Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bern 93


Bruukkk


Hampir saja Reiden jatuh ke belakang kalau tangan tak sigap meraih tangan orang yang baru saja menabraknya. Dia yang baru akan melangkah keluar dari dalam lift dibuat heran melihat sepupunya, Bern, yang terlihat sedang sangat buru-buru.


"Hei, Bung. Kenapa kau?" tanya Reiden kembali masuk ke dalam lift. Dia lalu memperhatikan Bern yang tak henti mengumpat sambil menekan tombol. "Hei, ada apa. Kau mau pergi ke lantai berapa?"


"Seseorang sepertinya sedang menargetkan Justin. Anak dan calon istriku sedang dalam bahaya sekarang. Jadi jangan menggangguku!" sahut Bern dingin.


"Oh, begitu."


Reiden santai, tapi sorot matanya menunjukkan reaksi yang berbeda. Tanpa banyak bicara lagi dia langsung menghubungi Cio. Tadinya dia datang kemari karena ingin membicarakan balapan motor dengan sahabatnya itu. Namun sayang, niatnya terpaksa harus diurungkan karena sekarang ada masalah yang seribu kali lebih penting ketimbang kesenangan mereka.


["Tersangkut di l*kalisasi mana kau, brengsek. Bilangnya sudah mau sampai di kantor. Mana batang hidungmu?!!"]


"Keponakan kita sedang diteror," sahut Reiden. "Dan sekarang aku sedang berada di dalam lift bersama Bern."


Ting


Tanpa babibu lagi Bern langsung berlari keluar menuju mobilnya. Di belakangnya terlihat Reiden yang berjalan santai sambil menelpon. Santai sih, tapi jangan salah. Di dalam otak pria tersebut sudah tertata rencana mengerikan yang akan ditujukan pada orang yang berani meneror sang keponakan tercinta.


["Mau pergi bersama tidak? Kebetulan aku belum olahraga hari ini."]


"Aku tunggu di luar. Cepatlah. Kepala beruang kutub itu sudah dipenuhi tanduk. Tidak seru kalau kita tak kebagian jatah."


["Oke. Aku segera meluncur. Tapi ngomong-ngomong kita perlu berbagi kabar ini dengan b*jingan itu tidak?"]


"Tentu saja perlu bodoh. Karl bisa menghajar kita kalau kita pelit berita padanya. Apalagi ini tentang Justin dan Renata. Sudah sana cepat kabari sepupumu!" omel Reiden tak habis pikir dengan keserakahan Cio.


["Begitu saja marah. Kau seperti wanita yang sedang pms saja. Iyuhhh!"]


Sementara Reiden masih terus berdebat dengan Cio lewat telepon, Bern sudah melajukan mobilnya ke tengah jalanan seperti orang gila. Bayangan-bayangan buruk tentang istri dan anaknya langsung memenuhi rongga kepala. Bern sangat amat khawatir. Sungguh.


"B*jingan mana yang berani mengusik ketenangan anak dan istriku. Dasar k*parat!" umpat Bern seraya menyalakan klakson berkali-kali saat sebuah mobil memperlambat laju mobilnya. "Minggir, bodoh! Jangan mengemudi kalau kau bisanya hanya membuat kekacauan di jalan. MINGGIR!!"


Tadi saat ibu mertuanya menelpon, Bern baru akan menikmati makan siangnya. Hari-harinya yang penuh kebahagiaan membuatnya mudah merasa lapar. Namun sayang, rasa lapar tersebut mendadak hilang setelah dia diberitahu kalau seseorang telah mengirimkan barang misterius untuk putranya. Marah, panik, takut, semua rasa tersebut bercampur aduk menjadi satu di dalam pikirannya.


"Kalau sampai terjadi sesuatu pada anak dan istriku, aku bersumpah akan langsung pergi menyusul mereka ke rumah Tuhan. Hidup ini sudah tak berarti lagi tanpa senyum dan tawa mereka. Aku tidak rela kalau kami harus berpisah lagi. Tidak rela!"


Akibat tindakan Bern yang ugal-ugalan di jalan, membuatnya dikejar oleh beberapa motor polisi. Hal itu membuat Bern kian merasa jengkel. Segera dia menghubungi Andreas lalu memintanya agar menghentikan para polisi sialan itu.


["Halo, Bern. Tumben menelpon. Ada apa?"]


"Beberapa anjing pemerintah sedang mengejar mobilku. Cepat hentikan mereka. Aku sedang terburu-buru sekarang!" jawab Bern sambil terus mengemudi. Sedikitpun dia sama sekali tak menurunkan kecepatan mobilnya. Yang ada dia malah semakin menggila di jalanan.


["Memangnya kau sedang mau ke mana?"]


"Seseorang mengirim barang misterius untuk Justin. Aku khawatir isinya adalah benda berbahaya. Jadi sekarang aku sedang dalam perjalanan menuju rumah Renata!"


Klik


Bern melemparkan ponsel ke kursi samping kemudian melirik ke belakang lewat kaca spion. Menjengkelkan. Para anjing itu masih saja menyalakan sirene seolah dirinya adalah seorang penjahat. Kesal, Bern kembali menambah kecepatan mobilnya tanpa peduli lagi dengan keselamatannya sendiri.


