Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bern 56


Suasana terasa begitu canggung saat Bern duduk bersama keluarganya. Mereka yang dulu begitu dekat kini layaknya orang asing yang baru pertama kali bertemu.


"Kak Bern, Kakak menginap di sini tidak?" tanya Flow membuka percakapan. Dia bunyi dengan suasana canggung yang sedang tercipta sekarang.


"Tidak, Flow. Aku masih harus pergi menjemput Justin dan Renata," jawab Bern langsung menyebut nama anak dan calon istrinya. Dia tak berniat merahasiakan mereka dari keluarganya lagi.


"Justin dan Renata? Mereka siapa, Kak?"


"Renata adalah calon istriku dan Justin adalah putraku."


"Hah?"


Flow, Elea, dan juga Gabrielle terperangah kaget mendengar perkataan Bern. Segera mereka menatap seksama pada pria yang tiba-tiba mengenalkan calon istri dan anaknya. Benar-benar sangat mengejutkan sekali. Sungguh.


"Bern, ini kau tidak sedang bercanda, kan?" tanya Elea memastikan.


"Tidak, Ibu. Yang kalian dengar barusan adalah benar kalau Renata adalah calon istriku dan Justin adalah putraku," jawab Bern. Dia lalu menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan perkataannya. "Kandung. Justin adalah putra kandungku dengan Renata. Dia cucu Ayah dan Ibu."


"A-apa?"


Syok, itu sudah pasti. Gabrielle dan Elea sampai tak bisa berkata-kata saking kagetnya mengetahui kabar tersebut.


"Bukankah selama ini kau hanya pernah menjalin hubungan dengan Amora ya? Lalu bagaimana bisa kau mempunyai anak dari wanita lain, Bern? Tolong jelaskan agar kami tidak salah paham!" ucap Gabrielle yang akhirnya berani untuk bicara.


"Renata adalah Amora. Mereka kembar. Dan yang waktu itu meninggal adalah Renata asli. Sedangkan Amora, dia dibawa pergi oleh orangtua angkat Renata. Itulah kenapa kami bisa memiliki Justin karena saat kecelakaan itu terjadi Amora sedang hamil," sahut Bern detail menceritakan siapa Justin dan Amora. "Saat istri Tuan Kendra melahirkan anak kembar, dia menyerahkan satu bayinya pada keluarga Goh yang kala itu baru menerima kabar kalau Nyonya Nandira di vonis tidak bisa memiliki keturunan setelah mengalami kecelakaan. Setelah itu mereka membawa suadara kembar Amora tinggal ke luar negeri. Namun saat kembali ke negara ini, Renata mengalami kecelakaan bersamaan dengan Flow dan Amora. Jangan tanya kenapa bisa seperti itu Karena jawabannya hanya Tuhan yang tahu!"


Sunyi. Tidak ada yang berkata sepatah katapun saat Bern memberitahu mereka kalau Amora masih hidup. Antara syok dan juga bahagia, perlahan-lahan kedua mata Elea mulai mengeluarkan cairan bening. Dia menangis dalam diam. Merasa lega karena bayangan bersatunya kembali kedua putranya sudah memenuhi pikiran.


"Ayah, Ibu, mungkin selama ini aku sudah egois. Namun ketahuilah, aku tidak pernah membenci kalian. Aku hanya kecewa saja karena berpikir kalian lebih membela Karl daripada aku. Dan saat itu aku pernah berucap kalau aku baru akan memaafkan kalian semua jika Amora bisa hidup kembali. Kini Tuhan mengabulkan keinginanku. Amora telah kembali padaku meskipun dengan memakai identitas orang lain. Aku harap Ayah dan Ibu mau memberiku kesempatan untuk memperbaiki kesalah-pahaman yang pernah terjadi di antara kita!" ucap Bern sambil menatap bergantian pada ayah dan ibunya. Tekadnya sudah bulat. Dia akan membawa Justin dan Amora ke keluarga Ma.


"Sayang, apa Ibu boleh memelukmu?" tanya Elea sembari mengusap air mata di wajahnya.


Bern mengangguk. Dia kemudian berdiri ketika ibunya berjalan cepat menghampiri.


Greeepp


"Ya Tuhan, Ya Tuhan. Terima kasih. Terima kasih karena kau akhirnya menunjukkan jalan terang untuk permasalahan yang terjadi di keluargaku. Terima kasih kau telah mengembalikan putraku ke pelukanku lagi. Terima kasih banyak, Tuhan. Terima kasih," ucap Elea sambil memeluk erat tubuh putranya yang sudah tiga tahun lebih sangat dia rindukan.


Gabrielle menengadahkan wajahnya ke atas. Dia menangis, sangat amat terharu melihat istrinya begitu bahagia karena di izinkan memeluk Bern. Andai ibunya masih hidup, Gabrielle yakin penyesalan ibunya pasti tidak akan terbawa sampai mati.


Ibu, lihatlah anak dan istriku sekarang. Setelah tiga tahun hidup dalam sesal akhirnya kesalah-pahaman ini bisa terselesaikan. Aku sungguh tidak mengerti dengan cara Tuhan mempermainkan takdir. Namun jika ini adalah akhir dari segala kutukan yang kau bawa, maka aku mohon tolong jangan pernah lagi kau biarkan anak maupun cucu keturunanku kembali menanggung karma seperti ini. Cukup kami saja, jangan yang lain. Ya?


