
“Max, sebenarnya Justin dan Renata menginap di mana ya? Kenapa sampai sekarang mereka belum pulang juga? Mereka baik-baik saja, kan?” tanya Nandira mulai dilanda cemas saat anak dan cucunya tak kunjung memberi kabar. Sekarang sudah sore, tapi Renata masih belum membalas pesan darinya. Sebagai orangtua, Nandira jelas merasa khawatir. Dia takut anak dan cucunya kenapa-napa di luaran sana.
“Kita tunggu sampai nanti malam. Kalau masih belum ada kabar dari mereka aku akan langsung lapor polisi,” jawab Max sambil terus memeriksa pekerjaan. Dia juga cemas, tapi lebih memilih untuk tidak menampakannya. Nandira bisa semakin khawatir jika dia tak bisa menahan diri, jadilah memilih untuk berpura-pura tenang meski hatinya sudah tidak karu-karuan.
Melihat respon suaminya yang begitu santai membuat Nandira merasa kesal. Segera dia menutup laptop yang sedang di gunakan oleh Max kemudian menatapnya tajam sambil bersedekap tangan.
“Kenapa lagi?”Max bertanya sambil menatap Nandira. Sepertinya wanita ini marah.
“Aku perhatikan sejak tadi kau terlihat tenang-tenang saja ya meskipun anak dan cucumu tidak ada kabar. Ayah dan Kakek macam apa kau, Max?” omel Nandira tak habis pikir.
“Bersikap tenang bukan berarti tidak khawatir, sayang. Aku begini karena tidak mau membuatmu bertambah semakin panik. Tahu?” sahut Max memberitahu sang istri alasan kenapa dia bisa bersikap setenang sekarang.
Haihh, dasar wanita. Pura-pura tenang salah, giliran ikut panik nanti dikira lemah. Sulit sekali berurusan dengan kaum bergunung kembar ini. Astaga.
“Tapikan setidaknya kau jangan malah menyibukkan diri dengan terus bekerja, Max. Temanilah aku. Aku benar-benar sangat khawatir terjadi hal buruk pada anak dan cucu kita. Pekalah sedikit,” keluh Nandira seraya memasang wajah memelas. Dia sedang butuh perhatian sekarang.
“Ya sudah sini. Mendekat dan biarkan aku memelukmu,”
“Ck, kau pikir aku ini anak kecil apa. Ingat Max kalau kita ini sudah tua!”
“Lalu aku harus bagaimana sekarang? Bekerja tidak boleh, ingin menemanimu kau malah bilang kalau kita sudah tua. Lagipula memang apa salahnya kalau orangtua sedikit bermesraan? Tuhan tidak marah, kan?”
Max tertawa saat Nandira memukul lengannya. Akhirnya wanita ini mau tersenyum juga. Hmmm.
Setelah keadaan sedikit mencair, Nandira duduk di pinggiran meja tepat di hadapan Max. Benaknya kembali di selimuti pertanyaan tentang keberadaan anak dan cucunya. Sejak Renata datang ke negara ini, belum pernah sekalipun dia menghilang. Paling jauh Renata hanya akan menginap di hotel saja, dan itupun hanya akan terjadi saat Justin rewel dan ingin berada di luar rumah. Tapi sekarang? Renata bahkan belum membalas pesan yang sejak pagi tadi Nandira kirimkan. Siapalah yang tidak akan khawatir jika berada di posisi Nandira saat ini.
“Apa mungkin Renata menginap di rumah kekasihnya ya?” ucap Nandira menerka-nerka.
“Jangan sembarangan bicara, sayang. Renata kita tidak pernah menjalin hubungan dengan pria manapun selain dengan ayah dari anaknya,” sahut Max menyanggah terkaan istrinya. Dia lalu meletakkan kedua tangannya ke belakang kepala sambil menyenderkan badan ke kursi kerja. “Tapi jika seandainya memang benar Renata sedang bersama kekasihnya, aku akan langsung meminta pria itu agar menikahinya saja. Usia Renata sudah cukup dewasa untuk membangun rumah tangganya sendiri. Juga agar bisa memberikan status yang lengkap untuk Justin. Kau setuju tidak?”
