Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 95. Kemarahan Putri Ular.


Putri ular semakin marah karena orang yang dia suruh membawa janin itu pada arunan malah membocorkan tentang janin itu pada rekan-rekannya kalau janin itu berada di rahim manusia. Bukan satu orang yang tahu tapi lebih dari separu yang berprofesi sebagai dukun tahu di mana janin miliknya. Sehingg Aruna menjadi sasaran para dukun yang menginginkan bayi titipan putri ular.


Lebih dari 20 orang berkumpul di hutan menyusun rencana untuk menculik Aruna. Setelah rencana matang mereka langsung melancarkan aksi mereka.


"Sebentar… aku ingin menelpon orang yang akan membantu kita dari dalam, namanya Salsa, dia punya dendam pada wanita hamil itu. Kata dia gara-gara wanita hamil itu dia menjadi tahanan di rumah sakit jiwa.


"Salsa bukakan kami pintu kami ber aksi pagi ini,"


"Siap!!!" jawab Salsa.


***


"Salsa kami sudah amankan penjaga rumah ini," seru seseorang pada panggilan telepon.


Sasa menuju kamar Suminten dan Wahyu, dia mengunci kamar itu dari luar. Salsa tahu kalau kamar mereka tidak pernah di kunci dari dalam, segera dia keluar menyambut rekan-rekan kejahatannya.


"Kamu?" Salsa terkejut melihat salah satu orang dalam komplotan mereka.


"Aku inginkan wanita itu," orang itu menyeringai.


"Ikut aku, mereka masih mengurung diri di kamar," seru Salsa.


Mereka semua berjalan ke atas.


"Tok... tok tok..." "Tuan... nyonya..." seru Salsa.


"Ada apa?" Tanya majikan Salsa tegas.


"Crakkk crakk crakkk," rekan Salsa membacok majikan Salsa berulang kali dengan pisau tajamnya tanpa jeda.


Majikan Salsa yang laki-lakiitu melotot memandang wajah orang yang menusuknya. Seketika dia ambruk di lantai.


"Kak Aan!!!" Teriak istrinya histeris melihat suaminya terkapar di lantai bersimbah darah.


"Jangan melawan jika ingin selamat!!!" bentak orang yang lain.


"Bawa wanita itu pergi dari sini," perintah yang lain lagi.


"Waw... dia polos bos," seru orang yang lain.


"Jangan macam-macam!!! Cepat bawa dia!"


"Kita impas Aruna, dulu aku kehilangan suamiku karena sihirmu, sekarang kamu juga merasakan bagaimana kehilangan suami!!!" Seru Salsa dari arah luar.


Ingin cara lembut apa cara kasar?" Orang itu menanyai wanita itu. Tetapi orang suruhan yang lain langsung memangup korbannya dengan sapu tangan yang ditetesi obat bius.


"Kelamaan!!" bentaknya.


"Salsa, tolong kamu selimuti yang benar majikan kamu itu, darahku mendidih melihat dia seperti itu,"


"Kalian semua keluar!!! Jangan memandangi wanita itu, wanita itu milikku, kalian melihat dia tanpa kerudung saja itu sudah bonus!"


***


"Aruna sudah aku balut dengan selimut," seru Salsa.


"Baiklah… yang lain angkat wanita hamil itu, kamu!!! Ikat Salsa di sofa sana, hei kalian!!! Ambil apapun yang kalian inginkan."


Orang yang menusuk Aan keluar lebih dulu dari para rekannya, dia berbicara mengenai kesepakatannya dengan dukun yang mengincar bayi titipan putri ular. Seketika ular banyak datang memenuhi halaman ruman Aan. Dia dan dukun itu langsung naik ke atap mobil melihat ular-ular yang bergerumul seperti mie.


"Bos..." seru seseorang. Mereka menggidik melihat pemandangan di depan mereka.


"Semua ular itu tidak suka kalian menyakiti wanita itu cepat kembalikan ke dalam," seru dukun itu yang nangkring di atap mobil.


Mereka bertiga segera kembali ke dalam dan merebahkan Aruna di sofa. Saat orang suruhan mereka kedalam mengembalikan Aruna, seketika ular-ular itu hilang.


"Aku kedalam dulu," seru orang yang membacok.


***


"Cepat kalian pergi!!!" seru seseorang.


"Bos bagaimana?"


"Aku ingin menghilangkan memory wanita itu,"


"Baik bos!"


Orang itu mendekati Aruna dan meminumkan cairan yang akan membuat Aruna lupa dengan apa yang dia lihat barusan dari botol kecil. Selesai dia segera menjauh dari sana. Namun langkahnya terhenti mengingat Aan. Dia kembali ke atas meminumkan cairan penghapus ingatan pada Aan. Setelah selesai mereka semua pergi dari rumah itu.


***


"Manusia sialan!!! Kalian berkomplot melawanku, awas kamu Asok!!!" Teriak putri ular. Sang putri semedi dia ingin membalas Asok pengikutnya yang semakin berani melawannya.


"Api… api… api…" teriak warga.


Semua orang menyelamatkan diri karena ladang Asok yang lama dan ladang Asok yang baru dilalap si jago merah. Api mengurung seluruh perkebunannya, Asok dan keluarganya tidak bisa menyelamatkan diri, termasuk beberapa pegawainya mati terpanggang dalam kobaran api kemarahan sang putri ular.


