
Beberapa malam menginap di rumah Deli, kini Deli dan Akhmad menginap di rumah Akhmad. Karena setelah pernikahan Dena mereka harus kembali ke desa Kayu Alam.
Aan tidak membuang waktu. Dia langsung mengurus berkas pernikahan Deli dan Akmad. Agar pernikahan mereka juga sah di mata hukum negara.
Selama Deli di kota, Aan membantu mewujudkan keinginan Deli, membantu mengesahkan beberapa berkas dan mulai mengirim bermacam material untuk membangun pondok pesantren impian Deli dan suaminya. Bukan cuma itu, jalan desa yang rusak parah pun mulai dilakukan perbaikan dengan pengecoran beton.
Sedang di desa Kayu Alam warga terus melakukan syukuran, karena kebahagiaan desa tersebut kembali lagi. Beberapa warga yang selama ini mengungsi kembali lagi ke desa.
Deli dan Akhmad sama sekali tidak mengetahui apa yang dilakukan Aan untuk desa Kayu Alam. Di sana pembangunan skala cepat terus berlangsung.
***
Persiapan pernikahan Dena juga terus berlanjut. Kini rumah Aan sudah dihiasi dekorasi. Karena akad nikah Dena dan Jaya akan dilangsungkan di kediaman Aan.
"Mana Deli mah?" Tanya Dena. Karena dia tidak melihat saudara kembarnya tersebut.
"Deli nanti datang sayang, dia masih di rumah mertuanya," jawab Aruna.
Akad nikah semakin dekat. Para tamu mulai berdatangan termasuk Sibki dan keluarganya.
"Fathiya … apa di pesantren kamu masih kurang untuk mengurung diri," teriak Dena.
"Dena, jangan ganggu adik kamu," pinta Aruna.
Fathiya keluar dari kamarnya karena di panggil Dena.
"Kenapa memanggilku, kangen?" Fathiya mendekati Dena.
"Tentu adikku sayang, ayo temani aku gosip sini," pinta Dena.
Fathiya duduk dekat Dena yang tengah di rias.
*
Di halaman rumah.
Deli baru turun dari mobil bersama Akmad. Saat yang sama mobil mempelai pria dan keluarga juga sampai di halaman rumah Aan.
Deli membantu merapikan jas yang di pakai Akhmad. Momen itu di lihat oleh calon suami Dena.
"Dasar!!!" Gerutunya sambil berlalu masuk kedalam rumah Aan.
*
Akhmad heran melihat wajah Deli yang tiba-tiba berubah.
"Ada apa?" Tanya Alhmad.
"Calon suami Dena, dia kakak tingkat yang sangat kasar, dulu waktu aku SMP dia adalah kakak pembina pramuka kami, dia sangat jahat padaku," ringis Deli.
"Sudah, itu lama, semoga sekarang dia lebih baik." Ahkmad berusaha menyemanagi Deli.
Mereka semua masuk kedalam rumah dan segera menempati tempat duduk mereka.
Deli dan Akhmad duduk berdampingan tidak jauh dari meja akad, sesekali pandangan tajam dari calon suami Dena ter arah pada Deli dan Akhmad.
Suasana semakin tegang, karena sebentar lagi prosesi ijab kabul akan di mulai.
Dena yang sudah cantik menuruni tangga di apit oleh Aruna dan Fathiya.
"Jaya, itu calon istri kamu pilihan mama, bagaimana?" bisik Linda, sambil menepuk bahu Jaya.
Jaya memandang ke arah tangga, kedua matanya melotot, melihat siapa yang akan dia nikahi, kemudian dia memandang ke arah Deli dan suaminya.
"Ibu lupa kasih tau kamu kalau calon istri kamu punya saudara kembar, itu saudara kembarnya, namanya Deli, laki-laki yang bersamanya, adalah suaminya, mereka baru menikah," ucap Linda.
Saat yang sama juga Dena melotot melihat siapa yang di meja akad, dia adalah Angga.
"Dia calon suami aku?" Dena meremas tangan Aruna.
"Iya, dia calon suami pilihan papa kamu, namanya Angga Wijaya," jawab Aruna.
"Ya Tuhan, bagaimana nanti," ringis hati Dena. Melihat mantan kekasihnya dulu, yang duduk di tempat akad.
Dena berusaha santai dan pura-pura tidak mengenal Angga. Sedang Angga keringat dingin saat menyadari kesalahannya di masa lalu. Wanita yang selama ini dia lihat adalah dua orang yang berbeda dan dia salah sangka karena menyakiti salah satunya.
Akad nikah Dena dan Angga berjalan lancar. Semua orang lega, karena satu sentakan Angga bisa mengucap akad dengan lancar.
Setelah Dena salim padanya, Angga mendaratkan ciumannya di alis Dena. "Maafkan aku, selama ini aku salah orang," bisik Angga.
Mata Dena melotot mendengar kata-kata Angga.
"Nanti aku jelaskan, aku banyak berhutang maaf padamu," bisik Angga.
Acara resepsi terus berlanjut.
Satu per satu keluarga dan tamu undangan mulai meninggakan rumah Aan. Begitu juga Deli dan Akhmad yang juga kembali kerumah Akhmad. Sedang Fathiya dan Rayyan bersiap di kamar mereka, karena mereka harus kembali lagi ke pondok. Izin mereka cuma satu hari.
