
Seketika kedua mata Sofyan melotot melihat siapa yang duduk seorang diri, dia berjalan ke arah orang itu dengan penuh kemarahan.
"Kemana saja kamu? Kenapa kamu menghilang tiba-tiba?" Sofyan mencengkram krah baju orang itu.
"Maaf Sof, aku pindah ke desa lain, karena kami dapat lahan luas dari sana, aku berkebun di sana."
"Kak Sofyan, lepasin kak Ifin!" bentak Manda.
"Buggggh!" Tinjuan Sofyan mendarat di rahang Ifin.
"Sofyan hentikan!" pinta Sibki. Sibki langsung menolong Ifin. Ifin tersungkur setelah kena bogem mentah dari Sofyan.
"Gara-gara kamu menghilang tanpa jejak aku mengeluarkan banyak uang untuk menyelidikimu, karena aku curiga! Aku curiga kamu yang mengguna-guna Manda," ucap Sofyan, raut wajahnya penuh penyesalan.
"Aku tidak akan pernah menyakiti Manda walau aku sangat mencintai dia, Manda mendapat suami yang terbaik, aku rela melepas dia sejak aku mengetahui siapa Sibki. Sibki, Aan dan beberapa orang yang lain yang telah membantu kehidupan kami normal kembali," ucap Sofyan.
"Iya, andai kamu pergi dengan pamit, maka aku tidak akan curiga padamu, karena penyelidikan ini, aku menghabiskan uang di rekeningku." Sofyan duduk di kursi sambil memijat keningnya.
"Andai aku jadi kamu aku juga akan melakukan hal yang sama, bahkan aku lebih sadis, mungkin aku akan membunuh langsung tanpa menyelidiki, tapi tunggu guna-guna apa?" tanya Ifin.
Sofyan mulai menceritakan penderitaan Manda selama sebulan ini.
"Jahat sekali," ringis Sofyan.
"Manda?" Darnawan terkejut melihat putrinya sehat kembali.
"Bapak ...." Manda berlari menghambur memeluk Darnawan.
"Alhamdulillah kamu sudah sembuh sayang." Darnawan mengusap punggung putrinya.
Manda melepaskan pelukannya. "Berkat pertolongan Allah dan ikhtiar semua orang pak."
"Mari kita duduk dan ngobrol," ucap Darnawan.
Tidak lama bapaknya Ifin juga keluar.
"Bapak ...." Ifin langsung memeluk bapaknya.
"Bagaimana keadaan kamu Ifin?"
"Baik Pak."
Mereka duduk di meja yang sama.
"Jadi penyelidikanmu sia-sia dong Sof?" tanya Ifin.
"Tidak sama sekali, bahkan orang yang menerima pekerjaan dariku, melakukan penyelidikan membawa berita yang mengagetkan," jawab Sofyan.
"Berita apa?" tanya Sibki.
Sofyan melempar aplop yang dia terima pagi tadi.
Sibki mengambil amplop tersebut.
"Astaghfirullah ternyata benar Elna? Tapi kenapa dia setega itu pada Manda?" Sibki tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Dia menyukai kak Sibki sejak lama, bahkan dia sering memakai pelet yang di oles kebagian alis, tapi kak Sibki termasuk orang-orang yang dilindungi Allah, makanya kak Sibki tidak kena, padahal tujuan Elna adalah kakak," ucap Manda.
"Aku? Aku tidak pernah bicara atau bersapaan dengan Elna." Sibki meletakkan foto Elna di meja. Foto di ambil oleh Darnawan dan mereka semua melihat foto itu bergantian.
"Dia ingin jadi Nyonya Sulaiman Sibki," terang Manda.
"Tadinya aku juga tidak percaya, namun saat melihat tanda pada Elna, aku sangat percaya." Sofyan menambahi.
"Selama dia tidak meminta maaf, maka salah satu deritanya tidak kunjung pulih." Darnawan menyela.
"Itu benar pak," jawab sibki.
Mereka semua merubah topik pembicaraan, membahas hal lain, sambil melepas kerinduan.
***
Perjalanan Aan mengantar Tiar pulang.
Ponsel Aan berulang kali berdering, Aan menepikan mobilnya. Setelah memberi salam dan menjawabnya Aan bicara dengan orang yang menelepon.
"Kamu beneran?" Aan terkejut.
"Iya Pak, saya sudah cek, kalau bapak mau sore ini bisa."
"Terus bagaimana gedung?"
"Persiapan tiga jam beres! Tinggal bapak saja mengundang orang."
"Baik, lakukan saja, akad nikah jam tiga sore ini." Aan sangat semangat.
Mereka menutup pembicaraan dengan salam. Panggilan telepon pun ber akhir.
"Maaf bu Tiar, ibu gak boleh pulang hari ini, karena sore ini akad nikah Manda dan Sibki yang dilakukan secara resmi, nah malamnya melangsungkan resepsi sederhana," ucap Aan.
