Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bab 42


"Kau sudah melihatnya?" tanya Renata mencoba untuk tidak gugup saat kulit punggungnya terekspos di hadapan seorang pria yang notabenenya bukan siapa-siapanya. "Apa yang kau cari ada di sana?"


"B-bagaimana bisa?"


"Apanya yang bagaimana?"


"Luka-luka itu ... kemana perginya?"


Syok. Bern benar-benar sangat syok mendapati punggung Renata yang kelewat mulus. Di kulit tubuhnya sama sekali tak ada luka yang berbekas, bahkan setitik pun tidak ada. Bagaimana mungkin hal seperti ini terjadi?


"Jadi di tubuhku tidak ada luka yang sedang kau cari?" tanya Renata memastikan. Antara lega dan juga aneh, perlahan-lahan dia kembali memakai piyama tidurnya. Renata kemudian berbalik, menatap datar ke arah Bern yang sedang terdiam kosong. "Apa sekarang kau sudah yakin kalau aku bukanlah Amora?"


"Tidak, kau masih Amoraku. Aku sangat meyakini hal ini," jawab Bern lirih. Tubuhnya lemas, masih tak percaya akan apa yang baru saja dilihatnya.


"Bern, ayolah. Bukti sudah terpampang jelas di depan matamu. Tolong terimalah. Ya?"


"Tidak Renata, tidak. Kau ibunya Justin, itu artinya kau adalah Amora."


"Mana bisa kau berpatokan seperti itu hanya karena aku yang telah melahirkan Justin. Sejak kecil aku dan orangtuaku tinggal di luar negeri, Bern. Mustahil di antara kita terjalin satu hubungan yang aku sendiri tak bisa mengingatnya. Tolonglah, tolong. Terima kenyataan ini dengan lapang dada kalau aku bukan wanita yang sedang kau cari. Aku mohon!"


Renata bicara sambil mengatupkan kedua tangan di depan dada. Harapannya untuk bisa keluar dari apartemen ini begitu tinggi, jadi sebisa mungkin Renata akan berusaha meyakinkan Bern supaya berkenan melepaskannya.


"Apa kau pernah melakukan sesuatu pada tubuhmu?" tanya Bern penuh rasa ingin tahu. Dia berdiri, melangkah maju agar bisa berhadapan dengan Renata dari jarak dekat. "Setelah kecelakaan itu terjadi pernahkah kau melakukan tindakan operasi?"


"Tidak pernah sama sekali. Selain terapi untuk memulihkan ingatan, aku sama sekali tak pernah melakukan hal yang neko-neko pada tubuhku," jawab Renata jujur.


"Kau yakin?"


"Bern, please. Berhenti memperlakukan aku dengan cara seperti ini. Aku Renata Goh, bukan Amora. Hanya wajah kami saja yang kebetulan mirip!"


"Aku tidak percaya ini."


Dengan gerakan yang sangat cepat Bern menarik Renata ke dalam pelukannya. Dia lalu mendekapnya dengan sangat erat, tak rela jika harus membiarkannya pergi untuk yang kedua kali.


Tenang Renata, tenang. Bern sedang dalam kondisi mental yang labil. Kau harus bersabar jika ingin pergi dari sini. Tenang.


"Bern, you okay?" tanya Renata melunak. Sebelah tangannya bergerak mengusap punggung pria ini.


"Aku tidak mau kau pergi meninggalkanku, Renata. Aku ingin kau dan Justin tetap bersamaku di sini," jawab Bern dengan suara parau.


"Baiklah, kita akan membicarakan masalah ini baik-baik. Sekarang tolong kendurkan pelukanmu. Aku tidak bernafas."


Bern langsung tersentak kaget saat mendengar perkataan Renata. Segera dia melepas pelukan kemudian menangkup wajah wanita ini. Bern merasa bersalah.


"Maaf, aku tidak sadar telah menyakitimu."


"It's okay. Jangan panik. Aku hanya sedikit kesulitan bernafas saja. Tenang," sahut Renata sembari tersenyum kecil. Harus dia lakukan agar Bern tidak kepanikan.


"Kita duduk dulu ya?"


Renata mengangguk. Dia tak melawan saat Bern membimbingnya untuk duduk. Setelah itu Bern dan Renata saling memandang dalam diam. Mencoba meresapi perasaan aneh di pikiran masing-masing.


"Boleh aku tahu mengapa Amora bisa mendapatkan luka-luka seperti itu? Dari yang kau ceritakan tadi sepertinya dia tidak menjalani hidup dengan baik. Apa benar?" tanya Renata membuka percakapan.


"Tapi kenapa bisa seperti itu, Bern? Kesalahan apa yang telah Amora lakukan sehingga dia harus menerima perlakuan keji dari keluarganya?"


"Amora dituduh sebagai pembawa sial oleh mereka. Hal itu terjadi setelah ibunya Amora meninggal karena melahirkannya. Sejak saat itu hidup Amora tak ubahnya seperti di neraka. Dia di siksa, juga dijadikan pelayan oleh anggota keluarganya sendiri. Amora bahkan tidak mendapatkan pendidikan dan makan yang cukup di kesehariannya. Hidupnya penuh dengan derita."


Ada apa ini? Kenapa dadaku sakit sekali setelah mendengar ceritanya Bern. Apa mungkin karena aku terlalu terbawa perasaan? Tapi kenapa rasa sakitnya begitu nyata. Apa yang salah dengan tubuhku?


