
Renata duduk lemas di kursi setelah berhasil mengusir wanita-wanita itu pergi dari tokonya. Sungguh. Dia panik sekali tadi. Untung saja Renata berhasil membuat Bern tenang. Jika tidak, masalah lain pasti akan kembali datang.
"Ren, minumlah dulu. Kau terlihat pucat, sayang," ucap Bern sembari menyodorkan segelas air putih pada Renata. Manik matanya terus menatap lekat ke wajah cantik wanita ini.
"Terima kasih," jawab Renata. Tangannya terulur mengambil gelas dari tangan Bern kemudian meminumnya perlahan. Renata tidak terlalu memperhatikan perkataan Bern yang memanggilnya dengan sebutan sayang. Dia masih syok.
Ini tidak bisa dibiarkan lebih lama lagi. Orang-orang harus segera tahu kalau Renata adalah istriku dan Justin adalah putra kami. Aku tidak bisa terus menyaksikan mereka di bully seperti ini. Ya, kami harus secepatnya menikah untuk membungkam mulut mereka semua.
"Renata, ayo kita menikah!" ucap Bern tiba-tiba.
Uhuk-uhuk
Mendengar perkataan frontal Bern membuat Renata yang sedang minum menjadi tersedak. Dia terbatuk-batuk dan wajahnya langsung merah padam. Melihat hal itupun Bern sigap mengambil gelas kemudian membantu menepuk punggungnya pelan.
"K-kau bilang apa barusan, Bern? Menikah?" tanya Renata.
"Iya, aku mengajakmu menikah. Kenapa memangnya? Ada yang salah ya?" jawab Bern.
"Tidak, bukan begitu maksudku. Em, bagaimana ya?"
"Apanya yang bagaimana?"
"Itu ... kenapa kau tiba-tiba terpikir mengajakku menikah?"
"Karena aku sudah tidak tahan melihatmu dan Justin terus di bully. Kalian tidak salah apa-apa dan tidak seharusnya menerima perlakuan tersebut. Juga karena aku sangat menyayangi kalian berdua. Aku ingin kita bertiga tinggal bersama."
Hening. Mulut Renata terkatup rapat setelah mendengar pengakuan Bern.
Jadi Bern menyayangi aku dan Justin? Ini benar berasal dari hatinya atau hanya sekedar kebetulan karena wajahku mirip dengan Amora? Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang?
"Jangan terlalu di pikirkan. Karena apapun alasanmu, kita akan tetap menikah," ucap Bern. Dia kemudian berjongkok di hadapan Renata lalu meraih kedua tangannya. "Ren, kau mungkin bingung karena aku tiba-tiba mengajakmu menikah. Tapi aku benar sungguh-sungguh dengan niatan itu. Aku ingin menjagamu dan juga Justin. Tolong jangan menolakku ya?"
"Tapi kita tidak saling cinta, Bern. Oke waktu itu memang aku yang pertama kali mengajakmu menikah. Atau mungkin kau jadi seperti ini karena merasa bersalah pernah menolakku?" tanya Renata mencoba mencari titik jelas dari sikap pria di hadapannya.
"Tidak ada hal seperti itu. Aku mencintaimu. Hanya ini alasannya," jawab Bern singkat, padat, dan jelas.
"A-apa? K-kau mencintaiku?"
"Ya, aku mencintaimu tanpa alasan. Bukan karena wajahmu yang mirip dengan Amora, bukan juga karena rasa bersalah. Perasaanku murni. Aku ingin kita bertiga tinggal di satu atap yang sama agar aku selalu bisa menjaga kalian dari kejahatan orang lain!"
Toko bunga mendadak jadi sepi setelah Bern berkata seperti itu. Para karyawan yang sejak tadi memperhatikan mereka tampak mematung diam begitu mendengar kalau bos mereka sedang dilamar.
Melihat bosnya kebingungan, Lindri turun tangan. Dia nekad melakukannya karena tak tega bosnya selalu menjadi sasaran para wanita yang cemburu suami mereka menggatal. Jadi dengan adanya lamaran mendadak yang dilakukan oleh Tuan Bern, Lindri bermaksud membantu memuluskan hubungan kedua orang ini.
"Permisi, maaf mengganggu," ucap Lindri sambil menatap bergantian dua orang di hadapannya. "Nona Renata, saya rasa sebaiknya Nona terima saja lamaran dari Tuan Bern. Anda dan Justin sangat membutuhkan sosok pelindung. Contohnya seperti kejadian tadi. Kalau Tuan Bern tidak ada di sini, orang-orang itu pasti sudah menghancurkan toko bunga kita. Belum lagi dengan para wanita yang salah paham kepada Anda. Dengan Anda menikah dan mempunyai status yang jelas saya yakin mereka pasti tidak akan berani berbuat macam-macam lagi. Benar tidak, Tuan Bern?"
