
Masa kecil yang riuh dan ribut, dengan bermacam polah keeempat anaknya, masa itu telah lewat. Sekarang Deli, Dena, Rayyan dan Fathiya sudah besar. Deli menjiwai semua bisnis Aan, sedang Dena lebih suka bisnis kecil-kecilan dengan butik miliknya. Rayyan dan Fathiya, mereka berdua masih betah menetap di pesantren.
Kebahagiaan itu juga diwarnai kesedihan, saat satu per satu orang tua mereka menghadap sang ilahi. Suminten dan Wahyu yang meninggal saat menjalankan ibadah haji di tanah suci. Membuat Aan dan Aruna harus ihklas tidak bisa mengunjungi makam kedua orang tua Aruna. Karena keduanya di makamkan disana.
Dua tahun berikutnya Mastia juga menghadap sang ilahi, baru tiga bulan Mastia pergi, Jojo juga menyusul sang istri. Ini tahun yang sulit bagi Manda dan Shibki. Setelah ditinggal Jojo dan Mastia, kini giliran Tiar dan Darnawan yang berpulang. Namun mereka tidak bisa menentang garisan yang telah Allah tetapkan.
Kini di sana hanya ada Sibki, Manda dan anak-anak mereka.
***
Tapi kehidupan terus berlanjut.
*
*
*
Dengan setelan kerja yang menutup anggota badannya, juga kerudung pasmina yang menutup bagian kepalanya, tampilan yang cantik. Dena sungguh berbakat meneruskan usaha Aan. Kakinya menuruni satu per satu anak tangga. Di bawah sana terliha kedua orang tuanya, yang nampak santai dengan sarapan mereka.
Melihat siapa yang berjalan mendekat padanya. Aruna memberikan senyumannya.
"Mama, aku pamit kerja ya." Dena mencium pipi kanan dan kiri Aruna.
"Iya sayang, tapi hati-hati dan jangan telat makan."
Dena berjalan mendekati Aan. "Bye papa ...." satu ciuman dari Dena mendarat di pipi Aan.
"Assalamu alaikum, papa mama."
"Wa alaikum salam.'
Dena segera melangkah menuju pintu.
"Sayang … Deli mana?" Tanya Aruna.
Dena menghentikan langkah kakinya. Memutar arah tubuhnya agar menghadap kedua orang tuanya. "Sepertinya dia masih sibuk dengan pensil dan kertas," jawab Dena. Melihat Aan dan Aruna tidak lagi bertanya. Dena melanjutkan tujuannya.
Dia menghela napas panjang. Matanya terus memandangi punggung Dena yang kini sudah menghilang di balik pintu.
"Hufttt ...." keluhnya.
"Ada apa?"
"Anak kita yang terlalu cepat besar apa kita yang terlalu cepat tua?"
"Inilah kehidupan, dulu kita juga pernah seperti mereka."
Aan mengalihkan pandangannya, dia memandangi wajah Aruna. "Aku memikirkan Dena, sejak dia putus dengan kekasihnya dulu, dia sangat menutup diri."
"Biarkan dia dengan zona nyamannya papa …."
"Tapi umurnya sudah 28 tahun, dia masih lajang, itu Deli juga ikut-ikutan nunda nikah, apa kamu gak pengen merasakan kebahagiaan, seperti yang dirasakan almarhun umak, abah, bapak dan ibu? Kamu ingat betapa bahagianya mereka saat mendapatkan cucu." Aan terbayang sosok mertuanya yang kini sudah berpulang.
"Mereka lajang karena berkarier, beda sama mama mereka, mama mereka tidak berpendidikan."
"Aku akan memberi Dena tempo, jika dalam waktu dekat dia tidak membuka hatinya, aku akan menjodohkan dia."
"Papa ... tolong jangan usik kehidupan anak-anak kita!"
"Hidupku tidak nyaman sebelum Dena dan Deli menikah." Ucap Aan.
"Aku juga ingin melihat keempat anak kita bahagia, tapi aku ingin mereka yang menentukan hidup mereka."
"Aku memberi pilihan buat mereka." suara Aan mulai meninggi.
"Itu bukan pilihan! Tapi desakkan!" Tegas Aruna.