***
Di kamar Dena.
Karena di luar mulai hening, Angga memberanikan diri masuk kekamar Dena.
Darah Angga serasa mendidih, melihat Dena tanpa kerudungnya. Kekagumannya buyar, saat terbayang kesalahan masa lalunya. Perlahan Angga masuk ke kamar Dena, dan duduk di sisi tempat tidur. "Maafkan aku, selama ini aku mengira kamu membeli segala hal dengan uang dan kekuasaan papamu. Termasuk pendidikanmu, yang aku kira Deli yang aku kenal wanita idiot itu kamu, maafkan aku ... aku mengira kamu .…"
Angga ragu meneruskan perkataannya. Melihat wajah Dena, Angga mantap meneruskan ucapannya.
"Aku mengira kamu sekolah di dua tempat yang berbeda, saat kita SMA aku memutuskan kamu karena aku malu kamu sering tidak naik kelas, tapi kenyataannya kamu sekelas denganku, aku bingung dan marah …."
"Sebab itu kamu bilang aku idiot?" Dena memotong pembicaraan Angga.
Angga mengangguk.
"Maafkan aku, jujur aku sangat mencintai kamu, makanya aku tidak terima saat aku kira kamu menghalalkan segala cara untuk mimpi kamu, aku sakit hati. Kabar beredar kamu ke luar negri tapi yang aku lihat kamu masih sekolah," ringis Angga.
"Semenjak putus dengan kamu, aku memang kuliah keluar negri, maafkan aku karena aku tidak cerita punya saudara kembar, Deli tertunda pendidikannya karena ada hal lain, sebab itu dia tidak naik kelas." Dena mulai menceritakan sedikit kisah Deli.
"Maafkan aku, karena aku …."
"Aku juga minta maaf," ucap Dena memotong kata-kata Angga.
"Harus berterima kasih pada siapa aku, aku menikah dengan wanita yang aku tinggalkan karena salah faham," ringis Angga. Dia sangat bahagia juga sangat menyesal, karena salah sangka di masa lalu.
"Kita mulai dari awal," seru Dena. Dena bahagia, ternyata Angga meninggalkannya selama ini hanya karena salah faham.
Angga bangkit dari posisinya dan langsung memeluk Dena. "Mari kita mulai semua dari awal," bisik Angga.
***
Saat makan malam semua orang berkumpul di meja makan. Aruna dan Aan saling pandang. Karena tidak ada kecangungan antara Dena dan Angga padahal mereka baru bertemu di meja akad tadi siang.
"Dena, bagaimana pilihan papa?" Tanya Aan memecah kebisuan.
"Pilihan papa terbaik," jawab Dena sambil menahan senyumannya.
Aan masih tidak bisa percaya melihat Dena yang begitu santai dengan laki-laki pilihan dia. Perkiraan Aan, Dena dan Angga akan sama-sama canggung.
***
Karena urusan di kota selesai, pernikahan Dena juga selesai, Deli dan Akhmad kembali ke desa Kayu Alam. Mereka terkejut melihat jalan yang di lalui sedang melakukan perbaikan.
"Waw ...." Deli kagum melihat keadaan sekitar yang mereka lewati.
"Akhirnya desa ini akan kembali berkembang," ucap Akhmad.
Baru sampai di halaman rumah yang di tinggali Akhmad selama ini, kejutan kembali menyambut mereka, proyek pembangunan menyuguhi mata mereka.
"Waw, siapa yang melakukan pembangunan itu?" Deli terus memandangi mereka yang bekerja.
Deli dan Akhmad sama-sama membaca sebuah palkat yang ada.
"Apa? Papa?" Mereka berdua saling pandang melihat nama Aan yang tertera di sana.
***
Kehidupan desa terus berjalan normal. Pembangunan pesantren impian Deli dan Akhmad juga terus di kebut. Bukan cuma itu, Aan juga membangun sebuah rumah untuk putrinya tersebut.
Deli dan suaminya bahagia hidup di pedesaan.
Sedang Dena dan Angga merajut kembali hubungan SMA mereka yang kandas, namun pacaran mereka dalam ikatan pernikahan. Tanpa di ketahui kedua orang tua mereka kalau mereka pernah pacaran sebelumnya.
***
Desa Kayu Alam menemukan kembali ketenangan. Karena semua warga kompak kerja sama melindungi hutan dan pegunungan mereka. Perbedaan pun tidak menghalangi kerja sama mereka.
***
Deli dan Akhmad bermain air di sungai.
"Aku sudah datang memenuhi panggilan dari desa ini, akankah tugasku sudah lepas?" ucap Deli.
"Tugasmu pada desa ini sudah kamu tunaikan dan kamu selesaikan dengan indah, namun tugasmu pada pemuda ini baru kamu mulai," bisik Akhmad, dia memeluk Deli dari belakang.
"Desa ini membawa keberuntungan buatku," ucap Deli dan Akhmad bersamaan.
Menyadari ucapan mereka sama. Tawa keduanya pecah.
****
END
***
Papaiii sampai jumpa di karya yang lain, udah kepanjangan ini story.
Terima kasih semuanya atas dukungan dan partisipasinya dalam karya ini.
Sebuah karya tidaklah indah tanpa dukungan kalian semua.
Salam buat semuanya dan Terima kasih.
😎💃💃💃💃💃👋👋👋👋👋👋