Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bern 51


Setelah mengetahui fakta kalau Renata adalah benar Amora, malam itu Bern benar-benar tak bisa memejamkan mata. Dia terlalu bahagia, hingga lupa untuk mengistirahatkan badan.


"Amora, kau benar masih hidup, sayang. Kau masih ada di dunia ini. Keyakinanku tidak salah," gumam Bern sembari mengusap wajahnya. Dia kini tengah berada di balkon, membiarkan angin malam menerpa tubuhnya yang hanya terbalut celana panjang. "Rasanya ini seperti mimpi. Akhirnya kita akan bisa bersama lagi seperti dulu. Aku bahagia sekali, sayang. Sungguh!"


Saat Bern sedang merasai kebahagiaannya, bel apartemen berbunyi. Segera dia pergi untuk membukanya tanpa ada omelan kesal seperti yang biasa terjadi.


Ceklek


"Kau lagi! Mau apa?" tanya Bern cetus.


Cio berdecak pelan. Tanpa menunggu dipersilahkan oleh si empunya apartemen, dia melenggang masuk ke dalam sambil menenteng beberapa botol minuman di tangannya. Cio berniat mengajak beruang kutub ini merayakan kebahagiaan setelah berhasil menemukan Amora.


"Duduklah, Bern. Mari kita bersantai," ucap Cio sambil menepuk sofa yang di dudukinya.


"Apa kau pemilik apartemen ini?" tanya Bern sedikit jengah melihat sikap sok bossy di diri sepupunya. Walau kesal, Bern tak bisa melakukan apa-apa selain menutup pintu kemudian menyusulnya duduk. Dia lalu membuang nafas panjang. "Aku tahu tujuanmu kemari pasti ingin membahas soal aku dan Karl. Iya, kan?"


"Tepat sekali!"


Cio terkekeh. Sambil membuka tutup botol, dia lanjut berbicara.


"Meski awalnya aku sempat menolak tapi rahasia ini bisa terbongkar berkat kegesitan Karl dalam memburu informasi. Insting bajingan itulah yang berhasil membuktikan fakta kalau Renata adalah benar Amora. Jadi aku rasa tidak salahnya kalau kau mulai berbicara dari hati ke hati dengannya. Lupakanlah sesuatu yang pernah terlewat. Anggap semua itu sebagai proses pendewasaan diri. Bisa?"


"Boleh meminta sedikit waktu lagi tidak? Aku ingin fokus mengejar Renata dulu,"


"Tidak ada permintaan seperti ini lagi. Kau harus tahu Bern kalau Karl dan keluargamu sangatlah merasa bersalah selama ini. Tiga tahun kau berada di luar negeri, tiga tahun itu juga mereka hidup dalam sesal dan pesakitan. Kau mungkin akan benci jika aku mengatakannya. Akan tetapi kali ini aku tidak akan mempedulikan hal itu lagi. Kau harus segera menemui mereka dan menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi. Dengan begitu jalanmu untuk bersama Justin dan Renata akan semakin mudah!" sahut Cio tak membiarkan Bern terus mengulur waktu.


Bern terdiam. Tangannya terulur ke depan saat Cio memberikan sebotol minuman padanya.


"Thank's!" ucap Bern. Dia lalu meneguk perlahan minuman tersebut. Pahit, sepahit kisah cintanya tiga tahun lalu. Namun rasa pahit tersebut akan segera berubah menjadi manis karena campuran madunya telah datang. Hmmm.


"Jadi bagaimana?" tanya Cio penasaran.


"Kita bicarakan masalah itu nanti saja. Sekarang coba kau ceritakan penyebab mengapa semua luka-luka di tubuh Amora bisa hilang semua. Apa yang telah Tuan Max dan Nyonya Nandira lakukan pada Amora-ku?"


"Mereka melakukan operasi plastik padanya. Saat Amora ditemukan, Tuan Max langsung tahu kalau itu bukan Renata. Karena dia dan Nyonya Nandira takut kehilangan anak, mereka diam-diam meminta dokter untuk melakukan bedah plastik tanpa sepengetahuan Amora. Mereka juga mencekoki pikiran Amora dengan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan Renata semasa hidup. Makanya terkadang Amora kebingungan dengan pikirannya sendiri ketika bayangan masa lalunya hadir di dalam ingatan!" jawab Cio menjelaskan penyebab luka di tubuh Amora bisa menghilang. "Sudahlah, Bern. Masalah ini jangan di ungkit-ungkit lagi. Biarkan saja Amora menjalani hidup sebagai Renata. Kasihan Tuan Max dan Nyonya Nandira. Mereka bisa gila kalau Amora sampai kembali ke keluarga Shin!"


"Aku bahkan tidak pernah terpikir untuk memberitahu mereka kalau Amora masih hidup, Cio. Dulu saat Amora masih bersamaku, dia pernah bilang jika Tuhan membuatnya terlahir kembali dia menolak untuk menjadi anaknya Tuan Kendra. Amora ingin menjadi orang lain saja. Dia tak mau hidupnya kesepian seperti yang di alaminya waktu itu!"