"Jika mama dan papa bahagia, melihat salah satu dari kami menikah, nikahkan saja aku dengan orang yang papa mama suka. Aku tidak keberatan."
Aan dan Aruna sama-sama menoleh kearah suara itu berasal. Terlihat Dena berdiri di sana, dengan senyuman yang menghiasi wajah cantiknya.
"Dena--" tenggorokkan Aan terasa tercekat, melihat Dena.
Dena berjalan menuju nakas yang ada di pojokan ruangan itu. Setelah mengambil kunci mobil yang ada di sana, Dena kembali mendekati Aan dan Aruna. Senyuman yang sama masih terlihat di wajah manis itu. "Maaf, kunci mobil aku ketinggalan."
Aan bingung memulai bicara dari mana. Rencana menjodohkan Dena memang dia rencanakan dalam satu tahun terakhir ini. Hanya saja dia belum siap mengutarakannya.
Dena mengerti kecanggungan saat ini. "Semenjak putus dengan kekasihku, aku jera pacaran mah, pah. Jika kalian punya calon atur saja perjodohan kami, aku percaya pada kalian."
"Sayang … tunggu!! Kamu yakin?" Tanya Aruna.
"Yakin mama. Dari kecil aku melihat cinta yang sangat besar antara mama dan papa. Aku berharap bisa menikah dengan laki-laki yang mencintaiku, seperti papa mencintai mama, dan aku juga bisa mencintai suamiku seperti mama mencintai papa." Dena tersenyum.
"Tapi mama dan papa tidak di jodohkan sayang," ucap Aruna.
"Perjodohan kenapa tidak? Itu lebih baik daripada aku pacaran," jawab Dena.
"Papa akan carikan laki-laki yang baik," sela Aan.
"Wa alaikum salam," jawab Aruna dan Aan. Keduanya terus memandangi kepergian Dena.
"Aku senang walau Dena terjun dalam bisnis kakak, ternyata apa yang dia pakai tidak mempengaruhi karirnya." ucap Aruna.
"Siapa dulu dong desainernya ...." suara itu berasal dari arah tangga. Membuat Aan dan Aruna sama-sam memandang kearah tangga.
Senyuman Aruna menghiasi wajahnya. "Satu lagi nak mama yang hebat, juga sudah menampakkan diri, ayo sarapan dulu, tadi Dena gak sarapan," ajak Aruna.
"Iya mama, CEO itu teralu sibuk, beda sama aku." Deli segera mempercepat langkahnya menuju meja makan.
Mereka sarapan bersama. Setelah sarapan Deli langsung pergi menuju butiknya.
***
Deli berada diruangan khusus yang ada di butiknya. Tempat dia mendesaign gambar untuk pakaian di butiknya, juga tempat dia untuk istirahat.
Deli kembali terbayang akan mimpi-mimpi yang sering dia alami akhir-akhir ini. Mimpi yang sama yang terus berulang kali hadir. Tangannya meraih lembaran-lembaran kertas yang tergores gambaran yang dia lihat di alam mimpi.
"Dimana tempat ini? Kenapa tempat ini selalu terbayang dalam mimpiku? Apa yang bisa aku lakukakan untuk menolong mereka? Ya Allah … jika hamba di takdirkan sebagai perantara penolong untuk mereka, mudahkanlah," ringis Deli sambil memandangi hasil gambarnya yang dia pegang.
"Hei … ini kan bukan zaman batu, kenapa aku bodoh!" Deli langsung mengambil laptopnya dan mulai menjelajahi jendela internet mencari tahu di mana tempat yang dia lihat dari mimpinya itu. Dia mengetik kata 'Kemarau' lalu dia cari wilayah mana saja yang saat ini mengalami kemarau panjang.
Karena hal yang dia lihat dalam mimpinya, desa itu mengalami kemarau. Sangat sulit mencari air. Padahal desa itu dilewati sungai besar. Namun sulit menuju akses sungai tersebut. Deli mulai mencari satu persatu desa yang terdampak kemarau panjang yang dia lihat di internet.
