
Ali, Aan dan Sibki langsung menuju rumah Nurul.
"Assalamu'alaikum," salam Ali, Aan dan Sibki, bersamaan.
"Wa'alaikum salam," jawab Nurul dan wanita lainnya yang ada di rumah itu.
Melihat siapa yang datang, Ilham berlari menyambut Ali, di ikuti Nurul yang langsung salim pada suaminya. Si kembar tiga juga ikut berlari, tapi menuju Sibki.
"Papaa," ucap mereka bersamaan, menyambut Sibki.
"Itu papa juga," sela Sibki, jari telunjuknya menunjuk kearah Aan.
Aan tersenyum melihat bayi-bayinya dulu kini sudah besar.
"Ayo salim sama papa itu," pinta Sibki.
Rayyan, Dena dan Deli bersalaman dengan Aan, Aan menciumi mereka bergantian.
"Maafkan kami, karena kemarahan dan kesalah fahaman kami … kamu kehilangan masa indah menyaksikan pertumbuhan mereka dari bayi hingga sekarang," ucap Sibki.
Aan memukul pelan bahu Sibki. "Tenang, jangan begitu, aku akan minta ganti tayangan ulang pertumbuhan bayi kami nanti," sela Aan.
"Astaghfirullah … belum nikah sudah mikir nambah anak lagi." Sibki menggeleng.
Melihat Suminten dan Mastia menatap tajam ke arahnya Aan tersenyum kecil. "Maaf mak," ucap Aan lirih.
"Wajah kamu kenapa biru nak Aan?" tanya Suminten.
"Owh … ini, ini di cium anak umak," Aan mengusap rahangnya yang masih terasa nyeri.
"Astaghfirullah, Aruna melakukan hal itu?"Kedua mata Suminten melotot.
"Bukan Aruna, tapi ciuman dari tangan kakaknya Aruna." Aan melirik kearah Sibki.
"Assalamu'alaikum, aku pergi duluan, karena ada urusan." Sibki langsung kabur sebelum disiram semprotan kemarahan oleh Suminten dan Mastia.
"Wa'alaikum salam," jawab Ali.
"Papaa," rengek Rayyan.
"Sama papa ini mau," Aan berjongkok agar setara dengan Rayyan.
Rayyan tersenyum. Namun ketiga anaknya berlari menuju Suminten dan Mastia.
"Anak-anakmu belum akrab karena masih merasa asing denganmu, maafkan kami," ucap Mastia.
"Sudahlah bu, itu masa lalu, setidaknya saya masih di beri kesempatan untuk membina kembali hubungan kami. Sebelum itu kalian harus bertanggung jawab," Aan menatap semua orang.
"Tanggung jawab apa?" tanya Suminten.
"Tanggung jawab untuk membantu akad nikah kami," pinta Aan.
"Itu pasti nak Aan," jawab Mastia.
"Tapi sekarang, ayo bersiap," pinta Aan.
"Baiklah, ayo bantu bawa satu buntutmu ini," pinta Suminten.
Suminten memberikan Rayyan pada Aan, dia menggendong Deli dan Mastia menggendong Dena.
"Pak ustadz juga ...." Aan melirik ke arah Ali.
"Iya, ini kami mau bersiap," ucap Ali.
"Kami pamit dulu, assalamu'alaikum," salam Suminten dan Mastia.
"Wa'alaikum salam," jawab Nurul, Ali dan umi Fatma.
Suminten, Aan dan Mastia meninggalkan rumah Nurul, mereka segera menuju kontrakan Sibki.
"Alhamdulillah, akhirnya Aan mendapatkan kembali keluarganya," ucap Nurul.
"Almahamdulillah," ucap Ali.
"Umi juga senang, mereka yang pisah kok umi yang sakit," ucap umi Fatma.
"Ayo sudah kita bersiap," ajak Ali.
***
Di rumah kontrakan Sibki.
Setelah sampai rumah, Aan bermain bersama ketiga anaknya. Sedang Suminten dan Mastia tengah bersiap.
"Ayo Aruna, bersiap hari ini akad nikah mu dengan Aan," ucap Suminten.
"Kak Aan, tidak bisakah kalau kita menikah hanya di majelis saja? Aku malu jika ke KUA lagi, tidak kasiankah kamu pada petugas KUA?" tanya Aruna.
"Maksudmu?"
"Petugas KUA pasti sangat bosan melihat wajahku, karena aku lagi yang nikah," ringis Aruna.
"Tidak pakai tapi, sudah sana bersiap," perintah Aan.
"Aku tidak akan bisa bersiap sebelum curut mu itu rapi!" Aruna melemparkan baju Dena, Deli dan Rayyan ke arah Aan.
"Aku mau barsiap, kamu bantu mereka bersiap," pinta Aruna.
"Hei … aku tidak bisa!" Teriak Aan.
"Belajar! Jangan cuma bisa bikin aja!" Teriak Aruna dari dalam kamar.
