Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bern 52


Tepat pukul lima dini hari Renata terjaga dari tidurnya. Dia lalu bergerak dengan sangat hati-hati saat ingin turun dari ranjang.


"Jangan bangun ya, Nak. Ibu ingin menyiapkan bekal untukmu," bisik Renata saat Justin menggeliat sambil menggumam tak jelas. Dia takut sekali anak ini terbangun kemudian merecoki aktifitasnya. Biasalah.


Menunggu sampai Justin kembali terlelap, barulah Renata berjingkat-jingkat masuk ke dalam kamar mandi. Dia membasuh wajahnya beberapa kali kemudian menatap cermin.


"Bern bilang hari ini akan menjemput dan mengantarkan Justin ke sekolahnya. Ini hanya obsesi semata atau karena ada sesuatu yang tidak ku ketahui ya? Rasa-rasanya sedikit tidak masuk akal melihat Bern sebegitu pedulinya pada Justin. Mereka kan tidak punya hubungan apa-apa. Aneh," gumam Renata bertanya-tanya sendiri. Dia lalu mend*sah pelan, merasa berat dalam tarikan nafasny. "Ya Tuhan, jika ada sesuatu yang tidak benar di sini segeralah sadarkan aku. Aku khawatir sikap peduli dan perhatian yang Bern tunjukkan bisa menyakiti perasaan putraku. Aku mohon,"


Dengan benak di penuhi banyak pertanyaan Renata mulai menyikat giginya. Dia melakukan semua itu dengan sangat perlahan. Beban di dalam pikirannya mendadak jadi menumpuk setelah Bern masuk ke hidupnya. Segala yang dilakukan pria itu membuat Renata kesulitan berpikir. Sungguh.


Tok tok tok


Hampir saja Renata tersedak saat pintu kamar diketuk. Segera dia berkumur kemudian berjalan cepat membukakan pintu untuk putranya.


"Sayang, kenapa bangun?"


"Mau pipis, Ibu," jawab Justin dengan muka bantalnya.


"Oh pipis ya. Ibu bantu melepas celana Justin dulu ya supaya tidak basah,"


"Iya, Ibu,"


Justin melangkah sempoyongan saat sang ibu membawanya masuk ke dalam kamar mandi. Renata yang melihat kelakuan putranya hanya tersenyum saja. Menggemaskan sekali anak ini.


Sambil menunggu Justin selesai membuang hajat, pikiran Renata tiba-tiba saja melayang pada kejadian manis di mana Bern tersenyum penuh arti terhadapnya. Awalnya Renata mengira kalau dia salah lihat. Namun ketika pria itu kembali memperlihatkan senyum tersebut barulah Renata tersadar kalau Bern sedang menggodanya.


Ya ampun, apa-apaan aku. Kenapa pikiranku malah di penuhi oleh Bern. Sudah gila apa bagaimana aku ini!


"Ibu sudah," ucap Justin sembari mengguncang lengan sang ibu. Dia yang sedang duduk di kloset segera menatap wanita cantik yang hanya diam tak merespon perkataannya. "Ibu, Justin sudah selesai pipisnya. Ayo kita keluar."


"Ha? Apa?"


"Justin sudah selesai pipisnya,"


"O-oh, sudah selesai ya?"


Anaya tergagap. Segera dia membantu membersihkan bekas pipis Justin kemudian membawanya keluar. Setelah itu Renata meminta Justin untuk kkembali tidur. Akan tetapi bocah itu menolak.


"Ayah bilang hari ini akan menemani Justin berangkat ke sekolah. Jadi Justin info siap-siap dulu supaya nanti kita tidak terlambat, Bu," ucap Justin dengan polosnya mengungkapkan alasan kenapa dia enggan kembali tidur. Justin sudah tidak sabar berangkat sekolah dengan di antar oleh ayah dan ibunya.


"Iya Ibu tahu. Tapikan sekarang masih sangat pagi, sayang. Ayah pasti juga belum bangun. Jadi Justin tidur saja ya?" bujuk Renata.


Drrtt drrtt


Baru juga Renata dan Justin membicarakan Bern, orangnya sudah langsung menelpon saja. Melihat hal itupun Renata jadi merasa gugup. Tanpa sadar tangannya bergerak merapihkan penampilan sebelum menjawab panggilan video dari pria itu.


"Halo, Bern. Pagi sekali kau sudah menelpon. Tidak tidur?" tanya Renata dengan hati berdebar-debar.