Nama desa terakhir membuat mata Deli melotot, melihat jalan dan area hutan itu, mengingatkan Deli dengan mimpi yang dia lihat sejak usia 18 tahun. Sekarang usianya 28 tahun. Hati Deli semakin sakit mengetahui desa itu mengalami krisis air bersih 10 tahun belakangan ini. Namun bantuan tidak bisa mencakup mencapai keseluruhan desa itu karena akses dan medan yang sulit.
"Ya Allah, apakah warga dari desa ini yang selalu memanggilku," ringis Deli.
Dia mulai mencatat nama desa itu.
***
Aan sengaja datang ketempat Ali seorang diri. Wajahnya yang kusut sangat jelas menggambarkan kalau dia punya beban.
"Ada apa?" Tanya Ali.
"Anak-anak," ringis Aan.
"Kenapa anak-anakmu?"
"Mereka sudah besar, maksudku Dena dan Deli, aku ingin mencarikan mereka imam dalam rumah tangga," ucap Aan.
"Kamu datang ketempat yang salah, anakku Ilham pasti menolak jika di jodohkan sama Dena atau Deli, aku pernah tanyakan hal itu lima tahun yang lalu pada Ilham."
"Aku tidak meminta ustadz menyuruh Ilham, tapi aku minta jalan, bagaimana aku … akhhh!!!" Ringis Aan.
"Cari dari lingkup terdekatmu, kamu mengenal baik orang terdekatmu bukan?"
Aan teringat beberapa sahabatnya. "Terima kasih pak ustadz, saya ingat seseorang, jika dia bersedia maka dia calon suami yang tepat untuk Dena," seru Aan.
"Alhamdulillah, aku bantu do'a ya Aan."
Aan berpamitan dengan semua orang. Setelah dari rumah Ali Aan langsung menuju rumah Malinda, almarhum suami Malinda sahabat dekat Aan.
***
Malinda sangat bingung melihat kedatangan Aan. Semenjak suaminya meninggal Aan tidak pernah lagi datang. "Aan? Ada angin apa hingga membuatmu kemari?" sapa Linda.
"Aku ingin bicara sesuatu, tapi ini hanya usul, jika nantinya keberatan tidak mengapa."
"Silahkan duduk."
Aan segera duduk di sofa yang dekat dengannya.
"Ada apa An?" Tanya Linda.
"Kamu pernah cerita kalau Jaya berubah drastis saat putus dengan kekasihnya, nah aku juga memiliki putri yang senasib dengan Jaya. Bagaimana kalau kita perkenalkan mereka," usul Aan.
"Wah … aku sangat setuju, secara sulit mencari pasangan seperti anakmu, aku yakin anakmu perempuan terbaik, jika dia mau menerima Jaya kenapa tidak? Jaya sudah pasrah masalah jodoh. Dia serahkan semua urusan jodoh padaku," jawab Linda.
"Kita sama, anakku juga, dia percayakan semuanya padaku, dia bilang percaya dengan pilihanku."
"Kita atur pertemuan mereka, tapi tunggu … putrimu kembar." Linda bingung, dia tidak tahu, putri yang mana yang Aan maksud. Si CEO cantik, atau desaigner cantik.
"Yang pernah kuliah di luar Negri, Dena. Kurasa Dena dan Jaya memiliki visi misi yang sama."
"Yang manapun aku setuju."
Setelah selesai urusan dengan Linda. Aan segera pergi dari rumah Linda. Aan langsung tancap gas menuju rumah sahabatnya yang lain yang bernama Iqmal. Pembicaraan yang sama. Aan mengusulkan perjodohan antara putra Iqmal dan Deli.
"Aku sangat bahagia kamu mempercayai anak kami untuk jadi pasangan anakmu, secara Deli sangat cantik juga sholehah, tapi … anak kami sedang menempuh pendidikan di luar negri, jika anak kami kembali dan saat itu Deli belum menikah, aku akan datang melamar Deli buat anakku, tapi jika Deli atau kamu punya pilihan, nikahkan saja mereka," ucap Iqmal.
Aan berusaha tegar, walau tidak mendapat jawaban seperti perkiraannya. Aan segera pamit dari rumah Iqmal, padahal Aan sangat berharap anak Iqmal menjadi menantunya, karena dia seorang ustadz.
***
Bersambung