
Wanita itu kembali mendatangi dukun wanita yang sebelumnya dia datangi. Dia menangis menumpahkan rasa sakit yang menggerogoti hatinya di hadapan dukun itu, karena usahanya sia-sia.
"Unak ... aku mau wanita itu mati!!!" pinta wanita itu.
"Mudah ... berapa mahar mu?" Tanya Unak
Wanita itu memberikan semua perhiasan yang dia bawa ke dukun itu.
"Hem ... dia akan mati secepatnya ... jika tidak ada yang menolong nya," seru unak.
Sang dukun mulai ber aksi.
Dan di belahan lain ...
"Prankk ..."
Tidak sengaja Maya melepaskan gelas yang dia pegang, hingga membuat Andika panik dan terkejut, melihat expresi Maya yang nampak kesakitan. Tanpa pikir panjang Andika segera membawa Maya ke rumah sakit terdekat.
Sampai di rumah sakit, para dokter dan perawat angkat tangan. Karena memang tidak ada penyakit yang terdeteksi dengan alat alat medis mereka, setelah beberapa jam memeriksa Maya.
Andika putus asa, melihat Maya yang begitu kesakitan. Namun dia tidak dapat berbuat apa-apa untuk membantu Maya. Andika menelpon Nurul, mengabari keadaan Maya. Setelah mendapat kabar, Nurul Fatma dan Salha segera menuju rumah sakit untuk melihat ke adaan Maya.
***
"Apa yang terjadi dengan Maya?" Tanya Fatma.
"Tidak tahu umi ... cuma tiba-tiba dia kesakitan, parahnya lagi dokter tidak menemukan penyakitnya," lirih Andika.
"Terus apa yang akan kita lakukan?" Lirih Nurul.
"Aku akan tetap merawat nya di sini ... apalagi yang aku bisa," jawab Andika.
Setelah lama di sana, Nurul,Fatma dan Salha pulang.
Sudah 3 minggu Maya di rawat di rumah sakit, kondisinya pun semakin memprihatinkan. Selang infus dan selang lainnya yang terpasang di lubang hidung Maya, untuk memasukan nutrisi pada tubuhnya. Hanya ini yang bisa Andika lakukan sambil berdo'a untuk kesembuhan Maya.
Sesekali Nurul dan Salha datang menjenguk.
Membaca surah surah Al Qur'an di samping Maya yang berbaring tidak sadarkan diri.
"Kak Aan ... apa sebaiknya Maya sambil di Ruqyah, aku hanya heran, kata dokter tidak ada penyakit, tapi lihat kondisi Maya ..." lirih Nurul sambil memandang Maya yang tidak berdaya terbaring di ranjang rumah sakit.
Andika tidak merespon ucapan Nurul, dia hanya memandangi wanita yang sangat ia cinta tengah tidak berdaya. Terbaring di tempat itu berminggu minggu.
Setelah pulang dari rumah sakit, Nurul menemui Ali, dan menceritakan keadaan Maya. Ali yang baru mendengar keadaan Maya segera menjenguk Maya.
"Mau apa kamu ...?" Seru Andika melihat kedatangan Ali.
"Maaf ... aku cuma menjenguknya," jawab Ali.
"Heh ... bilang saja kamu ingin merebutnya dariku," ucap Andika.
"Astaghfirullah hal A'dziim ... Aku sudah melepaskan Maya untukmu, saat kulihat cinta Maya begitu besar padamu," jawab Ali.
Sedang Andika hanya diam.
Ali mulai memandangi Maya yang terbujur di ranjang rumah sakit.
"Astaghfirullah ... kejam sekali ... Maya kena guna-guna," seru Ali.
"Jangan bercanda kamu ...!" bentak Andika.
"Pinjam tangan kiri kamu ... tangan kanan kamu usap bagian dada Maya, setelah aku selesai ... lihat bagian itu," ucap Ali.
Ali melakukan Aksinya.
Setelah selesai Ali menghadap Arah lain, karena Andika akan membuka baju Maya.
"Ya ALLAH ..." pekik Andika melihat bagian dada Maya.
"Tutup lagi ... aku ingin berbalik," seru Ali.
Andika menutup kembali baju Maya. Dia berusaha menahan tangisnya, setelah melihat barusan, namun air matanya tetap bercucuran di pipinya. terdengar isak tangis Andika.
"Saat penguburan Kiyai, aku melihat ada sedikit hal yang aneh pada Maya, tapi kamu tidak percaya," kata Ali sambil menepuk pundak Andika.
Andika hanya semakin menangis menyesal mencurigai Ali
"Pakaikan ini pada kedua tangan Maya, dan mari kita bawa pulang Maya ke majelis," ucap Ali menyerahkan 2 gelak giok pada Andika.
Setelah memakaikan gelang giok itu, Andika mengurus surat kepulangan Maya, dan menyewa ambulan untuk mengantar mereka menuju majelis.
Sesampai Majelis, Maya segera di bawa keruangan Ruqyah.
"Panggil Nurul, bilang aku memerlukannya," ucap Ali pada salah satu muridnya.
Tidak lama Nurul datang dan mengucapkan salam, semua orang pun menjawab salam Nurul.
"Nurul ... tolong kamu wudhu' kan Maya, kita akan meruqyah Maya bersama," pinta Ali.
Nurul segera mengwudhukan Maya, seperti yang biasa di lakukan oleh yang memandikan jenadzah mewudhu kan mayit. Setelah selesai, Nurul memakaikan mukena pada Maya yang terbujur seperti Mayat itu.
Setelah semua siap, Ali pun memulai Ruqyah nya.
Ali memakai sarung tangan Karetnya, karena dia akan menyentuh Maya.
"Tolong siapkan apa saja untuk menanai muntahan Maya," pinta Ali.
Segera ember hitam di dekatkan dengan Maya yang masih tidak sadarkan Diri.
Ali pun mulai menyentuh kepala Maya dan membaca bermacam ayat-ayat dan lainnya.
Maya yang tadi tak sadar mulai berontak dan teriak kencang, Mata Andika terbelalak melihat expresi Maya. Puncak teriakan Maya, Maya muntah mengeluarkan bermacam dari batu, beling dan paku.
"Dia tidak bersalah pada siapapun kenapa kalian mengganggu nya," teriak Ali.
Maya malah tertawa terbahak bahak,
"Dia harus mati!!!" jawab Maya yang di bawah pengaruh jin.
Ali berusaha mengeluarkan jin yang menguasai tubuh Maya. Berjibaku cukup lama, akhir nya Ali mampu membuat Maya tersadar, karena hanya 1 dari jin yang mengganggu bisa di keluarkan.
Ali kecewa, tidak bisa menolong Maya.
Karena terlalu lama guna-guna itu di dalam tubuh Maya dan semua ini sudah terlambat.