Titipan Guna-Guna

Titipan Guna-Guna
Bab 143 Extra Part Resepsi Sibki dan Manda


Waktu terus berlalu, semua anggota keluarga sudah cantik. Apalagi si kembar. Dena dan Deli mengenakan gaun yang sama dengan Aruna, sedang Rayyan mengenakan setelan jas yang sama dengan Aan.


"Ya Allah manisnya cucu-cucuku," Suminten menciumi ketiga cucunya bergantian.


"Mba, kalian ikut mobil bapak saja, anak-anak di mobil kami sama umak dan bapak juga," seru Aruna.


"Terus Sibki?" Tanya Mastia.


"Biar mereka melancarkan rayuan oh bulan oh bintang selama perjalanan," ucap Aan.


Sibki dan Manda keluar dari rumah bergandengan.


"Nah itu dia pengantin kita," seru Aan.


Setelah semua masuk ke mobil masing-masing, mereka segera menuju gedung tempat acara akan berlangsung.


Di mobil Sibki.


Sepanjang perjalanan Sibki menggenggam tangan Manda. Sedang Manda hanya diam.


"Terima kasih karena mau menerimaku," ucap Sibki.


"Aku yang terima kasih, karena aku sakit, aku bisa melihat dengan mataku seberapa besar cinta kakak buatku, melihat perjuangan kakak menjagaku dan merawatku, aku jatuh cinta pada kakak." Manda membuang wajahnya ke arah lain.


"Aku bahagia."


"Aku juga, terima kasih," ucap Manda.


Sekian lama berkendara akhirnya mereka sampai di tempat acara. Disana semua orang sudah berkumpul menyambut pengantin yang baru sampai. Sibki dan Manda berjalan diatas karpet yang di penuhi taburan kelopak bunga mawar merah dan putih.


Suara riuh sambutan menyoraki Sibki dan Manda semakin membuat suasana kian semarak. Semua teman-teman Sibki di majelis ustadz Ali paling nyaring menyoraki.


Acara berlangsung meriah. Sibki dan Manda bersanding di pelaminan. Senyuman terus terukir diwajah kedua mempelai.



Semua tamu undangan memenuhi ruang acara resepsi. Tidak henti-hentinya ucapan selamat menghujani sepasang pengantin itu.


Sofyan dan Tiar berpelukan, tidak menyangka melihat Manda yang mereka sayangi bisa sebahagia ini. Tidak lupa Sofyan memfoto pengantin untuk diperlihatkan pada bapaknya nanti.


Ditengah acara yang masih berlangsung. Dengan bangganya Aan naik panggung dan meraih mik.


"Assalamu alaikum semuanya,"


"Wa alaikum salam," gemuruh suara sahutan salam dari para undangan yang hadir. Semua mata fokus ke arah panggung.


Aruna berjalan cepat kearah panggung. "Kakak apa-apaan? Turun!" pinta Aruna.


"Virgoun, Surat Cinta Untuk Starla, ku persembahkan untuk istriku tercinta, bidadari sorga yang Allah tampakkan di dunia buatku," ucap Aan.


Suara tepukan tangan menggemuruh menyemangati Aan.


Aan mulai bernyanyi sambil Memandangi Aruna.


🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶


Kutuliskan kenangan tentang


Caraku menemukan dirimu


Tentang apa yang membuatku mudah


Berikan hatiku padamu


Takkan habis sejuta lagu


Untuk menceritakan cantikmu


'Kan teramat panjang puisi


'Tuk menyuratkan cinta ini


Telah habis sudah cinta ini


Tak lagi tersisa untuk dunia


Karena telah kuhabiskan


Sisa cintaku hanya untukmu


Aku pernah berfikir tentang


Hidupku tanpa ada dirimu


Dapatkah lebih indah dari


Yang kujalani sampai kini


Aku selalu bermimpi tentang


Indah hari tua bersamamu


Tetap cantik rambut panjangmu


Meskipun nanti tak hitam lagi


Dan telah habis sudah cinta ini


Tak lagi tersisa untuk dunia


Karena telah kuhabiskan


*Sisa cintaku hanya untukm*u


Untukmu hidup dan matiku


Bila musim berganti


Sampai waktu terhenti


Walau dunia membenci


'Ku 'kan tetap di sini


*Bila habis sudah waktu ini (Bila musim berganti)