"Sayang, apa kau sudah makan?" tanya Elea sambil terus mengusap wajahnya Bern.


"Sudah, Ibu. Tadi sebelum pergi menjemput Justin dan Renata aku sudah sarapan di apartemen," jawab Bern. Jujur, saat ini dadanya sesak sekali. Bern teringat beberapa waktu lalu sempat menolak sentuhan tangan wanita ini dan membiarkannya menahan kesedihan yang begitu besar. Dan kini dia merasa bersalah sekali. Betapa tega dia menyiksa kerinduan seorang ibu akibat kekecewaan yang dia rasakan. Hmmm.


"Iya. Namanya Justin. Tapi karena dia dilahirkan tanpa ada aku sebagai ayahnya, marga yang Justin pakai adalah marga keluarga Goh. Dan setelah ini aku berniat menggantikannya menggunakannya marga keluarga kita. Apa kalian keberatan?"


"Tentu saja tidak!" sahut Gabrielle dengan cepat. Dia lalu berjalan menghampiri anak dan istrinya. "Malah kami senang sekali kalau kau bersedia membawa Justin kemari. Kalau bisa sekalian saja dengan Renata."


"Aku setuju dengan Ayah, Kak. Bawa saja kakak ipar kemari. Ibu bilang Amora sangat pandai memasak. Nanti biar aku bisa belajar darinya juga. Iyakan, Bu?" timpal Flow penuh semangat.


"Ya sudah nanti aku coba bicarakan dulu dengan Renata. Kalau dia mau, aku akan mengajaknya datang ke rumah ini. Tapi jika dia tidak bersedia tolong kalian maklum. Renata ... dia bahkan tidak bisa mengingat siapa aku!"


Ruangan kembali sunyi saat Bern memberitahu keluarganya kalau Renata hilang ingatan. Gabrielle yang mendengar isi pikiran Bern segera menyudahi kesedihan agar tidak berlarut.


"Tidak masalah apakah Renata kehilangan ingatannya atau tidak. Yang terpenting dia sehat dan tidak kekurangan apapun. Nanti Ayah akan memberitahu keluarga yang lain agar tidak menyinggung masalah ini dulu. Takut dia tidak nyaman."


Bern diam tak menyahut perkataan ayahnya. Dia lalu menatapnya lekat sebelum akhirnya Bern memeluknya dengan erat.


"Ayah, maaf. Maaf karena aku tidak bisa menjadi pria kuat seperti yang Ayah harapkan. Aku harap Ayah tidak membenciku!" ucap Bern dengan tulus meminta maaf.


"Bern, tidak sedikitpun Ayah membencimu atas apa yang terjadi. Justru Ayah merasa malu karena gagal membahagiakan kalian. Andai saja ada cara yang bisa Ayah lakukan, Ayah pasti tidak akan membiarkan Karl melakukan semua itu. Namun apa daya. Ayah hanya manusia biasa yang tidak bisa melawan kehendak Tuhan. Tapi sekarang Ayah lega karena Amora akhirnya bisa kembali lagi bersamamu Ayah lega karena kau juga telah memaafkan kesalahan Ayah dan Ibu. Ayah sangat menyayangimu, Nak!" sahut Gabrielle dengan mata berkaca-kaca.


Elea dan Flow terharu sekali melihat ayah dan anak itu saling meminta maaf atas kesalahan masing-masing. Akhirnya setelah tiga tahun lebih penantian, hari bahagia ini datang juga. Perpecahan di keluarga Ma berhasil menemukan titik penyelesaian. Ini melegakan.


"Malam ini kau menginap saja ya di rumah ini?" ucap Gabrielle setelah puas memeluk putranya.


"Tidak bisa, Ayah. Justin sangat menempel padaku. Takutnya nanti malam dia merengek meminta tidur di apartemenku," sahut Bern dengan sopan menolak tawaran sang ayah.


"Oh, benarkah? Jadi kalian sudah sedekat itu ya?"


Bern terdiam. Dia meminang apakah harus memberitahu keluarganya tentang kelebihan yang Justin miliki atau tidak.


"Ada apa, Bern? Kau tidak mungkin mencuci otaknya Justin, kan?" tanya Elea langsung khawatir.


"Ayah, Ibu, Flow. Justin, dia ....


"Dia kenapa, Bern?"


"Justin memiliki kemampuan untuk bicara dengan orang yang telah meninggal. Dia juga bisa melihat masa depan yang akan terjadi di hidupnya. Awal Justin bisa mengenaliku sebagai ayahnya adalah karena dia di dampingi oleh mendiang Nenek Zhu. Bukan Nenek Liona, melainkan Nenek Liang Zhu. Mereka ....


Bern kemudian menceritakan semua keanehan yang terjadi di diri Justin pada keluarganya. Dia juga memberitahu mereka telah membawa Justin pergi ziarah ke makam kakek dan juga neneknya.


Ibu, aku mohon jangan libatkan Justin dalam hal ini. Tolong limpahkan saja semua kesulitan yang tersisa padaku. Kasihanilah cucuku, Ibu. Dia masih sangat kecil. Aku mohon....


***