
Setelah banyak bicara di rumah Nurul, Suminten dan Wahyu pulang sebentar ke rumah Aan, untuk memastikan keadaan Rumah aman jika di tinggal lama, dan mengambil barang mereka. Aan fokus menyetir, tidak memperhatikan Suminten dan Wahyu.
"Tuan ... kami senang Tuan bisa menemukan cinta lagi, tapi saat tahu wanita yang Tuan cinta, kami jadi takut, kemalangan akan menimpa Tuan, seperti yang dialami dua menantu kami sebelumnya," ungkap Suminten.
"Mak Sumi ... kali ini Insya Allah Aruna akan menjadi istri yang sebenarnya, tanpa harus membuat suaminya mati," jawab Aan santai.
"Apa maksud nak Aan?" tanya Wahyu.
"Ustadz Ali pernah cerita, kalau sihir yang ada dalam diri Aruna bisa dikeluarkan, hanya saja harus suami Aruna yang melakukan," jawab Aan.
"Kalau itu benar, abah sangat senang," lirih Wahyu.
Sesampai di rumah Aan wahyu dan suminten mengepak barang barang mereka. Karena tujuan mereka selama ini sampai. Yaitu mencari putri mereka yang hanyut di sungai dan sekarang mereka menemukannya.
***
Kini sudah satu bulan sudah Wahyu dan Suminten tinggal bersama putri mereka Aruna.
Suminten tidak melihat ada rasa cinta Aruna buat Aan, dari segi pandangan kacamata kasih sayang seorang ibu. Hatinya mengatakan Aruna tidak mencintai Aan saat ini.
Wahyu dan Suminten dibantu Aruna mengurus kebun cabe mereka yang tumbuh segar. Yang mereka tanam di kebun yang terletak tidak jauh dari majelis. Karena sudah lelah berkutat dengan pohon-pohon cabe itu. Mereka ngadem di pondok.
"Aruna ... kamu tahu ... Tuan Aan sangat mencintaimu, selama kami bekerja di rumahnya, hanya kamu yang dia ceritakan, tapi kami tidak pernah tahu kalau itu anak kami," ucap Suminten.
Aruna berdiri memandangi ke arah pohon pohon cabe yang tumbuh segar.
"Untuk sesaat ... Aruna lupa apa derita Aruna mak ... karena tidak ada satupun laki-laki yang mendekati Aruna. Tapi saat Kak Aan mengatakan perasaannya, Aruna jadi takut ... Aruna takut kehilangan sosok yang luar biasa seperti kak Aan," ungkap Aruna.
Tanpa Aruna ketahui, Andika alias Aan berada tepat di belakangnya, duduk santai bersama wahyu dan suminten.
"Apa luar biasanya aku?" tanya Aan.
Aruna terkejut mendengar suara itu, dia langsung berbalik. "Kak Aan?"
"Assalamu alaikum," salam seorang wanita, seketika memecah suasana canggung.
"Wa'alaikum salam ... Salha!!" teriak Aruna, dia kegirangan melihat Salha yang muncul di hadapannya.
"Salha ... kenalkan ini kedua orang tuaku yang di desa," ucap Aruna.
Salha sedikit bingung. "Apa mereka datang menjemputmu?" tanya Salha.
"Tidak ... justru mereka tinggal di sini ... lihat ... kami berkebun," Aruna menunjuk kearah kebun mereka.
Salha tersenyum mendengar penjelasan Aruna dan berkenalan dengan orang tua Aruna. Senyumnya makin lebar, baru datang matanya sudah melihat laki-laki yang selama ini dia incar, Aan.
*
Sekembalinya Salha, entah kenapa ustadz Ali merasa aura kegelapan dibawa Salha. Namun dia tidak ambil pusing, dia tetap fokus dengan semua urusan dan pekerjaannya.
***
di kamar Salha.
Salha geram, usahanya untuk memikat Aan selalu gagal. "Dulu Maya, sekarang kamu Aruna, kamu harus pergi dari sini Aruna. Tapi ... dengan cara apa lagi agar Aruna pergi jauh dari sini," gumam Salha.
Salha ingat boneka santet serta jarum yang diberi mbah Qiweh, dia ingin melihat hasilnya, mumpung Aruna masih di dapur.
Dilihat Salha ada mukena Aruna, segera Salha mencari cari rambut Aruna, benar saja ada satu helai rambut.
Salha komat kamit membaca mantra yang di ajarkan Qiweh,
"Aruna ...." lirih Salha.
Salha menusuk bagian tangan boneka tangan vodo itu.
Prankkkk!
Terdengar gelas pecah
"Akkkk ...." Teriakan Aruna juga menggema dari arah dapur.
Salha tersenyum puas, segera dia simpan boneka itu. Salha segera ke dapur untuk memeriksa keadaan Aruna. Bukan memeriksa tapi memastikan kalau santetnya sukses.