Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bab 24


"Hiksss, Ibu. Justin ingin di gendong Ayah. Justin mau Ayah,"


Suara rengekan Justin terus terdengar di dalam kamar. Sudah seharian ini bocah tiga tahun tersebut terus menangis dan merengek meminta di gendong oleh ayahnya. Renata yang melihat kondisi putranya pun nampak tak kuasa menahan tangis. Dia bingung bagaimana cara memberitahu Justin kalau ayah yang dia inginkan tidaklah ada di sini. Renata sedih.


"Sayang, jangan menangis terus ya. Nanti tenggorokanmu sakit. Ya?" ucap Nandira dengan lembut membujuk sang cucu agar berhenti menangis.


"Justin mau Ayah, Nenek. Justin ingin di gendong Ayah," sahut Justin sambil menangis tersedu-sedu. Matanya sampai tidak bisa terbuka saking dia terlalu lama menangis.


"Tapikan Ayah tidak ada di sini, sayang. Di gendong Kakek Max saja bagaimana? Atau Pak sopir. Mau?"


Justin menggeleng.


"Bu, biar aku saja yang menggendong Justin," ucap Renata tak tega melihat sang ibu yang sudah sangat kelelahan. Dia lalu mencoba mengambil Justin dari gendongannya.


"Tidak mau. Justin mau Ayah, Justin mau Ayah. Huaaa!"


Nandira akhirnya ikut menangis melihat tangis cucunya kembali pecah. Sudah seharian Justin terus seperti ini, Nandira tak tahan melihatnya. Kalau saja dia tahu di mana keberadaan ayah dari anak ini, sejauh apapun Nandira pasti akan pergi menemuinya. Bahkan jika perlu dia akan bersujud dan memintanya agar bersedia menemui Justin dan Renata. Sebagai orangtua, hati Nandira sangatlah hancur melihat anak dan cucunya menderita seperti ini. Apalagi Renata. Rasanya dunia Nandira seperti gelap semua melihatnya yang menangis tertahan. Dadanya pasti sakit sekali.


Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang? Sebenarnya siapa ayah yang di maksud oleh Justin?


Drttt


Saat Renata sedang bingung sebuah pesan masuk ke ponselnya. Awalnya Renata enggan merespon, tapi Justin tiba-tiba saja menunjukan tangan. Anak itu seperti memberi kode agar Renata segera membuka pesan tersebut. Menggunakan insting seorang ibu, Renata akhirnya membuka pesan tersebut dan membacanya.


"Hah? Nomor apartemen siapa ini?" gumam Renata terheran-heran akan isi dari pesan tersebut.


"Ibu, Justin mau Ayah. Mau Ayah." Justin kembali merengek.


"Siapa yang mengirim pesan, Ren?" tanya Nandira sambil mengelus-elus punggung Justin yang masih saja berteriak meminta untuk bertemu dengan ayahnya.


Tak langsung menjawab, Renata memilih untuk berbohong saja. Entah mengapa hatinya berkata agar mendatangi apartemen tersebut sambil membawa Justin. Agak gila memang, tapi mau bagaimana lagi. Siapa tahu pengirim pesan tersebut adalah ayah biologis Justin yang selama ini mengawasinya secara diam-diam. Bisa saja, kan?


"Hanya pesan salah sambung, Bu," jawab Renata beralasan. Kembali menggunakan insting di pikirannya, Renata mencoba membujuk Justin agar mau di gendong olehnya. "Sayang, mau ikut Ibu jalan-jalan tidak? Seharian inikan Justin belum makan, siapa tahu di jalan nanti ada makanan enak yang ingin Justin beli. Mau?"


Dengan cepat Justin menganggukkan kepala. Segera dia menyorongkan tangan pada ibunya. Nandira yang melihat hal itupun merasa heran sekali. Khawatir ada sesuatu yang di sembunyikan, dia segera menarik pelan lengan Renata yang ingin keluar bersama Justin.


"Ren, beritahu Ibu siapa yang telah mengirimkan pesan padamu. Jangan membuat Ibu khawatir. Oke?"


"Bu, benar itu adalah pesan salah sambung. Kalau Ibu tidak percaya, silahkan Ibu periksa sendiri di ponselku," jawab Renata dengan hati berdebar-debar. Bisa gawat jika ibunya benar-benar membuka pesan itu dan membacanya.


"Ibu bukan tidak percaya, tapi Ibu sedang mengkhawatirkan kalian saja. Justin sedang sakit, kenapa kau malah membawanya keluar? Kalau keadaannya makin memburuk bagaimana? Angin malam tidak bagus untuk kesehatan Justin, Ren!"


"Aku lelah, dan aku juga tahu kalau Ibu sama lelahnya sepertiku. Jadi tolong biarkan aku menghirup udara segar barang sejenak ya. Aku janji tidak akan lama. Oke?"