"Justin, Renata. Tunggu aku!"


Sementara itu di kediaman keluarga Goh, semua penghuni rumah masih tetap berada di luar menunggu kedatangan Bern. Justin yang awalnya asik bermain dengan sang kakek kini mulai terlihat rewel karena kepanasan. Wajah bocah itu memerah dan dipenuhi banyak keringat. Sungguh kasihan.


"Ibu, Ayah ke mana sih. Kenapa lama sekali. Justin sudah kepanasan ini. Lihat, bajunya Justin sudah basah. Gatal!" tanya Justin mulai mengeluh. Tangannya tak henti menyeka keringat yang terus mengalir keluar.


"Emmm baiklah Justin tidak marah lagi,"


"Atau Justin mau pergi jalan-jalan dulu dengan Kakek sembari menunggu Ayah datang. Kita beli es krim di depan sana," ajak Max tak kuasa melihat sang cucu kepanasan.


"Tidak maulah, Kek. Justin mau di sini saja menunggu Ayah," tolak Justin enggan di ajak pergi. Terlalu berat untuknya meninggalkan hadiah yang masih belum boleh dibuka.


"Kan hanya sebentar."


Justin menggeleng cepat. Hal itu membuat sang kakek menghela nafas panjang.


Tak berapa lama kemudian terdengar suara mobil berhenti di luar gerbang. Segera satpam membukakannya lalu menyapa sang majikan.


"Selamat datang, Tuan Bern!"


"Anak dan istriku bagaimana?" tanya Bern terburu-buru keluar dari dalam mobil. Dan sialnya tali seatbelt malah terlilit dengan dasi. "Brengsek! Jangan membuatku marah!"


"Semua orang baik-baik saja, Tuan. Mereka sekarang sedang menunggu ada di dalam!" jawab satpam sambil menelan ludah melihat pria di hadapannya mengamuk gara-gara seatbelt.


Begitu seatbelt terlepas, Bern langsung berlari masuk ke dalam. Dia meninggalkan mobilnya dengan keadaan masih menyala dan pintu terbuka.


"Yeyyyy, Ayah sudah datang. Ayah sudah datang!" teriak Justin heboh. Dia meminta diturunkan dari pangkuan kemudian berlari menghambur memeluk sang ayah. "Ayah, tadi Justin mendapat hadiah besar dari kakak cantik. Tetapi Ibu melarang Justin membukanya. Karena Ayah sudah datang, ayo kita buka hadiahnya sekarang. Ya?"


"Baiklah, tapi Ayah baru mau membukanya kalau Justin bersedia bermain petak umpet dulu dengan Ayah. Bagaimana?" ucap Bern sengaja mengulur waktu. Justin hanyalah anak-anak. Bocah ini tidak paham akan arti dari teror dan bahaya. Jadi Bern bermaksud membuat semua orang meninggalkan rumah ini agar tidak ada yang celaka. Hanya untuk jaga-jaga saja.


"Bermain petak umpet?"


"Iya. Jadi Justin, Ibu, Kakek, dan Nenek harus bersembunyi dulu. Nah nanti Ayah akan mencari kalian berempat. Begitu ketemu baru kita akan membuka hadiah itu bersama-sama. Bagaimana? Mau tidak?"


"Ummm mau tidak ya?"


Renata yang paham niatan Bern memutuskan untuk ikut membantu membujuk Justin. Dia berjalan menghampiri keduanya lalu meminta Justin untuk pindah ke gendongannya.


"Sayang, ayo cepat kita bersembunyi dulu. Oke?"


"Tapi Justin mau hadiah itu, Ibu," rengek Justin setengah menahan tangis. Matanya bahkan sudah berkaca-kaca karena sejak tadi tak mendapat izin untuk membuka hadiahnya.


"Iya Ibu tahu. Nanti kita juga akan membukanya setelah bermain petak umpet dengan Ayah. Biar seru, sayang. Kan sebentar lagi Justin mau berulang tahun. Iya, kan?"


"Harus bermain petak umpet dulu ya, Bu?"


"Iya, sayang. Hanya sebentar kok. Iyakan, Ayah?"


"Iya. Justin dan Ibu pergi bersembunyi dulu. Jangan jauh-jauh ya supaya Ayah bisa cepat menemukan kalian," sahut Bern seraya mengelus rambut Renata. Dia kemudian berbisik. "Pastikan kalian bersembunyi di tempat yang aman. Dan nanti jika ada beberapa orang mengikuti kalian, kalian jangan takut. Itu pasti orang suruhan Ayah dan Ibu. Ya?"


"Baiklah. Kau hati-hati ya. Jika berbahaya segera pergi dari sini. Aku tidak mau kau celaka, Bern!"


"Jangan khawatir. Aku pasti akan baik-baik saja untuk kalian. Sekarang pergilah. Ajak Ayah dan Ibumu juga."


Renata mengangguk patuh. Dia lalu mengajak semua orang untuk pergi mencari tempat yang aman untuk berlindung.


(Tuhan, tolong lindungi calon suamiku. Jauhkan segala hal buruk dan juga berbahaya darinya.)


***