***


Beberapa setelah kejadian itu sisa komplotan yang lain menunda rencana mereka. Saat mendengat kabar wanita itu melahirkan mereka menyusun rencana lagi.


"Kita hancurkan rumah tangga mereka sebelum menculik bayi-bayi itu,"


"Caranya? Suaminya tidak perduli dengan wanita selain istrinya itu."


"Aku sudah siapkan wanita, yang mana laki-laki itu tidak akan bisa berpaling di belakangnya.


Ponsel orang itu berdering.


"Ada apa Salsa?"


"Aan mencari pengasuh, cepat kamu atur agar menambah bantuan kita,"


"Terimakasih kabarnya Salsa."


"Aku ingin menelpon orangku apakah dia sudah siap atau tidak. Dia segera melakukan panggilan telepon.


"Laily… bagaimana wajahmu? Apakah sekarang sudah sama dengan foto yang aku kirim?"


"Baiklah… kirim data-data palsumu ketempat pelayanan penyedia jasa babby sitter,"


"Baik…"


***


Beberapa hari setelahnya Aan menentukan pilihan untuk mengurus anaknya, namun salah satu dari tiga calon pengasuh itu mundur, karena waktunya sangat dekat pemilik kantor jasa itu memasukan Laily.


Laily mulai bekerja mengasuh salah satu bayi kembar Aan dan Aruna. Ponselnya terus bergetar Laily terpaksa membawa si kembar bersembunyi untuk melakukan panggilan telepon.


"Ada apa? Aku sedang bekerja," bisik Laily.


"Apakah laki-laki itu sudah melihatmu?"


"Aku belum pernah bertemu suaminya, tapi orang tua Aruna sangat menunjukan ketidak sukaannya padaku, sepertinya aku akan di pecat," seru Laily.


"Kalau kamu di pecat kamu bisa menggoda Aan dari luar, Aan tidak tahan dengan wajah olahan yang kamu miliki,"


"Sudah dulu aku lanjut menjaga bayi mereka,"


Laily pergi ke ruang tamu, dia bersama rekan yang lain mengurus dua bayi yang lainnya.


***


Siang itu…


"Assalamu alaikum," majikan Laily ayah si bayi itu pulang kerumah.


"Wa alaikum salam," jawab Laily, dia melempar senyuman manisnya pada ayah bayi yang dia urus.


Laki-laki itu mematung memandangi Laily. Laily senang, akhirnya dia bisa menjalankan satu misinya. Membuat laki-laki itu terpana melihat dirinya.


"Kaka sudah pulang," sapa istrinya menuruni tangga.


"Aaa... ah iya aku pulang sebentar," jawab sang suami.


Wanita itu salim pada suaminya.


"Umak sama abah mana?"


"Ada di kamar, beberapa hari ini umak betah mengurung diri di kamar, abah juga, kalo pulang dari kebun kaka abah langsung tenggelam dalam kamar," jawab istrinya.


"Kenapa cari umak? umak sudah tua wajar jadi kaum rebahan," jawab mertuanya yang datang dari arah dapur.


"Umak..." seru ibu si kembar sambil memeluk ibunya.


"Aruna... walaupun kamu punya tiga pengasuh jangan jauh-jauh dari anak-anak, jangan sampai anakmu mencintai pengasuh melebihi dirimu," seru Suminten menatap tajam ke arah Aan.


Laily pura-pura tidak tahu, dia asyik mengurus si kembar.


"Umak bicara apa sih... umak tuh yang sering-sering menemani Dena, Deli sama Rayan, aku tiap waktu kasih mereka ASI langsung bergantian," seru ibu di kembar.memeluk umaknya gemas.


Umak... Aan mau bicara," lirih laki-laki itu.


"Tentang itu? tidak perlu, umak serahkan semua pada nak Aan, terserah nak Aan, permisi umak mau kekamar dulu," Suminten berjalan menuju kamarnya.


Laily yang terus menguping lega, karena tidak perlu rencana baru, karena ayah si kembar tidak akan memecatnya.


"Hem..." lirih istrinya sambil berjalan ke arah sang suami dan menggelayut di badan suaminya.


"Beberapa hari ini umak aneh..." rengeknya.


"Aruna..."


"Heem..."


"Kamu tahukan Kaka sangat mencintai kamu," lirih Aan.


Aruna menegakkan bandannya lalu menghadap Aan dia mengalungkan tangannya ke bahu Aan.


"Em..." Aruna mengangguk berulang kali.


"Apapun... kaka selalu mencintai Aruna," lirih Aan.


"Tumben..." Aruna menyeringai.


"Tumben apa?"


"Ada masalah ya..."


Suami istri itu terus berbicara dan nampak sangat mesra, sang suami kembali lagi ke kantor, sedang sang istri menagmbil bayi yang Laily urus untuk memberi ASI.


"Bu… saya izin ke belakang…" pinta Laily.


"Silahkan mbak…" seru Aruna.


Laily berjalan dengan girang menuju tempat aman untuk menelpon.


"Ada apa laily?"


"Rencana lancar!!! Laki-laki itu terpesona dengan wajahku, membuat kedua mertuanya marah,"


"Bagus!!! Kita tinggal lakukan tahap akhir,"


"Siap!!!" Jawab Laily.


"Kapan waktunya?" Tanya Laily.


"Waktu acara aqiqah bayi kembar mereka, agar semua rekan kita bisa membantu,"


****


Bersambung...


****