
Sibki sangat terkejut mendengar Manda membatalkan pernikahan secara tiba-tiba.
"Sekarang juga aku ingin bertemu Manda, kenapa dia seperti ini," lirih Sibki.
"Aku setuju, ayo kita kerumah kamu Sofyan," seru Ali.
"Baik, aku setuju, aku juga penasaran," lirih Sofyan.
Sibki, Ali, Sofyan dan Ilyas segera masuk mobil. Mereka langsung menuju rumah Sofyan.
***
"Akhirnya kita sampai, sungguh aku tidak tenang," lirih Sibki.
"Assalamu alaikum," seru mereka bersamaan.
"Wa alaikum salam, akhirnya kalian datang, ibu khawatir sama Manda, dari tadi dia tidak keluar kamar." Ringis Tiar.
"Apa yang terjadi sama Manda bu?" Tanya Sofyan.
"Ibu tidak tahu, tiba-tiba dia meminta untuk membatalkan pernikahan, ibu jadi khawatir,"
"Sofyan, tolong kamu ketuk pintu kamar Manda," pinta Ali.
Sofyan langsung menuju kamar Manda.
Tok tokk tokkk!
"Manda, kaka mohon dengan sangat, buka pintu dan bicara dengan kami," pinta Sofyan lembut.
"Dobrak saja, aku tidak bisa berjalan lagi," teriak Manda.
Mendengar hal itu Sofyan langsung mendobrak pintu kamar Manda. Dengan susah payah di bantu Sibki dan Ilyas akhirnya pintu kamar bisa di buka secara paksa.
"Manda …," ringis Tiar.
Tiar mendekat, namun dia berhenti.
"Jangan mendekat, ada bau busuk dari diriku, kak Sibki, kenapa kakak datang? Aku semakin malu kak," ringis Manda.
"Kenapa kamu membatalkan pernikahan kita?" Tanya Sibki lembut.
"Apakah kalian tidak mencium bau busuk ini?" Ringis Manda.
"Kami mencium, tapi dari mana bau ini?" Lirih Tiar.
"Kewanitaan ku," ringis Manda.
"Apa???" Semua orang terkejut.
"Aku juga tidak tahu, demi umurku, aku tidak pernah menyerahkan diriku pada siapapun, tapi kenapa organ intim ku, kewanitaan ku …," Manda tidak mampu melanjutkan perkataannya. Dia terisak dalam tangisnya.
"Kita segera ke dokter," seru Sofyan.
"Aku malu," ringis Manda.
"Tapi kamu harus di obati Manda," ucap Sibki.
"Ini alasanku membatalkan pernikahan, karena aku tidak bisa memenuhi kewajiban batin sebagai seorang istri," ringis Manda.
"Aku tidak perduli, ustadz, nikahkan kami sekarang," pinta Sibki.
"Sibki?" Lirih Sofyan.
"Aku mohon," pinta Sibki.
"Kakak jangan bodoh!" Lirih Manda.
"Aku ingin menjagamu Manda, ibu, Sofyan apakah kalian keberatan jika aku menikahi Manda?"
"Tentu saja kami tidak keberatan, tapi kamu tahu kondisi Manda," lirih Tiar.
"Menikah bagus, semoga aku bisa bantu sedikit, insya Allah." Seru Ali.
"Bantu apa pak ustadz?"
"Jika penyakit Manda murni medis, kita bisa secepatnya mengobati Manda, jika non medis, maka langkah kita harus cepat untuk menolong Manda," ucap Ali.
"Kalau begitu, aku akan panggil satu sahabatku untuk jadi saksi, Sibki, kita adakan akad di luar kamar ini," seru Sofyan.
"Setelah menjadi suami Manda, maka kamu bisa memeriksa keadaan organ intim Manda, karena dari ceritamu nanti kita akan tahu apa penyebabnya," lirih Ali.
"Saya siap pak ustadz," jawab Sibki.
"Kakak memang bodoh!" Ringis Manda.
Setelah semua siap Sibki mengeluarkan semua uang yang ada di dompetnya.
"Maafkan aku bu, Sofyan, hanya lima juta yang bisa aku berikan sebagai mahar," lirih Sibki.
"Tidak apa-apa," jawab Tiar.
Semua orang yang terlibat mengambil posisi masing-masing.
"Ustadz saya wakilkan saja sama pak stadz," lirih Sofyan. Ali mengangguk.
Ali mulai mebaca do'a dan yang lainnya.
"Bismillahirrahmanirrahim, Sulaiman Sibki bin Wahyu Jayadi. Aku nikahkan dan aku kawinkan engkau dengan seorang wanita yang bernama Ramanda Sari binti Darnawan dengan mas kawin lima juta rupiah dibayar tunai!!!"
