
Bern tak henti menyunggingkan senyum sepulang dari rumahnya Renata. Pikirannya terus terbayang dengan kejadian di mana mereka sedang makan malam bersama.
Flashback
"Kakek, Nenek, hari ini Justin senang sekali," ucap Justin di sela-sela makan malamnya bersama keluarga. Matanya begitu berbinar. Sedang kedua tangannya memegang dua paha ayam goreng kesukaannya.
"Memangnya apa sih yang membuat cucu Nenek bisa sesenang ini, hem?" tanya Nandira gemas. Sayang sekali posisi Justin di apit oleh Bern dan Renata. Kalau tidak, dia pasti sudah mencuci pipinya yang gembul itu.
"Karena hari ini Justin bisa makan malam bersama Ayah dan Ibu. Lengkap!" jawab Justin kemudian tertawa lebar.
Bocah tiga tahun ini kemudian menatap satu demi satu orang yang ada di sana. Betapa bahagianya dia karena bisa makan malam bersama dengan keluarga yang lengkap.
Mendengar celotehan polos putranya membuat Bern tak kuasa untuk tidak tersenyum. Dia meletakkan sendok di atas piring kemudian mencium pipi Justin dengan gemas.
"Jadi kau senang Ayah ada di sini?" tanya Bern.
"Senang sekali, Ayah," jujur Justin menjawab.
"Mau Ayah tetap bersama kalian?"
Justin mengangguk. Sorot matanya menujukkan betapa dia sangat berharap akan hal tersebut.
"Sekarang coba Justin beritahu Ibu apakah Ayah boleh tinggal di sini atau tidak. Kalau tidak boleh, bilang pada Ibu supaya kalian tinggal di rumah Ayah saja. Sana,"
Renata kikuk setengah mati mendengar bisik-bisik antara Justin dan Bern. Untung saja ayah dan ibunya tidak mendengar omongan mereka. Kalau dengar, mereka pasti langsung salah paham padanya.
"Ibu, boleh tidak Ayah menginap di sini?" tanya Justin patuh mengikuti arahan sang ayah.
"Emm sayang, tidak baik makan sambil bicara. Nanti kalau tersedak bagaimana?" ucap Renata berusaha tak membiarkan Bern memperdaya putranya. Benar-benar ya pria satu itu.
"Justin pelan-pelan kok bicaranya,"
"Tetap saja tidak baik bicara sambil makan. Justin lupa ya apa yang di katakan oleh ibu guru?"
"Justin ingat kok,"
"Lalu?"
"Ayah yang meminta Justin untuk bertanya pada Ibu. Ayah bilang boleh tidak kalau Ayah tinggal di sini. Kalau Ibu bilang tidak boleh, kita saja yang tinggal di rumah Ayah. Rumah Ayah kan besar sekali, Bu. Justin suka lo tinggal di sana."
Max dan Nandira hanya bisa menelan ludah mendengar penuturan cucu mereka. Sedangkan Renata, dia terdiam tanpa bisa berkata-kata. Sementara pelaku yang membuat Justin bicara seperti itu tak henti tersenyum memperhatikan bocah tiga tahun yang tak henti berceloteh lucu. Lucu menurut Bern sih, tapi tidak menurut Renata dan keluarganya.
Flashback now
"Kau benar-benar sangat menggemaskan, Nak. Ayah bangga memilikimu," gumam Bern sambil terkekeh.
Tak lama kemudian mobil berbelok ke arah apartemen. Dan ketika Bern hendak memarkirkan mobil, dia melihat seseorang yang sudah tiga tahun terakhir tak dilihatnya. Untuk beberapa saat Bern nampak membeku, bingung apakah harus keluar atau tetap berada di dalam mobil.
(Apa yang sedang dilakukan bajingan itu di sini?)
Karl yang mendengar isi pikiran Bern segera menjauh dari sana. Dia meninggalkan Cio yang sedang bermesraan dengan seorang wanita di dalam mobil.
"Kalau saja kau bukan sepupuku, aku pasti sudah menghabisimu, Cio. Bisa-bisanya kau memanggil wanita hanya karena bosan menunggu Bern yang tak kunjung pulang. Dasar sialan!" gerutu Karl jengkel akan perbuatan sepupunya yang sangat luar biasa mesum itu.
"Pergi kemana dia?"
Bern penasaran. Dia kemudian memutuskan untuk keluar dari dalam mobil. Setelah itu dia berjalan masuk ke gedung apartemen tanpa ada niat memperhatikan keadaan sekitar. Cio yang kebetulan sedang melepas ciumannya tak sengaja melihat keberadaan Bern. Segera dia mendorong wanita yang sedang asik bergerak di atas tubuhnya kemudian merapikan pakaiannya.