"Dadakan?" Tiar kaget.
"Lebih cepat lebih baik," seru Aan.
"Kita lanjutkan, tapi ibu undang orang saja kalau malam ini mulai jam delapan malam Manda melangsungkan resepsi di gedung." Aan menyebutkan nama gedung tersebut.
"Kakak memang suka yang dadakaan," gerutu Aruna.
"Kenapa? Teringat pernikahan dadakan kita dan perjuangan di atas batu yang keras?" Goda Aan.
"Bu, harap makluk ya, suami saya otaknya agak miring dikit," ucap Aruna.
Aan mencubit hidung istrinya gemas.
"Waktu semakin menipis, ayo jalan Tuan," pinta Aruna.
Tiar tersenyum melihat kelakuan sepasang suami istri itu.
Mereka melajutkan perjalanan, namun untuk mengundang warga yang dekat dengan Tiar sekeluarga. Sedang Aan mengirim pesan pada Jojo dan Ali, meminta bantuan agar mengundang orang terdekat. Sedang persiapan di gedung di awasi oleh orang-orang kepercayaan Aan.
Setelah urusan di desa beres, mereka kembali ke majelis untuk menjemput Suminten.
Kini mereka sudah berada di halaman rumah kontrakan Sibki.
"Lho, gak jadi mengantar bu Tiar?" Suminten kaget melihat Tiar ada di depan matanya.
"Gak jadi mak, karena sore ini akad nikah Manda, akad nikah akan di laksanakan di rumah bapak," terang Aruna.
Mereka memasukan beberapa tas kedalam bagasi mobil, sisanya di pangku oleh Suminten dan Tiar. Mereka segera melanjutkan perjalanan menuju rumah Jojo.
Sesampainya di rumah Jojo, suasana nampak ramai, karena pekerja ladang Jojo berkumpul di rumah juragan mereka, untuk membantu persiapan akad nikah yang dadakan.
"Wah, rame ...." Tiar memandangi kerumunan di depan matanya.
"Assalamu alaikum," Mastia menyambut mereka.
"Wa alaikum salam," jawab mereka semua.
"Saya Mastia ibunya Sibki, semoga Manda sudah cerita kalau Sibki punya dua ayah dan dua ibu," ucap Mastia.
"Alhamdullah sudah, senang bertemu dengan ibu." Tiar dan Mastia berpelukan.
"Papa … mama …." teriak si kembar, mereka berdua berlari menuju Aan dan Aruna.
Aan mengendong Deli dan Dena sekaligus, sedang Aruna menggendong Rayyan.
"Tiga?" Tiar kaget melihat tiga anak kembar Aan dan Aruna.
"Iya alhamdulillah part satunya kami dapat tiga, part selanjutnya kami sedang rilis," ucap Aan.
"Kalau bercanda sama menantuku ini tidak ada habisnya, ayo bu Tiar kita ke dalam, istrirahat dulu," seru Mastia.
"Kami pulang ke seberang ya bu," sela Aruna.
"Seberang?" Tiar keheranan.
"Kami punya rumah kecil di seberang sana." Aruna menunjuk kearah rumahnya.
Tiar dan Mastia masuk ke rumah Jojo, sedang Aruna, Suminten, Aan dan ketiga anak mereka pulang ke rumah yang berseberangan dengan rumah Jojo. Rumah tinggal mereka.
Di rumah Wahyu.
Aan, Aruna dan Suminten menghabiskan waktu bermain bersama si kembar, sedang pembantu mereka tengah memasak di dapur untuk makan siang.
"Anak-anak kita sudah besar." Aan memandangi ketiga anaknya.
"Jangan bilang mau ngecilin lagi," gerutu Aruna.
"Bolehkan ...." goda Aan.
"Heleh …." sungut Aruna.
"Silakan lanjut berunding bikin anaknya, umak selalu setuju berapapun kalian mau kasih umak cucu." Suminten bangkit dan pergi ke dapur.
"Kamu ceasar kan kemaren, berarti kamu hanya boleh dua kali hamil setelah ini, andai kamu kasih 2 lagi di dua kehamilan selanjutnya, berarti kamu masih ngutang satu, kan target kita enam."
"Terus?" Kedua mata Aruna melotot.
"Yah … kemana kita mencari untuk mencukupkan Kouta agar enam orang, apa harus dengan rahim yang baru?"
Aruna langsung berdiri.
"Sayang aku bercanda," Aan ketakutan melihat kemarahan di wajah Aruna, Aan juga berdiri.
"Sayang, jangan di anggap serius, kaka bercanda."
Aruna mendorong Aan berulang kali, hingga Aan sampai keluar dari rumah. "Bantu sana semua orang! Kalau di sini mendingan kakak pakai gamis dan kerudung!"
Brukkk!
Aruna menutup pintu dengan keras.
"Ya Allah, semoga marahnya cuma sebentar," ringis Aan.
Aan pergi ketempat lain memastikan persiapan yang lainnya juga.