"Saat pertama kali aku mengenal Amora, dia dijadikan alat tukar bisnis oleh ayahnya sendiri. Amora dijual padaku demi agar perusahaan milik ayahnya tidak bangkrut!" ucap Bern memberitahu Renata awal dia mengenal Amora. "Gadis yang tidak tahu apa-apa itu terlihat ketakutan saat memohon agar jangan di usir pergi dari rumahku. Dia bilang sudah tidak mempunyai tempat tinggal lagi jika aku menolak untuk menerimanya. Miris, bukan?"


"S-sampai seperti itu?"


Bergetar suara Renata. Dia sama sekali tak menyangka kalau Amora mempunyai kisah hidup yang begitu kelam dan menyedihkan.


"Itu hanya sebagian yang ku ketahui, yang lain tidak."


"Astaga, keluarga macam apa yang tega memperlakukan bagian dari mereka hingga sekeji ini? Menjual anak demi menjaga kekayaan keluarga, tidakkah menurutmu ini sangat keterlaluan?" ucap Renata tak habis pikir dengan kelakuan keluarga Amora. Kekejian orang-orang itu sangat di luar nalar sekali. Kok tega mereka memperlakukan anggota keluarga sendiri hingga seperti itu. Benar-benar tidak masuk akal. Sungguh.


"Sangat keterlaluan. Karenanya aku telah mengambil sumpah akan terus menjaga Amora hingga akhir hayat."


Tiba-tiba saja Bern tersenyum saat membayangkan percakapannya dengan Amora malam itu. Sembari saling memandang, Bern mengikrarkan janji setia untuk terus berada di sisi Amora. Mencintainya, menjaganya, juga melindunginya dengan sepenuh jiwa. Ah, membayangkan hal manis itu membuat perasaan Bern jadi membuncah. Dia merindukan Amora. Sangat.


"Kalau kau ingin menangis, maka lepaskanlah saja. Jangan di tahan. Setidaknya dengan kau menangis rasa rindu yang membelenggu hatimu bisa sedikit melonggar. Menangislah," hibur Renata sembari mengelus lengan Bern. Hatinya seperti teriris melihat bagaimana pria ini berusaha untuk tegar.


"Andai waktu bisa di putar kembali, aku pasti tidak akan membiarkan Amora sendirian di rumah. Ini sesal yang tak pernah bisa aku terima hingga sekarang. Aku lalai, dan kelalaianku ini membuat Amora ... membuat Amora ....


Greepp


Renata langsung memeluk Bern saat melihatnya kesulitan bernafas. Aneh. Sedalam inikah rasa cinta yang Bern rasakan pada Amora sehingga dia begitu tersiksa saat menceritakan tentangnya? Renata terpana, takjub akan cara pria ini mencintai gadis itu.


"Hiksss, aku lemah, Renata. Tiga tahun ini aku seperti hidup di neraka. Tidak ada siang, semuanya hanya malam yang berselimut awan gelap. Hatiku hancur, Renata. Hancur hingga kepingannya tak bisa kutemukan. Aku harus bagaimana sekarang?" terisak Bern dalam pelukan Renata. Tiga tahun. Tiga tahun lamanya dia menahan rasa sesak ini seorang diri. Dan hanya di dekapan Renata-lah Bern sanggup mengeluarkan keluh kesahnya. "Dunia ini sangat kejam padaku. Dia merenggut satu-satunya kebahagiaan yang kupunya. Takdir telah merusak rajutan cinta di antara kami. Aku mati rasa, Renata. Aku muak, tapi aku tidak bisa pergi dari dunia ini. Amora masih menungguku. Dia masih menantikan kedatanganku. Kau percaya itu, kan?"


"Iya aku percaya Amora masih menunggumu di suatu tempat. Aku percaya itu," sahut Renata yang kini sudah meneteskan air mata. Jika di tanya apa sebabnya, dia tidak tahu. Cairan bening itu menetes dengan sendirinya. Mungkin terhanyut dalam suasana memilukan yang di alami oleh Bern. Makanya dia ikut menangis.


"Dia tahukan kalau aku sangat mencintainya?"


"Amora pasti mengetahuinya, Bern. Kalian saling cinta, bukan?"


"Ya, kami saling mencintai."


"Kalau begitu kau jangan pernah meragukannya. Sabar dan percayalah kalau takdir pasti akan mempertemukan kalian di suatu saat nanti. Ya?"


"Iya,"


Bern tak henti menceritakan tentang Amora hingga perlahan-lahan suaranya mulai mengecil. Renata yang tahu kalau Bern sudah tertidur memilih untuk mengeratkan pelukannya. Serapuh inikah Bern?


"Aku tidak tahu kisah cinta macam apa yang kau dan Amora jalani, Bern. Tapi jujur, aku sangat amat terenyuh mendengar ceritamu. Kalian sama-sama terluka oleh suratan takdir yang ada. Kasihan," bisik Renata iba.


Ternyata cinta tidak selalu membawa kebahagiaan bagi yang merasakan. Ada kalanya cinta itu menghadirkan kesakitan yang teramat hebat hingga membuat penerimanya menderita seakan menjaga gila. Bern, walaupun kita tidak kenal dekat, aku sangat bisa merasakan kepedihanmu. Tulus aku mendoakan semoga ke depannya nanti kau bisa menemukan jalan terbaik untuk menghadapi perasaanmu. Kau kuat, aku yakin itu.


***