"Saya terima Nikah dan kawinnya Ramanda Sari binti Darnawan dengan mas kawin tersebut tunai!!!"
"Saksi?"
"Sah!!!" Ucap kedua Saksi bersamaan.
Ali langsung memimpin do'a.
"Selamat Sibki, sekarang Manda Sah menjadi istrimu," seru Ali.
Semua orang mengucapkan selamat pada Sibki. Sofyan langsung memeluk Sibki,
"Titip dan jaga adikku," lirih Sofyan.
Sibki mengangguk dan tersenyum.
"Ibu," Sibki Salim pada Tiar.
"Aku bukan ingin mengambil Manda, alangkah baiknya jika Manda tinggal di lingkungan majelis Taklim, agar pengobatam medis atau non medis lebih mudah di akses, secara ada dokter yang bertugas di klinik majelis," seru Ali.
"Saya setuju, saya dan ibu akan menyiapkan barang-barang Manda." Seru Sofyan. Dia dan Tiar langsung masuk ke kamar Manda.
Setelah semua selesai mereka bersiap untuk pergi, setelah berpamitan dengan semua orang keadaan tegang, mengingat Manda tidak mampu berjalan karena kewanitaannya yang seperti membusuk.
"Boleh kakak gendong kamu?" Tanya Sibki.
Manda mengangguk.
Sibki langsung mendekati Manda dan menggendongnya perlahan. Segera yang lain membantu membukakan pintu lebar, hingga Sibki dengan mudah membawa Manda masuk kedalam mobil mereka.
Ilyas dan Ali di depan, sedang Sibki dan Manda di belakang. Mereka segera meninggalkan arena rumah Manda. Dalam perjalanan Ali meminta rekan yang ada di majelis membersihkan rumah kontrakan Sibki.
***
Sesampainya di kontrakan Sibki, terlihat seorang dokter perempuan duduk di teras rumah kontrakan Sibki.
"Aku yang meminta dokter itu datang, ayo Sibki gendong lagi princes mu masuk ke istana itu," lirih Ali..
Dengan sangat hati-hati Sibki menggendong Manda kembali. Setelah sampai di kamar kecil yang ada dalam kontrakan itu, dokter langsung memeriksa keadaan Manda. Setelah bertanya pada Manda dan mendapat jawaban dari Manda, dokter langsung keluar menemui Ali.
"Ini sangat aneh pak ustadz, pembusukannya terjadi begitu cepat, dalam medis saja jika ada penyakit kelamin pasti berproses dan menujukan tanda-tanda awal, sedang pada Manda, terjadi tiba-tiba, saya orang medis, namun saya sarankan ustadz juga tolong dia, ini sangat diluar akal sehat pak ustadz" lirih dokter.
"Baiklah, kami akan bantu dengan cara biasanya, terimakasih dok," lirih Ali.
"Sama-sama pak ustadz, saya pamit, assalamu alaikum."
"Wa alaikum salam," jawab Ali dan Sibki.
Sibki meraih ponselnya.
"Mau apa kamu?" Tanya Ali.
"Mau menelpon Sofyan, meminta dia mencari-cari apa saja yang nampak aneh di rumah mereka, kalau ini gangguan halus, saya yakin ada jejaknya di rumah mereka," jawab Sibki.
"Tapi kamu harus bilang ini perkiraan, ditempat tinggal Manda banyak orang yang berprofesi seperti Darnawan dulu, salah bicara nantinya malah jadi Finah,"
"Baik pak Ustadz"
Sibki langsung menelpon Sofyan.
"Assalamu alaikum Sibki,"
"Wa alaikum salam Sofyan."
"Kalian sudah sampai?"
"Sudah, Manda juga sudah di periksa dokter, dokter sih menyarankan kita untuk mengobati Manda secara medis dan non medis, ini hanya perkiraan, kalau kamu tidak sibuk apa kamu bisa periksa keadaan sekitar rumah kamu? Aku khawatir kalau-kalau,"
"Aku mengerti Sibki, baiklah ku tutup dulu teleponnya, aku ingin melihat-lihat keadaan rumah kami,"
"Baik Sof, assalamu alaikum,"
"Wa alaikum salam." Jawab Sofyan.
Panggilan telepon mereka ber akhir.
"Bagaimana?"
"Sofyan faham pak ustadz, dia juga bersedia mencari lebih dulu sebelum menuduh," jawab Sibki.
Sedang di sudut sana Sofyan dan Tiar meneliti setiap sudut rumah mereka dari bagian dalam hingga bagian luar rumah mereka.