"Ya, aku setuju denganmu!" sahut Bern dengan cepat. "Kau dan Justin butuh seseorang yang bisa memberikan perlindungan. Dan orang itu adalah aku. Jadi aku minta kita menikah saja ya. Soal cinta nanti pasti akan terbiasa seiring berjalannya waktu. Oke?"
"Bisa beri aku waktu untuk berpikir?"
"Waktu?"
Renata mengangguk.
"Menikah bukan hanya soal status, Bern. Setidaknya biarkan aku menata hati dulu agar nanti tidak ada penyesalan di dalam hubungan kita. Aku janji tidak akan lama!" ucap Renata tak mau egois dengan terus menampik niat baik Bern. Dia sudah cukup dewasa, dan Justin sangatlah membutuhkan sosok ayah. Kebahagiaan putranya jauh lebih penting di atas segalanya.
"Baiklah. Aku akan menunggu," sahut Bern penuh kelegaan. Setelah itu dia melihat jam di pergelangan tangannya. "Sepertinya kita akan sedikit terlambat menjemput Justin di sekolahnya. Apa kita perlu membujuknya dengan sesuatu?"
"Tidak usah. Justin biar ....
"Siapa namamu?" tanya Bern.
"Nama saya Lindri, Tuan."
"Terima kasih. Saran darimu sangat amat membantu kami. Nanti aku akan memberikan hadiah untuk kalian semua. Tolong jaga toko ini dengan baik ya? Kami mau pergi menjemput Justin dulu!"
"Baik, Tuan. Selamat bersenang-senang," sahut Lindri lega karena tidak jadi dimarahi.
Wajah Renata memanas saat Bern terus menggandeng tangannya. Pria ini bahkan tidak ragu mengambil dan membawakan tas miliknya.
"Tegang sekali. Apa yang salah, hm?" tanya Bern sambil membukakan pintu mobil. Dia kemudian menoleh, tersenyum saat mendapati wajah Renata yang memerah seperti buah tomat. "Malu?"
"Ada karyawanku tadi," jawab Renata kikuk.
"Kenapa dengan mereka?"
"Umm, kau ....
"Menggandeng tanganmu?"
Renata mengangguk.
"Aku bahkan berani menggendongmu di depan mereka. Oh, tidak hanya mereka saja. Tapi di depan umum dan keluargamu juga. Sungguh!"
Plaak
Bern tertawa lebar saat Renata memukul lengannya. Lucu sekali. Dia lalu membantu memasangkan seatbelt setelah wanita ini duduk di dalam mobil.
Deg deg deg
Astaga, apa-apaan si Bern. Kenapa wajahnya dekat sekali dengan wajahku. Jantungku juga. Kenapa harus berdebar sekuat ini sih. Heran.
"Jangan malu-malu. Aku bahkan pernah melihat seluruh bagian tubuhmu tanpa terkecuali," ucap Bern seperti orang tak sadar. Mulutnya los begitu saja tanpa ingat kalau Renata tak bisa mengingat tentang masa lalu mereka.
"Apa maksudmu bicara seperti itu, Bern? Kapan kau pernah melihat seluruh bagian tubuhku?" tanya Renata syok mendengar ucapan Bern barusan.
Bern terkejut. Namun bukannya menjawab, dia malah menutup pintu mobil kemudian berlari masuk lewat pintu samping. Sambil mengenakan seatbelt ke tubuhnya, Bern dengan jujur mengakui kalau dia baru saja teringat dengan Amora. Dia tak mau Renata marah.
"Maaf. Aku tak sengaja teringat kenanganku bersama Amora. Jangan salah paham ya?"
"Tapi raut wajahmu mengatakan kalau kau memang pernah melakukan hal itu padaku!"
"Tidak, Renata. Aku tahu aku tidak seharusnya bicara seperti itu padamu. Tapi jujur, aku mengatakannya karena sedang teringat dengan masa laluku. Sungguh!"
Renata menghela nafas panjang. Jantungnya seperti mau copot saat mendengar perkataan Bern yang seolah menyebut kalau mereka sudah pernah tidur bersama.
"Jangan di pikirkan lagi kata-kataku. Kita berangkat sekarang ya? Kasihan Justin. Dia pasti sudah menunggu kita di sekolah,"
"Baiklah,"
Bern segera melajukan mobil menuju sekolah putranya. Dan selama dalam perjalanan, Renata sama sekali tak bicara apapun padanya. Mungkin wanita ini terlalu syok hingga membuatnya memilih untuk diam saja.
Maaf, Renata. Terlalu sulit untukku menahan diri dengan tidak mengenang kebahagiaan kita dulu. Kau terlalu indah untuk dilupakan, sayang. Sekali lagi aku minta maaf.
***