“Entahlah, Max. Aku rasa perlu untuk memeriksa latar belakang keluarga pacarnya dulu sebelum meminta mereka untuk menikah. Renata adalah putri kita satu-satunya. Tidak mungkinkan kita menyerahkannya pada sembarang pria? Status Renata memang sudah mempunyai anak, tapi bukan berarti dia tak layak mendapatkan suami yang sempurna dalam semua hal. Kasihan mereka nanti!” jawab Nandira agak keberatan jika Renata harus menikah dengan pria yang tidak jelas latar belakangnya.
“Hmmm, benar juga ya. Ya sudahlah, nanti kita tanya pada Renata saja kemana dia sejak semalam. Oke?”
“Baiklah,”
Drrtt drrtt
Tepat ketika Nandira selesai bicara, ponselnya bergetar. Segera dia melihat siapa yang menelpon dan buru-buru mengangkatnya begitu tahu id si pemanggil.
“Halo, Renata. Kau di mana, sayang? Kenapa tidak membalas pesan dari Ibu? Kau dan Justin baik-baik saja, kan?” cecar Nandira beruntun. Dia lega sekali karena putrinya akhirnya menelpon.
“Halo Nenek, ini Justin. Nenek sedang apa?”
Max meminta Nandira menyalakan loudspeaker ponsel agar bisa mendengar suara cucunya juga. Melegakan sekali karena suara bocah itu terdengar ceria, menandakan tidak ada hal buruk yang terjadi pada anak dan juga cucunya.
“Aduhhh cucu Nenek yang paling tampan, sekarang Nenek masih berada di kantor bersama Kakek. Kau dan Ibumu sedang apa? Sudah makan belum?” tanya Nandira dengan penuh semangat mengobrol dengan sang cucu. Rindu sekali. Padahal baru sehari semalam mereka tidak bertemu.
“Justin sedang bermain dengan Ayah. Kalau Ibu ... Ibu sedang bekerja. Kami semua tadi makan siang bersama, Nek. Ayah bilang masakan Ibu enak sekali. Iyakan, Ayah?”
Pandangan Max dan Nandira saling bertemu saat Justin menyebutkan kata Ayah. Di benak mereka kini dipenuhi akan siapa yang di panggil ayah oleh cucu mereka. Mungkinkah itu adalah kekasihnya Renata?
“Baik, Ayah!”
“Em Justin sayang, Ibumu ada di sana tidak? Nenek ingin bicara. Boleh?” tanya Nandira menyela obrolan Justin dengan pria yang di panggilnya sebagai ayah. Nandira penasaran sekali akan siapa pria tersebut. Sungguh.
“Renata sedang membereskan dapur, Nyonya. Tunggu sebentar. Aku akan mengantarkan ponsel ini padanya!”
Suara pria yang di panggil ayah oleh Justin terdengar lembut dan juga tegas. Hal ini membuat Max dan Nandira semakin merasa penasaran. Dengan sabar mereka menunggu pria itu menyerahkan ponsel pada Renata. Hingga tak berapa lama kemudian terdengar satu percakapan yang membuat Max dan Nandira kembali saling melempar pandangan heran.
“Halo Ibu, ini aku,” ucap Renata dari dalam telepon. “Maaf ya aku baru sempat mengabari Ayah dan Ibu. Sejak pagi Justin rewel sekali. Jadi sekarang kami baru sempat menghubungi kalian. Tidak marah, kan?”
“Renata, dengan siapa kau berada sekarang? Dan juga siapa pria yang di panggil Ayah oleh Justin? Kekasihmu atau siapa?” cecar Nandira langsung bertanya pada pokok intinya. Dia sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi.