Tak lagi berpijak pada dunia (Sampai waktu berhenti)


Telah aku habiskan (Walau dunia membenci)


Sisa hidupku hanya untukmu ('Ku 'kan tetap di sini)


Telah habis sudah cinta ini (Bila musim berganti*)


Tak lagi tersisa untuk dunia (Sampai waktu terhenti)


Karena telah kuhabiskan (Walau dunia membenci)


Sisa cintaku hanya untukmu ('Ku 'kan tetap di sini)


Karena telah kuhabiskan


Sisa cintaku hanya untukmu


(Aan sambil menunjuk ke arah Aruna)


🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶


Tidak terasa air mata Aruna menetas, sepanjang Aan bernyanyi, dia teringat perjuangan cinta mereka juga ujian pernikahan yang membuatnya menikah lagi dengan orang lain.


Suara tepukan tangan kembali menggemuruh saat Aan selesai bernyanyi.


Aan lansung turun dari panggung menghampiri Aruna.


Tanpa malu Aruna langsung memeluk suaminya ditengah orang banyak. Suasana semakin riuh melihat keromantisan pasangan suami istri tersebut.


"Terima kasih atas semuanya." air mata Aruna masih menetes.


"Ini tidak boleh keluar, aku tidak suka." Aan mengusap lembut air mata istrinya dengan jemarinya.


"Kenapa ada orang sebaik kakak, aku pernah melukai kakak, tapi cinta kakak tidak berkurang sedikitpun walau aku--"


"Papa ... lagi ...." ketiga anak kecil merusak keromantisan barusan.


"Lagi apa sayang?" Aan berjongkok memposisikan dirinya agar sama dengan ketiga anaknya.


"Lagi nyanyi," pinta Deli.


"Kita nyanyinya di rumah biar sama mama juga." Aan menciumi ketiga anaknya bergatian.


"Kalah romantis pengantin disana karena pengantin di sini," seru Ali.


"Kak Nurul ...." Aruna langsung memeluk Nurul.


"Tidak ada yang bisa mengalahkan keromantisan kami pak ustadz," seru Aan bangga.


Semua orang larut dalam kebahagiaan.


***


Di Rumah Sakit.


Seseorang komat-kamit didepan ruangan Elna. Setelah meniup kesegala penjuru arah, orang itu perlahan masuk keruangan Elna.


Elna merasa aneh, dia perlahan membuka matanya.


"Siapa kamu?" Teriak Elna.


Orang itu menyerang Elna.


"Tolong!!" Teriak Elna.


Karena dinding goib yang sudah dipersiapkan orang itu sebelum melakukan aksinya membuat semua orang disekitar kamar Elna tidak bisa mendengar teriakan Elna.


Di tempat resepsi menggemuruh suara kebahagiaan semua orang. Namun di Rumah Sakit teriakan Elna meminta tolong. Namun tidak seorang pun yang mendengar.


***


Di tempat resepsi.


"Ada apa?" Ali melihat Nurul yang tiba-tiba berubah.


"Aku merasakan firasat tidak enak," jawab Nurul.


"Umi sama Ilham bersama kita, apa yang mengganjal perasaanmu?"


"Elna," jawab Nurul.


Ali melihat arlojinya, "Sekarang sudah lewat jam 10, waktu kunjungan di Rumah Sakit sudah habis, besok pagi kita tengok dia,"


Nurul mengangguk.


