
Sekitar jam 2 dini hari Salha tersadar dari pingsannya.
"Aku harus meng akhiri semua ini," lirih Salha,
Ia berjalan ke arah meja, mengambil pulpen dan buku, untuk menulis surat perminta maafan kepada semua orang. Dan menuliskan kata kata maaf, atas perbuatan nya pada Maya dan mengakui kalau diri nya lah yg menyantet Maya, karena dia sangat mencintai Aan.
Dan mengakui, kalau dia di teror oleh bayangan Maya, yang menuntutnya untuk meminta maaf. Dia bubuhkan tanda tangan di bawah surat itu. Salha menelpon seseorang, untuk menjemput nya di jalan utama. Dia segera memasukan baju-bajunya kedalam tas travel yang lumayan besar, semua pakaiannya dia bawa habis tidak tersisa satupun. Setelah selesai Salha melihat lihat keadaan, ternyata semua orang masih tidur, menurutnya.
Salha meletakkan surat yang dia tulis di atas meja tamu, dia tindih dengan vas bunga agar tidak melayang. Setelah itu dia segera pergi dari rumah Nurul. Orang yang ditelepon Salha sudah siap menunggu di jalan utama depan komplek majelis.
*
Adzan subuh berkumandang, Ali dan Aan segera beranjak menuju mushalla. Ali merasa aneh, ada kertas di bawah vas bunga di meja tamu. Ali meraih nya.
"Dia sudah mengakui nya," lirih Ali.
Ali menyerahkan selembar kertas itu pada Aan, Aan membaca kertas itu dengan cermat.
"Kita sholat subuh dulu, nanti bahas itu," seru Ali.
Aan meletakan kembali kertas itu di meja dan menindih kembali dengan vas bunga. Mereka segera berjalan menuju mushalla.
Selesai sholat subuh, Nurul segera ke dapur untuk memasak. Setelah semua matang, Nurul menata di meja makan. Dua gelas kopi juga sudah ia seduh untuk Ali dan Aan.
Mendengar suara langkah kaki dari arah luar, Nurul segera mengangkat nampan yang berisi dua gelas kopi tersebut, untuk suaminya dan Aan.
"Assalamu alaikum," sapa Ali.
"Wa alaikum salam Aa," jawab Nurul,
Nurul meletakan dua gelas kopi di meja tamu, dan dia langsung salim pada suaminya.
"Panggilin umi ya ... kita bicara sama sama disini," pinta Ali pada Nurul.
Nurul mengangguk, dia segera melangkahkan kakinya menuju kamar umi Fatma.
*
Setelah semua berkumpul, Ali mulai menceritakan pengakuan Salha lewat surat yang ditulis Salha. Dia memperlihatkan surat yang Salha tinggalkan.
"Apa kalian mau memaafkan Salha? Semoga maaf dari kita semua bisa membantunya memperbaiki diri," lirih Ali.
"Maaf kan saja ... bersikeras tidak memaafkan Salha tidak akan membuat Maya hidup kembali," ucap Aan lemah.
"Aan benar, hati umi sakiiit! Mengetahui Salha pelakunya, tapi membenci Salha hanya nambah dosa, semoga Salha benar-benar taubat dan dapat petunjuk," lirih Fatma.
Sedang Nurul hanya diam, dia sungguh tidak menyangka, kalau Salha yang disayangi Maya, tega berbuat sekeji itu pada Maya.
***
Di desa Qiweh.
"Hei Salha ... sepertinya jin yang menerormu sudah hilang, kau apakan dia," lirih Qiweh
"Aku mengakui kesalahanku dan meminta maaf lewat surat," sahut Salha.
"Pantas jin itu hilang seketika," sahut Qiweh, dia tertawa terbahak-bahak.
"Mbah Qiweh ... dimana Aruna?" Tanya Salha.
"Ada, aku hanya menginginkan penghuni kewanitaannya, aku tidak memerlukan Aruna, setelah dia sadar aku akan membuangnya nanti," jawab Qiweh.
"Aruna sembuh???" Tanya Salha.
"Tadi malam aku mengeluarkan penunggu liangnya itu, yah ... mungkin dia sembuh," sahut Qiweh.
"Mbah mau apakan siluman penunggu kewanitaan Aruna itu?" Tanya Salha.
"Aku pakai sebagai pemanggil inang nya, agar aku dapat kekuatan dari inang nya, penunggu liang Aruna itu anak dari siluman ular yang berkuasa di pegunungan Naju. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa berurusan dengan putri siluman ular itu," terang Qiweh.
"Bagaimana jika putri siluman ular menolak memberi kesaktian padamu mbah?" Tanya Salha.
"Aku akan membunuh anaknya, apa susah nya," sahut Qiweh.
Qiweh memperlihat kan botol kecil yang berisi anak dari siluman ular yang selama ini bersemayam di tubuh Aruna. Sama persis saat seorang wanita memasukan ke pada Aruna, dan menghanyutkan Aruna di sungai desa, hingga dia ditolong Victor.
Qiweh memulai semedi. Dia berhasil bertemu dengan putri ular di alam bawah sana, yaitu alam gaibnya.
"Putri ... aku berhasil mengeluarkan Anakmu dari tubuh seorang gadis. Aku ingin jadi mitramu putri dan Anak mu lah penghubung kita," seru Qiweh dengan percaya diri.
Putri ular nampak marah,
"Jika aku tidak mau bekerja sama dengan mu?" Jawab putri siluman Ular.
"Mudah ... aku akan bunuh Anak mu," seru Qiweh.
"Lakukan apa maumu! Aku tidak akan memberikan kesaktian padamu sedikitpun!" jawab putri ular.
Qiweh kembali ke jasadnya dengan perasaan kesal.
"Sial!!! Putri siluman ular itu tidak mau memberiku kekuatan, sepertinya aku harus membunuh anak nya," gerutu Qiweh sangat marah usahanya sia-sia.
Salha hanya diam, tidak berani berkomentar apapun, dia takut melihat raut kekesalan di wajah Qiweh.