Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bern 99


Jangan lupa mampir ke lapaknya Karl dan Ilona ya



***


"Sial! Kenapa bisa ketahuan?!"


Kimberly langsung panik setelah diberitahu anak buahnya kalau seseorang telah menyadap tempat persembunyian mereka. Ini gawat. Kim yakin sekali kalau orang tersebut adalah Karl, saudara kembar Bern yang memiliki otak setengah tidak waras.


"Ini gawat. Aku harus segera pergi dari sini sebelum Karl dan yang lainnya tiba. Rencanaku untuk memiliki Bern bisa gagal jika sampai ketahuan!" ujar Kim sembari menggigit ujung jari tangannya. Dia berjalan mondar-mandir sambil sesekali mer*mas rambut. "Kenapa cepat sekali sih ketahuannya. Seharusnya kan sekarang aku tengah menikmati kebahagiaan setelah kematian Renata dan putranya. Argghhhh!"


Setelah Kimberly mendapat kabar kalau bom berhasil terkirim ke kediaman keluarga Goh, dia mengajak sebagian anak buahnya untuk bersembunyi di gudang rahasia. Tujuannya satu. Untuk menghindari kecurigaan Bern atas kematian Renata dan anaknya. Kim tahu kalau Bern memiliki suatu dukungan yang tak terlihat. Jadi untuk menghindari semua itu, dia membuat drama seolah dirinya tengah berada di luar negeri. Khawatir terdeteksi, Kim juga memerintahkan anak buahnya agar mematikan semua alat yang terhubung dengan dunia luar. Sayangnya sekarang dia harus menerima kenyataan mengerikan di mana lokasi persembunyian ini tengah diburu oleh seseorang. Dan seseorang tersebut merupakan orang paling berbahaya di keluarga Ma.


"Tahu begini tadi aku tidak memutuskan kontak dengan alat penyadap yang tertanam di tubuh pelayan itu. Bodoh sekali kau, Kim. Jadi bingung kan kau sekarang!" ucap Kim mengutuki kebodohannya sendiri.


"Nona, orangnya sudah sampai di sini. Apa yang harus kita lakukan?"


Kimberly menelan ludah. Bagaimana ini? Walaupun gudang ini terletak di bawah tanah, bukan hal yang sulit untuk seorang Karl menemukan keberadaan mereka. Pria itu sinting. Takutnya malah akan mengubur hidup-hidup mereka semua di tempat ini.


(Tenang Kim, tenang. Pikirkan dengan tenang cara untuk melarikan diri dari tempat ini. Sebisa mungkin kau harus berusaha menghindari Karl. Dengan begitu kau tidak akan dicurigai oleh mereka. Terutama Bern. Cepat berpikir!)


Baru juga Kim selesai membatin, dari arah penutup gudang terdengar suara hentakan kaki yang berulang-ulang. Semua orang menjadi panik, saling lirik sambil menyiagakan senjata di tangan masing-masing.


"Apa ada jalan rahasia di gudang ini?" tanya Kim resah. Keringat tampak membanjir di wajahnya.


"Tidak ada, Nona. Adapun Nona tidak akan mungkin selamat jika melewatinya," jawab salah satu penjaga.


"Maksudnya bagaimana?"


"Ada satu pintu yang terhubung dengan terowongan menuju air terjun. Namun, jika sampai terjatuh bisa dipastikan tulang di badan akan hancur dan patah. Di bawah air terjun itu ada ribuan bebatuan terjal yang siap mencabut nyawa siapapun yang terjatuh ke sana. Jadi saya sarankan lebih baik Nona tidak memilih jalan itu!"


"Sial!" umpat Kim. Dia lalu mendongak, semakin panik saat sebuah suara terdengar dari sana.


"Keluarlah. Mari kita bicarakan masalah ini dengan cara baik-baik!"


Karl dengan santai menghisap cerutunya sembari memperhatikan anak buahnya yang tengah membuka pintu besi. Seperti yang Karl duga kalau kiriman bom yang ditujukan untuk Justin dan Renata tidak sesederhana yang dilihat, kini Karl telah menemukan dalang yang sebenarnya. Siapa yang akan menyangka kalau pelakunya adalah seorang wanita yang adalah tetangga Bern. Kimberly. Wanita tak berotak yang diam-diam menginginkan cinta saudaranya. Cihhhh.


