
"Hati-hati," ucap Bern dengan penuh perhatian membantu memegangi tangan Renata yang hendak keluar dari dalam mobil. Dia kemudian tersenyum saat calon istrinya ini terdiam seraya menatapnya lekat. "Kenapa menatapku? Terpesona?"
Renata balas tersenyum. Dia lalu mengusap tangan Bern yang masih memegang tangannya. Entah harus dengan cara apa dia bersyukur dipertemukan dengan pria yang begitu perhatian. Dan yang lebih membahagiakan lagi perhatian ini tidak hanya tumpah untuk dirinya saja, tapi pada putranya juga. Justin.
"Ayo jawab. Kenapa menatapku sampai tak berkedip?" desak Bern tak sabar menunggu jawaban dari Renata.
"Apa yang harus dijawab. Toh memang benar kalau aku sedang terpesona padamu. Terpesona pada perhatianmu yang selalu dan selalu saja membuatku merasa tersanjung. Terima kasih ya. Di tanganmu aku merasa seperti menjadi seorang ratu," jawab Renata tak memungkiri akan keterpesonaannya terhadap pria ini. "Sampai sekarang aku masih tak percaya akan memiliki pendamping yang begitu menyayangiku di saat statusku sendiri sangat tidak jelas. Aku punya anak, tapi tidak memiliki pasangan bahkan buku pernikahan. Rasanya ini seperti mimpi, Bern. Sungguh."
Bern diam mendengarkan curahan hati Renata. Walau sebenarnya dirinya sangat ingin menyanggah ucapan soal status yang barusan disebutkan, dia memutuskan untuk tidak bicara dulu. Biarlah. Faktanya Renata memang tidak tahu kalau Justin adalah putra kandungnya. Wajar jika berpikir demikian.
"Amora!"
Kedua sisi rahang Bern langsung mengerat kencang saat mendengar seseorang memanggil nama Amora. Ini tidak benar. Bagaimana bisa orang ini datang ke kediaman keluarga Goh? Ke mana perginya para pengawal yang telah dia persiapkan untuk menjaga daerah sekitar sini?
(Brengsek! Renata tidak boleh bertemu dengan saudaranya. Tidak boleh!)
"Itu siapa ya, Bern. Kenapa berteriak memanggil Amora?" tanya Renata seraya menatap heran ke arah wanita yang tengah berurusan dengan penjaga. Tak lama setelah itu keningnya tampak mengerut. Renata merasa sedikit familiar dengan wajah wanita tersebut. Seperti dirinya pernah bertemu dengannya. "Aneh. Kenapa aku merasa seperti mempunyai hubungan dekat dengan wanita itu ya? Siapa dia?"
"Sayang, ayo kita masuk ke dalam. Jangan pedulikan wanita gila itu. Ayo!" ucap Bern buru-buru mengajak Renata untuk menghindar dari Ruth, kakaknya.
"Tunggu dulu, Bern. Aku ... aku seperti mengenal wanita itu. Kita jangan pergi dulu," sahut Renata menolak pergi. Dia melepaskan pegangan tangan Bern kemudian berbalik menghampiri wanita yang kini hendak diseret pergi oleh penjaga.
Sreeettt
"Sayang, patuhlah. Jangan membuatku marah!"
"Tapi aku ....
"Tidak ada tapi-tapian, Renata. Masuklah. Biar aku yang mengurus wanita itu. Oke?"
Meski keinginan untuk menemui wanita itu begitu kuat, Renata tak kuasa untuk melawan keinginan Bern. Dia dengan patuh melangkah masuk ke dalam rumah sambil sesekali menoleh ke belakang. Mendadak hatinya terasa sedih. Entah apa sebabnya, dia tak tahu.
Begitu memastikan Renata benar-benar telah masuk, Bern bergegas menghampiri Ruth yang terus memberontak hendak melepaskan diri dari pegangan para penjaga. Dan begitu sampai di dekatnya, Bern tanpa ragu mencengkram dagunya dengan kuat. Muak, itu yang Bern rasa ketika matanya beradu pandang dengan mata wanita busuk ini.
"Bern, aku mohon tolong pertemukan aku dengan Amora. Ayah kami sakit parah. Tolong beri kesempatan untuk Ayah bertemu dengan Amora. Beliau ingin sekali meminta maaf. Aku mohon, Bern," ucap Ruth sambil berurai air mata.
Melihat kondisi sang ayah yang kian parah, Ruth memutuskan untuk mempertaruhkan nyawa memata-matai setiap pergerakan Bern dan keluarganya. Dan semua itu tidak mudah. Ruth hampir saja mati di tangan anak buahnya Karl karena ketahuan menguntit. Namun untunglah nasib masih berpihak padanya. Dia selamat, tapi beberapa orang suruhannya mati dengan cara yang sangat tragis.