Aan memandangi satu persatu baju yang Aruna lempar padanya.
"Sudah, sini biar umak yang bantu mereka bersiap, kamu pulang saja, kamu juga mau bersiap bukan?" ucap Suminten.
"Iya mak, Aan pamit mak, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam," jawab Suminten.
"Aruna, kamu keberatan nebeng sama ustadz Ali?" tanya Suminten.
"Tidak mak, kasian juga anak-anak kalau dalam mobil sesak." Aruna memandangi keadaan dalam mobil, yang mulai penuh.
"Baiklah, kalau begitu kami berangkat duluan," ucap Suminten
"Iya mak."
"Assalamu'alaikum," salam semuanya.
"Wa'alaikum salam," jawab Aruna.
Wahyu, Jojo, Mastia, Suminten bersama si kembar tiga langsung berangkat menuju KUA. Setelah mobil pergi meninggalkan area rumah Sibki, Arua langsung berjalan kaki menuju rumah ustadz Ali.
Sebuah mobil melaju pelan mengintili Aruna yang berjalan kaki seorang diri di pinggir jalan tersebut. Beberapa orang turun.
"Eemmmpppp!!!" Mulut Aruna langsung di bekap mereka, dan mereka langsung bawa masuk Aruna secara paksa kedalam mobil. Mobil itu melaju cepat meninggalkan area tersebut.
***
Di KUA.
Suminten, Mastia, Wahyu dan Jojo duduk di depan kantor KUA menanti kedatangan yang lain. Sedang si kembar asyik bermain.
"Asaalamu'alaikum," salam Aan.
"Wa'alaikumsalam," jawab semuanya.
"Mama si kembar mana?" Aan menyapu pandangan kesekitar halaman KUA.
"Mobil kami penuh, Aruna kami minta nebeng sama ustadz Ali," jawab Wahyu.
Mereka kembali menunggu kedatangan yang lainnya.
Tidak lama mobil ustadz Ali memasuki parkiran kantor KUA, senyum Aan mengambang melihat mobil ustadz Ali datang.
"Assalamu'alaikum," salam umi Fatma, Nurul dan Ali yang menggendong putranya Ilham.
"Wa'alaikum salam," jawab semuanya.
"Lho Aruna mana?" tanya Suminten.
"Aruna?" Nurul dan umi Fatma bingung dengan pertanyaan Suminten.
"Tadi dia mau nebeng sama kalian," terang Suminten.
"Tapi Aruna tidak datang ke rumah kami," jawab Ali.
"Ustadz, tolong jangan bercanda," ringis Aan.
"Kami tidak bercanda Aan, Aruna memang tidak datang ke rumah kami," jawab Ali.
"Telepon dia," pinta Ali.
"Biar aku saja," sela Aan sambil meraih ponselnya.
Berulang kali Aan melakukan panggilan kenomer Aruna, namun tidak ada juga jawaban.
"Ya Allah, apa dia membalasku," ringis Aan.
"Bagaimana ini?" Suminten panik.
"Saya akan telepon Ilyas dan Safta untuk memeriksa keadaan di majelis," ucap Ali. Ali langsung melakukan panggilan telepon pada Ilyas.
"Assalamu'alaikum ustadz," jawab Ilyas di seberang telepon.
"Wa'alaikum salam, Ilyas, tolong kamu periksa rumahku, rumah Sibki dan sungai, juga sisir area majelis, Aruna belum datang, kali saja dia masih di sana," pinta Ali.
"Baik ustadz," jawab Ilyas.
Setelah memberi dan menjawab Salam, panggilan telepon ber akhir.
"Tenang, ini mereka mencari Aruna di sekitar majelis." Ali berusaha menenangkan mereka yang mulai terlihat panik.
Semua orang yang tadi santai menjadi cemas.
"Seperti inikah perasaan kalian tadi malam?" Aan memandangi semua orang.
"Kami memang cemas dan khawatir Aan, tapi sekarang lebih! Aku takut kalau Aruna--"
"Umak, jangan berpikir yang tidak-tidak," Wahyu memotong kata-kata Suminten.
Tidak lama ponsel Ali berdering.
"Assalamu'alaikum Ilyas,"
"Wa'alaikum salam ustadz, maaf ustadz semua tempat sudah kami cari, tapi kami tidak menemukan Aruna," terang Ilyas di seberang telepon sana.
"Terima kasih Ilyas, assalamu'alaikum," salam Ali.
"Wa'alaikum salam," jawab Ilyas.
Panggilan telepon ber akhir.
"Aruna tidak ada di majelis," ucap Ali.
Suminten dan Mastia langsung menangkap di kembar yang sedari tadi asyik bermain.
"Apakah Aruna di culik?" ringis Suminten sambil memeluk Deli.
"Ada apa ini? Kenapa kalian masih di luar?" tanya Sibki yang baru datang.
****
Bersambung.
****