Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bab 31


“Justin sedang sibuk bermain dengan karyawanku. Sekarang kita bisa bebas bicara,” ucap Renata seraya menatap seksama ke arah pria yang duduk di hadapannya. Dia kemudian menghela nafas panjang sebelum lanjut berbicara. “Bicaralah, Bern. Kau bebas menanyakan apapun kepadaku.”


Untuk beberapa saat Bern merasa ragu membuka suara. Entah mengapa dia tiba-tiba didera perasaan aneh yang sulit untuk di artikan. Padahal tujuannya datang kemari adalah untuk bertanya pada Renata soal siapa orang yang telah memberitahu lamat tempat tinggalnya. Namun begitu berhadapan dengan orangnya langsung, lidah Bern serasa kelu. Kaku dan tak bisa di gerakkan.


“Bern, ada apa? Bukankah kau datang ke toko bunga ini adalah untuk bicara denganku?” tanya Renata lagi. Dia agak heran melihat pria ini yang malah terdiam seperti orang bingung.


“Amora, maksudku Renata. Maaf jika kata-kataku nanti ada yang membuatmu merasa tidak nyaman. Aku merasa aneh saja. Baru terhitung beberapa hari yang lalu kita tak sengaja bertemu dan mengenalkan diri. Kita bahkan tidak saling bertukar nomor telepon, tapi bagaimana bisa kau tahu berapa nomor kamar apartemenku? Ini aku tanyakan bukan karena aku tidak suka kau dan Justin datang berkunjung ya. Aku hanya merasa heran saja, juga bingung kenapa kalian bisa tiba-tiba muncul di sana. Mungkinkah ada seseorang yang mengarahkan kalian untuk datang?” sahut Bern yang akhirnya memutuskan untuk tetap bertanya. Daripada mati penasaran begitu pikirnya.


“Tidak ada siapapun yang mengarahkan aku dan Justin untuk datang ke apartemenmu, Bern!” jawab Renata tak merasa kaget akan pertanyaan yang dilayangkan oleh pria ini. Renata sudah bisa menebaknya dari awal. “Kemarin saat Justin sedang demam seseorang tiba-tiba mengirim pesan yang berisi alamat tempat tinggalmu ke ponselku. Awalnya aku sama sekali tidak tahu kalau apartemen itu adalah rumahmu, tapi aku tetap memaksakan diri untuk pergi karena Justin.”


“Justin? Maksudnya Justin tahu kalau pesan itu berisikan alamat tempat tinggalku?”


“Untuk masalah ini aku tidak bisa menjawabnya dengan pasti. Karena sampai sekarang pun aku masih merasa heran kenapa Justin bisa mendoktrin pikiran dan naluriku agar datang ke tempat yang tertulis dalam pesan tersebut. Padahal pengirim pesan itu saja aku tidak tahu siapa. Hatiku tergerak karena Justin yang merengek. Jadi ya sudah, kami datang saja ke sana. Dan siapa yang akan menyangka kalau orang yang akan membukakan pintu untuk kami adalah dirimu!”


Aneh sekali. Bagaimana bisa Justin tahu kalau alamat itu adalah tempat tinggalku? Di pertemuan pertama kami saja dia terlihat ketakutan. Ada apa ini ya? Apa mungkin Justin menuruni kemampuan Ibu dan bajingan itu? Tapi mustahil. Belum ada bukti yang bisa meyakinkan kalau Justin adalah putraku. Ini pasti hanya kebetulan yang tak di sengaja. Ya, hanya kebetulan saja.


“Bern, aku harap kau tidak terlalu memikirkan alasan ini. Anggaplah saja kalau kedatanganku ke apartemenmu adalah karena aku yang salah mengetuk pintu kamar. Aku tidak ingin kau berpikir kalau aku sengaja menggunakan Justin untuk mendekatimu. Tidak seperti itu. Sungguh!” ucap Renata agak cemas melihat pria di hadapannya bungkam tak mengatakan sepatah katapun. Dia takut di salah pahami.


“Aku sama sekali tak berpikir ke arah sana, Renata. Kalau memang seperti itu adanya maka aku akan percaya padamu. Aku pikir rasa rindu Justin pada ayahnyalah yang membuat kalian tak sengaja sampai ke apartemenku. Walaupun aku belum pernah punya anak, tapi aku bisa mengerti apa yang dirasakan oleh Justin. Jadi aku tidak akan membesar-besarkan masalah ini. Tenang saja!” sahut Bern sambil tersenyum kecil.


“Terima kasih banyak, Bern. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana cara menjelaskannya padamu. Semuanya benar-benar terjadi begitu saja tanpa ada scenario yang kami buat lebih dulu. Sungguh.”