Renata sempat terpaku beberapa detik saat Bern menyebut Justin sebagai anak mereka. Rasa-rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu yang beterbangan di dalam perut. Sungguh.


"Ayah, Justin ada di sini!" teriak Justin heboh sendiri. Dia lalu mendekatkan wajahnya ke depan kamera. "Ayah, apa Ayah sudah bersiap mengantarkan Justin berangkat ke sekolah? Justin dan Ibu sudah bangun loh,"


"Sekarang belum waktunya untuk Justin berangkat ke sekolah. Kan masih terlalu pagi. Teman-teman Justin juga pasti masih tidur. Tunggu sebentar lagi ya. Ayah pasti datang dan mengantarkanmu ke sekolah. Oke?"


"Tapi Justin sudah tidak sabar ingin pamer pada miss kalau Justin sudah punya Ayah. Kalau teman-teman Justin melihat Ayah, mereka pasti tidak akan mengejek Justin lagi. Kan sekarang Justin sudah punya Ayah dan Ibu seperti mereka," ucap Justin mengadu dengan mimik wajah yang begitu sedih. Dia murung seketika.


Ekpresi wajah Bern langsung berubah aneh begitu mendengar aduan putranya. Renata yang menyadari hal tersebut pun segera menenangkannya. Dia takut sekali kalau Bern akan mencari anak-anak yang telah membully Justin kemudian memarahi mereka.


"Bern, kau jangan marah dulu. Yang dilakukan teman-temannya Justin hanya sekedar ledekan biasa. Mereka anak-anak, masih belum mengerti soal seperti ini. Tolong kau jangan marah ya," ucap Renata selembut mungkin.


"Putra kita di bully oleh mereka. Aku mana mungkin bisa tenang, Amora?"


Hening. Bern dan Renata saling menatap dalam diam ketika Bern menyebut nama Amora. Jika biasanya Renata akan merasa sedikit aneh, kali ini perasaan tersebut tidak muncul. Sikapnya biasa saja ketika Bern salah menyebut namanya.


"Ayah, Ibu. Siapa Amora? Apa itu adiknya Justin?"


Renata langsung gelagapan mendengar celotehan Justin yang menyinggung soal adik. Malu, dia sangat malu sekali. Pipinya memanas seketika.


"Kau cantik saat sedang malu-malu seperti ini. Aku suka," ucap Bern dengan gamblang memuji Renata. Dia kemudian tersenyum, menatap wajah cantik wanita ini dengan penuh kerinduanku. "Renata, aku tidak keberatan kalau Justin menginginkan adik. Bagaimana denganmu? Apa kau akan bersedia?"


"Umm Bern, aku rasa ini bukan percakapan yang tepat untuk di perdengarkan pada Justin. Kau jangan lupa kalau otak anak kecil jauh lebih cepat merespon perkataan orang lain ketimbang orang dewasa. Berhati-hatilah jika ingin mengucapkan sesuatu yang belum pantas dia dengar!" ucap Renata langsung menegur Justin. Dia kemudian melihat ke arah Justin. "Sayang, lain kali tidak boleh bicara seperti itu ya. Tidak sopan namanya."


"Jadi kalau punya adik itu tidak sopan ya, Bu?" tanya Justin dengan polosnya.


"Bukan tidak sopan, sayang. Tapi ....


"Justin, sudah. Jangan mengganggu Ibu lagi, kasihan. Coba lihat wajahnya. Merah seperti buah tomat, bukan?" ledek Bern tak membiarkan Renata lepas dari godaannya.


"Wahhh iya wajah Ibu jadi merah sekali. Kalau di gigit apakah rasanya akan sama seperti buah tomat, Ayah?" seru Justin dengan hebohnya. Menggunakan kedua tangan mungilnya, Justin menangkup wajah sang ibu kemudian menciumnya penuh sayang. "Ibu yang cantik, boleh tidak Justin menggigit wajah Ibu?"


"Tidak boleh, sayang. Nanti kalau Ibu kesakitan bagaimana? Memangnya Justin tidak kasihan?" sahut Renata sambil melirik ke layar ponsel. Benar-benar kurang ajar si Bern. Astaga.


"Oh, jadi tidak boleh ya?"


"Iya. Di gigitkan sakit. Jangan ya?"


"Baik, Ibu."


Di layar ponsel, Bern nampak terkekeh kesenangan melihat Renata yang kewalahan menanggapi pertanyaan Justin. Sungguh pemandangan yang sangat manis sekali. Sederhana, tapi penuh kehangatan.


***