
Jojo Fokos mengemudikan mobilnya, sesekali dia melirik Aruna.
"Hem ... dia cantik, berkerudung ... pasti dia wanita yang sangat tepat buat Suli," lirih hati Jojo.
"Aruna ... Apakah aku telah menolongmu?" Tanya Jojo.
"Iya ... bapak sudah sangat menolong saya, saya hutang budi sama bapak," jawab Aruna.
"Bolehkan aku minta pamrih atas pertolongan ku? Aku juga ingin kau menolongku," pinta Jojo.
Jojo menghentikan mobilnya. Membuat Aruna ketakutan. Jojo laki-laki, dia perempuan dan ini di tengah hutan.
"Aku punya anak laki-laki, dia anak semata wayang kami, istriku sekarang sakit, sangat berharap bisa melihat anak kami menikah secepatnya, sayang kami tidak bisa menemukan pasangan untuk anak kami, yang sesuai keinginannya. Bukan tidak ada, tapi dia selalu menolak, ada saja alasannya menolak setiap wanita yang kami jodohkan dengan nya. APAKAH KAU MAU MENJADI MENANTUKU JIKA ANAK KAMI MENYUKAIMU???" Tanya Jojo.
Mata Aruna terbelalak mendengar pertanyaan Jojo.
"Tat--tapi ... bapak tidak mengenal saya," jawab Aruna.
"Aku yakin kamu orang baik-baik," jawab Jojo.
"Aku akan mengantarmu pulang nanti, ku harap kamu bersedia membantuku, aku hanya ingin membahagiakan istriku di akhir hayatnya, semoga kamu juga bisa membantu anakku untuk membahagiakan ibunya di akhir hayatnya," lirih Jojo.
Aruna sedih membayangkan Jojo dan anaknya yang tidak bisa mengabulkan permintaan istrinya, takutnya ini adalah permintaan terakhir istri Jojo.
"Baiklah ... saya akan membayar hutang jasa bapak karena telah menolong saya," jawab Aruna pasrah.
Jojo tersenyum, dia segera melanjutkan kembali perjalanan kerumahnya. Mereka sampai di rumah jojo, ternyata rumah jojo lumayan besar, beberapa mobil berjejer parkir di area rumahnya.
"Bapak pekebun ...?" Tanya Aruna.
"Iya aku berkebun, lihat ... semua itu ladang ku," jawab Jojo menunjuk ke arah tanah lapang.
"Mari masuk," ajak Jojo.
Aruna melangkahkan kakinya menyusuri tiap ruangan di rumah Jojo, mengikuti langkah kaki pria yang menolongnya itu. Mereka sampai di sebuah kamar. Terlihat seorang wanita yang berbaring tampak tidak berdaya. Disisinya seorang pemuda duduk leseh di lantai, menyandarkan kepalanya disisi tempat tidur, di mana wanita itu terbaring.
"Suli ... ini adalah pilihan terakhir bapak, jika kamu menolak, bapak harap kamu bisa secepatnya membawa wanita pilihanmu sendiri kemari," ucap Jojo mengagetkan laki-laki yang tengah murung itu.
Laki-laki itu bangkit, dia menghapus air matanya. Dia menghadap bapaknya. Saat melihat wanita di samping bapaknya, matanya terbelalak.
"Aruna???" Kamu disini? Kamu tahu ustadz Ali dan kedua orang tua mu mencari mu!!!" Ucapnya.
"Kak Sibki ...? Kenapa kaka di sini?" Tanya Aruna yang juga tidak kalah terkejut.
"Ini rumah ku, itu ibuku, dan kenapa kamu bisa kenal bapak ku?" Tanya Sibki balik.
"Aku meculiknya dari majelis Ali. Aku kira dia kekasih mu," sahut Jojo berbohong, Aruna menatap ke Jojo, seakan bertanya kenapa anda bohong.
"Ah ... bapak ... kenapa bapak setega ini??? Bapak tahu semua orang cemas memikirkan Aruna," rintih Sibki, dia meraih ponsel yang ada di sakunya. Sibki menelpon ustazd Ali, setelah mengucap salam, Ali menjawab salam nya.
"Ustadz ... Aruna sudah ketemu, dia ada di desa saya ustadz," terang Sibki.
"Bagaimana bisa???" Tanya Ali.
Aruna memberi salam, Ali menjawab salamnya, dia juga merasa lega.
"Ustadz ... Aruna baik-baik saja, kirim salam buat semua," ucap Aruna. Dia masih bingung harus bicara apa lagi.
Telepon berakhir.
"Suli ... bagaimana dengan pilihan bapak?" Tanya Jojo. Jojo yakin anak nya tidak akan mampu menolak wanita yang dia bawa ini.
"Suli ...?" Gerutu Aruna bertanya sendiri.
"Sulaiman Sibki, itu namaku, Suli panggilan kesayangan buatku," terang Sibki.
Aruna tersenyum.
"Maaf bapak ... sepertinya aku tidak bisa menolak pilihan bapak, terserah bapak," ucap Sibki.
Jojo tersenyum sangat puas mendengar jawaban anak nya.
"Bu ... ayolah sadar bu ... anak kita bersedia menikah, apa ibu ngga mau melihat calon mantu kita bu ...." lirih Jojo.
"Kalau ibu sadar, Sibki mau nikah besok di mushalla ustadz Ali, Sibki akan minta ustadz Ali yang menikahkan, biar aja siri dulu bu ...." ucap Sibki.
"Percuma Sibki, sepertinya ibumu tidak bakal bangun," lirih Jojo pasrah.
"Maafin Suli pak, seharus nya Suli menikah sewaktu ibu masih sadar," lirih Sibki.
Aruna sedih melihat pemandangan ini.
Andai ibunya yang seperti itu, tentu dia juga rela melakukan apa saja demi mewujudkan ke inginan ibunya. Aruna merasa sedikit lega, setidaknya dia mengenal siapa laki-laki yang dimaksud untuk jadi suaminya. Aruna dan Sibki memang Akrab selagi berada di majelis.
Mereka sering jadi Fatner saat mendistribusikan bunga-bunga, hasil perkebunan majelis.
***********
Qiweh dan Salha kembali ke tempat pratek nya. Sesampai di tempat praktek, Qiweh panik, melihat kotak kayu yang terbuka, di mana dia menawan seorang anak jin itu, belatinya juga lepas dari kotak kayu itu, padahal belati itu adalah kuncinya.
Qiweh berlari ke dalam, ternyata Aruna juga kabur, dia keluar memastikan botol dimana ia mengurung anak siluman ular, botol itu juga sudah terbuka.
"Wanita bodoh!!!!" teriak Qiweh
"Ada apa mbah?" Salha khawatir.
"Kamu pergi dari sini sekarang, ini hadiah terakhir buatmu, sekarang pergi!" Teriak Qiweh, tanpa memberi kesempatan pada Salha untuk bertanya lagi.
Setelah menerima hadiah Qiweh, Salha berlari keluar dari gubuk itu. Salha berlari menuju rumah tinggal Qiweh.
Sesaat setelah kepergian Salha, putri siluman ular datang ke gubuk Qiweh, dan langsung membunuh dukun itu.
"Berani beraninya kau mengancam ku Qiweh," gerutu putri ular.
Sang Putri menghilang lagi, setelah membunuh Qiweh.