Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bern 66


Senyum lebar terus mengembang di bibir Bern saat dia berjalan menuju kamar apartemennya. Bayangan Renata yang tersenyum malu-malu membuatnya jadi kegirangan sendiri. Meski tak ingat dengan kenangan mereka, tapi reaksi tubuh Renata masih sama dengan yang dulu. Hal ini Bern ketahui dari sikapnya yang mudah merasa malu setiap kali dia menggodanya.


"Aku harap besok pagi akan ada kabar baik dari Renata. Harusnya sih dia tidak memiliki alasan untuk menolakku," ucap Bern bicara sendiri.


Ting


Pintu lift terbuka. Bern segera memasukkan nomor sandi untuk membuka kamarnya. Akan tetapi saat hendak melangkah masuk, Bern merasa seperti ada orang yang sedang memperhatikan. Dia lalu memutuskan untuk berbalik dan ....


"Maaf mengganggu. Apa benar kau adalah Tuan Muda Bern?"


Seorang wanita cantik berdiri menatap Bern dengan seksama. Hal itu membuat Bern merasa risih. Segera dia mengangguk kemudian berniat masuk ke dalam kamar apartemennya.


"Tunggu!"


Kimberly berjalan mendekat. Dia lalu memberanikan diri mengajak Bern untuk mengobrol.


"Apa kau lupa padaku, Bern?"


"Kau tidak sespesial itu untuk ku ingat," jawab Bern sarkas.


"Ck, ternyata kau masih sama seperti dulu. Aku pikir setelah tiga tahun lebih menghilang sikapmu akan sedikit berubah. Rupanya tidak!" sahut Kim seraya terkekeh pelan. "Aku Kimberly. Dulu kita pernah bekerjasama di suatu proyek. Sudah ingat?"


"Apa maumu?"


Bern risih. Rasanya dia ingin sekali menendang wanita ini agar segera menjauh darinya.


"Sebenarnya aku tidak memiliki niat apa-apa. Aku baru pindah ke apartemen ini tadi sore. Dan kebetulan aku tak sengaja melihatmu di sini. Jadi ya sudah aku sapa saja. Tidak apa-apa, kan?"


"Bukan urusanku!"


"Memang. Jangan khawatir. Aku hanya ingin menyapamu saja. Kalau begitu aku pergi dulu ya?" ucap Kim sembari melambaikan tangan. Dia lalu melangkah pergi dari sana.


Kimberly? Namanya tidak asing. Hah, masa bodo. Mau Kimberly atau siapapun itu aku tak peduli. Karena di hidupku wanita hanya ada Amora, Ibu, Flow, dan para saudaraku yang lain. Hmmm.


Setelah masuk, Bern bergegas pergi ke kamar mandi. Dia mengguyur tubuhnya dengan air dingin, mencari kesegaran setelah siang tadi keringatnya terkuras cukup banyak akibat memberi pelajaran pada wanita-wanita jahat yang telah menyakiti putranya.


"Seharusnya kalian jangan sampai tidak meminta maaf pada Renata. Kalian akan hilang bak tertelan bumi jika besok tidak muncul di hadapanku!"


Ketika Bern sedang asik mandi, seseorang menekan bel apartemen. Hal itu membuat Bern kesal sekali. Entah makhluk manalagi yang datang. Mengganggu saja. Huh.


"Sialan. Siapa sih yang sudah mengganggu waktu istirahatku!" gerutu Bern sambil melilitkan handuk ke tubuhnya. Dia lalu berjalan menuju pintu dan membukanya.


Ceklek


"Wow! Indah sekali!"


Kesabaran Bern langsung di uji begitu melihat siapa yang datang. Dengan mesumnya Cio memandangi tubuhnya yang hanya terlilit handuk sebatas paha. Kesal, Bern segera menoyor kepalanya. Dia lalu berbalik masuk ke dalam tanpa mempedulikan sepupunya yang sedang mengomel.


"Bukannya bersyukur aku memujimu ini kau malah menoyor kepalaku. Jahat sekali sih!" omel Cio sembari berjalan masuk. Dia lalu mendudukkan bokongnya di sofa. "Ngomong-ngomong siapa wanita yang tadi bicara denganmu, Bern? Selingkuhanmu ya?"


"Jangan asal bicara. Satu-satunya wanita yang ku cintai hanyalah Amora. Tahu kau!" sahut Bern kesal mendengar tuduhan yang dilontarkan oleh Cio.


"Ck, akukan hanya bertanya saja. Kenapa marah sih!"


"Pertanyaanmu menjengkelkan. Lebih baik kau diam saja!"


"Wanita memang lukisan paling indah di dunia. Apalagi jika mereka tidak memakai baju. Semakin indah saja lukisan tubuh mereka," gumam Cio seraya memandangi foto wanitanya yang kelewat seksi. Air liurnya hampir menetes. "Sayang sekali mereka tidak bisa kujadikan istri. Kalau bisa, setiap malam yang menemani juniorku pasti akan berganti-ganti. Hmmm!"


Tak lama kemudian Bern selesai dengan ritual mandinya. Dia lalu menemui Cio dengan hanya mengenakan celana pendek. Sengaja mempertontonkan deretan roti sobek yang sudah sedikit hilang dari tubuhnya.