"Oh, baguslah. Sepertinya Tuhan benar-benar mengabulkannya apa yang Amora harapkan. Akibat dari kecelakaan itu Tuhan mengambil semua ingatannya dan mengirimnya ke keluarga yang begitu hangat, juga penuh cinta. Jalur langit siapa yang mampu melawan. Benar tidak?"


"Ya, kau benar sekali."


"Cheers?"


Suara dentingan botol yang beradu terdengar cukup kuat di ruang tamu apartemen milik Bern. Dia dan Cio berlomba meneguk minuman dari dalam botol tersebut.


"Ahhhh, sangat pahit. Tapi menyegarkan. Benar tidak?" ucap Cio sembari menyeka mulutnya. Dia lalu bersendawa yang mana membuat Bern langsung menoyor kepalanya. "Hehehe, sorry. Minuman ini terlalu enak,"


"Dasar tidak tahu malu!"


"Biar sajalah. Biar tidak tahu malu begini akulah yang telah bekerja keras membantu menyelesaikan masalah di keluargamu. Jadi kau wajib berterima kasih padaku sebagai seorang adik. Tahu!"


Seulas senyum tipis muncul di bibir Bern setelah dia mendengar perkataan Cio. Jujur, mau sebrengsek apapun kelakuan Cio, hanya ia seorang yang begitu peduli dengan masalah yang terjadi di keluarganya. Sepupu yang lain bukan tidak peduli, mereka peduli semua. Hanya saja Ciolah yang terlihat paling bekerja keras mencari celah agar hubungan keluarganya bisa kembali lagi seperti dulu.


"Terima kasih,"


"Ya? Kau bilang apa barusan? Aku tidak dengar," tanya Cio pura-pura tuli. Namun sudut bibirnya terkedut.


"Terima kasih karena sampai sejauh ini kau tidak pernah membiarkan aku berlarut dalam kesalahpahaman yang terjadi di keluargaku. Kau memang pria brengsek, Cio. Tapi di balik kebrengsekanmu itu kau adalah sosok pria yang begitu hangat dan juga baik hati. Sekali lagi terima kasih banyak. Terima kasih karena kau telah membantu menemukan jalan terang di sisa kegelapan hidupku. Aku berhutang budi padamu!" ucap Bern dengan lapang dada berterima kasih pada bajingan yang sedang menahan senyum. Biar sajalah. Rasa terima kasih ini masih tak sebanding dengan usaha Cio dalam menemukan Amora dan Justin.


"Ekhmm, kenapa aku jadi merinding mendengar kata-katamu ya, Bern," sahut Cio.


"Kalau ingin muntah silahkan pergi ke kamar mandi saja, Cio. Klosetku cukup besar untuk menampung semua makanan yang keluar dari dalam mulutmu,"


"Brengsek kau!"


Cio terkekeh. Dia lalu menepuk bahu Bern. Merasa bangga karena beruang kutub ini jadi bersikap lebih manusiawi lagi setelah tersiksa batin selama tiga tahun.


"Nyonya Patricia bisa meracuniku hingga mati kalau aku sampai tidak turun tangan dalam hal ini. Kau tidak lupakan kalau Ibumu adalah adik kesayangan Ibuku? Dan inilah alasan kenapa aku tidak bisa diam saja membiarkan kekacauan di keluargamu. Tiga tahun ini aku selalu memantau segalanya. Kecuali tentang kehidupanmu. Tapi karena sekarang kau sudah kembali ke negara ini, maka masalahmu akan menjadi masalahku juga. Berbaikanlah dengan Karl dan kedua orangtuamu. Ayah dan Ibumu pasti punya alasan kenapa waktu itu mereka tak membiarkan kau menghabisi Karl. Ya?"


"Aku akan mencari waktu yang tepat untuk pulang ke rumah dan menemui mereka, Cio. Akan tetapi untuk sekarang aku ingin fokus pada Justin dan Amora dulu. Menurutmu perlu tidak aku memberitahu Renata kalau dia sebenarnya adalah Amora?" tanya Bern.


"Lebih baik jangan, Bern. Biarkan saja dia berada di balik bayang-bayang Renata. Juga karena aku tidak mau Tuan Kendra kembali mendatangkan kesedihan di hati Amora. Kasihan dia," jawab Cio tak setuju dengan niatan Bern.


"Hmm, kau benar. Sebaiknya orang-orang mengenal Amora sebagai Renata saja. Dengan begitu Amora tidak akan lagi teringat dengan kesedihan dan juga kesepian yang dia rasakan dulu."


"Nah, begini baru benar. Aku setuju denganmu!"


Bern dan Cio kembali bersulang untuk merayakan ditemukannya Amora. Raut wajah keduanya begitu bahagia. Andai Bern mau melongok ke bawah apartemen lewat jendela, dia pasti bisa melihat ada seseorang yang tengah menatap kamar apartemennya dengan sangat seksama. Dan orang itu adalah Karl.


(Tuhan, terima kasih banyak karena kau akhirnya mau memberiku kesempatan untuk meminta maaf pada saudaraku. Melihatnya bisa tertawa bahagia seperti ini membuatku sangat lega sekali. Semoga setelah ini Bern bersedia mendengar penjelasanku. Aku ingin dia tahu kalau aku tidak pernah menyakiti Amora. Hanya pernah berencana, tapi tak pernah kulakukan.)


***