"Kita pulang sekarang, kasian Ilham tidak biasa tidur malam," seru Ali.


Ali sekeluarga pamit pulang pada semuanya. Mereka langsung pulang ke rumah. Sedang di gedung itu acara terus berlangsung.


***


Jam menunjukan jam 12 malam, akhirnya mereka semua sampai ke rumah. Semua orang menginap di rumah Jojo. Kecuali Suminten dan Wahyu, mereka berdua pulang kerumah tinggal mereka.


Setelah menidurkan ketiga anaknya, Aruna dan Aan masuk ke kamar mereka.


Sedang yang lain sudah lama masuk ke kamar mereka.


***


Di kamar pengantin.


"Sudah siap?" Tanya Sibki.


Manda masih melipat mukenanya, mereka baru selesai menunaikan sholat sunnah berjamaah.


"Apalagi yang kakak tunggu," Manda menunduk malu.


"Masya Allah ...." ringis Sibki.


Akhirnya, setelah lama menikah mereka baru bisa menunaikan ibadah malam pengantin mereka.


***


Pagi hari di kamar Sibki.


Wajah Manda nampak menahan sesuatu.


"Kenapa?" Sibki panik.


"Sakit ...." ringis Manda.


"Astaghfirullah, apa itu kembali?" Sibki langsung membaringkan Manda dan menyerobot melihat milik istrinya.


"Tidak kenapa-napa mulus," ucap Sibki setelah melihat milik istrinya.


Manda bangkit mendorong Sibki, "kakak kira apa?"


"Aku kira itu kembali lagi," wajah Sibki panik.


"Sakit bukan karena itu, tapi karena kedatangan punya kakak," rengek Manda.


"Owh ...." senyum Sibki mengambang.


"Bagaimana ini, rasanya aku tidak bisa berjalan bebas, serasa ...."


"Kita ulangi lagi, biar kamu terbiasa dengan kedatanganku," goda Sibki.


"Ini sudah pagi, semua orang pasti menunggu kita," rengek Manda.


"Mereka semua pernah muda, pasti faham," goda Sibki. Dia terus mendalami kegiatan awal.


"Whoy!!! Pengantin baru! Siaran ulangnya bisa nanti!" teriak Aan dari arah luar.


"Tuh kan ...." Manda mendorong Sibki.


"Aan sialan!!!" Gerutu Sibki. Sibki bangkit dan menuju pintu.


"Apa?" Wajah Sibki cemberut.


"Sarapan bersama, aku mau kerja," jawab Aan yang langsung berlalu meninggalkan Sibki.


Sibki kembali ke kamar.


"Ada apa?" tanya Manda.


"Sarapan," jawab Sibki.


Wajah Manda berubah memerah.


"Kenapa?" Tanya Sibki.


"Aku malu, aku belum bisa luwes berjalan," ringis Manda.


"Baiklah, kita akan sarapan disini, tunggu aku ambil makanan buat kita," Sibki keluar dari kamar menuju ruang makan.


Di sana semua orang sudah berkumpul.


"Bu, boleh kami sarapan di kamar saja?" tanya Sibki.


Semua orang saling pandang.


"Izinkan saja bu, pasti Manda tidak bisa jalan, anak ibu ini tidak bisa bermain secara halus," ledek Aan.


Mastia menggeleng, dia menyusun makanan di nampan buat Sibki dan Manda.


Semua orang diam dan mulai makan, karena yang di tunggu-tunggu keluar hanya mengambil makanan saja.


***


Setelah selesai sarapan Aan langsung berangkat kerja, sedang yang lain gotong royong membongkar tenda bekas syukuran sederhana yang dilaksanakan di rumah Jojo sore kemaren.


Sedang Manda berusaha latihan berjalan agar luwes. Merasa malu jika berjalan aneh seperti ini. Karena hanya akan jadi bahan candaan setiap orang. Apalagi kalau Aan yang meledek.