"Ambil uang ini dan lekaslah pergi secepat yang kau mampu. Musuhku sudah datang. Kau bisa dalam bahaya besar jika tetap berada di sini!" ucap Cio sembari memasukkan beberapa lembar uang ke dalam pakaian wanitanya. Tak lupa dia mengedipkan mata penuh goda. Biasalah. Hehehe.
"Dan aku jauh lebih mencintai goyanganmu. Ah, sayang sekali kita hanya bermain sebentar. Padahal aku masih belum puas menjamah tubuhmu yang indah itu!" keluh Cio sambil berdecak pelan.
"Kita lanjutkan nanti malam saja. Akukan punya kunci kamar apartemenmu."
"Ah iya, aku lupa. Ya sudahlah kalau begitu kau pulang saja dulu. Mandi dan berdandanlah yang cantik untuk menyambutku. Oke?"
"Baiklah. Daahh,"
Setelah memastikan wanita itu pergi, barulah Cio keluar dari mobil. Dia melihat kesana kemari mencari keberadaan Karl.
"Lain kali aku akan langsung meledakkan mobilmu kalau kau sampai berani berbuat seperti ini lagi, Cio. Dasar gila kau! Tidak bisa ya semalam tanpa bercinta!" protes Karl yang sedang berdiri menyender di sebuah mobil hitam.
"Hehehe, jangan menggerutu begitulah. Kau belum tahu saja betapa nikmat bercinta dengan makhluk bergoa. Kalau kau sudah mencobanya, aku jamin kau pasti akan ketagihan!" seloroh Cio tak merasa bersalah sedikitpun telah meninggalkan Karl di luar mobil.
"Dasar brengsek! Ingat ya. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau berurusan dengan yang namanya wanita. Mereka merepotkan!"
"Hati-hati dengan ucapanmu, Karl. Lupa ya kalau ucapan adalah doa? Di kutuk Tuhan baru tahu rasa kau!"
"Diam kau. Sekarang cepat masuk dan temui Bern di dalam. Beritahu dia kalau Renata adalah benar Amora. Sana!"
"Iya-iya. Galak sekali!"
Sambil bersungut-sungut tidak jelas, Cio berjalan masuk menuju apartemen Bern. Akan tetapi ketika dia hendak masuk ke dalam lift, sebuah suara menghentikan langkahnya.
"Kalian sedang memata-mataiku?"
Bern menatap Cio yang sedang berdiri di depan pintu lift. Tadi Bern pikir yang akan masuk adalah Karl. Ternyata malah pria mesum ini yang muncul. Hmmm.
"Haihh, kau ini. Membuat orang kaget saja sih!" ucap Cio sambil mengelus dada. Dia kemudian berbalik, lalu menampilkan cengiran khas miliknya. "Hehehe, apa kau melihatnya?"
"Ya."
"Kau marah?"
"Sangat ingin membunuh kalian malah."
"Aihh, jangan galak-galak begitulah. Kami datang kemari karena ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting padamu. Dan ini adalah soal Amora!"
Bern langsung melesat berpindah ke samping Cio begitu mendengar nama Amora. Di tatapnya lekat-lekat wajah pria ini, tak sabar menunggu kabar apa yang akan disampaikan olehnya.
"Tadi aku dan Karl menculik ibunya Renata,"
"A-apa? Kalian menculiknya?"
"Ya. Dan itu kami lakukan demi dirimu. Kami berhati malaikat, bukan?"
"Ini bukan waktunya untuk bercanda, brengsek! Bicara yang benar!"
Cio terkekeh. Suka sekali dia melihat raut frustasi di wajahnya Bern. Namun karena tak tega melihatnya, Cio akhirnya menceritakan tentang pengakuan Max ketika di tanya soal Renata dan Amora.
"Selamat, Bern. Yang kau yakini selama ini ternyata adalah suatu kebenaran. Amora masih hidup. Renata yang kau kenal sebenarnya adalah kekasihmu yang hilang sejak tiga tahun lalu. Renata dan Amora adalah sepasang anak kembar. Dan yang waktu itu meninggal bukanlah Amora Shin, melainkan Renata Goh. Kekasihmu masih hidup!"
(A-apa? Amora masih hidup? Kekasih hatiku benar tidak meninggal? Ya Tuhan, ini aku tidak sedang bermimpi, kan? Amora benar masih hidup?)
***