"Kau pikir kalian itu siapa berani datang dan meminta untuk bertemu dengan calon istriku? Hah? Dan juga siapa orang yang kau maksud dengan Amora? Amora sudah meninggal tiga tahun lalu. Kau tidak mungkin tidak mengetahui soal ini. Iya 'kan?" ucap Bern sambil menggeretakkan gigi. Dia sama sekali tak peduli melihat Ruth kesakitan akibat cengkeraman tangannya. Yang dia pedulikan hanya satu. Menjauhkan wanita ini dari hidup Renata. Sejauh mungkin.
"Jangan bebal. Wanita yang tadi kau lihat adalah saudara kembar Amora. Namanya Renata. Mereka memang mirip, tapi Renata bukan orang yang kau cari. Aku sarankan lebih baik kau pergi saja dari sini dan pulanglah ke rumah. Rawat ayahmu dengan baik. Jangan mengacau!"
Ruth menggelengkan kepala dengan kuat. Menggunakan sisa tenaga yang ada, dia menarik mundur tubuhnya agar cengkraman di dagunya terlepas. Setelah itu dia menghempaskan tangan para penjaga yang begitu kuat memeganginya. Tak peduli dianggap hina, Ruth bersimpuh di depan kakinya Bern kemudian mengatupkan kedua tangan. Dia memohon.
"Katakan, Bern! Katakan apa yang harus aku lakukan agar kau mau mengijinkan Amora bertemu dengan Ayahku. Kasihanilah kami sedikit saja. Aku janji tidak lama. Pleaseee," ucap Ruth memohon dengan sangat. Ini adalah usaha terakhirnya untuk bisa membawa sang adik pulang ke rumah.
"Sudah kubilang dia bukan Amora. Renata! Kau dengar itu?!" teriak Bern murka. Ingin rasanya dia menembak kepala wanita ini supaya tidak mengganggu. Bern muak.
"Tidak, Bern. Aku yakin dia adalah Amora. Iya 'kan?"
"Darimana kau bisa yakin kalau itu adalah Amora? Bukankah saat kecelakaan itu terjadi kau melihat sendiri mayatnya terbujur kaku di atas ranjang rumah sakit?"
"Itu bukan Amora, tapi kembarannya. Karena jika Renata bukan Amora, kau tidak akan mungkin menikahinya. Semua orang tahu betapa besar cinta yang kau pendam untuknya. Jadi aku mohon tolong ijinkan aku membawa Amora pulang ke rumah. Demi kesembuhan Ayahku, Bern. Tolonglah!"
Suara gaduh yang timbul membuat pemilik rumah merasa penasaran. Max dan Nandira segera pergi keluar untuk melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi.
"Bern, ada apa ini. Dan siapa wanita itu? Kenapa dia bersimpuh di tanah?" cecar Nandira penuh penasaran. Dia menatap seksama ke arah wanita yang tengah menangis sambil mengatupkan tangan.
(Siapa wanita ini? Kenapa wajahnya sedikit mirip dengan Renata? Jangan-jangan ....)
"Nyonya, saya Ruth, kakaknya Amora dan Renata. Tolong bantu bujuk Bern agar mengijinkan saya membawa Amora pulang ke rumah. Ayah saya sedang sakit keras dan ingin sekali bertemu dengan Amora. Tolong bantu saya, Nyonya. Saya mohon,"
Rasanya tulang di kaki Max dan Nandira seperti melebur semua begitu mengetahui wanita yang tengah bersimpuh di hadapan Bern adalah saudara kandung Renata. Wajah yang tadinya terlihat biasa saja kini berubah menjadi putih pucat seperti kertas. Mereka panik, juga syok.
"Bawa wanita ini pergi dari sini. Setelah itu kalian semua temui aku. Kalian harus bertanggung jawab atas masalah ini!" perintah Bern tak membiarkan Ruth terus membuat kekacauan. Juga karena dia tak ingin membuat kedua mertuanya bersedih.
"Baik, Tuan!"
"Bern, tolong jangan begini, Bern. Biarkan aku bertemu dengan Amora dulu. BERRRNNN!" teriak Ruth menggila saat tubuhnya diseret paksa oleh penjaga.
Pandangan Bern terselimuti amarah yang begitu besar ketika mendapati wajah mertuanya pucat pasi seperti mayat. Tahu kalau kedua orang ini syok, dia segera meminta pelayan untuk membawanya masuk ke dalam rumah. Bern lalu menunggu para penjaga kembali dari mengusir Ruth. Dia berniat membuat perhitungan dengan mereka karena sudah membiarkan wanita itu lancang masuk ke halaman rumah ini.
(Kau akan membayar mahal masalah ini jika Renata sampai kenapa-napa, Ruth. Tak peduli kalian adalah saudara sekandung, berani membuatnya sedih, itu sama artinya dengan kau mengibarkan perang denganku. Cihhhh!)
***