Meskipun sebenarnya tidak setuju, dengan sangat terpaksa Nandira akhirnya mengizinkan. Dia juga tidak mungkin memaksa Renata untuk tetap berada di rumah setelah apa yang di alami oleh Justin. Hati dan perasaan ibu satu anak itu pastikan hancur sekali. Karenanya terpaksa Nandira membiarkan anak dan cucunya pergi jalan-jalan dengan di temani oleh sopir.


"Pak, kita ke alamat ini ya?" ucap Renata sambil menunjukkan alamat apartemen yang tertulis di dalam ponsel. "Dan nanti tolong jangan beritahu siapapun kalau kita pergi ke sana. Aku tidak ingin ada yang salah memahami tujuanku. Bisakah?"


"Baik, Nona Renata. Rahasia ini aman di tangan saya," sahut pak sopir.


"Sama-sama, Non."


Anehnya, begitu Renata mengatakan ingin mendatangi alamat tersebut tangis Justin langsung terhenti. Bocah itu hanya diam saja sambil sesekali masih terdengar suara sesenggukan. Sebenarnya Renata sangat menyadari keanehan ini. Akan tetapi dia memilih diam saja sambil terus berpikir siapa gerangan yang tinggal di apartemen tersebut. Mungkinkah itu adalah pria yang adalah ayah biologis Justin? Atau hanya seseorang yang sedang iseng saja kepadanya. Entahlah, Renata tidak tahu.


Kurang lebih sekitar tiga puluh menit mobil akhirnya sampai di depan sebuah apartemen yang berada di kawasan orang-orang elit. Untuk beberapa saat Renata sempat terpaku diam, merasa ragu untuk melangkah masuk ke dalam sana.


"Nona, kalau merasa takut biar saya temani masuk ke dalam saja. Apartemen ini berada di kawasan orang-orang beruang, saya khawatir mereka akan salah memahami Anda," ucap pak sopir cemas.


"Tidak usah, Pak. Biar aku dan Justin saja yang masuk ke dalam sana. Nanti jika terjadi sesuatu, aku akan langsung menelpon Bapak. Ya?" sahut Renata menolak tawaran baik dari sopir.


"Baik, Non. Hati-hati!"


Renata mengangguk. Sambil terus menggendong Justin, dia melangkah masuk ke dalam gedung apartemen. Renata langsung menuju lantai di mana kamar itu berada. Sembari menunggu lift sampai, Renata tak henti-hentinya menghela nafas panjang Dia gugup sekali.


Ting


"Ibu, apa kita akan segera bertemu dengan Ayah?" tanya Justin dengan suara kecilnya. Bocah ini berusaha untuk membuka mata, tapi gagal karena sudah membengkak gara-gara terlalu lama menangis.


"Justin, dari siapa kau tahu kalau kita akan segera bertemu dengan Ayah di sini?" sahut Renata balik bertanya. Kakinya sedikit gemetar saat ingin melangkah keluar dari dalam lift.


Tak ada jawaban. Justin hanya diam saja sambil sesekali menyedot ingus yang mengganjal di hidung. Melihat hal itupun Renata hanya bisa pasrah. Mungkin karena sedang sakit pikiran Justin jadi meracau kemana-mana. Akan tetapi nomor itu ... siapa pemiliknya? Dan kenapa juga Renata berkeinginan untuk datang ke tempat ini? Aneh.


Tidak apa-apa, Renata. Yakin dan percaya saja kalau orang yang akan kau temui bukanlah orang jahat.


"Fyuhhh, tenang-tenang," ucap Renata begitu sampai di depan pintu apartemen yang di tujunya. Menguatkan hati, dia segera menekan bel yang terpasang di samping pintu.


Beberapa saat lamanya Renata dan Justin hanya diam menunggu siapa gerangan yang akan membukakan pintu untuk mereka. Raut tegang jelas tercetak di wajah Renata. Sedangkan Justin, bocah itu hanya diam tak bereaksi apa-apa. Sangat berbeda jauh saat sedang mengamuk meminta untuk bertemu dengan ayahnya.


Ceklek


"Siap ... Amora! Up bukan, maksudku Renata!"


Bern bagai tersambar geledek begitu melihat siapa tamu yang datang. Hampir saja dia mengumpat karena merasa terganggu gara-gara mendengar suara bel berbunyi.


Renata tercengang seperti orang bodoh begitu melihat siapa pemilik kamar apartemen ini. Sungguh, tebakannya meleset terlalu jauh. Dia sama sekali tak menyangka kalau orang yang akan membukakan pintu adalah Bern, laki-laki asing yang beberapa hari ini terus mengusik pikirannya.


"Renata, darimana kau tahu kalau aku tinggal di sini?" tanya Bern tak kalah syok. Dia sampai lupa mempersilahkan tamunya untuk masuk ke dalam.


"Aku ....


"Ayah, gendong,"


"A-Ayah??"


***