“Iya Ren, siapa laki-laki itu. Tolong beritahukan pada Ayah dan Ibu agar kami tidak merasa cemas,” imbuh Max ikut berbicara. “Jangan takut, kami tidak akan marah. Hanya sekedar ingin tahu saja.”
“Ayah, Ibu, kita bicarakan masalah ini setelah aku sampai di rumah saja ya. Nanti malam aku dan Justin akan pulang, tidak enak jika harus membicarakan dia di telepon,” jawab Renata dengan suara setengah berbisik.
“Oh, begitu. Ya sudah nanti kita bicara di rumah saja. Sekarang kau sedang apa?” tanya Nandira paham akan rasa tak enak hati di diri Renata.
Nandira dan Renata masih lanjut mengobrol sampai akhirnya terdengar suara Justin yang meminta untuk dimandikan. Setelah itu barulah panggilan dimatikan.
“Dugaanku benarkan kalau Renata sedang bersama kekasihnya?” ucap Nandira sembari memasukkan ponsel ke dalam tas.
“Iya, sayang. Tapi siapa ya pria itu? Setahuku Renata tak pernah dekat dengan pria manapun, kenapa tiba-tiba bisa punya kekasih? Janggal sekali,” sahut Max agak curiga pada sikap putrinya yang diam-diam sudah punya pacar.
“Nanti kita tanyakan setelah dia pulang ke rumah saja. Karena sekarang sudah sore, aku pamit pulang dulu ya. Aku ingin membuatkan makanan kesukaan cucu kita,”
“Hanya Justin? Aku bagaimana?”
“Ck, kau ini. Sudah tua masih saja cemburuan.”
“Memang apa salahnya meminta perhatian dari istri sendiri? Atau kau ingin aku meminta perhatian dari wanita lain saja, hm?” ledek Max sambil menaik-turunkan kedua alisnya.
“Lakukan saja kalau kau berani. Setelah itu jangan harap lagi kau bisa bertemu denganku, Renata, dan juga Justin. Kita putus dalam semua hubungan. Mau?!” ancam Nandira sambil mendelikkan mata.
“Hehehe, iya-iya. Tadi itu aku hanya bercanda saja, tidak benar-benar serius. Jangan marahlah. Oke?”
“Haihhhh, terserah kau mau bicara apa, Max. Lebih baik sekarang aku pulang saja daripada tensi naik karena terus bertengkar denganmu. Daahhh,”
Max melambaikan tangan pada Nandira yang sedang berjalan keluar dari ruangannya. Setelah itu dia menjadikan kedua tangannya sebagai topangan dagu, berpikir tentang siapa laki-laki yang menjadi kekasih putrinya.
“Justin terdengar begitu akrab dengan pria itu. Apa jangan-jangan dia adalah ayah kandungnya? Jika memang benar harusnya pria itu bisa membedakan kalau Renata … astaga, apa yang baru saja ku pikirkan? Renata adalah putriku, dia bukan orang lain!” ucap Max sambil menepuk keningnya sendiri. Hampir saja dia mengatakan rahasia yang selama ini hanya dia dan Nandira saja yang mengetahui. “Tuhan, tolong ampuni keserakahan kami. Semua itu terjadi karena kami sangat menyayanginya. Tolong jangan beri kami hukuman yang berat. Kami janji akan menyanyangi Justin dan Renata dengan sepenuh hati. Kami janji.”
Sementara itu di lobi perusahaan, Nandira yang baru saja keluar dari gedung segera masuk ke dalam mobil miliknya. Dia lalu memerintahkan sopir untuk singgah di supermarket terlebih dahulu karena ada beberapa barang yang ingin dibelinya.
Karena terlalu fokus memainkan ponsel, baik sopir maupun Nandira tidak ada yang menyadari kalau di belakang kendaraan mereka ada sebuah mobil asing yang mengikuti. Entah siapa orang itu, yang pasti setelah ini akan ada sesuatu yang terjadi.
***