"Ck, apa maksudku pamer begitu, Bern? Aku masih penyuka pepaya bergantung ya. Maaf!" uap Cio.


"Bisa bicara normal tidak? Kalau tidak, silahkan angkat kaki dari apartemenku. Aku jijik berada dalam satu ruangan yang sama dengan makhluk jadi-jadian sepertimu!" omel Bern seraya mendudukkan bokong di sofa. Dia lalu melayangkan tatapan sinis pada sepupunya yang terkadang berprilaku seperti orang abnormal.


"Hih, sedikit-sedikit marah, sedikit-sedikit marah. Cepat tua baru tahu rasa kau!"


Cio menghela nafas. Dalam hitungan detik raut jenaka di wajahnya langsung berganti dengan ekpresi yang sangat serius. Bern yang menyadari hal itupun segera menajamkan indra pendengarannya. Pasti Cio ingin mengatakan sesuatu hal yang sangat penting.


"Kapan kau bisa mulai bekerja padaku, Bern? Jangan mentang-mentang kau sudah berbaikan dengan Karl dan menemukan anak beserta calon istrimu lantas kau ingin mangkir dari kesepakatan kita ya? Aku tidak ....


"Besok aku akan mulai bekerja, tapi itu hanya akan kulakukan dari rumah. Aku sudah tidak tertarik berkecimpung langsung dengan lingkaran meja saham yang menyebalkan itu. Tiga tahun waktu terbuang percuma. Dan sekarang aku tidak akan menyia-nyiakan waktu sedetikpun untuk bersama dengan Justin dan Renata!" ucap Bern memotong perkataan Cio. Sebentar lagi dia sudah akan menikah. Jadi tidak mungkin Bern menganggur terus. Apalagi putranya ingin beternak dinosaurus. Sudah pasti biaya yang di butuhkan sangatlah banyak. Benar tidak?


"Deal!"


Senyum Cio mengembang. Mau itu dikerjakan dari rumah atau dari planet lain sekalipun Cio sama sekali tak peduli. Yang terpenting perusahaannya bisa segera menyaingi Group Ma yang saat ini di kelola oleh sepupunya juga, Karl.


"Besok Renata akan memberi jawaban atas lamaranku. Tidak mungkin aku terus menganggur seperti ini!" ucap Bern sembari menyunggingkan senyum tipis.


"Menganggur kepalamu! Biarpun kau menghilang selama tiga tahun, kekayaanmu sama sekali tak berkurang. Semua perusahaan tempat kau menyimpan saham mengalami kemajuan pesat. Sudah pasti hal ini membawa keberuntungan besar untukmu. Kau kaya raya tanpa harus bersusah payah mengeluarkan keringat. Menyebalkan!" omel Cio tersinggung saat Bern menyebut dirinya sendiri sebagai pengangguran.


"Benarkah?"


"Yaakkk, kau jangan berlagak bodohlah. Jelas-jelas kau sadar kalau dirimu itu sangat kaya. Tidak usah berpura-pura miskin. Seperti cerita di novel saja. Huh!"


"Kalau begitu berarti aku tidak perlu bekerja lagi padamu. Kau bilang kan aku sudah kaya. Artinya aku tidak membutuhkan pekerjaan lagi. Benar tidak?"


"Brengsek! Kalau begitu miskinlah sampai mati. Dasar sialan!"


Untuk pertama kalinya Bern bisa tertawa lepas setelah Cio melayangkan umpatan padanya. Cio yang melihat hal itupun tampak terpesona dibuatnya. Mimpi apa dia semalam sehingga bisa melihat sepupunya yang luar biasa dingin bisa tertawa selepas ini.


Ini kejadian langka. Harus di abadikan, tapi bagaimana caranya? Bern bisa membunuhku kalau aku sampai merekamnya. Ya ampun.


"Menurutmu pernikahan seperti apa yang harus aku berikan pada Renata nanti, Cio? Haruskah pernikahan yang hanya di datangi oleh keluarga besar saja atau menggelar pesta semeriah mungkin. Yang mana yang menurutmu paling bagus?" tanya Bern meminta pendapat pada Cio.


"Hei, kau pikir aku ini W.O apa? Tanyakan saja pada yang lebih tahu soal ini!" jawab Cio.


"Siapa?"


"Bibi Elea lah. Siapa lagi memangnya."


"Aku takut orang lain menikmati kecantikan Renata. Apa aku bawa dia menikah di luar negeri saja ya? Di sana hanya perlu di hadiri keluarga inti saja. Dan daftar tamu yang datang pun bisa di pilih. Aku akan membuat aturan kalau tamu luar yang di izinkan datang hanya berjenis kelamin wanita saja. Yang pria aku singkirkan!"


Bern hanya diam saja ketika wajahnya di lempar majalah oleh Cio. Entah apa yang salah. Padahal dia hanya sedang menunjukkan kepemilikannya terhadap Renata. Aneh.


Menyesal barusan aku memujimu, Bern. Tak di sangka ternyata otakmu masih sama. Sama-sama tidak beres. Ya Tuhan, kenapa sih tidak ada satupun saudaraku yang bisa berpikir normal soal wanita. Kenapa hanya aku saja yang bisa?? Tolong kuatkan aku, Tuhan. Aku mohon.


***