"Tuan Muda, pintu ini sepertinya dikunci menggunakan sidik jari. Akan sulit untuk kita bisa membukanya," lapor salah satu penjaga.


"Ledakkan saja!" perintah Karl.


"Jika orang yang di dalam mmeninggal bagaimana"


"Sekalian jadikan tempat ini sebagai kuburan mereka."


"Baik!"


Adalah hal yang sangat fatal mencari masalah dengan keluarga Ma. Dan harusnya Kimberly tidak nekad melakukan hal ini. Sayang sekali. Hanya karena buta cinta, dia rela mempertaruhkan segalanya. Padahal di luaran sana ada banyak sekali pria yang mungkin bisa sedikit lebih baik dari Bern. Namun apa mau di kata. Nasi telah menjadi bubur. Menyesal pun sudah tiada guna lagi sekarang.


"Kenapa mereka diam? Apa mereka sudah pergi?" tanya Kimberly heran saat tak lagi mendengar suara orang ingin membuka pintu.


"Jangan senang dulu, Nona. Sepertinya mereka tahu kalau pintu itu baru bisa dibuka memakai sidik jari tangan Anda. Waspadalah. Kami yakin mereka pasti sedang merencanakan sesuatu di luar!"


"Ya Tuhan, bagaimana ini. Aku tidak mau Karl sampai menangkapku. Cepat pikirkan cara untuk melarikan diri dari sini. Aku belum mau mati!"


"Tenang dulu, Nona. Kami akan mengusahakan sebisa mungkin agar Anda bisa keluar dengan selamat dari tempat ini. Tolong jangan bicara yang tidak-tidak!"


"Bagaimana mungkin aku bisa tenang kalau ....


Duaarrrr


Kim dan anak buahnya sama-sama terlonjak kaget saat mendengar suara ledakan yang cukup kuat dari arah pintu. Segera Kim diseret menjauh untuk menghindari reruntuhan dari atas.


Hening. Tidak ada suara apapun dari atas begitu pintu berhasil dibuka. Karl yang masih setia dengan cerutunya hanya diam saja menyaksikan debu-debu beterbangan di depan mata. Konyol. Dengan keamanan seminim ini berani sekali Kim mencari gara-gara dengan keluarganya. Membuang waktu saja.


"Tuan Muda,"


"Baik, Tuan Muda."


Seorang penjaga melongokkan kepalanya ke bawah untuk memberitahu semua orang yang ada di sana. Tak lupa juga dia menyertakan ancaman di mana bom akan langsung dilemparkan jika mereka menolak untuk keluar.


"Bagaimana ini? Aku tidak mau mati konyol di sini," panik Kimberly dengan wajah yang sudah pucat pasi. Tangannya yang sedang memegang senjata sampai gemetar hebat mendengar ancaman yang begitu mengerikan.


"Tidak ada jalan lain selain menyerahkan diri, Nona. Karena kabur pun kita semua hanya akan mati sia-sia," sahut salah satu penjaga pasrah. Ibarat kata, maju mati mundur pun mati. Tidak ada pilihan.


"Lalu bagaimana dengan Bern? Dia pasti akan sangat membenciku jika tahu akulah dalang dibalik pengiriman bom ke rumah Renata!"


"Nona, sekarang bukan saat yang tepat untuk memikirkan Tuan Bern. Lebih baik kita fokus memikirkan alasan agar mereka tidak menghabisi kita. Tuan Muda Karl adalah orang yang sangat kejam. Tidak ada jaminan kita masih bisa bernafas jika tidak ada alasan tepat yang bisa meyakinkannya!"


"Astaga!"


Saat Kimberly sedang kepanikan, suara lantang seseorang kembali membuat mereka menelan ludah. Akhirnya dengan sangat terpaksa Kim dan anak buahnya menjawab kalau mereka bersedia untuk keluar dengan syarat tidak ada pembunuhan. Karl yang mendengar syarat tersebut hanya tertawa saja. Dia lalu menganggukkan kepala, memberi kode kalau dirinya setuju untuk tidak membunuh. Namun, hanya dirinya yang setuju, tidak dengan Bern dan anak buahnya.


Bertepatan dengan Kim yang keluar dari tempat persembunyian, Bern sampai di sana. Raut wajahnya terlihat bengis sekali. Kedua matanya memerah, sedang di tangannya telah tergenggam senjata api yang siap untuk ditembakkan.


