maksud ustadz?"
"Kamu jaga saja ketiga keponakan kamu," perintah Ali.
Sambungan telepon langsung diputuskan Ali.
Aan digiring warga ke pos kamling menanti kedatangan dari pihak kepolisian. Aan melihat motor warga desa yang masih hidup mesin parkir di pinggir jalan, dilihatnya warga desa lengah. Aan langsung kabur membawa motor itu. Warga panik karena tawanan mereka lepas.
"Jangan di kejar! Aku sudah punya data-data orang itu, dia suami pertama Aruna," ucap Sibki.
Tidak lama pihak kepolisian datang. Mereka menjelaskan kalau tersangka kabur. Beberapa Polisi langsung olah tkp, sedang yang lain langsung memburu tersangka mereka yang kabur.
***
Di Rumah Sakit.
Saman sudah selesai di obati. Untung saja pisau itu tidak mengenai organ dalamnya sehingga dokter hanya perlu menjahitnya. Kini Saman tengah berada di ruang perawatan. Aruna duduk di sampingnya sambil memegang tangannya.
"Hei … jangan menangis …."
"Semua luka ini karena aku .…" ringis Aruna.
Saman tersenyum dan menggeleng.
"Ini … yang ini … dan itu … semua karena aku …." ringis Aruna.
Saman terus menggeleng, dia menghapus air mata Aruna dengan jarinya. Dia menarik wajah Aruna agar mendekati wajahnya. Aruna mengikuti tarikan lembut Saman. Mereka larut dalam pertarungan lidah mereka.
"Brakkkk!" Pintu terbuka.
Aruna ingin menarik dirinya namun tangan Saman cukup kuat menahan kepalanya hingga Aruna tidak bisa menarik dirinya. Saman sengaja menahan Aruna agar yang membuka pintu itu melihat aktivitas mereka.
Hati Aan hancur melihat pemandangan itu. Menyadari ada yang melangkah masuk Aruna menarik dirinya dari pangutan Saman, Saman juga mulai melemahkan pegangannya, hingga Aruna bisa melepaskan pangutan mereka.
Aruna berbalik, melihat siapa yang datang. "Kak Aan .…" Aruna panik, melihat Aan tepat di depan matanya, dia takut Aan menyakiti Saman.
"Aruna … kamu harus tahu .…"
"Jangan bergerak! Anda kami tahan karena melakukan tindakan penganiayaan terhadap saudara Saman!" Seru seorang polisi.
Polisi lainnya langsung memborgol Aan. Aan 'pun langsung di bawa oleh pihak kepolisian ke kantor polisi untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Tanpa sempat mengatakan maksudnya.
***
MAAF BELUM BISA UP BANYAK KARENA KESIBUKAN DI DUNIA NYATA.
SEE YOU AGAIN.