“Iya tidak apa-apa. Aku bisa memahamimu. Jangan khawatir. Oke?”


Seulas senyum manis tersungging di bibir Renata begitu dia berhasil membuat Bern yakin kalau kedatangannya ke apartemen pria ini bukanlah karena kesengajaan. Dia lega.


“Renata, kalau boleh tahu ayahnya Justin itu pergi kemana? Maaf jika pertanyaan ini lancang. Kalau kau merasa tidak nyaman, kau tidak perlu menjawabnya. Aku hanya penasaran mengapa ayahnya Justin tega membiarkannya hidup tanpa mendapat kasih sayang yang lengkap dari kedua orangtuanya,” tanya Bern tak mampu membendung rasa ingin tahunya. Juga karena dia tak mau di anggap sebagai perebut milik orang jika seandainya Renata masih mempunyai pasangan.


Bagaimana caraku menjawab pertanyaan Bern kalau aku saja tak bisa mengingat seperti apa rupa ayahnya Justin. Haruskah aku menceritakan tentang kecelakaan yang membuatku hilang ingatan?


“Aku bukan tidak mau menjawab pertanyaanmu, Bern. Tapi aku tidak tahu harus bagaimana cara memulainya,” jawab Renata lirih. Kepalanya tertunduk dalam, sedikit malu untuk mengakui kalau Justin terlahir dari hubungan di luar pernikahan. Renata takut Bern mencapnya sebagai perempuan murahan.


“Tidak tahu cara memulainya? Memangnya ada rahasia apa di dalam hubungan kalian bertiga? Berbahayakah?”


“Bukan, bukan berbahaya, tapi memalukan.”


Kedua alis Bern saling bertaut saat mendengar perkataan Renata. Memalukan? Apa maksudnya ini? Apa jangan-jangan dulunya Renata pernah menjadi korban pemerkosaan yang mana kejadian itu membuat Justin terlahir ke dunia ini? Astaga, miris sekali.


“Dulu aku pernah mengalami suatu kejadian mengerikan di mana aku akhirnya kehilangan semua ingatanku. Aku bahkan tidak bisa mengingat jelas seperti apa wajah ayahnya Justin. Dan ya, Justin adalah seorang malaikat kecil yang terlahir di luar hubungan yang sah. Itulah kenapa dia langsung mengira kalau kau adalah ayahnya. Justin mungkin berpikir kalau kedekatan antara kau dan aku karena kita adalah orangtuanya. Aku harap penjelasan ini tak membuatmu merasa jijik padaku, Bern. Aku bukan tidak mau menikah, tapi aku tak sengaja melupakan wajah ayahnya Justin. Selama dua tahun lamanya aku dan kedua orangtuaku sudah berusaha berobat ke sana kemari, tapi ingatanku tak kunjung pulih. Karena aku takut itu akan berdampak pada kesehatanku, kami memutuskan untuk berhenti berobat. Biarlah aku melupakan semua masa laluku. Asalkan bisa terus bersama Justin dan membuatnya tersenyum bahagia, maka ingatanku tidaklah perlu untuk di sembuhkan. Aku hanya ingin hidup bahagia bersama anakku saja. Tidak lebih!” ucap Renata akhirnya memberitahu Bern tentang kepahitan yang pernah dia alami. Masalah apakah nanti pria ini akan membencinya atau tidak, Renata pasrah saja. Yang terpenting dia sudah jujur. Itu poin utamanya.


Deg deg deg


Berharap? Oh, tentu saja. Bern sangat berharap kalau kejadian yang membuat Renata hilang ingatan adalah sebuah kecelakaan mobil. Jika itu benar, maka Bern bisa menarik kesimpulan kalau Renata adalah benar Amora. Dia hanya tinggal menunggu hasil tes DNA itu keluar. Lalu semuanya akan menjadi jelas.


“Bern, aku ….


“Ren, apa kejadian yang membuatmu hilang ingatan adalah sebuah kecelakaan mobil yang masuk ke sungai?” tanya Bern dengan dada berdebar kuat. Matanya sampai berkunang-kunang saking gugup mendengar jawaban yang akan keluar dari mulut wanita ini.


Kedua mata Renata membelalak lebar mendengar pertanyaan Bern barusan. Dia kaget dan juga tak mengerti darimana pria ini bisa tahu kalau dirinya pernah mengalami kecelakaan di mana mobil yang dia tumpangi terperosok masuk ke dalam sungai tiga tahun lalu. Dan tanpa terasa pertanyaan tersebut membuat seluruh bulu kuduk di tubuh Renata berdiri semua. Merinding.


“Tolong jawab, Ren. Jangan diam saja. Pleasee!”


“Bern, aku ….


***