"B-Bern!" ucap Kim lirih. Kakinya langsung lemas saat mata mereka tak sengaja saling menatap.


"Kalau saja aku tahu kau akan membahayakan nyawa anak dan calon istriku, sejak di hari pertama kita bertemu aku akan langsung menghabisimu. Dasar iblis!" teriak Bern penuh emosi.


"J-jangan salah paham dulu, Bern. Aku ... aku sama sekali tak bermaksud menyakiti Renata dan anak kalian. Aku hanya ... hanya ....


"Hanya apa? HAH?"


Karl cepat menahan Bern yang ingin menodongkan senjata ke arah Kim. Dia lalu menggelengkan kepala, tak mengizinkan saudaranya untuk membunuh wanita ini.


"Jangan menahanku!"


"Tidak, tentu saja tidak. Hanya saja membuatnya mati dengan mudah sangat tidak setimpal dengan apa yang telah dia lakukan pada Renata dan Justin."


Sebelah alis Bern terangkat ke atas. Dia menatap seksama ke manik mata Karl yang seperti sedang memberi kode kalau saudaranya ini memiliki cara terbaik untuk melenyapkan Kim dan anak buahnya. Bern lalu memutuskan untuk mengalah dan menunggu apa yang akan Karl lakukan pada para bedebah ini.


"Tadi mereka bilang agar tidak ada pembunuhan setelah mereka sampai di atas. Aku mengiyakan. Akan tetapi mereka lupa kalau yang diminta hanya di atas saja, tidak dengan di bawah!" ucap Karl seraya memasang seringai lebar di bibirnya. "Nona Kim, aku salut sekali dengan keberanianmu. Untuk mengapresiasi keberanian ini aku ingin memberimu sedikit hadiah. Mau tahu tidak apa hadiahnya?"


Glukkk


(Tidak, ini tidak boleh terjadi. Karl tidak boleh membunuhku. Tidak boleh!)


"Lemparkan mereka semua ke dalam gudang itu lalu ledakkan. Setelah itu ratakan tempat ini dengan tanah. Buat seolah tak pernah ada yang datang berkunjung!" perintah Karl dengan kejamnya.


"Baik, Tuan Muda!"


"Bern, tolong aku. Tolong bujuk saudaramu agar tidak melakukan ini kepada kami. Aku salah, aku minta maaf!" teriak Kim berusaha berontak saat tubuhnya hendak didorong masuk ke dalam gudang.


"Terlambat untukmu mengakui kesalahan. Matilah kalian bersama dengan kebodohanmu itu!" sahut Bern sambil tersenyum tipis.


"Kau jahat, Bern. Aku mencintaimu. Tolong aku!"


Tak butuh waktu lama untuk anak buahnya Karl membuat Kim dan anak buahnya kembali masuk ke dalam gudang. Tepat ketika bom akan dilemparkan ke dalam, Cio dan Reiden sampai di sana. Kedua pria itu tampak menggerutu karena tak ikut menyaksikan sejak awal.


Duaaarrrr


"Kau sungguh kejam, Karl. Padahal Nona Kimberly itu lumayan cantik. Kalau dijadikan manekin harga jualnya pasti akan sangat mahal. Huh!" omel Cio jengkel setelah mengetahui siapa dalang dibalik masalah yang sedang terjadi.


"Ayo pulang. Aku bosan berada di sini," sahut Karl acuh akan omelan Cio. Dia berbalik masuk ke dalam mobil lalu melesat pergi dari tempat tersebut.


"Dasar bajingan. Untung kau saudaraku. Kalau bukan, aku pasti sudah membuat perhitungan denganmu!"


Bern diam menatap ke arah kepulan asap di hadapannya. Sungguh, dia sama sekali tak menyangka kalau orang yang ingin mencelakai Justin dan Renata adalah orang yang tinggal di sebelah apartemennya. Dalam hati Bern merutuki keteledorannya yang kurang mewaspadai kemunculan Kim yang tiba-tiba menjadi tetangga.


"Apartemen itu sudah tak aman untuk ditinggali. Aku harus segera mencari tempat yang baru untuk Justin dan Renata!" gumam Bern sesaat sebelum masuk ke dalam mobil. Dia mengabaikan keberadaan Cio dan Reiden yang sedang sibuk memeriksa keadaan di sana.


***